...🌻Selamat Membaca🌻...
Seminggu berlalu begitu cepat, Stela menggunakan pakaian yang sedikit santai saat akan pergi bekerja. Ia sampai di florist dan langsung disambut oleh Yuli. Tak lama setelah kedatangannya, Risa dan suaminya ikutan hadir.
"Hati-hati ya sayang, jangan melakukan hal berat apapun. Aku punya dua mata-mata yang akan selalu mengawasimu" Arya melirik Stela dan Yuli saat mencoba memperingati sang istri. Risa mengangguk malas mendengar ucapan protektif sang suami.
"Baiklah aku pergi ya?" Arya pamit untuk bekerja.
Risa mengangguk, "Hati-hati ya! Menyetirnya pelan-pelan saja!" Risa juga balik memperingatkan suaminya.
"Tentu sayang..." sebelum pergi Arya mengecup kening dan bibir istrinya. Tak lupa dia juga mengecup perut buncit Risa dan berkata, "Jaga mama ya selama papa bekerja!"
"Iya Papa..." Risa menjawab dengan suara dibuat seperti anak kecil.
"Bye sayang" setelah itu Arya benar-benar pergi.
Stela dan Yuli cengar-cengir tidak jelas menonton keromantisan pasangan suami istri mesra itu.
"Aduh aku jadi iri..." itu suara Stela.
"Iya, jadi ingin cepat menikah," Yuli menimpali.
"Kalian masih kecil, tidak usah bicara soal nikah-nikah segala," protes Risa.
"Saya sudah 20 tahun loh, Kak. Sudah bisa berumah tangga," jawab Yuli.
"Selesaikan dulu kuliahmu sana!" Risa berjalan ke kursi dan duduk di sana. "Kalau Stela, kau masih kuliah?" tanya Risa kemudian.
"Hm... saya tidak kuliah, Kak," balas Stela.
"Maksudnya belum kuliah, aku kan baru menyelesaikan home schooling setara sekolah menengah atas" lanjutnya dalam hati.
Risa hanya mengangguk, mendengar jawaban Stela, wanita itu berpikir mungkin kehidupan Stela itu sulit. Hingga ia harus bekerja untuk mencari uang demi kehidupan sehari-hari. Makanya ia tidak bisa kuliah karena kurangnya dana. Ah....Risa jadi merasa iba.
.... ...
Hari ini toko bunga milik Risa buka sedikit lebih lama, biasanya jam 5 Stela sudah bisa pulang tapi kini tidak. Itu semua karena Risa yang sengaja membukanya lebih lama, wanita itu mengatakan jika Arya akan mengajaknya makam malam di luar, jadi daripada pulang ke rumah terlebih dahulu, wanita itu memilih menunggu suaminya di toko saja. Dan ternyata, disaat waktu sudah merangkak menuju jam 6, pelanggan masih banyak berdatangan membeli bunga. Risa bilang Stela akan mendapatkan gaji tambahan untuk hal ini, tentu saja gadis itu merasa sangat senang. Sementara Yuli tidak ikut karena dia ada jadwal kuliah sore.
"Aku pulang..." saat Stela dan Risa sibuk berbincang, suara pintu terbuka terdengar beriringan dengan suara Arya.
Risa langsung bangkit berdiri untuk menyambut kedatangan sang suami.
Setelah berhadapan, Arya langsung mengecup kening, bibir Risa dan juga menyapa calon anak mereka.
"Sayang, aku punya tamu special.." kata Arya.
"Eh? Siapa... siapa?" tanya Risa penasaran. Ia melirik ke arah pintu masuk.
"Aku.." seorang pria muncul dari balik pintu dengan senyum tipis nan menawan.
"Tristan!" pekik Risa histeris.
Stela yang mendengar Risa menjeritkan nama Tristan langsung melongokkan kepalanya ke depan pintu dan ternyata dugaannya benar, Tristan yang dimaksud adalah Tristan yang sama dengan yang dikenalinya sebagai pemilik apartemen tempatnya tinggal.
"Kak Tristan!" sapa Stela.
Tristan yang mendengar suara yang dikenalinya langsung menoleh ke arah Stela. "Stela? Apa yang kau lakukan disini?" tanya pria tampan itu.
"Aku bekerja disini," jawab Stela.
"Eh... kalian saling kenal?" tanya Risa sambil memperhatikan keduanya.
