Ketika hidup sudah tak selaras lagi dengan makna yang terkandung dalam prinsip manusia, mati adalah cara terbaik untuk melupakan kejamnya konflik nyata yang harus Vanya hadapi saat ini. Ia memutuskan mengakhiri hidupnya demi terbebas dari neraka dunia yang membelenggunya.
Vanya tahu bunuh diri itu dosa, namun hidup seperti ini juga tak ada guna. Dalam sekejap dunia wanita itu jungkir balik sampai mentalnya tak dapat lagi berfungsi normal. Jangankan melanjutkan hidup, menghirup udara saja ruang di dada Vanya seakan menolak.
Saat Hero dan beberapa penjaga lengah, Vanya langsung menusuk bagian nadi di pergelangan tangannya dengan pisau steak, kemudian menyayat luka tusukkan itu agar lubangnya semakin lebar. Nahas, aksi bunuh diri itu berhasil digagalkan oleh Hero dengan penanganan tepat dan cepat. Beruntung luka di tangan Vanya juga tidak terlalu dalam. Kini wanita itu sudah kembali ke tangan Marco dengan selamat. Di mana pria itu terus menatap wajah pucat Vanya dengan senyum jahat yang tidak pernah lepas sedari tadi.
Vanya mengerjap-ngerjap pelan, dan mulai tersadar dari pingsan akibat pengaruh obat bius. Ia menatap langit-langit kamar yang dihiasi dengan desain interior mewah, tak perlu menebak lagi, jelas Vanya sudah tahu bahwa ia sedang berada di kamar hotel.
"Eugh." Vanya merintih, merasakan tangan kirinya yang kaku karena luka yang ia buat sendiri.
"Apa kau sudah bangun, Nona Manis?" Suara Marco menyambut bangunnya Vanya dari mimpi buruk. Lalu kembali pada kehidupan nyata yang jauh lebih buruk.
Pria itu mendekat dan duduk tepat di bibir tempat tidur. Ia membelai wajah Vanya seraya melempar seringai licik. Marco juga menyururi wajah teduh Vanya dengan jari-jemarinya. Bermain di sana sambil terus menatap muka itu penuh kebencian. "Nyawamu ada di tanganku, jika aku belum ingin melihatmu mati, maka kau masih terus bernapas dengan hidup penuh siksaan seperti ini," lirihnya.
"Kau bukan Tuhan. Mati dan hidupku bukan di tentukan olehmu," kecam Vanya tak peduli. Suaranya yang lemas ia paksakan kuat demi melawan kekejaman seorang Marco.
"Mulutmu sungguh berdusta Vanya. Bukankan yang kau lakukan tadi adalah bagian dari penghianatanmu terhadap Tuhan? Jadi tidak usah munafik dan membawa nama Tuhan lagi di depanku. Sekarang kau hanyalah wanita murahan yang ingin lepas dari karma alam, tapi sayangnya kau tidak mampu melakukan itu, Van!" tukas Marco tak mau kalah murka.
"Tanggung jawab apa, Marco? Dasar spikopat sinting!" tukas Vanya semakin menggila hebat. Ia mencoba mengambil posisi duduk. Kemudian menggeser tubuhnya ke tengah agar tidak terlalu berdekatan dengan Marco. Wanita itu berdecak tidak paham atas apa yang Marco ucapkan tadi.
"Jangan pura-pura lupa!" Marco merogoh saku jasnya, lalu melempar lembaran foto yang ia simpan rapat-rapat selama ini ke wajah pucat Vanya.
Wanita itu membelalak sempurna saat melihat fotonya beberapa tahun lalu. Diambilnya satu-persatu foto itu. Ada sosok ia dan pria selingkuhannya sedang bermesraan mengenakan seragam sekolah putih abu-abu. Tubuh Vanya mulai gemetar kembali melihat tatapan nyalang Marco. Bahkan ia tidak berani membayangkan nasib selingkuhannya itu seperti apa. Mungkin dia sudah dilenyapkan. Mengingat kepada Vanya yang notabene wanita saja Marco sampai segila itu. Tak dipungkiri Vanya memang sempat berselingkuh, tapi hubungannya juga tidak berjalan lama lantaran pria itu tiba-tiba memutuskannya tanpa kejelasan. Bisa jadi itu ulah Marco, yang jelas saat itu Vanya tidak peduli karena hatinya masih abu-abu dan menganggap cinta hanyalah sebatas senang-senang.
