...🌻Selamat Membaca🌻...
Di ruang tamu super mewah dengan aliran renaissance itu, satu keluarga duduk berkumpul.
"Sudahlah Mom, berhenti menangis. Percayalah, Stela kita pasti baik-baik saja." Gadis bernama Anne itu terus berupaya menenangkan sang ibu yang masih menangis di sampingnya.
"Mommy tidak bisa tenang, Anne. Saat ini keberadaan adikmu tidak tahu di mana. Apakah dia masih hidup atau tidak?" ucap Ambar kalut.
"AMBAR, JAGA UCAPANMU!" Anthony yang mendengar ucapan sang istri langsung merasa murka. Istrinya itu beranggapan jika putri kesayangannya itu telah tiada dan ia tidak suka mendengarnya. "Putriku kuat, dia pasti bisa bertahan di luar sana. Jadi jangan bicara sembarangan, aku tak suka mendengarnya!" Tegur Anthony dengan wajah memerah.
"Tenanglah, Dad!" Abercio yang berada di samping sang ayah mencoba meredam emosi pria berumur itu.
Anthony menetralkan emosinya yang sempat memuncak, lalu ia merebahkan tubuhnya pada sandaran sofa dan mulai memejamkan mata.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, apa yang membuat Stela memilih minggat dari rumah. Bukankah sebelumnya tidak ada perdebatan atau pertengkaran," jelas Cio mencoba menganalisis.
"Apa mungkin Stela memiliki masalah tapi dia enggan menceritakannya pada kita dan memilih pergi dari rumah sebagai solusi?" duga Anne.
"Pergi dari rumah itu bukanlah solusi, lagipula masalah apa yang Stela miliki? Selama ini dia selalu bersikap baik, tak pernah membuat masalah jadi pradugamu itu tidak beralasan, Anne," sela Cio yang tidak setuju dengan pendapat sang adik.
"Tuan, Nyonya..." seorang pelayan tiba-tiba datang menghampiri keluarga inti yang tengah berdebat itu.
"Ada apa?" tanya Cio si sulung.
"Tuan muda, tadi saya membereskan kamar nona Stela dan menemukan sepucuk surat yang terselip di antara bantal di sana," jelas si pelayan seraya menyodorkan satu gulungan surat pada sang majikan.
Mendengar hal itu, Ambar langsung berhenti menangis begitu juga Anthony yang langsung membuka mata. Mereka berempat berjalan cepat menghampiri si pelayan dan merebut suratnya.
"Saya permisi Tuan, Nyonya..." setelah surat berada di tangan sang majikan, pelayan itu segera pamit undur diri.
Kini surat berada di tangan Ambar, dengan jantung berdebar dan perasaan campur aduk, jari lentiknya segera membuka pita yang mengigkat gulungan surat itu.
"Apa isinya?" tanya Anthony tak sabaran.
Wanita cantik berumur 46 tahun itu membuka lebar gulungannya dan tampaklah tulisan indah yang berjejer rapi. Semua merapat dan membacanya bersamaan.
... ....
Stela bangun pukul setengah tujuh, setelah mencuci muka dan menggosok gigi, ia langsung keluar kamar dan menuju dapur.
Keadaan dapur masih sama persis seperti sebelum ia meninggalkan apartemen ini pagi kemarin. Pertama ia melangkah ke arah lemari es, berharap keadaan di dalam lemari pendingin itu tidak seperti yang sebelumnya, karena jika iya dia tidak akan bisa membuat sarapan.
"Oh God.." Stela menghela napas kasar. Harapannya tidak jadi kenyataan, karena seperti kemarin, lemari es itu masih kosong bahkan lebih menyedihkan. Tidak ada lagi botol air mineral dan juga tomat, alias kosong melompong.
Stela yang merasa haus terpaksa mengambil minum di kran air yang ada si wastafel. Kerongkongannya kering dan perlu dibasahi.
Selesai minum, Stela mencari sesuatu yang perlu dikerjakan. Namun saat mengamati seluruh penjuru apartemen, dia tersenyum. Apartemennya masih bersih, setidaknya pekerjaannya berkurang.
Merasa bosan karena tidak ada yang bisa dikerjakan, Stela memilih keluar untuk berbelanja. Lemari es yang kosong harus segera diisi.
Stela memilih berbelanja di swalayan yang berada dekat dengan gedung apartemen. Dia tidak membeli banyak barang, cuma beberapa bahan makanan yang nanti bisa ia gunakan untuk membuat sarapan.
