Pedang Ilusi Penguasa Jiwa

Sebelum terjun memasuki lubang makam leluhur, Patriark Tao Lian menyuruh Tetua Din Thai Fung beserta seluruh anggota sektenya untuk berjaga-jaga di area pemakaman. Selanjutnya diapun memasuki lubang makam tersebut seorang diri.

Timbul rasa penasaran di benak seluruh anggota Sekte Lembah Petir, termasuk Tetua Din Thai Fung sendiri yang notabene adalah sahabat dekat Patriark Tao Lian. Mereka selama ini tidak pernah menyangka jika di area pemakaman tersebut menyimpan sesuatu yang sampai menarik perhatian para kultivator dari Daratan lain.

Menyadari keingin-tahuan para anggotanya, tetua Din Thai Fung lantas mengumpulkan mereka semua. "Dengarkan baik-baik... Kalian semua rahasiakan masalah ini pada siapapun!! Patriark pasti menutupi hal ini demi kebaikan kita semua. Kalian sudah melihat sendiri, demi mendapatkan sesuatu yang ada di dalam sana, para kultivator itu sampai membuat kekacauan di tempat kita. Jika sampai masalah ini tersebar, pasti kedepannya akan lebih banyak lagi pihak lain yang akan menyerang kita." Tetua Din Thai Fung berkata dengan penuh penegasan.

Setelah melangkah memasuki terowongan dinding makam, Patriark Tao Lian kemudian melompat terjun ke lubang yang sangat dalam dan akhirnya mendarat ringan di dasar ruangan bawah tanah yang begitu gelap.

Mengandalkan penerangan dari kilatan petir di telapak tangan, Patriark Tao Lian melangkah pelan penuh kewaspadaan. Dia nampak terkejut saat melihat sebuah makam telah terbongkar. Dengan cepat Patriark Tao Lian berkelebat mendekat.

"Sialan!! Kalian benar-benar binatang, tidak bermoral."

Jdeeerr... Jdeeerr... Jdeeerr...

Suara dentuman petir bersautan menggema berkali-kali di ruangan goa tersebut.

Belasan jasad mengering yang berserakan seketika hancur menjadi debu, tersambar petir kemarahan Patriark Tao Lian yang tidak terima makam leluhurnya di bongkar.

Setelah bersujud tiga kali di depan makam, Patriark Tao Lian lantas menguburkan kembali jasad leluhurnya itu sebagaimana mestinya.

Kemudian diapun menuju tembok batu besar yang berada di ruangan lain. Setelah memeriksa dan mendapati tidak ada perubahan pada batu itu, Patriark Tao Lian nampak tersenyum lega.

"Syukurlah, mereka tidak menyadari hal ini." Patriark Tao Lian memasukan tangannya ke lubang yang ada di permukaan batu tersebut sambil mengucapkan kalimat sebanyak 1009 kali.

Setelah selesai mengucapkan kalimat tersebut, terdengar suara dari dalam batu. Tangan Patriark Tao Lian meraih sesuatu seperti tuas dari dalam lubang dan lalu menariknya.

Dinding batu itupun bergerak ke atas, memperlihatkan ruangan rahasia yang terlihat terang karena pancaran sinar dari sebuah tongkat yang tertancap di atas bongkahan batu putih.

Selepas memastikan pusaka legenda masih berada ditempatnya, Patriark Tao Lian lalu menutup kembali ruangan tersebut.

***** 

Berhari-hari Arya berada di dalam goa hutan kabut ilusi. Dia nampak begitu fokus berlatih teknik ilusi dibawah bimbingan roh pusaka Pedang Ilusi Penguasa Jiwa yang berhasil di jinakkannya.

Karena begitu bersemangat, pemuda itu sampai tidak lagi memperdulikan pakaiannya yang begitu lusuh. Bahkan dia juga sampai lupa jika harus kembali untuk melatih Liu Wei dan Huang She.

"Lalu kenapa kau selama ini tidak pernah memiliki tuan?" Arya bertanya pada pedang yang dipegangnya.