"Bertanggung jawablah, karena kau telah menggoreskan pisau tajam padaku di masa lalu," ucap Marco kemudian.
"I-tu hanya masa lalu Marco! Bagaimana mana bisa kau merasa dendam di saat perasaan yang kita jalani hanya sebatas cinta monyet?"
"Jadi kau menganggap perasaanku seremeh itu?" Marco menggeleng samar. Matanya memerah dan tangannya sudah mencengkeram leher jenjang wanita itu penuh ancaman.
Vanya berusaha menepis tangan Marco yang mencekiknya tidak terlalu kuat. "Sudah kubilang itu hanya cinta monyet. Seharusnya kau bisa membedakan yang mana cinta tulus dan cinta anak remaja."
"Cih! Beraninya kau berkata seperti itu! Apa kau tahu betapa hancurnya aku di masa itu? Aku sampai harus pindah sekolah dan dirawat ke luar negeri hanya karena depresi memikirkan perselingkuhanmu, Van. Foto-foto itu selalu membayangi kehidupanku sampai aku merasakan hal yang sama sepertimu. Ingin mati juga!"
Saat itu Vany terlonjak dengan mata membeliak. Ia tidak menyangka bahwa permainan hati yang pernah dimulainya dulu menimbulkan dampak semengerikan itu di hidup Marco.
"Ma-maafkan aku Marco, a-aku benar-benar tidak tahu kabarmu lagi setelah kita putus. Kau yang menjauh dariku." Tergugu-gugu Vanya mengatakannya. Hatinya ikut sakit mendengar penuturan Marco yang sepertinya sangat hancur kala itu.
"Aku menjauh karena benci terhadapmu. Untuk apa aku mendekati wanita yang jelas-jelas sudah menipuku dari awal kita pacaran," ketus Marco.
"I-ini salahku. Aku yang salah. Tolong lupakankanlah dendam yang bersarang di hatimu, Co. Aku yakin kau akan mendapatkan wanita terbaik jika hatimu ikhlas." Vanya berusaha mengambil hati Marco. Mengajak pria itu agar mau berdamai dengan keadaan. Sayangnya, Marco sudah terlanjur membatu. Tidak bisa digoyahkan lagi baik otak maupun hatinya.
"Cih! Mudah sekali kau mengatakan maaf setelah menghancurkan hidupku sampai separah ini. Dasar wanita tidak tahu diri!" Nada mengejek kembali terdengar dari bibir Marco yang sepertinya sudah biasa sekali menghina Vanya. "Maafmu hanya bisa terbalaskan dengan ini ...."
Marco menyunggingkan seringai jahat lagi. Tangannya mulai merambat dan langsung berlabu pada bagian sensitif milik wanita itu. Ia menekan bagian terlarang itu sangat kasar sampai Vany memekik tanpa suara. Tubuh Vany benar-benar sakit karena perlakukan Marco, tapi ia berusaha menahannya sebisa mungkin. Sekali lagi faktor lemah adalah pemicu utama yang selalu ingin Vanya hindari sebisa mungkin.
"Aku tidak butuh wanita terbaik! Cukup kau menjadi mainanku, itu sudah jauh lebih baik dari apa pun."
Marco tertawa lepas setelahnya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
Diana diana
cintamu terlalu dalam dan besar hingga membuatmu sampai seperti itu . .
2024-01-26
0
liberty
aku mah tau kebencianmu begitu besar, sebesar cintamu pada Vanya tapi gengsi mengalahkan segalanya...kepo gue gimana nanti kalian bisa bersama kembali😁
2023-11-28
0
Nanda Lelo
cuma karena cinta masa putih abu-abu Marco jadi psikopat kyk gini??? yaasalaaaaammmmm
2023-02-02
0