Satu bulan lebih telah berlalu. Sekarang Vanya dan Adit resmi bercerai di mana beberapa menit lalu hakim telah mengetuk palu pertanda berakhirnya hubungan mereka.
Vanya dan Adit keluar dari ruang sidang dengan menyeret tubuhnya yang lemas. Kini status mereka bukan lagi suami istri. Melainkan bekas pasangan yang masih sama-sama mencintai tapi tidak dapat bersatu karena kebodohan si suami gila materi.
"Van!" Adit memanggil nama Vanya. Wanita itu menoleh pasrah.
"Aku ingin bicara denganmu sebentar." Adit melirik dua bodyguard yang menjaga Vanya. Selain mereka dan saksi yang dibawa pengacara, tak ada satu pun pihak keluarga yang mengantar Vanya kepersidangan. Marco menghilang lagi selama sebulan, sementara orang tua Vanya sudah lama meninggal. Vanya hanya memiliki nenek yang tinggal jauh di kampung halamannya. Dan nenek belum tahu sama sekali kalau Adit dan Vanya sudah berpisah. Setiap kali menelpon Vanya selalu bilang kalau ia sehat dan baik-baik saja. Begitu seterusnya sampai detik ini.
"Ya sudah, mau bicara apa?" Vanya menunjuk kursi tunggu di bagian pojok terbelakang. "Ngobrol di sana sepertinya bisa," ujarnya.
Mereka pun berjalan dan duduk di kursi yang ditunjuk Vanya tadi. Bodyguard suruhan Marco hanya mengawasi dari kejauhan tanpa berani menghalau karena Marco tak memberi pesan atau larangan apa pun tentang aktivitas Vanya hari ini. Asal tidak ada yang menyentuh Vanya, itu tidak jadi masalah.
"Ada apa?" tanya Vanya sesaat mereka baru saja duduk di tempat itu.
Adit hampir saja meraih tangan Vanya, namun segera ia urungkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan seperti waktu itu. Apalagi mata seram para bodyguard suruhan Marco tak hentinya mengawasi mereka berdua. Adit sudah takut duluan melihat tubuh mereka yang besar seperti monster.
"Aku ingin meminta maaf atas semua kesalahanku Van. Aku tahu seberapa banyak pun aku mengucapkan kata itu tetap tidak ada gunanya di matamu. Aku tahu persis kesalahanku memang tidak bisa dimaafkan, tapi aku benar-benar menyesal. Sama halnya denganmu, aku juga tidak bahagia sama sekali. Meskipun perusahaanku tidak jadi gulung tikar, tapi hari-hari ini sungguh tidak ada artinya tanpa kamu di hidupku, Van."
Wanita itu tersenyum ngilu mendengar ucapan Adit yang terdengar miris. Kemudian menatap Adit dengan paras yang sudah dibuat setenang mungkin. "Perusahaanmu sudah kembali pulih, Mas. Seharusnya kamu bisa berbahagia. Bukankah itu yang menjadi kemauanmu?"
Adit kembali menggeleng sedih. Matanya berbinar seakan ada yang hendak tumpah dari pelupuk itu. "Tidak Van! Apa yang aku lakukan waktu itu adalah efek gelap mata dan tuntutan orang tua. Aku terlalu pengecut, aku takut orang tuaku kecewa karena aku tidak bisa menjaga perusahannya dengan baik. Akhirnya aku menerima tawaran gila itu agar reputasiku tidak hancur. Maafkan aku, Van. Aku benar-benar tidak punya hati saat itu."
Lagi-lagi Vanya hanya tersenyum getir mendengarnya. "Sudahlah Mas. Toh semuanya telah berakhir. Mari kita lanjutkan hidup kita masing-masing. Aku akan menjadi budak Marco, dan Mas Adit bisa kembali fokus pada perusahaan yang selama ini menjadi junjunganmu."
Kata-kata Vanya begitu menyayat sekaligus menusuk. Bibir Adit bergetar mendengar itu. "Aku masih sangat mencintaimu Van. Tolong jangan pernah berbicara seperti itu," lontar Adit.
Akhirnya air mata itu jatuh juga. Cairan bening mengalir membasahi pipi hingga jatuh ke bawah.
Penyesalan memang datangnya selalu terakhir. Itulah yang Adit rasakan saat melihat tambatan hatinya perlahan berbegarak semakin menjauh darinya.
"Tolong berikan aku ke sempatan sekali lagi Van," bisik Adit sedikit takut karena bodyguard seram itu terus memelototi gerak-geriknya. "Kembalilah bersamaku setelah perjanjian ini usai," mohon Adit sambil menautkan dua tangannya di depan wajah.
"Tapi aku tidak yakin bisa melalui ini semua Mas! Satu setengah tahun itu bukan waktu yang sebentar," tolak Vanya sedikit ragu.
Adit menggenggam tangan Vanya sebentar, kemudian melepaskannya lagi sebelum dilihat oleh dua bodyguard tersebut. "Percayalah padaku Van, tuan Marco adalah orang yang mapan dan kaya. Dia pasti akan segera meninggalkanmu begitu mendapatkan target yang baru."
Kalau di membunuhku setelah puas bagaimana, Mas? Kamu itu tidak tahu seperti apa menyeramkannya Marco.
Vanya hanya termenung meratapi asumsi di hatinya. Terlebih Adit belum tahu permasalahannya di masa lalu bahwa Vanya pernah menyakiti Marco. Kalau Adit tahu, pasti ia tidak akan berpikir bisa kembali bersama Vanya lagi.
"Aku tidak bisa berjanji Mas, tapi aku akan mencoba bertahan satu kali lagi untukmu."
Bodoh!
Satu kata itu sangat pantas dilontarkan kepada Vanya saat ini juga. Disaat sang suami menghancurkan harga diri dan menjualnya, ia malah memberi kesempatan satu kali lagi pada Adit.
Di mana otakmu, Van?
Entahlah, Vanya juga tidak ingin seperti ini. Harusnya Vanya membenci dan menjauhi Adit, bukan malam memaafkannya, tapi Vanya tak mampu melakukan itu lantaran hati nuraninya terus berkata lain.
Lagi-lagi cinta adalah alasan tanpa logika yang bisa membuat Vanya bertahan untuk Adit. Terlebih, Vanya tidak pernah bisa menyalahkan Adit ataupun Marco karena pendorong kuat hal ini bisa terjadi karena perbuatan menjijikan Vanya di masa lalu.
***
Karma itu ada gengs. Siapa di sini yang pernah selingkuh? hehhe
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
Mirna Loden Mirna Mirna
lupain adit ajah,jngn smpe kejadian akan terulang lgi
2023-04-12
0
Nanda Lelo
kalau sampai Vanya kembali k Adit,, sungguh vanya adalah manusia terbodoh yg pernah ada,,
2023-02-03
0
❁︎⃞⃟ʂ𝕬𝖋⃟⃟⃟⃟🌺 ᴀᷟmdani🎯™
selingkuh itu tantangan indah yang sangat menyenangkan. karena butuh kecerdasan dan kemampuan untuk merahasiakan nya dari orang2.
2022-11-26
0