Dari penjelasan yang di dengarnya, Arya menarik kesimpulan bahwa pedang ini tercipta dari reaksi alam yang terbentuk dari gesekan lempengan inti energi planet. Namun yang membuat dia heran, kenapa pedang ini selama ratusan ribu tahun tidak pernah di sentuh satupun makhluk hidup.

"Aku juga tidak tahu, mungkin takdirku adalah menjadi milikmu, tuan."

"Sebenarnya aku tidak terlalu membutuhkanmu, tapi baiklah.. karena takdir telah mempertemukan kita. Maka aku akan membawamu keluar dari hutan ini."

"Apa kau yakin tidak membutuhkanku tuan?" Pedang Ilusi Penguasa Jiwa bergetar hebat, lalu terlepas dari genggaman Arya dan melesat terbang menancap di hadapan pemuda itu.

Pedang tersebut mengeluarkan cahaya ungu membuat suasana di dalam goa seketika terang.

Arya memijit keningnya, dia merasa pusing dan sedikit tertekan oleh aura energi Pedang Ilusi Penguasa Jiwa. Merasakan energi besar tersebut, Arya menjadi heran kenapa Dewa Petir dulu mengatakan jika kualitas pedang ini berada di tahap pusaka langit. Padahal menurutnya Pedang ini setidaknya setingkat dengan Pusaka Dewa Biru. Dia juga heran kenapa pusaka ini secara otomatis terikat dengannya meski tanpa melalui ritual kontrak pusaka sebagaimana pada umumnya.

"Apa kau termasuk salah satu pecahan Pusaka Legenda?" Tanya Arya.

"Pusaka legenda? Apakah yang anda maksud adalah pusaka yang di bawa Dewa Awan ke dunia ini?"

"Entahlah aku juga tidak terlalu mengerti.."

"Jika yang anda maksud adalah pusaka itu, anda salah tuan... Aku tercipta dari inti energi dunia ini, sedangkan pusaka itu berasal dari inti dari dunia lain."

"Ya sudah lupakan, kita lanjutkan lagi latihan."

Tepat dua minggu Arya baru teringat jika Hulao dan Honglong masih menjalani hukuman darinya. Dengan segera diapun mengakhiri latihan dan keluar dari hutan ilusi sambil menggenggam Pedang Ilusi Penguasa Jiwa.

Sesampainya di tempat Hulao dan Honglong berada, Arya mendapati tubuh kedua siluman itu dipenuhi luka lebam yang juga berlumuran darah. Nampaknya mereka selama ini mengalami penderitaan yang panjang, namun meski demikian mereka tetap sadarkan diri.

"Berhenti.." 

Bersamaan dengan terucapnya perkataan Arya, Hulao dan Honglong langsung berhenti memukuli tubuhnya sendiri. Mereka menatap Arya dengan perasaan marah, namun tidak berani menunjukkannya apalagi mengumpat dalam hati. Sebab mereka sadar jika Arya dapat mendengar kata hati mereka.

"Ku harap setelah ini kalian tidak akan bertengkar lagi. Atau akan aku berikan hukuman yang lebih lama daripada ini." Arya menyeringai tanpa menunjukkan rasa bersalah.

Arya kemudian memberikan masing-masing dari mereka sebuah pil berwarna putih susu. Arya sadar dengan semua luka yang mereka derita, meskipun itu harus mengerahkan banyak Qi, akan membutuhkan waktu lama untuk memulihkan diri.

Selepas mengambil buah sumberdaya dari kebun milikinya, Arya kemudian mengajak Hulao dan Honglong memasuki dimensi Hutan Hei'an.

***** 

Guyuran air hujan membuat kemampuan mayat hidup semakin bertambah kuat, sekarang mereka menyerang secara brutal. Tidak perduli jumlah mereka telah berkurang banyak, mereka tetap tidak mau mundur dan terus memaksa merangsek untuk menghancurkan perisai pelindung.

Bak semut yang bergerombol, pasukan mayat hidup mengepung para pendekar dan prajurit penuh nafsu layaknya mendapatkan makanan. Dari belakang muncul puluhan gadis berkelebat terbang menuju ke tempat para tetua yang sibuk melancarkan serangan dari udara.

