Sementara di balik hancurnya hidup Vanya, ada sosok yang lebih hancur lagi sedang merasa terpukul. Marco sengaja tidak mau menemui Vanya seminggu ini. Bagian dari hati kecilnya begitu menyesal karena telah menyiksa dan menyentuh wanita yang dulu sangat-sangat dihargainya.
Bayang-bayang tangisan Vanya pada malam itu terus saja memenuhi sebagian isi otaknya. Ia masih ingat jelas, saat naluri dan emosinya menghadirkan kebengisan pada malam itu. Nikmat dan hancur Marco rasakan secara bersamaan. Setelah puas menyiksa Vanya sampai tak berdaya, barulah rasa menyesal itu menyeruak dan tumbuh cepat di dada hingga Marco tak sanggup bertemu dengan wanita itu sampai detik ini.
"Kupikir aku akan puas setelah mendapatkan semuanya dari wanita itu. Ternyata rasa sakit ini masih ada," keluh Marco pada Hero. Sekretaris kesayangan itu setia duduk di sofa depan Marco. Menemani Tuannya yang selalu hidup dalam bayang-banyang rasa dendam.
Layaknya seorang bawahan sekaligus teman curhat, Hero memberikan solusi sesuai logika yang ada di otaknya. "Mungkin Tuan harus belajar menerima. Barang kali rasa sakit itu akan hilang jika balas dendam Anda dihentikan saja," ujar Hero penuh kehati-hatian.
"Mana bisa, Vanya harus menerima balasan yang setimpal. Barulah aku puas!" Marco bersikekeh melanjutkan aksinya. "Aku tidak akan merubah rencana yang sudah kususun dengan susah payah. Balas dendam ini harus tetap dilaksanakan," bantahnya kemudian.
Hero hanya bisa tertunduk sambil merutuk, terserah Anda sajalah, Tuan. Aku lelah mengikuti keinginanmu. Yang penting kamu bahagia, maka hidupku juga akan aman dan tentram.
Marco berkata lagi, membuat Hero mendongak seketika.
"Ah, ya! Berikan rekaman CCTV hotel, aku ingin melihat apa yang sedang di lakukan anak itu di sana."
Hero mengangguk, kemudian berjalan dan mengambil laptopnya di ruang sebelah. Tempat Di mana Hero bekerja dan menghabiskan waktunya selama 3 tahun belakangan ini.
Dua menit kemudian, Hero datang dengan membawa laptop yang terbuka. Ia menampilkan layar di mana Vanya sedang menangis di atas sofa.
Seketika itu juga Marco mengernyit, heran. "Kenapa dia menangis, Her?"
Kalimat bodoh itu keluar dari bibir Marco. Tanpa sadar bahwa dirinyalah yang membuat Vanya jadi seperti itu.
Tentu saja wanita itu menangis karena dikurung olehmu Tuan, dasar manusia oon!
Hero sampai mengumpat sebal dalam hati. Kemudian menjawab asal. "Mungkin dia menangisi suaminya yang jahat. Karena telah tega menjualnya."
Marco melongo dengan bibir membentuk huruf O. "Suaminya memang gila," ujar Marco tidak tahu malu.
Padahal kegilaan Adit ya berasal dari Marco. Kalau pria itu tidak menawarkan investasi besar secara cuma-cuma kepada Adit, tidak mungkin Vanya bisa sampai ke tangannya dengan jalur barter seperti ini.
Seperti yang Hero ketahui. Sekembalinya Marco dari luar negeri tiga tahun lalu memang dengan tujuan utama membalas dendamnya pada Vanya. Dan kabar goyahnya perusahaan Adit adalah peluang besar yang sengaja Marco manfaatkan untuk kepentingan pribadinya.
"Oh ya, bagaimana dengan perceraiannya dengan Adit. Apa kau sudah mengurusnya?" tanya Marco lagi. Matanya masih terus menatapi layar, tampak Vanya sedang nangis sampai meraung-meraung di balik kaca pintar tersebut.
Hero menjawab sambil memperhatikan wajah Marco yang fokus memperhatikan tingkah Vanya di balik sana. "Sudah Tuan, tidak sampai satu bulan perceraian itu akan selesai. Karena pengacara mengambil jalur lewat pihak laki-laki, jadi porsesnya akan lebih cepat."
"Baguslah, aku akan menghubungi Anya dulu!" Tanpa sadar Marco menyebut panggilan sayangnya untuk Vanya semasa pacaran dulu. Untung Hero sudah kebal dengan sikap Marco yang plinplan kalau sudah menyangkut masalah Vanya.
Marco berjalan menuju meja kerjanya, lalu menghubungi Vanya sambil duduk ungkang-ungkang kaki. Sekitar dua menit pria itu melakukan panggilan, sampai akhirnya Vanya menutup panggilannya secara sepihak dan membuat Marco marah besar.
"Sialan!" Marco berteriak kesal. Hero segera bangkit dan berlari ke arah pria itu.
"Ada apa, Tuan?" tanya Hero sok panik agar hidupnya terkesan mendrama seperti tuan yang ada di depannya.
"Berani sekali dia berbicara ketus dan menutup panggilanku seenak jidatnya. Apa dia tidak tahu siapa aku?" Marco menatap Hero penuh amarah.
Apa, apa, kenapa aku yang jadi sasaran amarahmu. Sekretaris malang itu mengumpat dalam hati.
"Bukankah Tuan sudah paham kalau nona Vanya memang bukan wanita sembarangan? Dia sangat jutek dan tidak mudah ditaklukan." Hero mengingatkan jika Marco lupa. Karena pria itu sudah tahu detail cerita dan perjuangan Marco dalam menaklukan hati Vanya di masa lalu.
"Ya iya ... tapi aku tidak suka dengan sikapnya yang sok kuat. Padahal aku tahu kalau dia baru saja menangis seperti orang gila."
Marco menggusar rambutnya ke belakang. Hanya sekali ia bisa melihat Vanya lemah di depannya. Yaitu saat pria itu merenggut kehormatannya yang selama ini dijaga hanya untuk sang suami.
"Keluar temui Vanya sana, aku akan memikirkan cara yang lebih efektif untuk melunturkan egonya!"
Ya, ya, ya ... aku juga sudah malas menemani orang gila! Umpat Hero emosi sendiri. Pria iti berjalan keluar, meninggalkan manusia tidak waras tapi sangat Hero junjung dan ia jadikan prioritas utamanya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
Diana diana
Marco labil ach . .
2024-01-26
0
Rara Kusumadewi
loh bukannya Anya bilang sudah tidak perawan tapi kok Marco bilang merenggut kesuciannya...yg di jaga untuk suaminya..yg bnr mana
2023-10-12
1
Rumini Rum
banyak iklan nya
2023-05-10
1