Kisah Lama

...🌻Selamat Membaca🌻...

Stela dan Intan tidur berbaring saling berhadapan.

"Aku adalah sepupu jauh dari mas Taufan dan Tristan, dari kecil aku sudah mengenal mereka berdua. Dulu, Tristan adalah anak yang manis, selalu menempel pada mas Taufan kemana pun kakaknya itu pergi ..." Intan mulai bercerita mengenai hubungannya dengan dua kakak beradik itu.

Stela tersenyum, bisa ia bayangkan betapa manjanya Tristan pada kakaknya dulu. Dia pun juga begitu pada kedua kakaknya.

"Waktu terus berlalu, saat Tristan beranjak remaja, ia mulai melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Ayah yang selalu berbuat kasar pada ibu dan ibu yang setiap hari menangis karena kekasaran sang ayah. Sejak saat itu, Tristan berubah dari anak yang manis menjadi pribadi yang dingin dan kasar. Di sekolah ia sering berkelahi, tak jarang ibu mertua harus menyelesaikan masalahnya di sekolah. Dan saat sampai di rumah, Tristan selalu mendapatkan kemurkaan sang ayah, ibu yang membela justru akan menjadi sasaran amukan ayah mertua pada akhirnya."

Mata Stela sudah berkaca-kaca kala mendengar cerita dari Intan. Ia tidak menyangka jika Tristan mengalami hal yang begitu memprihatinkan di masa di mana dia seharusnya mendapatkan limpahan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya.

"Selain itu, Tristan juga menjadi pribadi yang tertutup. Ia hanya akan diam setiap kali ditanya oleh mas Taufan. Hari-harinya hanya dihabiskan dengan bertengkar, bermenung dan melawan pada sang ayah. Aku rasa waktu itu ia sama sekali tidak mempunyai teman," lanjutnya.

Stela juga mengalaminya, sama halnya dengan Tristan, ia pun tidak memiliki teman. Sekolah selalu home schooling, pergaulannya dibatasi, ia hanya bertemu teman sebayanya saat ada acara perayaan, pesta atau sejenisnya.

"Aku menceritakan hal ini kepadamu karena aku lihat Tristan dekat denganmu. Tadi saja ia seperti orang frustasi karena takut kamu meninggalkannya," terang Intan.

"Tapi Kak Intan mendengar sendiri kan alasan dia menahanku di sini? Aku cuma dijadikannya pembantu," lirih Stela sedih.

Intan tergelak. "Aku yakin Tristan tidak bermaksud seperti itu, ia hanya susah untuk mengungkapkan alasan sebenarnya karena terlalu gengsi, tapi percayalah, dia sudah nyaman bersamamu hingga ia merasa takut kehilanganmu," jelas Intan.

Stela terdiam, ia berpikir. "Masa sih kak Tristan seperti itu? Mana mungkin dia takut kehilanganku? Memang aku siapanya?"

Intan tiba-tiba meraih tangan Stela dan menggenggamnya. Matanya serius menatap gadis cantik itu. "Aku mohon padamu, jangan tinggalkan Tristan, ya? Selama ini dia hanya sendiri, aku yakin dia pasti butuh teman sepertimu. Teman yang tidak hanya menemani tapi juga bisa menjadi sandaran untuk berbagi suka dan dukanya bersama," pinta kakak ipar Tristan itu memelas. "Kalau bisa menjadi teman seumur hidup. Amin," lanjut Intan di dalam hati. Ia sangat menyukai Stela bahkan saat pertama mereka berjumpa. Ia yakin Stela adalah gadis yang baik dan bisa mendampingi adik iparnya, Tristan. Untuk itu, tidak salahkan dirinya mengambil langkah awal seperti ini. Berharap saja semoga yang dicita-citakannya suatu saat nanti terwujud. Tinggal bagaimana Tristan dan Stela melanjutkan langkah yang telah ia buat agar bisa bersama.