Penampilan para gadis tersebut tidak seperti mayat hidup, tubuh mereka masih segar tanpa cacat namun wajahnya begitu putih pucat. Kemampuan mereka setidaknya mencapai Pendekar Kaisar karena dapat bertarung mengimbangi para tetua. Terlebih mereka juga tidak kesusahan mempertahankan diri melayang di udara serta dapat menyerang dengan gerakan yang begitu cepat dan mematikan.

Meski dengan tangan kosong tetapi para gadis tersebut dapat menahan serangan senjata yang di gunakan para tetua. Tapi tidak dengan serangan yang menggunakan pusaka. Mereka lebih hati-hati dan banyak menghindar ketika menghadapi tetua yang menggunakan pusaka.

Tetua Lin Hai menyipitkan mata, mengamati dengan seksama tubuh gadis yang menyerang dirinya. Berdasarkan energi dari gadis tersebut, tetua Lin Hai yakin mereka bukanlah mayat hidup tetapi juga bukan seorang Pendekar.

Setelah lama mengamati sambil terus menghindari serangan, Tetua Lin Hai akhirnya menyadari sesuatu dan merasa tidak asing dengan energi yang bersemayam di tubuh gadis yang menyerangnya tersebut. Demi untuk memastikannya, Tetua Lin Hai menuju ke tempat para gadis lainnya.

"Tahan!!! Jangan bunuh para gadis ini! Mereka hanyalah manusia biasa yang di kendalikan." Seru Tetua Lin Hai yang suaranya terdengar ke seluruh area pertempuran.

Terlambat, sebagian para gadis sudah tewas di tangan para tetua. Sementara gadis yang bertarung dengan para Patriark masih hidup karena semua Patriark ternyata sudah menyadari hal itu.

Mata tetua Wu Zhang terbelalak dan mengepalkan tangan, dia menatap tubuh gadis yang terbelah oleh pedangnya dengan perasaan bersalah. Begitu juga para tetua yang telah membunuh gadis yang menjadi lawan mereka. Meski demikian para tetua tidak terlalu lama larut dalam perasaan bersalah, karena bagaimanapun pertempuran ini harus segera di selesaikan agar tidak memakan korban lebih banyak. Merekapun kembali melancarkan serangan ke arah pasukan mayat hidup.

Sesudah mengetahui kebenarannya, para tetua dan Patriark lebih hati-hati menghadapi para gadis. Mereka tidak mau melukai ataupun membunuh, karena para gadis itu tidaklah bersalah, mereka hanya di manfaatkan.

"Lepaskan panah!" Teriak Jenderal Qian Tangjiang yang berdiri di depan barisan prajurit pemanah.

Sontak saja ratusan panah melesat meledakkan barisan pasukan mayat hidup. Gelagar ledakan dan kobaran api berhasil memporak-porandakan pasukan mayat hidup yang berada di barisan tengah. Ada lebih dari 1000 mayat hidup yang terbakar kobaran api, atau dalam keadaan tubuh hancur karena ledakan.

Tapi sayangnya hanya sedikit mayat hidup yang tewas, dan ratusan diantaranya masih berjalan dengan tubuh diselimuti api ataupun dengan bagian tubuh yang berceceran. Ledakan tersebut menimbulkan bau sangit dan tubuh gosong.

Tidak butuh waktu lama, kobaran api padam terkena guyurun hujan. Para mayat hidup tetap berjalan meski dengan tubuh seadanya.

"Merepotkan, jika seperti ini terus aku akan kehabisan energi dan kelelahan." Decak tetua Ye Han. Dia lantas mengalirkan energi ke tombak milikinya, tidak perduli larangan, tetua Ye Han telah menghujamkan tombaknya menusuk jantung gadis yang menjadi lawannya.

Jeritan melengking gadis itupun terhenti bersamaan kesadarannya yang menghilang selamanya. Di akhir hayatnya, gadis itupun tidak tahu jika dirinya telah mati di tangan Pendekar aliran putih. Tetua Ye Han menarik tombaknya yang seketika membuat tubuh gadis itupun terjatuh meluncur deras ke tanah.