... ....
Seperti biasa, Tristan bangun pukul sembilan. Tapi kali ini ada yang menarik, dia langsung terjaga saat indra penciumannya mencium aroma sesuatu yang lezat.
"Kau masak?" tanya pemuda tampan itu saat sampai di dapur dan melihat Stela tengah berkutat dengan masakannya.
"Iya, tapi aku cuma masak nasi goreng plus telur mata sapi," jawab Stela sambil menata hidangan yang telah selesai di atas meja makan.
"Ya, tidak masalah." Tristan langsung duduk di meja makan, bersiap menikmati sarapan pagi yang baru kali ini ia lakukan. Jujur, ia lebih sering sarapan di luar, tidak hanya sarapan tapi juga lunch dan dinner. Itulah kenapa di dalam lemari es miliknya tidak ada bahan yang bisa dimasak karena dia memang jarang memasak. Bukan jarang, malah tidak pernah.
Tristan dan Stela duduk berhadapan, sebelum memulai sarapan Stela fokus menatap Tristan yang akan mulai menyuap makanannya. Ia penasaran bagaimana reaksi pemuda itu.
"Bagaimana?" tanya Stela saat Tristan sudah mulai mengunyah.
"Enak," puji Tristan masih dengan wajah datarnya.
"Syukurlah, tidak sia-sia selama ini aku belajar diam-diam bersama chef di mansion," batin Stela lega. Memang benar, sebagai putri dari salah satu keluarga bangsawan, Stela tidak pernah diijinkan untuk melakukan pekerjaan apa pun oleh orang tuanya. Ia hanya perlu memerintah dan tringg... semua tersedia. Tapi bukan Stela namanya jika ia akan menerima begitu saja. Seringkali ia meminta chef di kediamannya untuk mengajarkannya memasak dan itu tentu saja tanpa sepengetahuan keluarganya. Terkadang, apa yang disantap seisi rumah, ada campur tangan dirinya di balik itu. Tak jarang, keluarganya memuji masakan itu tanpa tahu jika Stela lah yang membuatnya. Hal itulah yang membuat Stela semakin semangat untuk belajar memasak. Tidak hanya hidangan western, dia juga ahli beberapa masakan Indonesia seperti yang mereka santap saat ini.
"Tadi kau belanja?" tanya Tristan setelah menyelesaikan sarapannya.
"Iya, tapi aku tidak belanja banyak. Kau tahu sendirikan jika aku tidak punya banyak uang," jawab Stela apa adanya.
"Tunggu sebentar!" Tristan bangkit dan berjalan ke kamarnya. Tak lama setelah itu dia kembali.
"Ini ada uang untuk membeli bahan makanan, kalau perlu penuhi saja isi lemari es itu!" ucap Tristan sembari meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.
"Baiklah."
Tristan berbalik pergi namun suara Stela menghentikannya. Pria itu berbalik. "Ada apa?"
"Aku belum tahu siapa namamu?" tanya Stela.
"Tristan Gautama."
"Oh, baiklah."
.......
Selesai sarapan, Stela mencuci pakaian. Tidak banyak pakaian yang dicucinya kali ini, hanya dua pasang bajunya dan beberapa helai pakaian pria bernama Tristan itu. Syukurlah di zaman yang serba canggih ini, ada mesin cuci yang akan mempermudah pekerjaan mencuci, jadi tidak perlu cara manual lagi yang hanya akan membuat capek.
Sebenarnya ini kali pertama bagi Stela menggunakan mesin itu, tapi saat di rumah dulu ia sering memperhatikan pelayannya bekerja, jadi setidaknya ia tahu bagaimana menggunakannya.
Pertama, Stela mengisi mesin itu dengan air, lalu menambahkan detergen secukupnya. Menekan tombol nyala dan kemudian memasukkan pakaian yang akan dicuci satu persatu.
WHAT THE??
Stela terbelalak saat matanya menemukan beberapa '****** *****' pria di dalam keranjang kain kotor. Jujur, ada sedikit perasaan ganjil saat ia harus memegangnya. Dengan wajah mengerucut lucu, mau tak mau Stela mengambil CD itu menggukan ujung jari telunjuk dan tengahnya.
"Waaahhhh...." desahnya lega ketika barang keramat itu sudah masuk semua ke dalam mesin cuci.
