...🌻Selamat Membaca🌻...
Lexus LS 460 AWD berhenti di sebuah cafe bergaya outdoor. Si pemilik turun dengan gagahnya sembari menenteng sebuket lavender di tangan. Siang ini, pria pemilik mobil mewah itu akan menemui seseorang.
Mengedarkan sejenak manik matanya hingga beberapa saat kemudian bersirobok dengan mata tajam yang juga sedang menatapnya. Seorang wanita duduk di salah satu meja cafe dan tengah tersenyum padanya. Senyum yang terlihat seperti seringaian.
Pria itu menghampiri si wanita dengan wajah datar dan sedikit malas. Kalau bukan karena permintaan orang tuanya ia tidak akan mau menemui wanita ini.
"Kau terlambat," ucap si wanita dengan nada angkuh. Kedua tangannya terlipat di depan dada, matanya memandang remeh si pria.
Pria itu duduk di kursi yang berhadapan dengan si wanita, ia menghela napas sebentar sebelum mengangkat pergelangan tangan kanannya dan mengamati Hublot Classic Fusion yang kini menunjukkan angka 12.05. Sedangkan janji temu mereka adalah pukul duabelas lewat seperempat, masih ada sepuluh menit tersisa. Si pria mendengus. "Saya yang datang terlambat atau anda yang tidak tahu waktu?" sindirnya.
Si wanita hanya bisa menggeram, niatnya ingin mempermalukan pria di hadapannya, eh... malah berbalik menyerangnya sendiri.
Si pria tersenyum puas di dalam hati melihat wajah kesal lawan bicaranya.
"Ini untukmu!" Si pria lantas menyodorkan sebuket bunga yang tadi di bawanya ke hadapan si wanita.
Mata wanita itu berbinar, ia meraih bunga itu dan mendekatkannya pada wajah. Menghirup wangi yang menguar dari si lavender. "Wow... kau tahu bunga kesukaanku?" tanyanya dengan wajah takjub yang dibuat-buat.
"Kalau bukan ibuku yang memberitahu, mungkin aku sudah membawakanmu bunga Bangkai," jawab si pria enteng.
Wanita dengan rambut panjang digerai itu tertawa kecil mendengar perkataan bernada sarkasme dari pria di depannya, namun di akhir kalimat wajahnya mengeras menatap tajam pria itu yang masih tampak santai setelah melakukan penghinaan terhadapnya.
"Sebagai seorang pria, mulutmu itu kasar sekali ya," ucapnya penuh penekanan.
"Jangan samakan saya dengan pria hidung belang yang sering menggoda anda," lagi-lagi si pria berkata sarkastik.
Napas sang wanita seketika memburu, emosinya sudah naik sampai ke ubun-ubun. Ia bangkit dan menggebrak meja di hadapannya, menunjuk pria yang masih duduk anteng itu dengan penuh amarah. "Jaga ucapanmu Rafandra Hemachandra!" tegasnya.
"Dibagian mana dari ucapan saya yang harus dijaga, Vania Hermawan?" Pria itu- Rafandra- berdiri dari duduknya dan menantang Vania tanpa takut.
"Kau berkata seolah-olah aku ini wanita murahan yang dengan mudah dirayu oleh pria mana saja," desis Vania dengan rahang mengeras.
Rafa menyeringai. "Nona Hermawan, apa saya boleh bertanya?"
Kening Vania mengernyit mendengar ucapan Rafa, apakah dalam situasi tegang seperti ini pria itu harus meminta izin terlebih dahulu? Bukankah sedari tadi pria itu terus menghinanya tanpa izin. "Apa yang mau kau tanyakan?" akhirnya wanita itu menjawab.
"Apa anda tahu sebutan untuk wanita yang rela menjual wajah dan tubuhnya untuk konsumsi publik?"
DEG
"BRENGS*K!" Kepala Vania langsung berasap mendengar kembali hinaan yang dilontarkan Rafandra. Napasnya terengah-engah dengan mata melotot tajam. "Dasar pria kurang ajar!" Vania mengambil bunga di atas meja dan melemparkannya ke wajah Rafa dengan kasar. Setelah itu dengan kaki menghentak ia pergi meninggalkan cafe.
