Dalam sekejap, Marco mendaratkan kecupan sarkasme di bibir Vanya. Menyapu bekas ciuman Adit sampai pria itu menganggap bekasnya sudah benar-benar hilang.
"Eump!" Vanya mendorong tubuh Marco sebisa mungkin. Ia mencoba memberontak lantaran masih ada Adit dan Hero di tempat itu. Seolah tak peduli, Marco menarik tubuh Vanya semakin dalam. Terus melancarkan aksinya sampai kata puas tersematkan di otak pria yang sedang marah tersebut.
Hal itu sontak Membuat Adit yang baru saja bangkit langsung mengepalkan kedua tangannya emosi. Hatinya teramat ngilu menyaksikan sang istri sedang dinikmati oleh pria lain. Ya Tuhan, kini aku sedang menikmati luka yang kudatangkan sendiri.
Marco melepas ciuman ganasnya, namun ia masih merengkuh tubuh Vanya ke dalam dekapan dada bidangnya. "Apa kau cemburu? Mengapa wajahmu jelek begitu Adit?" ejek Marco ditambah seringai tawa yang tentunya sangat merendahkan Adit.
Adit memilih diam.
"Kenapa diam? Apa kau sedang memikirkan cara untuk merebut istrimu kembali dari tanganku?" lanjut Marco dengan gaya menantang Adit diikuti mimik wajah sok berkuasanya. Ia terus mendekap Vanya di dadanya. Tak membiarkan wanita itu berpaling untuk melihat wajah Adit sedikit pun.
Adit masih diam menahan dongkol sampai Marco berbicara kembali.
"Bawa sampah itu pergi dari sini Her! Aku ingin menikmati tubuh indah wanitaku sekarang juga, tolong sekalian kosongkan jadwalku sampai besok. Aku ingin bersenang-senang dulu dengannya."
"Baik Tuan." Hero segera menarik paksa Adit untuk keluar. Langkah pria itu teramat berat seolah tak rela meninggalkan Vanya dengan Marco begitu saja. Bukan hanya tidak terima, tapi luka hati dan bayang-bayang Marco menikmati tubuh istrinya terus mengusik isi kepala.
Rasanya sungguh sialan! Padahal waktu Adit menerima kucuran dana besar dari Marco sama sekali tak ada lintasan seperti itu. Tapi kenapa sekarang hal itu justru muncul dan mengusik hidupnya?
Jelas-jelas waktu itu Adit merasa sangat bosan terhadap Vanya. Wanita itu sudah tak menarik seperti saat awal-awal mereka menikah dulu. Maka dari itu Adit rela menukarkan tubuh Vanya yang membosankan dengan imbalam uang besar.
Namun, kini perasaannya justru berbanding terbalik. Ia merasa seperti mendapat aura magis yang menjungkir balikkan pikirannya. Vanya yang kemarin dianggap membosankan, sekarang sangat Adit rindukan.
"Kalian penipu!" Adit berteriak pada Hero begitu mereka baru saja keluar dari dalam kamar. Matanya menyalang tajam seakan ingin melampiaskan semua amarahnya pada Hero saat ini juga.
"Kalian telah menipuku. Jelas-jelas di dalam surat perjanjian pribadi kita tidak ada keseharusan yang menyatakan aku dan Vanya harus bercerai. Bisa-bisanya kalian memanfaatkan kekuasan kalian untuk menindas yang lemah!" terkam Adit emosi semurka-murkanya.
Hero menanggap ucapan adit seperti angin lalu. Kemudian memicingkan mata seraya tersenyum miring. "Perjanjian barter itu hanya surat perjanjian pribadi antara kalian berdua. Tuan Adit harus ingat, bahwa perjanjian yang sesungguhnya adalah berupa peminjaman saham. Yang bila mana Anda mencoba membatalkan perjanjian pribadi kalian, tuan Marco tak akan segan mengurus kasus hutang saham perusahaan Anda pada pihak kami!"
"Licik ... kalian benar-benar sialan!" Adit hendak melayangkan satu pukulan ke wajah Hero, namun pria itu segera menahan dan mendorong Adit hingga tersungkur kembali.
"Saya tidak ingin membuang waktu untuk bermain dengan orang kelas tengik seperti Anda Tuan Adit." Hero menendang tubuh Adit di bawah kakinya. Kemudian berlalu dengan angkuh meninggalkan pria lemah itu.
"Keparaaat!" Adit meninju udara dengan kesal. Bisa-bisanya aku tergoda oleh uang dan rela menyerahkan istriku pada mahluk biadap licik seperti kalian!" teriak Adit geram.
Ia mencoba bangkit kembali seraya memegangi perutnya yang ngilu akibatan tendangan kasar Hero.
"Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain menunggu satu setengah tahun lagi Van. Aku harap kamu mau kembali dan memaafkan kesalahan fatalku," gumam Adit pelan.
Pria itu menatap pintu hotel di mana Vanya dan Marco mungkin sedang memulai sebuah petualangan menegangkan. Kemudian ia melangkah pergi dengan tertatih-tatih disertai wajah sedih.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
DhilaZiya Ulyl
ooo jd itu alasan utamamu Dit.... 😠
2024-04-22
1
Sukliang
itula
2023-04-28
0
Mirna Loden Mirna Mirna
biarin sekalian mati kau sana😄😄😄😄
2023-04-12
0