Butuh waktu selama satu jam bagi Stela untuk menyelesaikan kegiatan mencucinya. Bukan karena lelet tapi ia harus ekstra tenaga kala tangannya harus kembali bersentuhan dengan kain berbentuk segitiga itu. Dengan menenteng satu keranjang pakaian yang habis dicuci, Stela berjalan menuju balkon untuk menjemurnya. Dan lagi-lagi ia harus berhadapan dengan 'barang itu'.
Tristan keluar dari kamarnya sambil memainkan tablet di tangan. Ia duduk di ruang tamu lalu menyalakan televisi. Hari ini tak ada jadwal dan ia bebas bersantai di rumah seharian. Senangnya.
Setelah dirasa bosan dengan tabletnya, Tristan menaruh benda itu di atas meja. Ia meraih remote tv untuk mengganti siaran.
Beberapa kali mengganti siaran, tak ada satu pun yang menarik perhatiannya. Pemuda itu menghembuskan napas kasar dan kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Matanya menatap langit-langit ruang tamu, terus menjalar kesegala penjuru ruangan dan berhenti ketika melihat gadis yang kini tinggal bersamanya tengah menjemur pakaian di balkon.
DEG
Bola mata Tristan hampir keluar saat ia menangkap sesuatu yang tergantung di tali jemuran. "Shit!" umpatnya. Ia itu langsung berlari ke balkon.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Tristan setiba di sana.
Stela terperanjat kaget mendengar suara seseorang yang kini telah berada di sampingnya.
"Aku sedang menjemur pakaian," jawab Stela.
"Ck." Tristan mendelik dengan mulut berdecak. Kemudian ia mengambil beberapa ****** ******** yang tergantung itu dengan tergesa dan menyembunyikanya di belakang tubuh. "Lain kali kau tidak usah mencuci pakaianku, cuci saja pakaianmu sendiri" peringatnya.
"Baiklah..," sahut Stela tak peduli.
Tristan berbalik pergi dengan wajah memerah dan mulut yang tak berhenti menggerutu. Pemuda itu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya kencang.
"Memalukan!" katanya sembari melempar ****** ******** ke atas tempat tidur dengan kasar.
Bayangkan saja, barang pribadinya di lihat oleh seseorang bahkan sampai dicuci oleh orang itu. Woah... mau ditaruh di mana mukanya kini.
.......
Selesai mencuci, Stela beristirahat di dalam kamar. Merebahkan tubuh penatnya di tempat tidur. Ia meraih ponsel yang tergeletak di meja nakas dan menghidupkannya. Menekan ikon galeri dan menemukan beberapa foto yang sempat ia simpan waktu itu.
"Mommy, Daddy, I miss you..." Lirihnya sembari menatap nanar potret ayah dan ibunya yang ada di dalam layar telpon genggamnya.
"Cio... Anne, aku juga merindukan kalian," lirihnya lagi begitu layar digeser dan memperlihatkan foto dirinya bersama dengan kedua kakaknya.
Tak terasa setetes air mata mengalir di sudut mata Stela, baru tiga hari berpisah dan dia sudah sangat merindukan keluarganya. Merindukan pelukan Daddy, kecupan Mommy, omelan Anne and Keusilan Cio. "Ah... I really miss them all."
Namun segala kerinduan itu sebisa mungkin ia tahan, Stela tak ingin kembali ke London saat ini. Ia tidak ingin pulang jika pada ujungnya ia harus dijodohkan dengan anak dari sahabat ayahnya. Ia tak mau. Ayahnya itu memang baik dan penyayang, tapi disaat ayahnya menginginkan sesuatu maka itu harus terwujud. Stela tak ingin dipaksa menikah dengan pria yang tak ia cintai.
.......
Mom, Dad, Cio and Anne, maaf aku harus pergi dari rumah. Beberapa hari yang lalu aku mendengar daddy dan temannya berbincang, daddy berniat untuk menjodohkanku dengan anak temannya itu. Aku tahu daddy orangnya pantang ditolak, jadi sebelum daddy membicarakan masalah perjodohan itu denganku, aku lebih memilih pergi. Maaf Dad... Mom, aku jadi anak yang pembangkang, hanya saja aku tak mau jika harus menikah secepat ini dan dengan orang yang tak ku kenal pula, aku tak bisa. Tapi jangan khawatir, aku akan kembali nanti disaat daddy sudah mengubur dalam-dalam niat untuk menjodohkanku itu. Aku akan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri sejenak, aku mohon jangan cari aku dulu. Jika sudah tiba saatnya nanti, maka aku akan kembali. I love you Dad... Mom. I'll miss you all.