Selepas kepergiaan Vania, Rafa mendudukkan kembali pantatnya pada kursi. Ia menghembuskan napas berkali-kali. "Merepotkan..." desahnya. Bersyukur cafe yang dikunjunginya kali ini terlihat sepi karena orang-orang banyak memilih duduk di indoor, jadi perdebatan tak mutunya tadi tidak sampai menjadi tontonan gratis para pengunjung.
Rafa menolehkan kepala ke samping, menatap kembali jalan yang tadi sempat dilalui Vania. Penampakan perempuan Hermawan itu tidak lagi tampak di pelupuk mata, dia pergi terburu-buru membawa amarahnya. "Ck... tega sekali ibu menjodohkanku dengan wanita angkuh seperti dia..." lirihnya merasa lelah.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Rafa bersikap demikian pada Vania. Beberapa waktu yang lalu, dia pernah memiliki client seorang wanita berumur 30-an. Clientnya itu menceritakan tentang perselingkuhan sang suami dengan seorang model berinisial VH dan Rafa diminta untuk membantunya menangani kasus itu. Clientnya telah mendapati sang suami tengah bermesraan dengan si model di sebuah kamar hotel. Client itu berniat melaporkannya ke pihak berwajib, Rafa siap untuk jadi pembela namun beberapa hari kemudian client itu menemuinya kembali dan membatalkan niatannya. Entah apa yang terjadi, Rafa tidak tahu pasti. Sepertinya dengan kekuasaan sang suami yang merupakan seorang pengusaha kaya, dapat menutup masalah itu sebelum terendus media dan diketahui khalayak umum.
VH, bukankah inisial itu sangat cocok dengan nama Vania Hermawan? Ya..., tidak hanya itu, setelah diselidiki hanya ada satu orang dengan inisial itu pada agensi yang disebutkan dan Rafa semakin yakin jika wanita yang dijodohkan dengannya adalah orang yang sama. Memalukan sekali, seorang wanita yang berasal dari kelurga terhormat bisa melakukan hal rendah dengan berselingkuh dengan suami orang. "Apa jadinya diriku jika menikah dengan wanita semacam itu, merepotkan..." gumamnya.
Rafa menatap buket bunga yang sudah hancur berhamburan di atas meja. "Padahal si cantik sudah susah payah membuat ini tapi wanita angkuh itu menghancurkannya." Ia memunggut kembali lavender itu dan menyatukannya. "Akan ku bawa pulang saja."
...🌺 🌺 🌺 ...
Vania sampai di gedung agensinya, siang ini ia ada pemotretan untuk salah satu produk bikini tapi moodnya sudah berubah jelek karena pria kurang ajar bernama Rafandra itu.
"Bagaimana, kau sudah bertemu dengan pria yang dijodohkan denganmu?" tanya Fara saat Vania sudah berada di ruang rias.
"Jangan bicarakan tentang pria sialan itu, aku harus fokus pada pemotretan kali ini," pintanya. Mau tak mau managernya itu terpaksa diam dan langsung meminta penata rias menandani sang model.
Setengah jam kemudian Vania selesai dengan penampilan barunya. Sepasang bikini super sexy telah melekat sempurna di tubuhnya yang molek, memperlihatkan kulitnya yang mulus juga dadanya yang besar. Dengan penuh percaya diri, ia memperhatikan bentuk tubuhnya di cermin luas yang terdapat di ruang rias, sesekali berpose menggoda sebagai bentuk latihan agar tidak kaku di depan kamera nanti.
"Sudahlah, nanti kita terlambat." Fara menghentikan tingkah centil sang model dan memberinya bathrobe untuk menutupi tubuhnya yang terbuka.
Mereka berdua berjalan ke studio, sampai di sana terlihat beberapa orang yang baru saja selesai melakukan sesi pemotretan. Mata Vania berbinar senang melihat pria yang baru saja menjadi model pakaian laki-laki itu, dialah si tampan incarannya, siapa lagi kalau bukan Tristan Gautama.
Dengan tingkah malu-malu, Vania menghampiri Tristan yang sedang berbincang dengan fotografernya.
