Hero sempat mengajak Marco untuk menyaksikan proses tanda tangan perceraian Vanya. Namun pria itu menolak demi harga diri yang dijunjung tinggi.
Awalnya Marco membiarkan Adit menemui Vanya. Ia tidak masalah karena ada Hero yang mengawasi. Tapi lama-lama otaknya panas. Ia merasa akan terjadi sesuatu yang tak menyenangkan di tempat itu. Karena terus-terusan merasa tidak tenang, akhirnya Marco memutuskan pergi ke hotel duluan dan memesan kamar tepat di sebelah milik Vanya. Ia berjanji pada diri sendiri hanya ingin mengawasi lewat CCTV dan tak akan menemui Vanya dan Adit di kamar sebelah.
Pria itu duduk di sofa single dengan sedikit gusar. Kemudian membuka layar ponselnya yang menampilkan rekaman CCTV kamar Vanya dari berbagai sudut ruangan. Tampak Vanya sedang duduk di sofa sambil menonton teve sendirian. Yang artinya Hero dan Adit belum sampai ke tempat itu.
Selang beberapa menit kemudian, Marco melihat kedatangan Hero dan Adit. Ia terus memantau CCTV untuk melihat adegan demi adegan di kamar sebelahnya.
Marco mengumpat kesal saat melihat Hero dengan mudahnya pergi meninggalkan Vanya dan Adit berdua saja di dalam hotel. Pria itu sampai tak sadar menendang meja di depannya efek terlalu emosi. "Bodoh sekali kau, Her!"
Marco makin mengepalkan dua tangannya saat melihat Adit berani memeluk Vanya. Herannya Vanya juga tak menolak seakan keduanya sama-sama sedang melepas rindu. Hati pria itu meradang. Ia paling tidak senang melihat miliknya disentuh oleh orang lain meski Vanya hanya sebatas mainannya.
"Dasar lelaki sampah, beraninya kau menyentuh wanitaku!" Marco semakin menggerutu tak karuan, kepalanya tidak bisa sinkron dengan hati. Ia ingin sekali datang dan menyeret Adit sekarang juga. Namun Marco mencoba bertahan sampai Vanya mau menandatangani surat perceraian itu.
"Bagus!" Marco menyunggingkan senyum tipis saat melihat Vanya menandatangani berkas perceraian itu tanpa ragu-ragu.
Namun sedetik kemudian Marco berdecak kembali begitu melihat Adit menangis dengan sejuta penyesalannya. "Cih, sekarang kau menyesal? Dasar pria bodoh! Kemana otakmu saat dengan mudahnya menukarkan istrimu dengan uangku?"
Layaknya orang bodoh, Marco misuh-misuh tak jelas. Padahal Marco duluan yang menawarkan, namun bagi Marco kesalahan tetap berada pada Adit yang rela menukarkan istrinya demi keselamatan perusahaan. "Sudah sepatutnya pria mata duitan itu bertemu dengan wanita murahan!" kesal Marco sambil menghina mereka berdua.
Detik berikutnya, Mata itu sontak membelalak saat melihat Vanya dan Adit berciuman dengan mesranya. "Sialan kalian berdua!"
Marco langsung berlari keluar kamar. Ia bergegas menuju pintu sebelah di mana Hero sedang berdiri di ambang pintu luar. Tanpa menoleh pada Hero sedikit pun, Marco mendobrak kamar hotel Vanya dengan bengis.
"Lancang sekali kau menyentuh apa yang sudah menjadi milikku!"
Suara Marco menggelegar hebat layaknya petir yang menyambar tubuh mereka. Selama Adit dan Vanya bercakap-capak di ruangan itu, Marco selalu menahan diri dan pura-pura tak mendengarkan pembicaraan keduanya. Akan tetapi kali ini Marco sudah tak tahan lagi melihat miliknya disentuh sampai sejauh itu.
Adit berdiri gugup seraya mengangkat dua tangannya di depan dada. "Tuan, sa-saya tidak bermaksud. Saya bisa jel—"
"Sialan kau!" potong Marco cepat.
Pukulan Marco melayang diikuti teriakkan Vanya yang cukup keras.
Hero yang melihat kejadian itu langsung berlari ke dalam untuk melihat apa yang tuannya lakukan. Ia ikut membelalak saat melihat Adit sudah tersungkur. Marco begitu sigap melayangkan pukulan demi pukulan ke wajah dan tubuh Adit secara membabi buta. "Aku menyuruhmu ke sini bukan untuk bermesraan dengan wanitaku, Sampah!"
Vanya sudah menjerit-jerit sambil menutupi mulutnya. "Hentikan Marco ... hentikan!"
Kejadian itu begitu singkat sampai tak ada jeda. Hero pun langsung menghalau dengan cara mendorong Marco ke sembarang. Namun nahasnya Adit sudah terlanjur babak belur. Darah segar mengalir dari hidung dan sudut bibirnya cukup banyak.
"Beraninya kau menghalangiku, Her?" Marco masih belum puas, ingin terus memukuli Adit, sampai mati bila perlu.
"Hentikan Tuan, jangan mengotori tangan Anda dengan memukulinya! Biar saya saja yang mengurusnya."
"Kau tidak becus, Her. Mengurus pertemuan seperti ini saja bisa kecolongan!"
"Maaf Tuan. Saya akan segera membereskannya." Lantas Hero membantu Adit bangun untuk mengajaknya segera pergi, namun pria itu menepis kasar bantuan Hero.
"Aku bisa sendiri," tangkis Adit.
Sementara Marco langsung beralih menghampiri Vanya yang berdiri ketakutan di belakang sofa. Ia mengusap kasar bibir Vanya dengan tangan kanan. "Ingat Vanya, ketika aku membelimu dari suamimu, artinya seluruh tubuhmu sudah menjadi milikku seutuhnya. Beraninya kau menyerahkan diri pada pria sialan itu!"
"Maaf Marco, aku yang salah. Tolong jangan sakiti Adit lagi. Tadi aku terlalu terbawa suasana dan ingin memberikan salam perpisahan untuk Adit." Vanya menunduk takut sambil meremas jari-jemari. Ia sendiri juga tidak paham kenapa bisa mencium Adit begitu saja. Vanya sudah berusaha untuk membenci Adit, namun rasa cinta yang kuat tak mengindahkan kebencian yang Vanya hadirkan.
Ia terlalu lemah.
***
Hallo. Tanya donk.
Kalian tim mana nih?
Adit? Marco? Apa Vanya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
DhilaZiya Ulyl
timnya othor aja deh
2024-04-22
0
mario82
Marco deh
2023-09-29
2
Ibu Dewi
aku tim nya hero aja biar pun dia kaki tangan penjahat tpi dia masih punya rasa g sejahat marco
2023-09-21
0