Sebelum terjun memasuki lubang makam leluhur, Patriark Tao Lian menyuruh Tetua Din Thai Fung beserta seluruh anggota sektenya untuk berjaga-jaga di area pemakaman. Selanjutnya diapun memasuki lubang makam tersebut seorang diri.
Timbul rasa penasaran di benak seluruh anggota Sekte Lembah Petir, termasuk Tetua Din Thai Fung sendiri yang notabene adalah sahabat dekat Patriark Tao Lian. Mereka selama ini tidak pernah menyangka jika di area pemakaman tersebut menyimpan sesuatu yang sampai menarik perhatian para kultivator dari Daratan lain.
Menyadari keingin-tahuan para anggotanya, tetua Din Thai Fung lantas mengumpulkan mereka semua. "Dengarkan baik-baik... Kalian semua rahasiakan masalah ini pada siapapun!! Patriark pasti menutupi hal ini demi kebaikan kita semua. Kalian sudah melihat sendiri, demi mendapatkan sesuatu yang ada di dalam sana, para kultivator itu sampai membuat kekacauan di tempat kita. Jika sampai masalah ini tersebar, pasti kedepannya akan lebih banyak lagi pihak lain yang akan menyerang kita." Tetua Din Thai Fung berkata dengan penuh penegasan.
Setelah melangkah memasuki terowongan dinding makam, Patriark Tao Lian kemudian melompat terjun ke lubang yang sangat dalam dan akhirnya mendarat ringan di dasar ruangan bawah tanah yang begitu gelap.
Mengandalkan penerangan dari kilatan petir di telapak tangan, Patriark Tao Lian melangkah pelan penuh kewaspadaan. Dia nampak terkejut saat melihat sebuah makam telah terbongkar. Dengan cepat Patriark Tao Lian berkelebat mendekat.
"Sialan!! Kalian benar-benar binatang, tidak bermoral."
Jdeeerr... Jdeeerr... Jdeeerr...
Suara dentuman petir bersautan menggema berkali-kali di ruangan goa tersebut.
Belasan jasad mengering yang berserakan seketika hancur menjadi debu, tersambar petir kemarahan Patriark Tao Lian yang tidak terima makam leluhurnya di bongkar.
Setelah bersujud tiga kali di depan makam, Patriark Tao Lian lantas menguburkan kembali jasad leluhurnya itu sebagaimana mestinya.
Kemudian diapun menuju tembok batu besar yang berada di ruangan lain. Setelah memeriksa dan mendapati tidak ada perubahan pada batu itu, Patriark Tao Lian nampak tersenyum lega.
"Syukurlah, mereka tidak menyadari hal ini." Patriark Tao Lian memasukan tangannya ke lubang yang ada di permukaan batu tersebut sambil mengucapkan kalimat sebanyak 1009 kali.
Setelah selesai mengucapkan kalimat tersebut, terdengar suara dari dalam batu. Tangan Patriark Tao Lian meraih sesuatu seperti tuas dari dalam lubang dan lalu menariknya.
Dinding batu itupun bergerak ke atas, memperlihatkan ruangan rahasia yang terlihat terang karena pancaran sinar dari sebuah tongkat yang tertancap di atas bongkahan batu putih.
Selepas memastikan pusaka legenda masih berada ditempatnya, Patriark Tao Lian lalu menutup kembali ruangan tersebut.
*****
Berhari-hari Arya berada di dalam goa hutan kabut ilusi. Dia nampak begitu fokus berlatih teknik ilusi dibawah bimbingan roh pusaka Pedang Ilusi Penguasa Jiwa yang berhasil di jinakkannya.
Karena begitu bersemangat, pemuda itu sampai tidak lagi memperdulikan pakaiannya yang begitu lusuh. Bahkan dia juga sampai lupa jika harus kembali untuk melatih Liu Wei dan Huang She.
"Lalu kenapa kau selama ini tidak pernah memiliki tuan?" Arya bertanya pada pedang yang dipegangnya.
Dari penjelasan yang di dengarnya, Arya menarik kesimpulan bahwa pedang ini tercipta dari reaksi alam yang terbentuk dari gesekan lempengan inti energi planet. Namun yang membuat dia heran, kenapa pedang ini selama ratusan ribu tahun tidak pernah di sentuh satupun makhluk hidup.
"Aku juga tidak tahu, mungkin takdirku adalah menjadi milikmu, tuan."
"Sebenarnya aku tidak terlalu membutuhkanmu, tapi baiklah.. karena takdir telah mempertemukan kita. Maka aku akan membawamu keluar dari hutan ini."
"Apa kau yakin tidak membutuhkanku tuan?" Pedang Ilusi Penguasa Jiwa bergetar hebat, lalu terlepas dari genggaman Arya dan melesat terbang menancap di hadapan pemuda itu.
Pedang tersebut mengeluarkan cahaya ungu membuat suasana di dalam goa seketika terang.