"Stela ti-"
"Ah... iya, Kak Tristan waktu itu sempat menolong saya saat dirampok," sela Stela cepat, ia memotong ucapan Tristan. Entah kenapa ia tak ingin pasangan suami istri itu tahu kalau dia tinggal berdua dengan pria yang tak ada hubungan apa-apa dengannya. Takut dinilai sebagai perempuan yang tidak baik oleh atasannya itu.
"Oh begitu." Arya mengangguk paham.
"Tristan kemarilah!" Risa langsung menarik tangan Tristan dan membawanya untuk duduk.
"Kalau mereka sudah bertemu maka Risa akan segera mengabaikanku," ucap Arya lesu. Ia bersandar di meja counter sambil memperhatikan Risa dan Tristan yang terlihat mesra di matanya.
"Kalau boleh tahu ada hubungan apa Pak Arya dan Kak Tristan?" tanya Stela.
"Dia sahabatku dari zaman sekolah dulu."
"Oh... kenapa kak Risa bisa begitu akrab dengannya?" bukannya banyak tanya, Stela hanya penasaran. Terlebih hal itu menyangkut pria yang tinggal seatap dengannya.
"Dari saat pertama kali aku mengenalkan Risa pada Tristan, istriku itu sudah tergila-gila padanya. Kau tahu, Risa itu maniak pada pria tampan, apalagi yang modelan Tristan begitu," Arya curhat.
Stela terkikik mendengarnya, "Pak Arya tidak cemburu?"
"Tidaklah, walaupun Risa matanya jelalatan, tapi dia hanya mencintaiku seorang," kata Arya percaya diri.
"Hahaha, ya iyalah. pak Arya kan ayah dari bayi yang dikandung Kak Risa."
.... ...
"Tristan, elus perutku!" pinta Risa manja. Maklum bawaan bayinya yang ingin dielus oleh pria tampan, mana tahu nanti tampannya menular.
Dengan hati-hati Tristan mengelus pelan perut buncit Risa. "Anaknya laki-laki atau perempuan?" tanyanya.
"Setelah di USG, dokter mengatakan jika babynya berjenis kelamin laki-laki."
"Senang ya, yang sebentar lagi akan jadi papa dan mama." Tristan turut bahagia untuk kedua sahabatnya itu.
"Iya, kau kapan nyusul?" pertanyaan Risa hanya dibalas senyum simpul oleh Tristan.
Risa melihat wajah tak nyaman Tristan karena pertanyaannya, jadi wanita itu tak membahasnya lebih lanjut.
"Semoga anakku nanti tampan sepertimu," harap Risa.
"Tidak mungkin anakmu tampan, papanya saja seperti itu!" kelakar Tristan dengan jari menunjuk ke arah Arya.
"Heii apa maksud perkataanmu itu, hm?" Arya yang mendengar ejekan itu langsung menghampiri Tristan dan Risa.
Mereka bertiga terlibat perbincangan hangat, sampai kemudian Tristan menjauh dan balik menghampiri Stela.
"Stela, aku pesan sebuket bunga ya," pinta Tristan.
"Ah... iya, mau bunga apa?"
"Hn... bisa tolong rekomendasikan?"
"Baiklah, bunganya untuk siapa?"
"Seorang wanita..."
"Kepribadian wanita itu seperti apa kalau aku boleh tahu..."
"Cantik, anggun dan mempesona?"
"Lavender..."
"Ya sudah, aku pesan bunga itu!"
"Ok, tunggu sebentar ya. Aku buatkan dulu."
Tristan kembali bergabung dengan Arya dan Risa, melanjutkan obrolan mereka yang sempat terhenti.
Lima belas menit kemudian, Stela memanggil Tristan karena pesanannya sudah jadi.
"Terimakasih ya..." Tristan mengambil bunga ditangan Stela dan menggantinya dengan beberapa lembar uang.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Tristan langsung pamit pada tiga orang yang berada disana. Pria itu juga sempat mengatakan jika dia tidak akan makan malam di rumah hari ini.
"Mas, bantu Stela tutup tokonya ya?" pinta manja Risa pada suaminya. Ia tak tega kalau Stela harus menutup toko itu sendiri.
Tanpa banyak protes Arya segera melaksanakan permintaan sang istri dibantu Stela.