"Hai!" sapanya dengan suara selembut mungkin.
Tristan yang merasa disapa langsung menoleh dan menemukan model cantik itu tengah berdiri menatapnya dengan malu-malu.
"Hai." Tristan balik menyapa dengan nada riang, sudut bibirnya sedikit tertarik membentuk senyuman tipis.
"Sudah selesai?" tanya Vania.
"Hn, sekarang giliranmu?" tebak Tristan.
"Iya..." angguknya pelan. "Sebenarnya aku sedikit malu karena harus berpose dengan bikini ini," ucapnya gugup, dibuat-buat tentu saja.
Tristan mengangkat tangan dan meletakkannya di bahu Vania. Dia sedikit meremasnya, mencoba memberi kekuatan. "Kau pasti bisa," ucap Tristan menyemangati.
"Semoga saja," harapnya. "Terimakasih banyak Tristan, karena kau telah menyemangatiku."
"Hn. Sama-sama." Tristan tersenyum.
"Sedikit lagi saja Vania akan terjerat pada pesonaku," pekiknya senang di dalam hati.
Kini Vania akan memulai sesi pemotretannya, ia melepas bathrobenya dan berjalan melenggok ke depan kamera. Sang fotograferpun harus menelan ludah susah payah melihat penampakan menggoda yang tertangkap lensa kameranya.
Tristan berdiri di pojok ruangan, matanya tak lepas memandang Vania di depan sana. Wanita itu terlihat sangat cantik dan sexy, apalagi pose menggiurkan itu membuat libido Tristan hampir melambung tinggi. Syukur saja Jovanka segera menyadarkannya.
"Tan, kita harus pergi!" kata manager Tristan itu.
"Hn." sekali lagi ia melihat Vania, kemudian melangkah pergi meninggalkan studio.
"Aku sering mendengar rumor yang tak baik tentangnya..." Jovanka yang berjalan di samping modelnya, berkata.
"Hanya rumor, belum tentu benar." Tristan menanggapinya santai, tidak terpengaruh sama sekali.
"Kau salah jika tertarik dengan wanita seperti dia, Tan," batin Jovanka miris.
...🌺 🌺 🌺...
Pukul 7 malam Jovanka baru keluar dari gedung agensi. Ia berjalan menuju parkiran tempat mobilnya berada. Saat akan membuka pintu mobil, seseorang mencegatnya.
"Vanka..."
Jovanka memutar mata bosan saat mendengar suara pria itu lagi. Pria brengs*k yang sudah mengkhianati cintanya.
"Mau apa lagi?" sebenarnya Jovanka sudah malas meladeni Gara.
"Sayang, lihat aku!" pinta Gara karena sedari tadi perempuan itu enggan melihatnya. Pandangannya ia buang ke arah lain.
Gara terpaksa merangkum kedua pipi kekasihnya dan menolehkan wajah cantik itu untuk menghadapnya.
"Sayang, dengarkan aku!" mohon Gara.
"Hmm?" Jovanka hanya berdehem, wajahnya masih dirangkum oleh dua telapak tangan besar Gara, namun matanya menatap ke bawah. Belum sanggup rasanya jika harus bersitatap dengan mata itu, ia takut menjadi lemah.
"Lihat aku, sayang!" Gara mengiba.
"Cepat katakan apa maumu Gara, aku harus pulang!" dengan ketus Jovanka berucap.
Gara pasrah, sepertinya Jovanka tidak mau melihat wajahnya kali ini. Tapi ia tidak akan berhenti meminta maaf dan membujuk perempuan yang dicintainya itu untuk kembali ke dalam pangkuannya lagi.
"Sayang, aku minta maaf, berikan aku satu kesempatan lagi!"
Kesempatan?
Jovanka melepaskan tangan Gara dari pipinya, kini matanya dengan berani menatap manik pria yang sangat dicintainya itu.
"Kesempatan apa? Kesempatan untukmu bisa bermain di belakangku lagi?" bentak perempuan itu geram.
"Bukan, aku sangat mencintaimu. Aku berjanji akan berubah!"
Jovanka tersenyum mengejek, "Berubah? Dengan kebiasaan burukmu itu?"