Arya memijit keningnya, dia merasa pusing dan sedikit tertekan oleh aura energi Pedang Ilusi Penguasa Jiwa. Merasakan energi besar tersebut, Arya menjadi heran kenapa Dewa Petir dulu mengatakan jika kualitas pedang ini berada di tahap pusaka langit. Padahal menurutnya Pedang ini setidaknya setingkat dengan Pusaka Dewa Biru. Dia juga heran kenapa pusaka ini secara otomatis terikat dengannya meski tanpa melalui ritual kontrak pusaka sebagaimana pada umumnya.
"Apa kau termasuk salah satu pecahan Pusaka Legenda?" Tanya Arya.
"Pusaka legenda? Apakah yang anda maksud adalah pusaka yang di bawa Dewa Awan ke dunia ini?"
"Entahlah aku juga tidak terlalu mengerti.."
"Jika yang anda maksud adalah pusaka itu, anda salah tuan... Aku tercipta dari inti energi dunia ini, sedangkan pusaka itu berasal dari inti dari dunia lain."
"Ya sudah lupakan, kita lanjutkan lagi latihan."
Tepat dua minggu Arya baru teringat jika Hulao dan Honglong masih menjalani hukuman darinya. Dengan segera diapun mengakhiri latihan dan keluar dari hutan ilusi sambil menggenggam Pedang Ilusi Penguasa Jiwa.
Sesampainya di tempat Hulao dan Honglong berada, Arya mendapati tubuh kedua siluman itu dipenuhi luka lebam yang juga berlumuran darah. Nampaknya mereka selama ini mengalami penderitaan yang panjang, namun meski demikian mereka tetap sadarkan diri.
"Berhenti.."
Bersamaan dengan terucapnya perkataan Arya, Hulao dan Honglong langsung berhenti memukuli tubuhnya sendiri. Mereka menatap Arya dengan perasaan marah, namun tidak berani menunjukkannya apalagi mengumpat dalam hati. Sebab mereka sadar jika Arya dapat mendengar kata hati mereka.
"Ku harap setelah ini kalian tidak akan bertengkar lagi. Atau akan aku berikan hukuman yang lebih lama daripada ini." Arya menyeringai tanpa menunjukkan rasa bersalah.
Arya kemudian memberikan masing-masing dari mereka sebuah pil berwarna putih susu. Arya sadar dengan semua luka yang mereka derita, meskipun itu harus mengerahkan banyak Qi, akan membutuhkan waktu lama untuk memulihkan diri.
Selepas mengambil buah sumberdaya dari kebun milikinya, Arya kemudian mengajak Hulao dan Honglong memasuki dimensi Hutan Hei'an.
*****
Guyuran air hujan membuat kemampuan mayat hidup semakin bertambah kuat, sekarang mereka menyerang secara brutal. Tidak perduli jumlah mereka telah berkurang banyak, mereka tetap tidak mau mundur dan terus memaksa merangsek untuk menghancurkan perisai pelindung.
Bak semut yang bergerombol, pasukan mayat hidup mengepung para pendekar dan prajurit penuh nafsu layaknya mendapatkan makanan. Dari belakang muncul puluhan gadis berkelebat terbang menuju ke tempat para tetua yang sibuk melancarkan serangan dari udara.
Penampilan para gadis tersebut tidak seperti mayat hidup, tubuh mereka masih segar tanpa cacat namun wajahnya begitu putih pucat. Kemampuan mereka setidaknya mencapai Pendekar Kaisar karena dapat bertarung mengimbangi para tetua. Terlebih mereka juga tidak kesusahan mempertahankan diri melayang di udara serta dapat menyerang dengan gerakan yang begitu cepat dan mematikan.
Meski dengan tangan kosong tetapi para gadis tersebut dapat menahan serangan senjata yang di gunakan para tetua. Tapi tidak dengan serangan yang menggunakan pusaka. Mereka lebih hati-hati dan banyak menghindar ketika menghadapi tetua yang menggunakan pusaka.
Tetua Lin Hai menyipitkan mata, mengamati dengan seksama tubuh gadis yang menyerang dirinya. Berdasarkan energi dari gadis tersebut, tetua Lin Hai yakin mereka bukanlah mayat hidup tetapi juga bukan seorang Pendekar.
Setelah lama mengamati sambil terus menghindari serangan, Tetua Lin Hai akhirnya menyadari sesuatu dan merasa tidak asing dengan energi yang bersemayam di tubuh gadis yang menyerangnya tersebut. Demi untuk memastikannya, Tetua Lin Hai menuju ke tempat para gadis lainnya.
"Tahan!!! Jangan bunuh para gadis ini! Mereka hanyalah manusia biasa yang di kendalikan." Seru Tetua Lin Hai yang suaranya terdengar ke seluruh area pertempuran.
Terlambat, sebagian para gadis sudah tewas di tangan para tetua. Sementara gadis yang bertarung dengan para Patriark masih hidup karena semua Patriark ternyata sudah menyadari hal itu.