^^^Auristela P.K^^^
"Jadi daddy akan menjodohkan Stela?" tanya Anne tak percaya.
Anthony hanya menunduk, semua ini karena kesalahannya ternyata. Memang benar apa yang putrinya tulis di surat itu, ia akan menjodohkan Stela dengan salah seorang anak sahabatnya. Ia sangat ingin berbesan dengan temannya yang juga keturunan bangsawan itu, jadilah ia berniat melakukan perjodohan.
"Stela itu masih kecil, kenapa harus kau jodoh-jodohkan segala?" tanya Ambar kesal. "Kalau mau jodohkan anakmu, jodohkan saja Cio atau Anne. Mereka sudah besar dan sudah pantas menikah!" omel Ambar pada suaminya. Pria baya itu hanya bisa terdiam.
"Mom, kenapa jadi aku yang kena?" tanya Cio dan Ann berbarengan.
"Ah sudahlah, mommy pusing, mau istirahat." Ambar langsung pergi meninggalkan anak dan suaminya di ruang tamu.
"Ini gara-gara daddy aku jadi kena getahnya. Pokoknya aku tidak mau ada jodoh-jodohan ya, aku mau mencari pasanganku sendiri" Anne yang ikutan kesal, juga memilih pergi meninggalkan dua orang pria itu.
"Sabar, Dad." Cio menepuk pelan bahu sang ayah. "Kita akan tetap mencari di mana keberadaan Stela. Tenang saja, lagian dia juga tidak sendiri, ada Carly bersamanya," hibur si sulung. "Dan satu lagi, aku juga tidak mau dijodohkan. Aku sudah memiliki kekasih." Setelah mengatakan itu, Cio ikutan pergi. Kini tinggallah Anthony merana seorang diri.
"Ya ampun...," desah pria itu sembari menyugar rambut pirangnya.
.......
Pukul 12 siang Stela terbangun dari tidur singkatnya. Ia segera mencuci muka, setelah itu keluar dari kamar. Ia harus pergi berbelanja untuk memenuhi bahan-bahan di dapur.
"Tristan!" panggil Stela pada pemuda yang saat ini sedang duduk membaca majalah di ruang tamu.
"Hm?" sahutnya tanpa menoleh.
"Aku akan pergi berbelanja," pamit Stela.
"Hm.." gumam pemuda itu.
Setelah berpamitan, Stela segera beranjak pergi. Saat pintu keluar sudah terbuka, seseorang ternyata sudah berdiri dibaliknya. Seorang perempuan yang cukup cantik dengan rambut hitam sebahu dan manik berlensa kontak berwarna abu-abu.
"Maaf, anda cari siapa?" tanya Stela sopan.
Perempuan itu memandangnya lekat, "Harusnya aku yang bertanya, kau siapa? Apa yang kau lakukan di apartemennya Tristan?" tanyanya balik.
"Oh anda tamunya Tristan, kalau begitu silakan masuk." Stela mempersilakan. Setelah si tamu masuk, Stela kembali lagi pada niat awalnya yaitu berbelanja.
.......
"Tristan!" panggil tamu tadi pada pria yang saat ini tengah bersantai di ruang tamu.
"Oh kau Jo, ada apa kemari?" tanya Tristan setelah meletakkan majalah yang sebelumnya ia baca.
"Jo... Jo, kau pikir namaku Johan. Panggil aku Vanka," protes perempuan bernama Jovanka itu.
"Ya, lalu?"
"Siapa perempuan tadi?" Tanya Vanka menyelidik.
"Siapa? Ah, Stela maksudmu?"
"Mana ku tahu, pokoknya dia perempuan yang keluar dari apartemenmu tadi?"
"Ya, dia Stela."
"Dia tinggal di sini?" tanya Vanka.
"Ya.."
"Kau gila? Bagaimana bisa kau tinggal berdua dengan perempuan di apartemenmu ini!" pekik Vanka.
"Dia membantuku mengurus rumah ini" jawab Tristan tenang, tanpa terpengaruh dengan pekikan Vanka sebelumnya.
"Maksudmu, dia...pem-bantu?" tanya perempuan itu memastikan.
"Ya, bisa dibilang begitu."
"HAAAHHHH, kau gila! Mana ada pembantu secantik itu!" pekik Vanka lagi-lagi.
"Cantik?"
...Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
brooklyn fachrudin
tristan cuek bgt
2021-05-23
1
Nna Rina 💖
tristan matanya siwer apa ga normal nih masak cewek cantik dipertanyakan 😆
2021-04-24
1