Stela masih terlihat memikirkan permintaan Intan. Ia memandangi lagi wajah ibu satu anak yang tetap mempertahankan wajah memohon itu, tak tega rasanya jika menolak, akhirnya Stela mengangguk. Ia berjanji, tidak akan meninggalkan Tristan kecuali pria itu sendirilah yang menginginkannya pergi.

.......

Intan terenyuh melihat Stela yang sudah terlelap tidur. Mata gadis itu sedikit membengkak karena lama menangis. Ya ... saat dirinya bercerita panjang lebar, Stela menitikkan air matanya di bagian-bagian yang menurutnya menyedihkan. Hati Stela begitu halus dan lembut. Intan menyukai gadis ini dan dia sangat berharap Stela bisa berjodoh dengan adik iparnya. Mereka terlihat serasi, yang satu cantik dan yang satu tampan. Apalagi saat melihat lensa asli dari mata Stela yang berwarna biru, sungguh ... gadis itu sangat cantik dan menawan.

"Apa Stela bukan orang Indonesia asli, ya?" pikir wanita itu.

.......

Sepasang suami istri baru turun dari pesawat yang mereka tumpangi dari London menuju Jakarta. Mereka sengaja tidak menggunakan jet pribadi karena tidak ingin menyombongkan diri. 

"Aku sudah menghubungi supir keluarga Wijaya untuk menjemput kita di bandara," kata sang istri.

"Ya, kita akan segera bertemu dengan Ela."

...🌺 🌺 🌺...

Pagi ini Tristan tersenyum cerah saat dua bola matanya menangkap pemandangan yang menyenangkan hati di dapur apartemennya. Di mana Stela tengah menata makanan di meja makan dibantu Intan.

"Dia tidak jadi pergi?" sorak gembira Tristan di dalam hati.

Taufan yang melihat ekspresi sumringah adiknya pun hanya bisa tersenyum geli.

"Di mana Ara?" tanya Taufan saat matanya tak melihat keberadaan sang putri tunggal.

"Masih tidur," jawab Intan. Wanita itu mengambil piring dan menyendok nasi ke dalamnya, lalu menyerahkannya pada Taufan. Sudah seharusnya kan seorang istri melayani suaminya.

"Ini, Kak." Stela juga melakukan hal yang sama. Ia menaruh piring yang sudah diisi nasi ke hadapan Tristan yang sudah duduk manis di samping Taufan.

"Wow ... kita sudah seperti dua pasang suami istri yang tengah makan bersama ya," celetuk Taufan tiba-tiba.

Intan yang mendengar itu menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan sang suami. Sementara Tristab dan Stela hanya bisa tertunduk, menyembunyikan wajah malu-malu mereka. Sebenarnya Tristan sangat ingin memprotes ucapan Taufan, tapi tidak saat suasananya sedang hangat begini. Ia takut merusaknya dengan kata-kata tajam dan dingin yang mungkin saja keluar dari mulutnya.

"Pa—pa!" Saat mereka sedang menikmati sarapan, suara kecil nan serak menyapa. Ara sudah berdiri di samping meja makan sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.

"Eh, anak papa sudah bangun? Kemarilah, Nak!" Taufan bangkit, menghampiri sang putri dan meraihnya dalam gendongan.

"Papa," lirih gadis mungil itu sembari menyurukkan kepalanya di perpotongan leher sang ayah.

"Ish ... manja sekali keponakan uncle ini!" Tristan mencubit gemas betis berisi Ara yang sedang digendong Taufan.

"Papa, Uncle jahat!" kadu bocah manis itu.

"Dasar pengadu!" ejek Tristan.

"Papa...." Ara mulai merajuk.

"Sudah–sudah, sekarang kita cuci muka dulu ya, setelah itu sarapan." Taufan membawa sang putri ke kamar mandi yang ada di dapur.

"Pak Taufan terlihat sangat menyayangi Ara, ya ..." ucap Stela.