Tetua Wu Zhang yang bertarung di dekat Tetua Ye Han menoleh dan lalu terbang mendekat. "Kenapa kau membunuhnya? Apa kau tidak mendengar larangan dari Patriark.."

"Kalau tidak segera di habisi, mereka akan semakin merepotkan kita." Tetua Ye Han berkata dengan sinis.

"Oh, aku tahu.. Jika kau tak ingin kelelahan lebih baik kau urus saja para mayat hidup itu. Biar gadis-gadis ini kami yang urus." Baru saja tetua Wu Zhang selesai berkata, tetua Ye Han sudah melesat menyerang gadis yang sedang menuju ke arah mereka.

Dalam beberapa menit saja, sudah terjadi puluhan kali jual beli serangan antara tetua Ye Han dan gadis tersebut. Terlihat pertarungan keduanya nampak seimbang, bahkan beberapa kali keduanya terdorong mundur karena benturan energi.

Melihat niat membunuh dari tetua Ye Han, dengan segera tetua Wu Zhang menghentikan pertarungan mereka.

"Pergilah, bantu yang lainnya menghadapi mayat hidup. Gadis ini biar aku yang urus."

"Sialan! Menyingkirlah! Jangan berlagak seperti pahlawan di depanku." Tetua Ye Han kembali menerjang menyerang.

Bukk.. Trang..

Dalam satu kali gerakan, tetua Wu Zhang memapak kedua serangan dari tetua Ye Han dan gadis tersebut. Tombak yang menghunus dari tetua Ye Han ditahan dengan pedang, sementara tubuh gadis tersebut di tendangnya sampai terlempar mundur beberapa meter.

"Kenapa kau mengganggu pertarunganku.. carilah lawanmu sendiri." Bentak tetua Ye Han dengan muka tersungut marah tidak terima pertarungannya di ganggu orang lain.

"Aku tidak akan membiarkan kau membunuh mereka... Gadis itu tidaklah bersalah." 

"Aku tidak perduli, mereka sudah dikendalikan dan itu artinya mereka adalah musuh." Tetua Ye Han melemparkan tombaknya lurus ke arah tetua Wu Zhang, bersamaan dengan tubuhnya yang melesat menyerang si gadis.

Tetua Wu Zhang mengelak memutar tubuhnya ke samping, dan lesatan tombak itupun tetap melaju hingga kembali ke dalam genggman tangan tetua Ye Han yang tengah beradu jual beli serangan.

Dalam waktu singkat, tetua Ye Han telah melakukan tebasan serta tusukan dengan beringas, berniat membunuh gadis yang menjadi lawannya dengan cepat.

