Takut kehilangan

...🌻Selamat Membaca🌻...

Setelah mematikan sambungan telepon dari Rafa, Stela langsung meletakkan ponselnya di atas nakas dan kemudian berbaring di atas kasur. Ia yang tadi merasa sedih karena ucapan Tristan, perlahan menjadi ceria lagi setelah ditelpon oleh Rafa.

"Tidak sabar menunggu sabtu ini, kira-kira kemana ya mas Rafa akan mengajakku?" gumam Stela saat matanya sudah terpejam, perlahan gadis itu mulai memasuki alam mimpi.

.......

Tristan menghempaskan ponselnya ke atas tempat tidur setelah membaca pesan dari seseorang. Kepalanya masih panas saat ini walaupun sudah disirami air dingin, jadi hal-hal yang menganggu sebaiknya dihindari saja. Termasuk pesan yang baru saja dibacanya.

Vania Hermawan

Tristan, apa aku punya salah padamu. Kenapa sikapmu tadi begitu ketus padaku? Kalau memang aku ada salah, tolong katakan! Biar aku sadar dan bisa introspeksi diri.

Itulah isi pesannya, belum masalah dengan Stela yang harus ia pikirkan, kini datang lagi masalah baru.

"Arrghh..." Tristan langsung  menjatuhkan diri di atas tempat tidur. "Aku harus minta maaf besok padanya." Ia bertekad.

.......

Vania meremas ponsel dalam genggaman, pesan yang ia kirim barusan sama sekali tak mendapatkan tanggapan dari si penerima. Ia begitu kesal, sikap Tristan berubah padanya setelah bertemu dengan perempuan di restoran tadi siang.

"Sialan, siapa sebenarnya gadis kampungan itu?" desisnya tak suka.

...🌺 🌺 🌺...

Pagi ini Stela membuat sarapan seperti biasa. Ia menyajikannya juga untuk Tristan. Pria itu keluar dari kamarnya dalam keadaan segar dan langsung duduk di meja makan, di mana disana Stela sudah terlebih dahulu menyantap makanannya.

Selama sarapan tidak ada percakapan apapun yang terjadi di antara kedua orang itu. Beberapa saat kemudian, Sta telah menghabiskan makanannya, ia juga membersihkan alat makannya dan bersiap untuk pergi bekerja setelah meraih tas selempangnya dia atas sofa. Tristan yang melihat Stela akan pergi, segera menghentikannya.

"Stela!" panggilnya.

Stela yang sedang memasang sneaker-nya hanya berdehem tanpa menoleh pada si pemanggil.

"Aku minta maaf soal yang tadi malam," ucap pria itu tulus.

"No problem..." selesai dengan sepatunya, Stela menghadap Tristan dan sedikit tersenyum ke arah pria itu. Ada sedikit kelegaan dalam relung hati si pria ketika Stela memaafkannya.

"Secepatnya aku akan keluar dari sini, jadi kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan merepotkanmu lebih dari ini. Kalau begitu aku pergi dulu," pamit Stela.

DEG

Tristan mematung, sungguh... bukan jawaban ini yang ingin dia dengar. Niatnya hanya ingin meminta maaf tapi kenapa gadis itu malah mengatakan hal yang membuatnya sakit, tepatnya sesuatu di dalam dadanya seperti di remas dan rasanya nyeri sekali. Kenapa rasanya tidak rela jika Stela harus pergi, padahal mereka tidak punya hubungan apa-apa.

"Secepatnya aku akan keluar dari sini.."

"Aku tidak akan merepotkanmu lebih dari ini..."

Tidak! Stela sama sekali tidak pernah membuatnya repot. Justru ia terbantu dan merasa senang jika Stela bisa tinggal bersamanya. Masakan perempuan itu, kepeduliannya dan semua hal yang dilakukan oleh gadis itu sudah membuat Tristan ketergantungan. Ia butuh Stela dan tak akan pernah melepaskan perempuan itu apapun yang terjadi.

"Aku harus bicara dengannya." Tristan melangkah keluar dari pintu apartemennya. Ia ingin mengejar Stela, gadis itu harus mendengar penjelasannya terlebih dahulu. Ia tidak ingin ditinggalkan, ia butuh Stela untuk menemani hari-harinya yang terbiasa sepi.

Terlambat, sampainya di luar gedung, penampakan Stela tak lagi terlihat. Gadis itu sudah pergi jauh. "Malam nanti dia pasti pulang, aku akan menunggunya..." dengan lesu Tristan kembali masuk ke apartemennya. Entah apa yang ia rasa, namun yang jelas ia tak bisa kehilangan Stela.

.......

Siang ini Vania duduk di lobby gedung agensinya hanya untuk menunggu kedatangan Tristan. Pria itu sama sekali tidak membalas pesan maupun mengangkat panggilannya. Menyebalkan, Vania sangat benci diabaikan.

"Tristan!" Ketika matanya menangkap sosok pria tampan yang memasuki pintu, Vania segera mengubah mimik wajahnya. Dari yang semula jutek menjadi sendu minta dikasihani.

