"Inikah yang dinamakan hidup dalam kematian?" Vanya meremas gaun malam tipis yang membalut tubuh mungilnya. Jiwa yang tengah perih itu terus merintih di tengah kesunyian malam. Menitikan kristal bening yang seolah tak pernah ada habis-habisnya membanjiri pipi mulus Vanya.
"Kenapa kisah cinta kita harus berakhir seperti ini, Mas?" gumam Vanya yang terus memikirkan Adit sejak palu diketuk tadi siang. Ia menatap foto pernikahannya dengan Adit di layar ponsel. Mereka berdua tampak manis dengan senyum yang sama-sama lepas. Namun foto itu hanya tinggal gambar semata, kenyataanya hal manis itu sudah hancur lebur. Menjadi siksaan pait yang membuat hati Vanya menjerit-jerit.
Vanya tidak bisa membayangkan hari-harinya tanpa Adit. Apakah ia bisa bertahan untuk Adit sampai satu setengah tahun ke depan? Dan juga, apakah Marco akan melepaskannya setelah satu setengah tahun menjeratnya?
semua itu masih terasa ambigu. Belum ada kepastian jalan hidup Vanya akan berlabuh ke mana. Mungkin saja ia akan tumbang duluan sebelum balas dendam ini berakhir. Karena baru beberapa pekan saja Vanya sudah tak kuat dan beberapa kali memikirkan mati.
Ceklek ....
Suara pintu dibuka dengan tangan yang cekatan menyalakan saklar lampu. Vanya langsung terhenyak begitu mendengar langkah sepatu sedang bergerak maju ke arahnya. "Sudah lama tidak berjumpa wanitaku yang manis," ucapnya.
Sudah sebulan lebih Marco tidak menemuinya. Ia hanya melihat kegiatan Vanya dari CCTV hotel karena sengaja ingin menyiksa wanita itu dengan kesendirian. Persis seperti apa yang Marco rasakan pasca dihianati Vanya dulu. Hancur. Sendiri. Tak berdaya dan lebih memilih mengurung diri berhari-hari.
"Untuk apa kamu ke sini, Marco?" Vanya segera berdiri dari posisi berbaring. Air matanya yang masih berderaian ia biarkan keluar pertanda wanita itu tidak ingin menutupi kesedihannya di depan Marco.
"Untuk apalagi kalau bukan untuk melihat kehancuranmu!" Seringai licik disertai nada mengejek keluar dari bibir Marco.
"Puas kau sekarang?" bentak Vanya murka. Marco menanggapi dengan tawa yang memecah suasana. Kemudian mendekatkan diri hingga mereka saling mengunci pandangan satu sama lain.
"Aku belum puas jika belum melakukan ini." Pria yang Vanya pandang tidak punya hati itu bergerak semakin cepat. Meraih dan menyentuh dagu Vanya sesuka hatinya.
Satu sesapan lembut mendarat tanpa permisi. Marco membelit ujung lidah Vanya dengan gerakan pelan sampai Vanya terkejut bukan main mendapat perlakukan seperti itu. Awalnya Vanya ingin memberontak, namun perlakukan Marco yang manis di luar dugaan membuat Vanya luluh dan melepaskan pertahananya.
Perlahan ia membiarkan Marco bergerak semaunya. Menyatukan sesuatu yang selama ini ditahan-tahan oleh pria itu.
Malam yang sunyi berubah hangat. Kedatangan Marco sukses menyingkirkan bayang-bayang Adit di otak Vanya sesaat. Mereka bergulung di bawah selimut bersama hasrat dan gairah yang menggebu-gebu sepanjang malam. Hingga pagi menjelang, dan kemudian memaksa Vanya untuk bangun.
"Kenapa aku bisa terbuai dengan perlakuan palsunya?" Vanya bergumam pelan saat mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi sana.
Ia masih duduk di atas ranjang seraya memeluk lutut, kemudian membentur-benturkan kepalanya di atas dengkulnya sendiri.
"Bodoh ... Bodoh! Kau memang wanita murahan Vanya," geramnya saat mengingat sikap menjijikannya semalam. Vanya sudah seperti wanita yang kehauasan akan kasih sayang saat melakukan penyatuan tubuh dengan Marco. Ia sampai mendesah berkali-kali saat menikmati setiap sentuhan Marco yang luar biasa.