"Iya, mas Taufan memang sangat menyayangi Ara. Dari kami masih pacaran dulu, ia memang selalu mengharapkan akan memiliki anak perempuan nanti setelah menikah. Dan di saat keinginannya kesampaian, ia menjadi begitu posesif dan protektif pada putrinya," jelas Intan. Stela mengangguk paham. Ia jadi teringat pada ayahnya yang juga sangat protektif terhadapnya.

"Oh ya, aku lupa." Stela baru mengingat sesuatu.

"Ada apa?" tanya Intan. Tristan yang penasaran juga ikut menantikan jawaban Stela.

"Kak Risa sudah melahirkan ..." Stela menatap Tristan.

"Benarkah? Apa anaknya?" tanya pria itu antusias. Intan yang tak mengenal orang yang tengah dibicarakan itu hanya bisa menyimak.

"Laki-laki, namanya Savero," beritahu Stela.

"Hm, aku tidak menyangka jika sekarang Arya sudah menjadi seorang ayah. Pasti dia sangat bahagia sekali," kata Tristan.

"Benar, pak Arya terlihat sangat bahagia," sahut Stela cepat.

"Apa mereka masih di rumah sakit? Aku ingin menjenguknya," tanya Tristan.

"Hari ini kak Risa sudah boleh pulang. Jika ingin menjenguk, mungkin kamu bisa langsung datang ke rumahnya," jawab Stela.

"Kamu mau menemaniku?"

"Tentu, aku juga ingin melihat Vero lagi. Dia begitu lucu dan menggemaskan. Dan ya ... aku punya fotonya."

"Bolehku lihat?"

Stela langsung mengeluarkan ponselnya, mencari foto Savero yang sempat ia potret kemarin.

"Hm? Mirip sekali dengan Risa, terus apanya yang menurun dari Arya? Tidak ada sama sekali ..." Tristan terkikik kala melihat foto bayi sahabatnya.

Tristan menatap foto itu dengan senyuman tipis, tapi saat tangannya menggeser layarnya ke samping, senyumannya tiba-tiba pudar, berganti dengan wajah datar dan dingin.

"Ini ..." Tristan menaruh ponsel Stela di atas meja dengan sedikit keras. Stela dan Intan yang melihatnya jadi terheran.

"Kamu kenapa?" tanya Intan.

"Tidak ada, Kak .." jawabnya datar.

Stela mengambil ponselnya, ia menghidupkan layarnya dan seketika terpampanglah wajah Rafa yang sedang berpose bersama Risa dan bayinya.

"Oh, jadi ini yang membuatnya kesal?" batin Stela. "Sebenarnya ada masalah apa sih di antara mereka. Aku jadi penasaran," pikirnya.

"Dia kenapa?" tanya Intan tanpa suara pada Stela.

Stela mendekat ke arah Intan dan membisikkan sesuatu padanya. "Oh..." Intan mengangguk mengerti.

"Hei, makananmu belum habis!" sorak Taufan. Saat ia kembali ke meja makan, Tristan malah pergi meninggalkan meja makan dengan wajah masam.

"Kenapa lagi dia?" tanya Taufan pada dua perempuan di depannya.

"Cemburu," jawab Intan.

"Oh, bisa juga dia cemburu." Taufan tergelak.

"Uncle?" tanya Ara.

"Dia lagi galau sayang, biarkan saja." Taufan kembali duduk di kursinya dengan Ara yang ada di pangkuannya.

"Galau, apa Papa?" tanya Ara lagi, dengan tampang polosnya seperti biasa.

"Oh my God, kamu kepo sekali nak." Taufan tepuk jidat.

"Turunan siapa dia kepo seperti itu, hm?" Goda Intan.

"Entah, mamanya mungkin."

Stela tersenyum kecil melihat interaksi keluarga Taufan yang begitu hangat. Ia jadi merindukan keluarganya sendiri, Mommy, daddy, Cio dan Ann.

...Bersambung...

...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers......

...🙏🏻😊...

Episodes
Episodes

Updated 76 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!