"Aku akan berusaha..."
"Lalu bagaimana caramu untuk mengatasi kebiasaan buruk itu?"
"Kita menikah!"
DEG
Jovanka melotot garang. "Setelah apa yang kau lakukan, sekarang kau baru mau menikahiku. Enak sekali kau bicara!" pekik Jovanka emosi.
"Aku mencintaimu, Jovanka. Aku tidak ingin kehilanganmu!"
Mencintai? Bullshit, Jovanka hampir terbahak mendengar kata cinta dari mulut Gara.
"Lalu saat kau bersengg*ma dengan para j*lang itu, masihkah kau mencintaiku, adakah kau memikirkanku? Apa namaku yang kau teriakkan saat pelepasanmu, huh? BRENGSE*K!" Maki Jovanka penuh amarah.
Gara tercekat, ia tak mampu menjawab pertanyaan sang kekasih. Kini baru rasa penyesalan itu datang, karena tak bisa mengendalikan nafsunya, ia malah berakhir membuat terluka perempuan yang sangat dicintainya.
Jovanka menangis terisak, dadanya terasa begitu sesak, seakan tak mampu menampung sakit hati itu lebih lama lagi.
"Aku mencintaimu Gara, aku menjaga diriku hanya untukmu tapi apa yang aku dapat sebagai balasannya? Tubuh kotormu yang bahkan sudah dijamah oleh wanita-wanita di luar sana? Ini tidak adil bagiku..." Jovanka menggeleng kuat. Ia menyerah, tak mau lagi berurusan dengan pria ini.
Tubuh Gara meluruh, ia duduk bersimpuh di kaki kekasihnya. "Tolong berikan aku satu kesempatan lagi, aku janji akan berubah." mohon pria itu dengan wajah yang juga sudah berlinang air mata.
"Aku tidak bisa, hubungan kita harus berakhir sampai di sini." Jovanka berbalik, berupaya untuk tidak luluh dengan kerapuhan pria yang kini berlutut memohon padanya. Bahkan pria itu sudah tidak memikirkan harga dirinya lagi.
"Vanka..."
"Berikan aku satu kesempatan pagi, please!"
Tiba-tiba terlintas sebuah ide di benak perempuan itu. "Baik, aku akan memberimu satu kesempatan lagi."
Gara langsung berdiri. Ia menatap Jovanka penuh pengharapan. "Benarkah?"
Jovanka tersenyum manis. "Iya, tapi sebelum aku kembali padamu, aku akan tidur dengan pria lain dan kau harus menyaksikannya!"
DEG
Mata Gara membola, tak percaya dengan ucapan sang kekasih yang baru saja didengarnya. "Jangan! Aku tidak rela jika pria lain menyentuhmu!" Protes Gara tak terima. Membayangkannya saja ia tidak sanggup, apalagi harus menyaksikannya secara langsung.
"Baru mendengar perkataanku saja kau sudah begini, bagaimana dengan perasaannku yang harus menghadapinya, hm?" Tanya Jovanka.
"A-aku..."
"Sudahlah, kita memang seharusnya selesai." Perempuan itu berbalik pergi.
"Jovanka!" Gara memanggilnya.
"Jangan tinggalkan aku!"
Jovanka menulikan telinganya, ia memilih membuka pintu mobil dan melesat pergi meninggalkan Gara yang masih berteriak memanggilnya.
.... ...
Tristan sampai di apartemen, kedatangannya disambut dengan senyuman oleh Stela, seperti biasa.
"Kau sudah makan?" tanya Stela.
"Belum..." jawabnya.
"Baiklah, akan ku siapkan sebentar. Maaf tadi aku makan duluan karena lapar sekali" kata Stela tak enak.
"Tidak masalah..." balas Tristan. "Kalau begitu aku mandi dulu."
"Iya."
Tristan berjalan masuk ke kamar, satu senyum terbit di wajahnya.
"Stela sudah seperti istriku saja, melayaniku dengan baik."
.......
Penat ditubuh Tristan langsung hilang setelah berendam di dalam air panas. Dengan kaos hitam dan celana selutut, pria itu keluar kamar hendak mengisi perutnya yang mulai minta makan.