Sebuah sentuhan lembut yang membuat jiwanya bergetar di mana hal itu jelas sangat Vanya cekam lantaran mereka bukanlah pasangan halal.
Ini adalah penyatuan tubuh yang keduanya dengan Marco. Dan kali ini rasa jauh berbeda dari waktu pertama mereka melakukannya. Malam ini Marco lebih mendominan memuaskan tubuh Vanya ketimbang dirinya. hingga wanita itu terkurai lemas saking tak ada dayanya.
Setelah semua selesai, barulah pria itu mempertontonkan kenyataan yang sesungguhnya. Marco memasang seringai licik lagi, lalu berkata dengan nada mengejek.
"Sepertinya kau tidak pernah mendapatkan yang seperti ini dari suamimu. Sayang sekali ya... apakah dia impoten?"
Terkejut? Tentu saja ia. Ternyata semua kelembutan yang Marco lakukan terhadapnya adalah palsu. Saat itu juga Vanya paham bahwa perlakuan lembut itu bisa tercipta karena ada udang di balik batu.
Wanita itu pun hanya bisa diam merasakan sisa-sisa kenikmatan dari bekas penyatuan mereka. Tak ada wajah angkuh seperti biasa, Vanya begitu malu akan sikapnya yang tidak bisa membaca situasi. Jelas yang menyetubuhinya adalah Marco si orang yang paling membencinya. Mana mungkin ia bisa memberikan sentuhan itu dengan tulus.
Setelah selesai dengan kegiatannya, Marco keluar dari dalam kamar mandi sambil mempertontonkan tubuhnya yang maskulin. Ia berjalan ke arah lemari dan memakai stelan jas resmi. Pertanda pria itu akan segera berangkat ke kantor.
Marco kembali melangkah menuju Vanya setelah semuanya rapi. "Cepat mandi, hari ini kau akan ikut aku ke kantor, menjadi asistenku selama satu hari."
"Ya-yang benar saja!" Vanya tergagap mendengar perintah Marco. "Aku tidak berpengalaman di bidang itu Marco," lanjutnya.
Vanya memang hanya gadis biasa lulusan SMA. Dia tidak lanjut sekolah karena ayah dan ibunya meninggal kecelakaan waktu ia kelas tiga. Setelah tamat, Vanya lebih memilih bekerja menjadi kasir di toko swalayan. Semua itu Vanya lakukan karena ia tidak mau merepotkan sang nenek yang berubah menjadi walinya setelah kedua orang tua Vanya tiada.
Selama menikah dengan Adit pun, tugas Vanya hanyalah ibu rumah tangga setia yang setiap hari menunggu suaminya di rumah sambil memasak aneka makan kesukaaanya. Ia bisa menikah dengan Adit juga karena dorongan kecantikannya. Kalau tidak menarik, mungkin Vanya tidak akan pernah mendapatkan pria mapan seperti Adit. Sayangnya Adit tega menjual Vanya, karena ia sempat merasa bahwa dari awal mereka menikah, Vanya hanya menjadi beban suami dan tak bisa membantu apa-apa.
"Turuti saja permintaanku. Apa susahnya!" gertak Marco kemudian.
"Aku pasti akan mempermalukanmu. Karena aku tidak mengerti sama sekali masalah perkantoran," ujarnya lagi dengan binar mata memohon penuh penolakkan.
Marco tetap bersikeras. "Diam adalah emas, sebaiknya kau lakukan perintahku tanpa banyak bicara!"
Vanya tertunduk dalam dan seketika diam.
Rencana gila apa lagi yang sedang pria ini lakukan ya, Tuhan?
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
moemoe
Mau meeting d kantor adit mungkin
2022-10-13
0
moemoe
Gk pke pengaman lg,,, hamil gmn van? Tpi iya laah,,, sama adit aja 5 thun blom isi y
2022-10-13
0
Fina Ina
marco jgn terlalu kejam,,, jgn sampai kau menyesal jga.
2022-10-07
0