Waktu menunjukkan pukul 7, Arya dan Risa sudah terlebih dahulu pergi, katanya ingin makan malam. Sebelum pergi, Risa sempat mengajak Stela ikut dengannya, namun gadis itu menolak dengan alasan tidak ingin mengganggu.
"Kak Tristan tidak makan malam di rumah, apa aku makan di luar saja ya, jadi tidak usah masak?" pikir Stela.
Kini gadis itu berpikir dimana dia akan makan dan seketika itu juga ia mendapatkan jawabannya. Ya... Mi rebus. Sudah lama rasanya sejak terakhir kali Stela makan makanan itu.
Stela berjalan menyusuri jalanan untuk menemukan kedai yang buka.
TIN...TIN...
Stela berhenti melangkah saat sebuah mobil berhenti tepat di samping trotoar tempatnya berjalan. Pengemudi itu membunyikan klakson untuk menghentikan pergerakan Stela.
"Siapa ya?" Stela menyelisik ke arah kursi pengemudi mobil. Kaca hitam pada mobil membuatnya tak bisa melihat apa-apa.
Tak lama kemudian, kaca itu turun dan tampaklah seorang pria di dalamnya.
"Pak Rafa?" sapa Stela ragu.
"Iya ini aku." Pria itu tersenyum.
"Ah... selamat malam," kata Stela.
"Selamat malam" balasnya. "Stela, naiklah!" pintanya kemudian.
"Heh?"
"Naiklah, tidak enak bicara di jalan seperti ini!"
Stela akhirnya masuk mobil pria itu.
Rafa menjalankan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Mau kemana?" tanya Rafa.
"Saya mau cari makan, Pak..." jawab Stela jujur.
"Kebetulan aku juga, keberatan jika makan denganku?" tawar pria itu.
Stela menggeleng...
"Kalau begitu kita makan malam dulu ya, sekalian aku ingin mendengar cerita lebih lanjut tentang bunga."
"Baiklah, Pak."
Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah restoran mewah.
"Bisakah kita mencari tempat makan yang lain, Pak?"
"Kenapa? Kau ingin makan sesuatu?"
"Ya, aku ingin makan ramen."
"Oke, kalau itu aku tahu dimana kedai ramen yang enak." Rafa melajukan mobilnya kembali.
.......
Mobil Tristan berhenti tepat di depan gedung agensi, ia membuka kaca mobilnya dan menyapa seorang wanita yang tengah berdiri menunggu kedatangannya.
"Sudah lama?" tanya Tristan.
"Ti-tidak, aku baru saja selesai."
"Masuklah!" Tristan membuka pintu mobil di sampingnya dan mempersilahkan wanita itu masuk.
Audy itu langsung melesat meninggalkan gedung agensi.
.......
Rafa dan Stela makan di sebuah kedai sederhana yang terletak agak jauh dari pusat kota. Kedai itu adalah langganan Rafa semenjak dia sekolah dulu. Sembari menikmati hidangan, Stela menceritakan kepada Rafa semua tentang bunga yang ia ketahui. Dari nama-namanya, makna yang ada di setiap bunga dan juga filosofinya.
"Karena kau sudah membagi ilmu yang sangat bermanfaat ini padaku, maka sebagai balasannya aku akan mentraktirmu makanan ini," kata Rafa.
"Tidak perlu, Pak. Saya bisa membayarnya sendiri. Lagipula saya menceritakannya karena saya suka, bukan semata-mata karena Pak Arya yang meminta," tolak halus Stela.
"Kalau begitu aku mentraktirmu karena aku mau, bukan karena kau telah membagi ilmumu padaku."
"Ta-tapi, Pak..."
"Oke, pembicaraan berakhir dan segera habiskan makananmu!" Rafa mengalihkan pembicaraan agar tak ada alasan lagi bagi Stela menolaknya.
"I-iya.." Stela mengangguk dan melanjutkan makannya.
Sesekali mereka berbincang hal-hal kecil dan saling melempar senyum.
"Stela, aku punya satu permintaan?" ucap Rafa tiba-tiba.
"A-apa?"
"Bisakah kau berhenti bersikap formal padaku?"
"Eh?"
"Dan juga berhenti memanggilku dengan kata Pak, aku ingin mendengar kau memanggilku dengan namaku saja," pintanya penuh harap.
"Ta-tapi kenapa?"
"Kita kan teman, apa salahnya?"
"Kita baru saja kenal."