Baru saja menutup pintu kamar, sayup-sayup ia mendengar suara tangisan dari arah ruang tengah. Penasaran, dengan langkah lebar ia menghampiri suara itu.
Di sana ia melihat Jovanka sedang menangis di dalam pelukan Stela.
"Kenapa lagi dia?" pikir Tristan.
Tanpa mau repot-repot menanyakan kabar sahabatnya, Tristan lebih memilih menghampiri meja makan.
"Sudahlah Kak, jangan dipikirkan lagi!" bujuk Stela agar Vanka berhenti menangis.
"Tapi sakit sekali rasanya hatiku ini, aku mencintainya tapi aku sudah terlanjur kecewa padanya" jelasnya perempuan itu terisak.
Stela tidak bisa berkata apa-apa lagi, yang bisa ia lakukan hanyalah mengusap punggung Vanka agar perempuan itu bisa lebih nyaman.
KRUUKK...KRUKKK....
Stela menganga mendengar suara barusan, ia melepaskan pelukan Vanka dan tersenyum melihat wajah perempuan berambut sebahu itu yang sudah memerah malu.
"Perutku berbunyi disaat yang tidak tepat" Vanka meringis.
Stela terkekeh kecil, "Ayo makan dulu, Kak." Stela bangkit dan menarik tangan Vanka membawanya ke meja makan di mana Tristan sedang lahap menikmati makanannya.
"Menangis juga butuh tenaga," ejek Tristan sesaat Vanka dan Stela sampai di meja makan.
"Diam kau, teman sedih bukannya dihibur malah diledek. Menyebalkan!" bentak Vanka kesal.
"Isi dulu tenagamu nanti baru nangis lagi."
"Diam kau, SeTan!"
"Hn."
Stela yang sudah mengambil nasi langsung meletakkannya di depan Vanka yang duduk berhadapan dengan Tristan.
"Terimakasih, Stel..." ucapnya.
Setelah makan malam berakhir, mereka bertiga duduk di ruang tamu. Vanka kembali mencurahkan isi hatinya kepada Stela dan juga Tristan. Hanya Stela yang sesekali menanggapi sementara Tristan hanya diam sembari menonton siaran berita di televisi.
"Stel, are you still virgin?" pertanyaan yang dilontarkan Vanka sukses membuat Stela membatu. Sementara Tristan langsung menoleh pada dua perempuan itu, ia tak habis pikir pada sahabatnya yang dengan lancang bertanya masalah pribadi seperti itu.
"Stela?" Vanka menepuk pelan pundak Stela, menyadarkan gadis itu dari kebekuannya.
Stela tertunduk dengan pipi merona, "A-aku tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun..." jawaban itu langsung membuat Vanka dan Tristan mendesah lega. Walaupun jawabannya bukan 'Yes' atau 'No', tapi mereka dapat menyimpulkannya. Terlebih saat melihat rekasi Stela yang malu-malu.
"Good girl" Vanka mengelus sayang puncak kepala Stela. Ia menganggap Stela sudah seperti adiknya sendiri dan perlu dilindungi. "Dengar ya Stel, suatu saat nanti jika kau ingin menjalin hubungan dengan seorang pria, pastikan dulu jika pria itu masih perjaka. Jangan mau dengan pria yang sudah bekas dijamah wanita lain, kau mengerti!" Vanka memperingatkan dan Stela mengangguk.
"Satu lagi yang paling penting, jangan mau diajak bercinta sekalipun oleh orang yang kau cintai sebelum resmi menikah" nasihatnya lagi.
"I-iya, Kak. Aku mengerti" Stela mengangguk patuh.
Tristan speechless mendengar topik pembicaraan dua perempuan itu, jadi dia lebih memilih kembali ke kamar dan beristirahat.
"Terus ingat pesanku ini ya, Stel!"
"I-ya.."
"Mommy... daddy... Ela kan masih kecil!" Stela meringis di dalam hati.
...Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
brooklyn fachrudin
wahh...mulai keliatan benang merahnya nihhh
2021-05-23
1
Nna Rina 💖
ya iyalah tan suka tuh yg kyk stela jgn yg kyk vania
2021-04-24
0