Terpopuler

Comments

Zent Akbar

Zent Akbar

cerita alurnya muter-muter kaya baling baling helikopternya

2024-04-12

1

Yanka Raga

Yanka Raga

🙂

2024-03-13

0

Harman LokeST

Harman LokeST

laaaaaaaaaaaaaajjjjjjjjuuuuuuutttttt teeeeeeeeerrrrrrrrrrruuuuuuuusss

2024-02-29

1

lihat semua
Episodes
1 Legenda Pusaka Matahari Penghancur
2 Tiba Di Sekte Lembah Petir
3 Bertemu Sang Paman
4 Rencana Penyerangan
5 Formasi Badai Petir
6 Pendekar Penyair
7 Membantu Putri Ming Yu Hua
8 Menyerap Energi Matahari
9 Amanat Dewa Petir
10 Kuda Bersayap
11 Serangan Mayat Hidup
12 Pertempuran
13 Berlatih Di Dimensi Cahaya Keabadian
14 Selamat Jalan Dewa Petir
15 Bantuan Tiba
16 Jebakan Leluhur
17 Tubuh Dewi Bulan
18 Memberikan Hukuman
19 Pedang Ilusi Penguasa Jiwa
20 Kembali
21 Kemunculan Dua Gadis Berpakaian Hitam
22 Arya Vs Tiga Tetua Iblis Berdarah
23 Membawa Tawanan
24 Keterkejutan Para Tetua
25 Rencana Arya
26 Menerima Tantangan
27 Menunjukkan Kemampuan
28 Ritual Persembahan
29 Ramuan Kejujuran
30 Tubuh Raja Kegelapan
31 Latih Tanding
32 Menghancurkan Pusaka Legenda
33 Sekte Yang Menghilang
34 Pengejaran Ke Daratan Utara
35 Asap Hijau Dari Pedang
36 Meningkatkan Kultivasi Paman
37 Zhiyuhan Pemuda Penyair
38 Makhluk Asap
39 Efek Kekuatan Raja Kegelapan
40 Membuka Gerbang
41 Saatnya Berpetualang
42 Amarah Sang Legenda Naga
43 Merubah Wujud
44 Nikmat Sesaat Derita Yang Bertubi-tubi
45 Tetua Muda
46 Menyelamatkan Anak Perempuan
47 Markas Bandit Taring Hitam
48 Tewasnya Wakil Ketua Bandit
49 Karma
50 Penyelamat Yang Di Nantikan
51 Bayangan Putih Dan Hitam
52 Sihir Hitam
53 Organisasi Yenmin
54 Air Suci Biarawati
55 Sosok Sebenarnya Biarawati
56 Gunung Phoenix
57 Pertapa Gila
58 Memberikan Tugas
59 Penjambret
60 Memenuhi Janji Nenek
61 Ujian Menjadi Prajurit
62 Kemunculan Panglima Kegelapan
63 Nasib Wanita Malang
64 Wabah Penyakit
65 Kericuhan Di Dalam Kedai
66 Awal Manis Berujung Kecewa
67 Menjalankan Rencana
68 Pertemuan Para Penyusup
69 Situasi Kerajaan
70 Rumah Seribu Bunga
71 Membeli Para Gadis
72 Memulai Pembersihan Kota
73 Kekacauan Di Dalam Kota
74 Duel Sengit
75 Pertarungan Di Dalam Kerajaan
76 Keputusasaan Para Penduduk
77 Transformasi
78 Penyerangan Dimulai
79 Jenderal Sun Jian Vs Demiao
80 Portal Dimensi
81 Rasa Bersalah
82 Mengirim Bantuan Ke Kerajaan Goading
83 Munculnya Pendekar Khusus