Tristan yang merasa terpanggil, langsung menoleh ke samping dan mendapati model wanita papan atas yang saat ini dekat dengannya berjalan menghampiri. Ia membuang wajah ke arah lain seraya menghembuskan napas berat. "Ada apa, Van?" tanya Tristan dengan kepala kembali menoleh ke wajah cantik itu.

"Tristan, kau tidak apa-apa?" tanya Vania bernada khawatir.

"Aku baik-baik saja, kenapa?" tanya Tristan bingung.

"Habisnya kau tidak membalas pesanku, teleponku juga tidak diangkat. Aku jadi cemas, takut kau kenapa-kenapa," jelas Vania dengan mimik sedih.

Tristan menatap wajah sendu itu, timbul sedikit rasa bersalah di hati karena telah mengabaikan perempuan itu. "Maafkan aku," hanya itu yang bisa dirinya katakan.

"Tidak apa-apa, mungkin kau sudah muak berteman denganku. Aku maklum kalau selama ini aku banyak merepotkan, maafkan aku..." dengan mata berkaca-kaca Vania berujar sedih membuat Tristan kalang kabut. Pria itu segera meraih kedua tangan Vania dan menggenggamnya dengan lembut.

"Aku tidak muak denganmu, kau tidak pernah merepotkanku. Maaf, aku sedang banyak pikiran dan tak sengaja malah menyakitimu. Maafkan aku ya," ucapan lembut Tristan serta genggaman hangat tangan besar pria itu membuat hati Vania berteriak puas. Akhirnya Tristan masuk kembali ke dalam pelukannya.

"Iya, tidak apa-apa. Aku hanya takut kalau kau menjauh, aku... aku takut kehilanganmu," lirih Vania kembali mendrama.

Tristan mengelus lembut pipi Vania, senyum tipis ia persembahkan untuk si model cantik. Beberapa pasang mata di lobby memperhatikan kedekatan mereka, merasa menjadi bahan tontonan, Tristan menarik tangan Vania untuk ikut bersamanya.

.......

Stela baru saja akan menutup tokonya sore ini ketika mobil Rafa datang dan berhenti tepat di depan Aquarelle. Pria itu turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa dan berlari menghampiri Stela yang berdiri heran melihat tingkahnya.

"Ada apa, Mas?" tanya Stela penasaran. Dilihat dari ekspresi wajahnya, seperti ada hal penting yang akan disampaikan oleh Rafa.

"Risa..." ucapnya.

"Ada apa dengan, Kak Risa? Dia baik-baik saja, kan?" Mendengar nama sang bos disebut, Stela jadi panik. Ia takut terjadi sesuatu pada Risa, apalagi saat ini atasannya itu sedang hamil besar.

"Riaa sudah melahirkan, sekarang ada di rumah sakit. Ayo kita lihat mereka!" ajak Rafa. Ia langsung menarik tangan Stela untuk pergi bersamanya.

"Mas!" Stela memaku langkahnya. Tangannya yang ditarik Rafa, ia coba lepaskan.

"Kenapa?" kening Rafa mengernyit. Ia menatap Stela bingung.

"Tokonya tutup dulu," kata Stela yang langsung membuat pengacara muda itu tepuk jidat.

"Maaf, aku terlalu excited jadi... haha-" Rafa merasa malu sendiri. "Ayo... aku bantu," dengan sigap pria itu membantu memasukkan bunga-bunga yang ada di pelantaran ke dalam toko.

Stela terkekeh di tempatnya, tingkah Rafa sore ini begitu lucu. Pria itu sepertinya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keponakannya. "Bayinya laki-laki atau perempuan, ya? Aku jadi penasaran."

.......

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sudah hampir dua jam Tristan menunggu kepulangan Stela, tapi gadis itu sampai sekarang belum datang juga. Ia jadi cemas, apalagi mengingat sikap Stela tadi pagi yang begitu dingin padanya. Ia takut kalau ternyata Stela tak akan kembali lagi.

"Apa aku hubungi saja?" Tristan mengambil ponsel di atas meja dan mencari nomor Stela. "Oh sial, aku tidak punya nomornya!" Pria itu menggeram kesal. Bodoh sekali dirinya yang tidak sempat meminta nomor ponsel Stela padahal sudah hampir sebulan mereka tinggal bersama.

Tristan berdiri dari duduknya, ia mondar-mandir bak setrikaan di ruang tamu, berharap yang dinanti akan segera menunjukkan atensinya.

DEG

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Tak lama kemudian, terdengar bunyi bel. Pasti Stela yang datang, begitu pikir Tristan. Tanpa menunggu lama, ia langsung melesat menuju pintu dan membukanya.

"Stel, aku menunggu.... mu-" suara terakhir Tristan tertelan kembali begitu ia melihat siapa yang datang.

"Siapa Stel?" pertanyaan yang dilayangkan seseorang yang baru datang itu membuat mulut Tristan seketika bungkam.

...Bersambung...

...Jangan lupa Vote dan Comment ya, readers... 🙏🏻😊...

Terpopuler

Comments

brooklyn fachrudin

brooklyn fachrudin

stelaaaa

2021-05-23

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 76 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!