Pak Pengacara

...🌻Happy Reading🌻...

"Kau terlihat senang, ada apa?" Tristan tak tahan lagi untuk bertanya, pasalnya sedari awal makan malam dimulai wajah Stela begitu sumringah, senyum ceria tak pernah hilang dari bibir mungilnya. Hal itu menimbulkan pertanyaan di benak Tristan.

Stela yang begitu menikmati makanan di hadapannya segera menghentikan kunyahannya, ia beralih menatap Tristan masih dengan senyum tersungging di bibirnya.

"Aku sudah mendapatkan pekerjaan," beritahu Stela. Mata gadis itu bersinar terang karena saking bahagianya. Maklum, pekerjaan ini adalah pekerjaan pertama di dalam hidupnya. Sebelumnya Stela tak pernah membayangkan jika ia akan mencari uang dari hasil keringatnya sendiri. Ia merasa takjub dan tak menyangka, itu saja.

"Syukurlah..." Tristan ikut senang mendengarnya.

"Ya. Nanti kalau uangnya sudah terkumpul, aku akan mencari apartemen sederhana dan segera pindah dari sini," ucap Stela semangat.

Tristan menatap Stela yang kembali menyantap makanannya dengan nikmat, ada rasa tak rela di hatinya kala gadis itu mengatakan akan segera pindah dari apartemen ini. Entah kenapa, ia sendiri tidak tahu pasti. Mungkin salah satunya karena ia mulai terbiasa dengan kehadiran Stela dan juga makanan lezat yang selalu disiapkannya.

"Tristan?" panggil Stela.

"Hn?"

"Apa Kak Jo baik-baik saja? Maksudku, dia tidak galau lagi, kan?" tanya Stela. Sungguh ia merasa kasihan saat wanita itu bercerita padanya. Rasanya ia ikut terbawa cerita dan turut emosi mendengar tentang kekasih yang berselingkuh itu.

"Dia masih terlihat kacau, apalagi kekasihnya itu adalah pemilik agensi di mana kami bekerja. Mereka bisa bertemu kapan saja" jawab Tristan.

"Woah... aku sangat penasaran dengan kekasihnya. Bagaimana bisa dia mengkhianati wanita cantik dan sebaik Kak Jo, pria yang cuma mengandalkan nafsu itu sama sekali tidak pantas mendapatkan cinta tulus dari seorang wanita," gerutu Stela.

"Hn." Tristan hanya berdehem. Ia tak tahu harus berkomentar apa. Permasalahan sahabatnya itu sedikit pelik untuk dipikirkan. Biarkan saja mereka mencari jalan keluar untuk permasalahan itu, Tristan malas untuk ikut campur.

"Oh ya, bagaimana dengan harimu tadi, apa ada hal yang menyenangkan?" makan malam Stela sudah selesai, kini ia tengah menanti jawaban pria di depannya.

"Hn... biasa saja," ucapnya.

"Oh begitu.." Stela tak lagi memperpanjang obrolannya, ia lebih memilih untuk membereskan piring-piring bekas makan dan mencucinya.

Biasa saja, nyatanya hari ini Tristan merasa senang. Ia akhirnya bertemu dengan wanita yang diam-diam membuatnya tertarik. Ya, siapa lagi kalau bukan si cantik bernama Vania. Model cantik itu baru terjun ke dunia permodelan dua tahun belakangan ini, sementara Tristan sudah terkenal semenjak dirinya duduk di sekolah menengah atas. Kalau dihitung, mungkin sudah 8 tahun ia berkarir sebagai model.

Walaupun satu agensi, tapi Tristan jarang bertemu dengan Vania. Mungkin hal itu disebabkan oleh kesibukan mereka masing-masing. Dan beruntungnya kali ini ia bisa bekerjasama dengan wanita itu. Terlibat satu proyek yang semoga saja dapat mendekatkan keduanya.

.......

Tristan menatap foto Vania pada salah satu majalah yang terbit bulan ini. Di sana, wanita itu terlihat sangat cantik juga sexy dengan outfit serba merah. Satu seringai terbit di wajah tampannya, "Tinggal seminggu lagi."