Mata tetua Wu Zhang terbelalak dan mengepalkan tangan, dia menatap tubuh gadis yang terbelah oleh pedangnya dengan perasaan bersalah. Begitu juga para tetua yang telah membunuh gadis yang menjadi lawan mereka. Meski demikian para tetua tidak terlalu lama larut dalam perasaan bersalah, karena bagaimanapun pertempuran ini harus segera di selesaikan agar tidak memakan korban lebih banyak. Merekapun kembali melancarkan serangan ke arah pasukan mayat hidup.
Sesudah mengetahui kebenarannya, para tetua dan Patriark lebih hati-hati menghadapi para gadis. Mereka tidak mau melukai ataupun membunuh, karena para gadis itu tidaklah bersalah, mereka hanya di manfaatkan.
"Lepaskan panah!" Teriak Jenderal Qian Tangjiang yang berdiri di depan barisan prajurit pemanah.
Sontak saja ratusan panah melesat meledakkan barisan pasukan mayat hidup. Gelagar ledakan dan kobaran api berhasil memporak-porandakan pasukan mayat hidup yang berada di barisan tengah. Ada lebih dari 1000 mayat hidup yang terbakar kobaran api, atau dalam keadaan tubuh hancur karena ledakan.
Tapi sayangnya hanya sedikit mayat hidup yang tewas, dan ratusan diantaranya masih berjalan dengan tubuh diselimuti api ataupun dengan bagian tubuh yang berceceran. Ledakan tersebut menimbulkan bau sangit dan tubuh gosong.
Tidak butuh waktu lama, kobaran api padam terkena guyurun hujan. Para mayat hidup tetap berjalan meski dengan tubuh seadanya.
"Merepotkan, jika seperti ini terus aku akan kehabisan energi dan kelelahan." Decak tetua Ye Han. Dia lantas mengalirkan energi ke tombak milikinya, tidak perduli larangan, tetua Ye Han telah menghujamkan tombaknya menusuk jantung gadis yang menjadi lawannya.
Jeritan melengking gadis itupun terhenti bersamaan kesadarannya yang menghilang selamanya. Di akhir hayatnya, gadis itupun tidak tahu jika dirinya telah mati di tangan Pendekar aliran putih. Tetua Ye Han menarik tombaknya yang seketika membuat tubuh gadis itupun terjatuh meluncur deras ke tanah.
Tetua Wu Zhang yang bertarung di dekat Tetua Ye Han menoleh dan lalu terbang mendekat. "Kenapa kau membunuhnya? Apa kau tidak mendengar larangan dari Patriark.."
"Kalau tidak segera di habisi, mereka akan semakin merepotkan kita." Tetua Ye Han berkata dengan sinis.
"Oh, aku tahu.. Jika kau tak ingin kelelahan lebih baik kau urus saja para mayat hidup itu. Biar gadis-gadis ini kami yang urus." Baru saja tetua Wu Zhang selesai berkata, tetua Ye Han sudah melesat menyerang gadis yang sedang menuju ke arah mereka.
Dalam beberapa menit saja, sudah terjadi puluhan kali jual beli serangan antara tetua Ye Han dan gadis tersebut. Terlihat pertarungan keduanya nampak seimbang, bahkan beberapa kali keduanya terdorong mundur karena benturan energi.
Melihat niat membunuh dari tetua Ye Han, dengan segera tetua Wu Zhang menghentikan pertarungan mereka.
"Pergilah, bantu yang lainnya menghadapi mayat hidup. Gadis ini biar aku yang urus."
"Sialan! Menyingkirlah! Jangan berlagak seperti pahlawan di depanku." Tetua Ye Han kembali menerjang menyerang.
Bukk.. Trang..
Dalam satu kali gerakan, tetua Wu Zhang memapak kedua serangan dari tetua Ye Han dan gadis tersebut. Tombak yang menghunus dari tetua Ye Han ditahan dengan pedang, sementara tubuh gadis tersebut di tendangnya sampai terlempar mundur beberapa meter.
"Kenapa kau mengganggu pertarunganku.. carilah lawanmu sendiri." Bentak tetua Ye Han dengan muka tersungut marah tidak terima pertarungannya di ganggu orang lain.
"Aku tidak akan membiarkan kau membunuh mereka... Gadis itu tidaklah bersalah."
"Aku tidak perduli, mereka sudah dikendalikan dan itu artinya mereka adalah musuh." Tetua Ye Han melemparkan tombaknya lurus ke arah tetua Wu Zhang, bersamaan dengan tubuhnya yang melesat menyerang si gadis.
Tetua Wu Zhang mengelak memutar tubuhnya ke samping, dan lesatan tombak itupun tetap melaju hingga kembali ke dalam genggman tangan tetua Ye Han yang tengah beradu jual beli serangan.
Dalam waktu singkat, tetua Ye Han telah melakukan tebasan serta tusukan dengan beringas, berniat membunuh gadis yang menjadi lawannya dengan cepat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 173 Episodes
Comments
Zent Akbar
cerita alurnya muter-muter kaya baling baling helikopternya
2024-04-12
1
Yanka Raga
🙂
2024-03-13
0
Harman LokeST
laaaaaaaaaaaaaajjjjjjjjuuuuuuutttttt teeeeeeeeerrrrrrrrrrruuuuuuuusss
2024-02-29
1