...🌻Selamat Membaca🌻...
"Ini toko bunganya?" tanya Ambar sesaat setelah mereka sampai di sebuah florist bernama Aquarelle.
"Iya Nyonya," angguk Anton. "Menurut saya, nona bekerja di toko bunga ini," lanjutnya.
Dengan langkah tergesa, Ambar segera memasuki toko bunga di depannya.
"Selamat datang," sambut Yuli dari dalam sana. "Ada yang bisa dibantu, Nyonya?" tanya gadis penjaga toko itu sopan.
Mereka bertiga memasuki toko sementara anak buah Anton menunggu di luar.
Yuli sedikit tercengang melihat siapa yang datang, seorang pria tampan berwajah asing dan memiliki rambut pirang.
Ambar melirik ke sekeliling toko, ia sama sekali tak menemukan keberadaan orang lain selain si penjaga toko.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" Yuli yang melihat gelagat aneh si pengunjung, memilih untuk bertanya sekali lagi.
"Maaf ..." Ambar segera mengalihkan pandangannya ke arah si penanya.
"Apa kau mengenal gadis ini?" Ambar langsung menunjukkan foto Stela yang baru ia ambil dari dalam tas jinjingnya.
Yuli memperhatikan dengan seksama foto yang ditunjukkan padanya. Di foto itu terlihat seorang gadis cantik bersurai pirang dan bermata biru. Yuli mengernyit, kalau dilihat sekilas ia tak mengenal sosok dalam potret itu, tapi kalau duperhatikan secara teliti, wajah gadis yang ada di foto itu persis seperti seseorang yang dikenalnya.
"Stela?" ucap Yuli tak yakin.
Tiga pasang mata di sana membola. "Benar, ini Stela, sekarang di mana dia?" Akhirnya Ambar menemukan keberadaan sang putri. Sudah tidak sabar lagi rasanya untuk segera merengkuh Stela ke dalam pelukannya.
"Maaf Nyonya, Stela baru saja pergi."
"Ke mana?" desak Anthony.
"Makan siang, mungkin ke restoran di dekat sini," jawab rekan kerja Stela itu.
"Ya sudah Kak, lebih baik sekarang kita pergi mencari Stela ke restoran terdekat. Semoga saja dia segera kita temukan," ajak Ari.
"Terima kasih." Setelah mengatakan itu Ambar dan dua pria yang bersamanya pergi meninggalkan toko.
Yuli masih terbengong di tempatnya. Dia tidak tahu siapa orang-orang itu yang tiba-tiba saja mencari Stela, ingin bertanya, tapi mereka terlihat terburu-buru. Ya sudahlah ... biar nanti ia tanya saja pada Stela langsung.
.......
"Maafkan aku Sya, niatnya ingin mengajakmu makan siang tapi malah berakhir di sini." Rafa merasa tak enak hati. Tadi saat sampai di sebuah restoran, tiba-tiba ibunya menelpon dan memintanya untuk makan siang di rumah. Awalnya Rafa menolak karena dia sedang bersama Stela, tapi sang ibu memohon dengan suara memelas membuatnya tidak bisa berkutik. Alhasil, kini ia dan Stela sudah berada di ruang makan kediaman Hemachandra.
"Bagaimana, apa masakan ibu enak?" tanya Ingrid pada Stela.
Stela tersenyum lantas menganggukkan kepalanya. "Enak Bu," jawabnya setelah menelan habis makanan yang berada di dalam mulut.
"Syukurlah,karena ini resep baru jadi ibu sedikit was-was," desah Ingrid lega.
"Ibumu ada-ada saja, dia sampai memaksa bahkan mengancam ayah untuk makan di rumah hanya untuk mencoba resep baru buatannya. Untung saja enak, jika tidak mungkin ayah menyesal telah memilih pulang dan meninggalkan pekerjaan ayah yang menumpuk di kantor," keluh Narendra- ayahnya Rafa.
Ingrid menatap suaminya dengan wajah tak senang. "Oh ... jadi begitu? Kau lebih memilih pekerjaan dari pada istrimu yang sudah capek-capek membuatkan makanan untukmu. Baik sekali anda jadi suami tuan Narendra," sindir Ingrid.
"Hei, siapa bilang aku memilih pekerjaan? Apa kau tidak lihat jika sekarang aku berada di sini? Itu berarti jika aku memilihmu, kan?" Narendra membela diri.