"Lalu masalahnya di mana?"
Stela cengo, sama sekali tak bisa membantah ucapan pria di hadapannya ini. .
.
"Ela.." panggilnya..
"I-iya, Pak..." sahut Stela gugup. Ada rasa lain di hatinya saat seorang pria memanggil namanya seperti itu, terlebih dengan nada lembut yang membuat darahnya berdesir seketika.
"Pak lagi?" desah Arya dengan raut wajah kecewa. "Panggil aku mas!"
"Eh.." Stela menggigit bibir bagian dalamnya.
"Coba panggil namaku lalu tambah mas di depannya!" pinta pria itu lagi dengan nada lembut dan penuh harap.
"Mas Rafa..." cicit Stela pelan.
"Ok, good."
Stela hanya tersenyum.
"Ela, tak apakan aku memanggilmu begitu?"
"I-iya?"
"Ela...?"
"Iya, Mas..."
"E-la..."
"Ada apa, Mas?"
"Ela....."
"Mas, kau mengerjaiku ya?" Stela merajuk karena Rafa terus menggodanya.
"Maaf, kau terlihat manis sekali saat malu-malu begini."
"Ya ampun, Mas!"
"Maaf..."
.......
Sementara Stela menikmati makan malam sederhana di sebuah kedai kecil nan hangat, lain halnya dengan Tristan. Pria itu mengajak Vania ke sebuah restoran mewah ala Prancis yang sudah ia reservasi sebelumnya. Tristan mengajak Vania makan malam sebagai perayaan atas keberhasilan kerja sama mereka.
"Untukmu.." Tristan menyerahkan sebuket bunga pada Vania.
Wanita berambut panjang itu mengambil bunga dari tangan Tristan, memperhatikan sejenak dan seketika teringat pada pria sialan waktu itu. Entah perasaannya saja, atau memang jika bunga yang diberikan Tristan sama persis seperti bunga yang diberikan Rafa waktu itu. Bentuk buket dan juga susunan bunganya sama. Ah... Vania jadi kesal sendiri kala mengingat kejadian itu.
"Terimakasih, aku sangat menyukai Lavender. Kau tahu bunga kesukaanku?" tanya Vania semanis mungkin. Ia berusaha melupakan kenangan buruk bersama Rafa dan mencoba menikmati makan malam romantisnya bersama Tristan.
"Tentu saja," jawab Tristan bangga. "Itu juga karena Stela yang membantuku," sambungnya dalam hati. Mengingat nama Stela, Tristan jadi kepikiran. Apa perempuan itu sudah pulang ya? Atau apa yang gadis itu masak hari ini? Eh... kenapa dia jadi ingin sekali memakan masakan Stela yang sudah seperti candu dilidahnya itu.
"Tristan?" Vania menyentak lamunan Tristan.
"Hn?"
"Ayo makan!" ajak Vania. Makanan sudah terhidang sedari tadi.
"Hn." Tristan mengangguk.
.......
Gara duduk gusar di kursi kebesarannya, pekerjaannya sedari tadi tidak selesai-selesai. Pikirannya terus mengelana memikirkan hubungannya dengan Jovanka yang berada di ambang kehancuran.
Sungguh ia mencintai gadisnya tapi karena kesalahan itu membuat semuanya hancur. Gara menyesal, ia sudah mencoba memperbaiki diri. Dia tak lagi menyalurkan hasrat seksualnya pada jalang diluar sana, entah kenapa hasratnya tiba-tiba saja hilang semenjak kelakuan bejatnya diketahui sang kekasih. Ia tak memiliki selera lagi.
"Vanka... aku merindukanmu," seminggu ini Gara selalu mengunjungi Jovanka ke ruangannya tanpa absen tapi seperti yang ia duga, gadisnya sama sekali tidak menggubris kedatangannya. Menganggap kehadirannyapun tidak. Selama seminggu ini Gara sudah seperti arwah penasaran yang selalu berkeliaran di sekitar Jovanka.
Di tengah kegalauan hati, bunyi dering ponsel menyadarkan Gara dari kesepian panjangnya.
Walau sebenarnya malas, ia masih tetap melihat siapa yang menghubungi.
"Vanka!" mata Gara berbinar senang melihat siapa yang baru saja mengiriminya pesan.
MyBaby💗
Aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Besok kita bertemu di kantor.
"Tentu saja sayang, terimakasih."
...Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments