Beberapa jam sebelum hal itu terjadi.
Vanya berjalan anggun memasuki sebuah hotel. Ia mengenakan gaun seksi berwarna merah senada dengan heels lima sentimeter yang menghiasi kaki mulusya.
Wajahnya yang ayu tampak mencolok dan mencuri perhatian orang yang melihatnya. Tanpa rasa curiga, wanita manis berbibir tipis itu melambaikan tangan kepada sang suami yang tengah duduk menunggu disalah satu bangku restaurant.
"Mas Adit!" seru Vanya senang. Ia mempercepat langkahnya hingga heels yang ia kenakan berdetuk di lantai dan menimbulkan perhatian beberapa orang sekitar. Wanita itu tampak bahagia karena Adit mengajaknya bertemu di restaurant mewah yang tak biasa mereka datangi sebelumnya.
"Hai Sayang, duduklah." Adit berdiri dan menarik kursi untuk Vanya.
"Terima kasih, Mas," ucap Vanya sambil mendudukkan diri. Lantas melempar senyum manisnya pada pria tampan berusia 35 tahun yang ada di depannya. Matanya berbinar cerah saat melihat lilin dan dua steak tersaji di atas meja. "Terima kasih banyak ya, Mas! Sudah lama sekali kita tidak melakukan dinner romantis seperti ini," ujar Vanya bangga.
Adit membalas tatapan wanita itu dengan mata teduh. Lalu menggengam jemari sang istri, lembut sekali. "Sebenarnya makan malam ini bukan untuk kita berdua, Sayang."
Sontak Vanya terkejut. Matanya menukik dengan kulit kening yang mulai berkerut-kerut. "Lalu untuk apa kamu menyuruhku berdandan cantik ke salon dan menyiapkan semua makan malam ini, Mas?" tanya Vanya mulai heran.
Dia lalu tertawa karena merasa Adit hanya sedang bergurau. "Ah, kamu mau mencoba menipuku ya, Mas? Atau jangan-jangan kamu tidak percaya diri dengan surprise yang kamu buat sendiri?"
Wanita itu tergelak cukup kencang saking bahagianya. Namun, dengan segera Adit mematahkan kebahagiaannya.
"Maafkan aku, Sayang." Pria itu mulai tertunduk dalam. Ekspresi wajahnya langsung berubah drastis, membuat Vanya semakin tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi. "Kau tahu 'kan kalau perusahaanku sedang mengalami krisis finansial?" ucapnya pelan.
"Terus?" Firasat buruk mendadak masuk melalui cela hati Vanya. Gadis itu mempertegas tatapannya pada Adit untuk menunggu jawaban.
Adit semakin menggenggam erat jari jemari lentik Vanya. Sorot matanya mengindahi setiap inci wajah Vanya dengan sangat berat. "Maafkan aku karena tidak membicarakan hal ini dulu denganmu, Van. Sebenarnya aku menyiapkan semua ini bukan untuk kita Berdua, tapi untuk pimpinan I-Mush Grup yang telah membantu perusahaanku agar bisa keluar dari lingkaran kebangkrutan."
"Maksudnya kamu ingin mengajakku merayakan keberhasilanmu bersama pimpinan I-mus karena mau berinvestasi di perusahaanmu, Mas?"
Ada selaksa senang atas ekspresi yang keluar dari wajah Vanya.
"Bukan."
"Terus gimana?"
Vanya semakin tidak paham dengan arah bicara suaminya. Seberkas kecemasan datang menghampiri lubuk hatinya silih berganti dengan sangkalan kuat dari otak. Namun, buru-buru ia tepis dengan pikiran positif sebisa mungkin.
"Maksudnya apa si, Mas?" tanya wanita itu tampak makin bingung.
"Pimpinan I-mus Grup bersedia membantuku untuk berinvestasi di perusahaan dengan jumlah yang cukup besar, tapi dia meminta satu syarat: Yaitu menukarkan kebaikannya dengan tubuhmu, Van."
"A-apa?" Bulu roma Vanya merinding seketika.
"Kamu bercanda kan, Mas?" Vanya tersentak. Ia reflek melepaskan genggaman kuat Adit pada telapak tangannya karena dorongan emosi. Sejenak ia terdiam dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Lalu menatap nanar dua porsi sirloin steak yang tersaji di atas meja. Tampak menggiurkan, akam tetapi selera makan Vanya seketika hilang saat mendengar ucapan Adit yang mencengangkan.
"Ini ngga mungkin ... ini ngga mungkin!"
Adit berkata lagi. Kali ini terdengar lirih. "Maafkan aku Vanya, aku terpaksa menandatangani perjanjian ini demi kebaikan kita. Jika aku tidak segera mendapat investor dalam jumlah besar, tidak hanya perusahaanku yang bangkrut, tapi suamimu juga akan mendekam di penjara karena jeratan hutang. Tolong mengertilah Vanya."
Plakkk!
Satu tamparan keras mendarat di wajah Adit sampai warna merahnya membekas di pipi itu. Vanya begitu murka mendengar keputusan sang suami yang seenak jidat menjual dirinya tanpa izin. Seolah ini adalah jebakkan maut yang sudah dipersiapkan untuk Vannya dari jauh-jauh hari.
Adit tidak peduli dengan pipinya yang memanas akibat tamparan Vanya. Matanya mengandung jejak kepedihan yang tampak pilu saat dipandang. "Maafkan aku, Van. Tolong mengerti keadaanku untuk kali ini saja. Aku sungguh terpaksa melakukan itu untuk menyelamatkan perusahaan. Bantulah aku kali ini please! Kontrak perjanjian ini hanya satu setengah tahun, tapi aku yakin sebelum waktunya tiba dia pasti akan bosan dan mencari wanita lain, setelah itu kita bisa berkumpul lagi bersama," ujar Adit penuh permohonan. Di otaknya sudah ada bayangan-bayangan kebahagiaan bersama Vanya dan perusahaan yang semakin jaya tentunya.
"Kamu menyuruhku untuk mengerti, tapi apa kamu sendiri bisa mengerti perasaanku, Mas? Aku yakin tidak akan ada satu pun wanita yang bisa mengerti saat ia dijual diam-diam oleh suaminya sendiri!" Vanya mencengkram kerah baju Adit sekuat tenaga. Lalu mendorong pria itu hingga tersungkur di lantai. "Di mana otakmu saat memutuskan semua itu ... Di mana, Mas? Di mana, hah?"
Jerit tangis Vanya semakin terdengar menyayat hati. Ia tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang memperhatikannya sedari tadi. Nyeri yang menyebar di dadanya telah mengalahkan rasa malu itu. Saat ini Vanya lebih ingin mati daripada harus menyerahkan diri pada orang yang tak dikenalnya itu.
"Selamat malam." Belum hilang tangis dan air mata, tiba-tiba Vanya dikejutkan oleh dua pria bertubuh besar yang muncul di belakangnya. "Waktu Anda sudah habis Nona Vanya, marilah ikut kamu untuk menemui tuan muda di kamar hotel."
"Gila kau, ya!" Vanya segera menjaga jarak dari dua manusia membahayakan itu. "Tolong sampaikan pada tuanmu, aku tidak akan mau menemuinya sampai kapan pun. Perjanjian ini dilakukan secara sepihak, dan aku adalah pihak yang tidak setuju!"
"Van tolonglah ...." Tangan Adit tertaut di depan muka. Wajahnya yang tampak memelas membuat Vanya bergetar jijik. Ingin sekali ia meludahi muka sialan itu jika ia tidak ingat status pria bedebah itu adalah suami sahnya.
"Van—"
"Diam kau, Mas!" potong Vanya cepat. "Aku muak mendengar suaramu yang menjijikkan itu!"
***
Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya ya ... Wkwkwk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
Ainul Farida Farida
ea itulh suami gila dan g' punya hati moga2 g' ada dikehidupan nyata...
2024-03-25
0
liberty
suami ato iblis ini huh!!!
2023-11-28
0
Heni Suhaeni
goblok suaminya
2023-10-17
0