"Jika aku tidak memaksa, mungkin kau akan tetap berada di kantormu. Bermesraan dengan berkas-berkas terkutukmu itu!" Ingrid makin emosi.
"Ayah, Ibu ... sudah ya." Rafa langsung menyela sang ayah yang kembali ingin membalas perkataan sang ibu. Ia sungguh malu setengah mati terhadap perdebatan tidak tahu tempat kedua orang tuanya. Apalagi di sini ada Stela yang menyaksikan semua itu.
Ingrid dan Narendra tersadar, mereka langsung menatap Stela tak enak. Menyuguhkan perdebatan kekanak-kanakan mereka di depan teman perempuan sang anak, oh ... semoga saja ini tidak berdampak buruk terhadap hubungan Raga dan Stela, harap dua paruh baya itu di dalam hati.
"Maafkan kami ya, kau harus melihat perdebatan tak tahu malu orang tua ini," ucap Ingrid.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku maklum, kok. Di rumah, orang tuaku juga sering berdebat masalah-masalah sepele seperti itu, tapi dibalik itu semua sebenarnya mereka saling mencintai dan menghargai. Pertengkaran kecil itu kadang bisa menjadi bumbu perjalanan kisah mereka agar tidak terlalu hambar dan membosankan," jelas Stela bijak.
Rafa memandang takjub perempuan yang duduk di sampingnya. Kekagumannya pada Stela semakin bertambah, walau lebih muda darinya tapi gadis itu memiliki pembawaan yang dewasa, tidak kekanak-kanakan seperti kedua orang tuanya.
"Dari pada nanti matamu keluar karena terus menatap Stela, lebih baik sekarang kau habiskan makanan yang sudah susah payah ibumu buatkan itu," tegur Narendra kala melihat anak bungsunya tak berkedip memandangi Stela.
"A-ayah ..." Rafa yang ketahuan hanya bisa menunduk malu dengan rasa gugup yang mendera.
Stela tersenyum pedih, jika berada di tengah-tengah keluarga seperti ini, ia lagi-lagi merindukan keluarganya. Dulu, Daddy dan Mommy-nya juga sering mendebatkan hal-hal kecil, tidak hanya orang tuanya, Cio dan Ann juga sering bertengkar dan untuk hal itu Stela sering sekali menjadi penengah di antara keduanya.
"Bagaimana keadaan kalian semua saat ini? Aku sangat merindukan kalian," batin Stela nelangsa.
"Stela!" Ingrid menyentuh tangan Stela yang berada di atas meja. Gadis itu melamun jadi ia menyadarkannya.
"Kenapa, Nak?" tanya Ingrid. Semua yang berada di sana menatap Stela penasaran.
"Tidak apa-apa Bu, aku baik-baik saja."
"Ya sudah sekarang habiskan makananmu, ya." Ingrid mengelus pelan rambut Stela.
"Iya, Bu."
Rafa bersyukur, ajakan makan siang ibunya kali ini berakhir dengan dekatnya hubungan Stela dan keluarganya. Ini bisa menjadi langkah yang bagus, apalagi Stela tanpa sadar sudah ikut memanggil Ibu pada Ingrid, semoga ini menjadi pertanda bahwa Stela nyaman berada di tengah-tengah keluarganya.
"Setelah makan siang, temani ibu belanja, ya?" pinta Ingrid pada Stela.
"Stela harus kembali ke toko, Bu." Itu Rafa yang menjawab.
"Kalau masalahnya itu, ibu akan menghubungi Risa dan meminta izin padanya."
"Tapi Bu-"
"Ibu hanya ingin pergi berbelanja ditemani Stela, kau sendiri tidak pernah mau menemani ibu. Ibu kan juga ingin merasakan bagaimana rasanya pergi bersenang-senang dengan anak perempuan, mengertilah, Nak!"
"Baiklah, Bu." Rafa tak dapat membantah. Wajah memohon ibunya menjadi kelemahan baginya.
"Maaf ya ..." Rafa lagi-lagi harus merasa tidak enak pada Stela.
"Tidak apa-apa, Mas." Stela memberikan Rafa senyum meyakinkan, bahwa ia sama sekali tidak keberatan menemani ibu pria itu untuk berbelanja.
Stela lupa bahwa ia memliki janji dengan Tristan sore ini.
...Bersambung...
... ...
...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers......
...🙏🏻😊...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments