"Cih! Mudah sekali kau mengatakan maaf setelah menghancurkan hidupku. Dasar wanita tidak tahu diri!" Nada mengejek kembali terdengar dari bibir Marco yang sepertinya sudah biasa sekali menghina Vanya. "Maafmu hanya bisa terbalaskan dengan ini, Sayang ...."
Marco menyunggingkan seringai jahat lagi. Tangannya mulai merambat dan langsung berlabuh pada bagian sensitif milik wanita itu. Ia menekan bagian sensitif Vanya sangat kasar sampai wanita itu memekik tanpa suara. Tubuh Vanya benar-benar sakit karena perlakukan itu, tapi ia berusaha menahannya sebisa mungkin. Sekali lagi faktor lemah adalah pemicu utama yang selalu ingin Vanya hindari sesulit apa pun.
"Aku tidak butuh wanita terbaik! Cukup kau menjadi mainanku ... itu sudah cukup bagiku."
Marco tertawa lepas melihat Vanya merintih kesakitan.
"Kau benar-benar gila, Marco!" Vanya menepis tangan Marco bersama teriakannya.
"Aku akan menjadi gila dengan senang hati. Toh itu sudah terjadi padaku sejak lama. Dan kau adalah faktor utama kegilaanku dimulai."
Bakhan Marco sama sekali tidak mau mengampuni ketika Vanya sudah memintan maaf dengan tulus. Vanya benar-benar dibuat geram dengan garis peperangan yang dibuat oleh Marco. Wanita itu berusaha menyingkir kabur dengan sisa tenaganya. Namun dengan cepat Marco menarik kembali kaki Vanya dan menindih kasar tubuhnya.
Pria itu menggigit bibir Vanya, kasar. Tangannya dengan cekatan menyibak gaun Vanya sampai robek tak berbentuk. Tidak peduli wanita itu masih dalam keadaan terluka, Marco tetap maju untuk memuaskan hasratnya yang menggebu-gebu.
"Mari kita bermain tanpa cinta seperti apa yang kau lakukan padaku dulu, Sayang. Kau cukup bersikap liar di bawah kungkuhanku, maka aku akan memastikan tidak ada racun di udara yang kau hirup setiap harinya."
Tidak perlu menjelaskan adegan selanjutnya. Malam penuh rintihan dan siksaan itu berlangsung panjang di mana Marco terus mendominasi tubuh Vanya dengan permainan ranjangnya. Setiap kali Vanya berteriak dan mengatakan sangat membenci Marco, maka pria itu semakin bersemangat menghajar Vanya bertubi-tubi dengan kegagahannya.
Hari menjelang siang saat Vany membuka mata. Neraka dunia yang ia pikir hanya sebatas mimpi mulai terpampang kembali. Mata lentik Wanita itu mengedar ke arah jendela di mana matahari sudah hampir bertenggar cantik di puncak pertengahan.
Pandangan Vanya beralih, kini ia mulai menatap sosok pria yang sedang mendengkur halus di hadapannya. Jika biasanya selalu wajah Adit yang ia lihat pertama kali saat membuka mata, kini semua itu sudah sirna dalam semalam. Sosok Adit berganti Marco. Baik Adit ataupun Marco, dua manusia itu adalah pria yang paling Vany benci saat ini. Kalau bisa ia tidak ingin melihat dua wajah mereka selama-lamanya.
"Ughhh." Wanita itu merintih tanpa sadar, merasakan seluruh tubuhnya yang remuk akibat perlakukan kasar Marco tadi malam. Namun tidak dipungkiri bahwa ia cukup menikmati perlakukan Maro sampai ia melepaskan sesuatu yang sangat jarang dirasakannya saat menikah dengan Adit.
Vanya tak mau berkilah untuk yang satu itu. Marco memang sangat jago masalah ranjang walau konsep yang ia terapkan tidak manusiawi. Tentunya pria itu bukan tidak bisa berbuat lembut, melainkan ia sengaja bersikap kasar karena dorongan hatinya yang gelap.
Saat Vanya hendak ke kamar mandi, tak sengaja ia mendengar gumaman pelan keluar dari bibir Marco.
"Aku sangat mencintaimu ... sangat ... sangat mencintaimu."
Kepalanya menoleh sambil melotot. "Apa tadi dia bilang, cinta?" Vanya mengernyit bingung. Ia hampir mengira bahwa Marco mengucapkan kalimat itu untuknya, namun sejurus kemudian ia tepis lantaran Vanya tahu bahwa Marco hanya sedang mengigau. Toh, Marco sudah bilang sendiri bahwa ia hanya ingin menjadikan Vanya sebagai mainan untuk ajang balas dendam.
"Kejarlah wanita yang kau cintai itu Marco. Aku berharap kau bisa mendapatkan wanita itu agar kita sama-sama terbebas dari jurang kebencian ini."
Vanya menatap dalam-dalam wajah polos Marco saat tertidur. Tanpa sadar tangannya bergerak dan mulai mengelus rahang tegas pria itu.
Kau bilang semua kekasaran yang kau lakukan berasal dari sikapku yang sok jual mahal bukan? Mulai saat ini aku akan berusaha menuruti keinginanmu sampai kau merasa cukup dengan balas dendammu, batin Vanya dalam hati. Karena Vanya tahu, menjadi keras kepala di hadapan Marco hanya akan membuat ia semakin tersiksa seperti semalam.
Setelah merenung dan menangis sepuasnya, Vanya mulai menerima takdir dan menyadari bahwa ialah faktor utama yang mempengaruhi perubahan sikap Marco. Maka Vanya berusaha menerima apa pun perbuatan Marco kepadanya. Baik buruknya, ia akan hadapi sebisa mungkin. Namun ada satu hal yang sangat sulit ia hindari, yaitu sikapnya yang angkuh dan sok kuat.
Entah kenapa Vanya mendadak bersikap angkuh saat dihadapkan dengan Marco.
***
Terima kasih untuk kamu yang berkenan membaca sampai part ini. Semoga masih mau lanjut baca ya. 🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
Diana diana
iya kan , cintamu itu sangatlah besar . .
2024-01-26
0
liberty
tuhkan ketauan masih cinta banget /Chuckle//Slight/
2023-11-28
1
Indra Wati
hati hati marco nanti menyesal kayak abang zian lho
2023-02-25
1