...🌺 🌺 🌺...

Setelah membereskan semua pekerjaannya di apartemen, jam sembilan Stela sudah berada di florist. Ia membersihkan toko dan menata beberapa bunga agar terlihat lebih menarik.

Satu persatu, pembeli berdatangan. Semuanya dilayani dengan baik oleh Stela dan juga Yuli, rekan kerjanya di toko.

"Selamat pagi!" Sebuah suara yang tak asing menyapa, seorang wanita memasuki toko. Dia adalah Risa, wanita cantik yang tak lain adalah bosnya Stela- si pemilik florist.

"Selamat pagi, Kak Risa..." sapa balik Stela dan juga Yuli.

"Bagaimana keadaanmu, Kak?" tanya Stela ramah.

"Seperti yang terlihat, aku baik. Sebenarnya Mas Arya melarangku untuk datang ke toko tapi di rumah aku bosan karena sendirian saja, jadi ya... aku datang," ucap wanita itu seraya mendudukkan dirinya di salah satu kursi.

"Kau mau dibuatkan sesuatu, Kak?" tanya Yuli

"Hm... segelas air putih hangat saja!" pintanya.

"Bagaimana Stela, kau betah bekerja di sini?" tanya Risa.

"Tentu saja, aku sangat menyukai bunga.." jawab Stela semangat.

"Benarkah? Kalau boleh tahu bunga apa yang paling kau sukai?" tanya wanita itu lagi.

"Bunga Matahari, aku sangat menyukainya!" jawab Stela mantap.

Risa nampak berpikir, ia melirik sejenak bunga matahari yang terpajang di tokonya, kemudian beralih memandang Stela yang sedang tersenyum lebar.

Wanita dengan perut buncit itu mengulas senyum, "Kau seperti bunga Matahari. Hangat dan ceria," ucap Risa. Semenjak bertemu kemarin, memang dua sifat itu sangat melekat pada diri seorang Stela Putri.

Bunga Matahari memiliki diameter besar layaknya matahari yang bersinar cerah. Kelopak kuning bunga matahari juga melambangkan kehidupan yang gembira dan ceria sehingga dapat memikat hati semua orang untuk melihatnya dalam waktu yang lama dan menyukainya. Orang yang menyukai bunga matahari dapat dikategorikan sebagai orang yang selalu gembira dan ceria dalam menjalani kehidupan, itulah penggambaran Stela dimata Risa, persis seperti bunga Matahari.

"Ibuku juga mengatakan hal yang sama, mungkin karena kemiripan itulah yang membuatku jadi menyukai bunga Matahari," ungkap Stela.

"Hm, benarkah?" Stela mengangguk.

Tak lama Yuli datang dengan segelas air putih hangat, ia menyerahkannya pada Risa. Wanita itu meneguk air di dalam gelas dan menyisakannya setengah. Stela memandangi wanita itu dengan seksama.

"Ada apa, Stela? Kenapa kau memandangiku seperti itu?" tanya Risa heran melihat gadis yang bekerja untuknya itu menatapnya lekat.

"Maaf, kalau boleh saya tahu apa Kak Risa orang Indonesia asli?" tanya Stela penasaran. Sejak pertama kali bertemu, ia melihat Risa seperti melihat orang-orang di kampung halamannya. Warna mata biru dan juga rambut pirang.

Risa tertawa anggun. "Ah iya. Ibuku asli orang Indonesia tapi Ayahku orang Irlandia," jawab Risa.

Oh... pantas saja. Ternyata Kak Risa sama-sama berdarah eropa sepertinya, apalagi Inggris dan Irlandia itu berseberangan dengan dibatasi oleh laut Keltik, sangat dekat.

"Hm begitu..." angguk Stela paham. Jika Stela memiliki wajah asia, lain halnya dengan Risa, wanita itu memiliki wajah seperti orang eropa kebanyakan. Entah bagian mana yang diturunkan oleh sang Ibu, Stela tak tahu.

.......