84 Membantu Pertempuran Di Kerjaaan
85 Pendekar Khusus Dan Ke-empat Tetua Iblis Berdarah
86 Ratu Hewan Iblis
87 Kemunculan Yang Selalu Membuat Rusuh
88 Akhir Dari Ratu Hewan Iblis
89 Racun Penyerap Sukma
90 Bunga Anggrek Hantu
91 Bersulang
92 Pembasmian Di Kota Goading
93 Pembasmian Kota Goading II
94 Pembasmian Kota Goading III
95 Pembasmian Kota Goading IV
96 Pembasmian Kota Goading V
97 Akhir Dari Sang Panglima Hewan Iblis
98 Panglima Kegelapan
99 Kembali Ke Benua Timur
100 Tiga Dara Di Sungai
101 Hantu Kepala Buntung
102 Rasa Penasaran
103 Pencuri Kacang
104 Teknik Terlarang
105 Kematian Yang Di Janjikan
106 Situasi Di Dalam Kerajaan
107 Keseriusan Arya
108 Arya Vs Yeva
109 Arya Vs Yeva II
110 Arya Vs Yeva III
111 Akhir Pertarungan
112 Memberikan Penjelasan
113 Kondisi Raja Kegelapan
114 Mengangkat Saudara
115 Rasa Penasaran Jenderal Yong We
116 Pertemuan Di Bukit Cinta
117 Memberikan Bukti
118 Berujung Perkelahian
119 Pertarungan Sepanjang Malam
120 Undangan
121 Berlatih Kembali
122 Keanehan Arya
123 Kerajaan Danau Lembah Peri
124 Dibawa Menghadap Tuan Rumah
125 Kehidupan Bawah Danau
126 Bertemu Sang Ratu
127 Bentuk Bunga Yang Dicari
128 Mengambil Bunga Energi
129 Meninggalkan Kerajaan Danau Lembah Peri
130 Pil Bunga Anggrek Hantu
131 Mengobati Sang Raja
132 Pendekar Bunga Darah
133 Kembalinya Raja Kegelapan
134 Soal Asmara Terbawa Sampai Tua
135 Pertarungan Sepasang Kekasih Dimasa lalu
136 Nasib Nie Zha
137 Kejahilan Putri Zhou Jing Yi
138 Orang Terluka Di Tengah Hutan
139 Pasukan Pangeran Tong Shun
140 Ajakan Bergabung
141 Surat Cinta
142 Ditangkap
143 Ketegangan Yang Berlarut-larut
144 Lengan Api
145 Cerita Desa Huangpu
146 Tiga Pembawa Maut
147 Pertarungan Di Tepi Sungai
148 Dendam Seorang Anak
149 Mendapatkan Teman Perjalanan
150 Potongan Tangan
151 Pertunjukan Nie Zha
152 Pengintip
153 Cinta Bersemi Di Malam Purnama
154 Niat Terselubung
155 Membantu Penyatuan Energi
156 Manusia Iblis
157 Tekad Melawan Sampai Mati
158 Pangeran Istana Es
159 Menginterogasi
160 Mencari Goa Tengkorak
161 Terjebak
162 Salah Memilih Lawan
163 Lorong Rahasia
164 Pesta Gila
165 Kebebasan Sang Pangeran Es
166 Menyelamatkan Sandera
167 Siluman Penjaga
168 Kakek Malang
169 Si Tua Sadis
170 Pedang Es Abadi
171 Kembalinya Pedang Pusaran Angin
172 Tewasnya Lima Biksu Sesat
173 Pengumuman
Episodes