Abercio sudah rapi dengan setelan jas lengkapnya, pria itu terlihat sangat tampan. Hari ini ia akan kembali ke kantor setelah sebelumnya sibuk mencari keberadaan sang adik.

"Cio, bagaimana dengan perkembangan pencarian Ela?" tanya Anne.

"Masih diusahakan oleh orang-orang suruhannya daddy, Stela pasti masih berada di benua ini. Berdo'a saja agar adik kecil kita segera ketemu," kata Cio.

"Semoga saja, tapi aku tak tega melihat mommy. Beliau terus merenung, lihat itu!" tunjuk Anne pada sang ibu yang tengah duduk di halaman mansion memandang ke depan dengan tatapan kosong.

"Nanti aku akan bicara pada daddy untuk membujuk mommy agar mau bersabar," ucap Cio. "Sekarang aku pergi dulu," pamitnya.

Abercio adalah CEO dari perusahaan Sky yang bergerak di bidang media terbesar di Inggris. Sudah dua tahun ini ia menggantikan posisi sang ayah yang memilih pensiun dini. Sementara Anne merupakan seorang designer kawakan yang rancangannya sudah tembus pasar dunia. Kedua anak dari Anthony dan Ambar itu sudah sukses dengan pekerjaan masing-masing, berbeda dengan si bungsu yang sampai saat ini tidak tahu di mana keberadaannya.

... ....

Sebuah mobil mewah berhenti di depan florist tempat Stela bekerja. Seseorang keluar dari kursi kemudi, lalu melangkah memasuki toko.

"Selamat siang, selamat datang di Aquarelle," sambut Stela dengan ceria pada pembeli yang baru datang. Kini ia sedang berada sendirian di toko. Yuli izin keluar sementara Risa beristirahat di ruangan khusus tempat ia biasanya istirahat.

"Selamat siang." Balasan itu keluar dari mulut seorang pria yang saat ini sudah berdiri di hadapan Stela. Mereka hanya dibatasi oleh meja counter.

Stela memandang takjub pria yang kini berdiri di hadapannya. Beberapa hari di Indonesia, ia sudah bertemu tiga pria tampan. Tristan, suaminya Risa dan satu lagi, pria yang kini menjadi pembeli di toko bunga tempatnya bekerja. Apa memang semua pria Indonesia itu tampan? Haha... tidak mungkin. Di jalan Stela sering bertemu dengan pria dengan tampang standar.

Puas dengan rasa terkesimanya, Stela memilih menanyai pria itu. "Ada yang bisa dibantu?"

"Saya pesan sebuket bunga!" pintanya.

"Kalau boleh tahu bunga apa yang anda inginkan?" tanya Stela lagi.

Pria itu tampak berpikir, "Lavender" jawabnya.

"Baiklah, silakan duduk dulu sembari menunggu." Stela mempersilakan.

Pria itu duduk sambil memperhatikan Stela yang bekerja.

"Cantik sekali."

"Rafa?" suara wanita datang dari arah samping. Si pria yang merasa terpanggil namanya langsung menoleh. Begitu juga Stela yang penasaran segera menghentikan kegiatannya.

"Risa!" Si pria berdiri dari duduknya dan langsung menghampiri wanita dengan perut buncit itu.

Mereka bersalaman dan saling melempar senyum.

"Sudah lama sekali tak melihatmu, kemana saja?" tanya Risa.

"Aku baik, belakangan ini aku terlalu sibuk jadi tak sempat mengunjungimu. Bagaimana keadaan calon keponakanku?" tanya pria bernama Rafandra itu. Dia adalah adik dari Aryandra, suami Risa.

"Kami baik, Uncle.." jawab Risa menirukan suara anak kecil sembari mengelus perut buncitnya.

"Syukurlah, di mana Mas Arya?" tanya pria itu lagi.

"Biasa, hari ini masmu itu memantau proyek pembangunan Mall baru,"  jawab Risa.

"Gedung-gedung hasil rancangannya memang selalu menakjubkan. Rencananya aku juga ingin memintanya mas Arya untuk mendesign sebuah rumah untukku."

"Hoho... kau mau membuat rumah? Untuk siapa hm?" goda Risa.

"Untuk istri dan anak-anakku kelak."

"Woah, sudah punya calon. Siapa?"

"Masih dicari" jawab Rafa kemudian terkekeh. Tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata perempuan yang sedari tadi memperhatikan perbincangannya dengan Risa, siapa lagi kalau bukan Stela.

Mereka berpandangan cukup lama, tapi Stela segera melepas kontak mata mereka dan kembali berkutat dengan buket bunganya.

"Ekhemm..." Risa yang berada di samping Rafa pun berdehem. Ia tahu betul kemana arah pandang adik iparnya. "Itu pegawai baru. Bagaimana? Cantik, kan?" bisik Risa.

Rafa jadi salah tingkah karena gelagatnya dibaca dengan mudah oleh istri kakaknya. Ia mencoba untuk bersikap biasa saja walau dalam hati ketar-ketir luar biasa. Jujur saja, sedari awal bertemu, Rafa sudah terpesona dengan gadis itu. Selain cantik dan ramah, senyumannya membuat hati Rafa meleleh.

"Kemarilah!" Stela menarik tangan Rafa menuju ke hadapan Stela.

"Stela, kenalkan ini adik iparku." Risa menyenggol lengan Rafa agar pria itu segera memperkenalkan dirinya.

"Rafandra..." pria itu mengulurkan tangan, mengajak bersalaman.

"Stela..." dengan hangat Stela menjabat tangan si pria. Mereka berdua saling melempar senyum walaupun terlihat kikuk.

"Dia seorang pengacara..." beritahu Risa.

"Ah, ya..." angguk Stela.

"Setiap Rafa datang kemari tolong layani dia dengan baik ya!" pinta Risa.

"Tentu saja, Kak."

"Kalau begitu aku ke toilet dulu. Rafa, tidak apa-apakan aku tinggal dulu?" pria itu hanya mengangguk.

Kini tingallah Stela dan Rafa dalam keadaan canggung. Si gadis sibuk dengan buket bunganya, sementara si pria memilih untuk memperhatikan bunga di sekelilingnya.

"Pak Rafandra, ini bunganya." Stela menyerahkan sebuket lavender kepada Rafa.

"Ah, ya..." Pria itu mengambil alih buket dari tangan Stela, tapi tanpa sengaja jari mereka bersentuhan. Ada desiran aneh pada tubuh Rafa kala kulit Stela bersinggungan dengan kulitnya. "Te-terimakasih..." ucapnya gugup.

"Pak Rafa, apa anda tahu?" tanya Stela.

Kening Rafa mengernyit, bagaimana bisa dia tahu jika gadis di depannya ini belum memberi tahu. "Apa?" katanya kemudian, sedikit penasaran.

"Katanya, jika ada seorang pria yang memberikan lavender pada seorang wanita, maka secara tersirat pria itu menyampaikan bahwa wanita itu anggun dan cantik," beritahu Stela.

"Benarkah? Saya baru tahu soal itu." Rafa sedikit takjub dengan pengetahuan gadis itu akan bunga.

"Iya, Pak. Setiap bunga memiliki makna."

"Baiklah, lain kali ceritakan kepada saya lebih banyak soal bunga jika kau tak keberatan."

"Tentu saja." Stela mengangguk dengan mata berbinar.

"Kalau begitu, saya permisi dulu," kata Rafa setelah membayar bunganya.

"Hati-hati di jalan, Pak dan jangan lupa berkunjung kembali." Stela sedikit memundukkan kepala melepas kepergian Rafa.

"Aku pasti kembali..." dengan satu senyuman manis pria itu akhirnya keluar dari toko.

"Ya Tuhan, senyuman pak pengacara manis sekali..." pekik Stela dalam hati.

...Bersambung...

Terpopuler

Comments

brooklyn fachrudin

brooklyn fachrudin

stella apakah mirip bela Hadid??

2021-05-23

1

Nna Rina 💖

Nna Rina 💖

hmmm.... blm kliatan tokoh utama pria nya yg mn ya?

2021-04-24

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 76 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!