Updated 173 Episodes

1
Legenda Pusaka Matahari Penghancur
2
Tiba Di Sekte Lembah Petir
3
Bertemu Sang Paman
4
Rencana Penyerangan
5
Formasi Badai Petir
6
Pendekar Penyair
7
Membantu Putri Ming Yu Hua
8
Menyerap Energi Matahari
9
Amanat Dewa Petir
10
Kuda Bersayap
11
Serangan Mayat Hidup
12
Pertempuran
13
Berlatih Di Dimensi Cahaya Keabadian
14
Selamat Jalan Dewa Petir
15
Bantuan Tiba
16
Jebakan Leluhur
17
Tubuh Dewi Bulan
18
Memberikan Hukuman
19
Pedang Ilusi Penguasa Jiwa
20
Kembali
21
Kemunculan Dua Gadis Berpakaian Hitam
22
Arya Vs Tiga Tetua Iblis Berdarah
23
Membawa Tawanan
24
Keterkejutan Para Tetua
25
Rencana Arya
26
Menerima Tantangan
27
Menunjukkan Kemampuan
28
Ritual Persembahan
29
Ramuan Kejujuran
30
Tubuh Raja Kegelapan
31
Latih Tanding
32
Menghancurkan Pusaka Legenda
33
Sekte Yang Menghilang
34
Pengejaran Ke Daratan Utara
35
Asap Hijau Dari Pedang
36
Meningkatkan Kultivasi Paman
37
Zhiyuhan Pemuda Penyair
38
Makhluk Asap
39
Efek Kekuatan Raja Kegelapan
40
Membuka Gerbang
41
Saatnya Berpetualang
42
Amarah Sang Legenda Naga
43
Merubah Wujud
44
Nikmat Sesaat Derita Yang Bertubi-tubi
45
Tetua Muda
46
Menyelamatkan Anak Perempuan
47
Markas Bandit Taring Hitam
48
Tewasnya Wakil Ketua Bandit
49
Karma
50
Penyelamat Yang Di Nantikan
51
Bayangan Putih Dan Hitam
52
Sihir Hitam
53
Organisasi Yenmin
54
Air Suci Biarawati
55
Sosok Sebenarnya Biarawati
56
Gunung Phoenix
57
Pertapa Gila
58
Memberikan Tugas
59
Penjambret
60
Memenuhi Janji Nenek
61
Ujian Menjadi Prajurit
62
Kemunculan Panglima Kegelapan
63
Nasib Wanita Malang
64
Wabah Penyakit
65
Kericuhan Di Dalam Kedai
66
Awal Manis Berujung Kecewa
67
Menjalankan Rencana
68
Pertemuan Para Penyusup
69
Situasi Kerajaan
70
Rumah Seribu Bunga
71
Membeli Para Gadis
72
Memulai Pembersihan Kota
73
Kekacauan Di Dalam Kota
74
Duel Sengit
75
Pertarungan Di Dalam Kerajaan
76
Keputusasaan Para Penduduk
77
Transformasi
78
Penyerangan Dimulai
79
Jenderal Sun Jian Vs Demiao
80
Portal Dimensi
81
Rasa Bersalah
82
Mengirim Bantuan Ke Kerajaan Goading
83
Munculnya Pendekar Khusus
84
Membantu Pertempuran Di Kerjaaan
85
Pendekar Khusus Dan Ke-empat Tetua Iblis Berdarah
86
Ratu Hewan Iblis
87
Kemunculan Yang Selalu Membuat Rusuh
88
Akhir Dari Ratu Hewan Iblis
89
Racun Penyerap Sukma
90
Bunga Anggrek Hantu
91
Bersulang
92
Pembasmian Di Kota Goading
93
Pembasmian Kota Goading II
94
Pembasmian Kota Goading III
95
Pembasmian Kota Goading IV
96
Pembasmian Kota Goading V
97
Akhir Dari Sang Panglima Hewan Iblis
98
Panglima Kegelapan
99
Kembali Ke Benua Timur
100
Tiga Dara Di Sungai
101
Hantu Kepala Buntung
102
Rasa Penasaran
103
Pencuri Kacang
104
Teknik Terlarang
105
Kematian Yang Di Janjikan
106
Situasi Di Dalam Kerajaan
107
Keseriusan Arya
108
Arya Vs Yeva
109
Arya Vs Yeva II
110
Arya Vs Yeva III
111
Akhir Pertarungan
112
Memberikan Penjelasan
113
Kondisi Raja Kegelapan
114
Mengangkat Saudara
115
Rasa Penasaran Jenderal Yong We
116
Pertemuan Di Bukit Cinta
117
Memberikan Bukti
118
Berujung Perkelahian
119
Pertarungan Sepanjang Malam
120
Undangan
121
Berlatih Kembali
122
Keanehan Arya
123
Kerajaan Danau Lembah Peri
124
Dibawa Menghadap Tuan Rumah
125
Kehidupan Bawah Danau
126
Bertemu Sang Ratu
127
Bentuk Bunga Yang Dicari
128
Mengambil Bunga Energi
129
Meninggalkan Kerajaan Danau Lembah Peri
130
Pil Bunga Anggrek Hantu
131
Mengobati Sang Raja
132
Pendekar Bunga Darah
133
Kembalinya Raja Kegelapan
134
Soal Asmara Terbawa Sampai Tua
135
Pertarungan Sepasang Kekasih Dimasa lalu
136
Nasib Nie Zha
137
Kejahilan Putri Zhou Jing Yi
138
Orang Terluka Di Tengah Hutan
139
Pasukan Pangeran Tong Shun
140
Ajakan Bergabung
141
Surat Cinta
142
Ditangkap
143
Ketegangan Yang Berlarut-larut
144
Lengan Api
145
Cerita Desa Huangpu
146
Tiga Pembawa Maut
147
Pertarungan Di Tepi Sungai
148
Dendam Seorang Anak
149
Mendapatkan Teman Perjalanan
150
Potongan Tangan
151
Pertunjukan Nie Zha
152
Pengintip
153
Cinta Bersemi Di Malam Purnama
154
Niat Terselubung
155
Membantu Penyatuan Energi
156
Manusia Iblis
157
Tekad Melawan Sampai Mati
158
Pangeran Istana Es
159
Menginterogasi
160
Mencari Goa Tengkorak
161
Terjebak
162
Salah Memilih Lawan
163
Lorong Rahasia
164
Pesta Gila
165
Kebebasan Sang Pangeran Es
166
Menyelamatkan Sandera
167
Siluman Penjaga
168
Kakek Malang
169
Si Tua Sadis
170
Pedang Es Abadi
171
Kembalinya Pedang Pusaran Angin
172
Tewasnya Lima Biksu Sesat
173
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!