Rencana Penyerangan

Matahari mulai bangkit dari peraduannya, membawa cahaya kemerahan muncul dari balik bukit pegunungan. Menambah indah pemandangan kawasan tempat berdirinya Markas Sekte Lembah Petir.

Semua penghuni Sekte Lembah Petir mulai terlihat keluar dari tempat peristirahatan, mereka mengawali hari dengan berbagai kegiatan masing-masing. Ada yang pergi ke 'Balai Makan' untuk menyiapkan makanan ataupun sarapan, ada pula yang bertugas membersihkan markas Sekte. Sebagian lagi memulai latihan dan sebagian lainnya pergi ke ladang merawat tanaman sumberdaya.

Semalam Patriark Tao Lian ingin merayakan kedatangan Arya dan memperkenalkannya pada semua murid Sekte Lembah Petir, namun Arya menolaknya karena dia ingin menstabilkan kekuatan yang baru bangkit dari dalam dirinya semenjak sebagian ingatannya kembali.

Kini Arya telah menyelesaikan proses penyatuan sebagian energi Kaisar Dewa Naga Emas yang ada di dalam dirinya. Tidak hanya tahap kultivasinya yang meningkat ke tahap Pendekar Fana, pikirannya saat ini juga telah di penuhi berbagai macam pengetahuan. Kekuatan fisiknya semakin meningkat, tulang, otot serta sel-sel di dalam tubuhnya telah berevolusi ke tahap yang lebih tinggi.

Arya bukan tidak menyadari jika bangkitnya kekuatan terpendam di dalam dirinya telah membuat alam Dewa dan alam bawah Iblis terguncang. Dia sadar dengan kemampuannya saat ini akan sangat berbahaya bagi keselamatannya untuk berkeliaran bebas, sebab kedepannya dia tidak hanya akan menghadapi para pendekar tapi juga akan menjadi target para Iblis.

Arya tersenyum puas atas peningkatan kekuatannya, dengan kemampuannya saat ini, dia sudah sangat siap untuk membumi hanguskan Sekte Iblis Berdarah. Tapi sebelum itu dia memiliki tugas lain yang harus dia selesaikan, yaitu menghancurkan salah satu pecahan Pusaka Legenda agar di kemudian hari tidak mengancam kemaslahatan umat manusia di dunia ini.

Ketika Arya baru saja selesai membersihkan diri, terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.

"Apa kau sudah siap, Xian'er?" Tanya Patriark Tao Lian setelah pintu terbuka.

Arya mengangguk.

"Tapi sebelum itu, aku akan memperkenalkanmu dengan semua anggota Aliansi Pendekar Surgawi."

Merekapun kemudian berjalan menuju ruangan pertemuan. Sesampainya di ruangan tersebut, ternyata disana sudah berkumpul banyak Pendekar maupun orang-orang dari kerajaan yang memang sedang menunggu kedatangan Patriark Tao Lian yang sebelumnya telah berjanji akan mengenalkan Pendekar Naga Emas kepada mereka.

"Siapa pemuda itu? Kenapa Patriark Tao Lian membawa seorang bocah ke pertemuan ini?

"Sepertinya pemuda itu memiliki kemiripan dengan Tabib Xian."

"Ya.. ku dengar Tabib Xian juga telah bergabung dengan Aliansi. Mungkinkah pemuda itu adalah Tabib Xian? Tapi kenapa wajahnya sedikit berbeda dari terakhir kali aku bertemu dengannya."

Semua orang yang ada di ruangan tersebut saling berbisik-bisik, sampai akhirnya Patriark Tao Lian resmi memperkenalkan Arya kepada seluruh orang yang ada di ruangan tersebut.

"Kalian tentu sudah tahu jika Tabib Xian telah bergabung dengan Aliansi kita." Patriark Tao Lian menghentikan ucapannya dan lalu menoleh ke samping dimana Arya berada. "Dialah Pendekar Naga Emas yang kemarin aku ceritakan pada kalian."

Arya yang sudah mengorek informasi dari pikiran Patriark Tao Lian terlihat bersikap biasa saja. Pemuda itu lantas tersenyum dan menelangkupkan tangannya ke depan.

"Salam kenal Patriark, sesepuh dan tuan-tuan semua. Junior ini merasa terhormat bisa menjadi bagian dari Aliansi." Arya berkata dengan sopan.

"Maaf Tabib Xian, bolehkah aku sedikit menjajal kemampuanmu." Seorang pria yang terlihat berumur 30 tahunan berdiri menatap Arya dengan tatapan merendahkan.

"Jaga sikapmu, Ye Han! Cepat duduk! Ini adalah tempat pertemuan bukan arena pertarungan." Bentak seorang pria paruh baya yang memiliki bekas luka sayatan di pipinya. Dari pakaiannya jelas pria paruh baya tersebut satu Sekte dengan pria yang bernama Ye Han.

Dengan perasaan jengkel dan malu, Ye Han lantas duduk. Dia sebenarnya sangat ingin membuktikan kebenaran mengenai kemampuan Tabib Xian yang menurutnya hanyalah berita yang dibuat-buat. 'Mana mungkin bocah belasan tahun itu dapat menghancurkan Sekte menengah seorang diri.' Begitu pikirnya.

"Maafkan atas kelancangan tetua kami ini, Patriark dan tuan-tuan semua." Ucap pria paruh baya tersebut sambil berdiri dan menelangkupkan tangannya.

"Baiklah, aku mengerti keraguan kalian. Begini saja. Untuk membuktikan pemuda ini pantas bergabung dengan Aliansi, dia akan ikut pertandingan untuk memperebutkan posisi 20 Pendekar terkuat di Kekaisaran." Setelah berkata, Patriark Tao Lian menoleh ke arah Arya.

Sontak saja suasana di ruangan pertemuan menjadi gaduh. Mereka merasa ada yang salah dari Patriark Tao Lian. 'Bagaimana mungkin seorang bocah belasan tahun di sejajarkan dengan pendekar-pendekar hebat dan berpengalaman."

"Patriark Tao, apa anda tidak terlalu menganggap tinggi Tabib Xian." Patriark Ye Ziyun dari Sekte bangau merak angkat bicara.

Patriark Ye Ziyun memang mempercayai semua berita yang beredar terkait Tabib Xian, tapi untuk di sejajarkan dengan pendekar-pendekar terkuat Kekaisaran, itu dirasanya terlalu berlebihan. Menurutnya masih butuh puluhan tahun bagi Tabib Xian untuk bisa di sejajarkan dengan pendekar-pendekar terkuat Kekaisaran.

"Paman aku tidak tertarik dengan kompetisi itu." Ucap Arya melalui telepati kepada Patriark Tao Lian.

"Xian'er, maafkan paman. Tapi paman sudah terlanjur mengatakan ini, jadi mohon bersedialah ikut kompetisi itu. Jangan membuat paman malu. Aku yakin kemampuanmu sudah pantas untuk bersaing dengan pendekar-pendekar terkuat saat ini." Balas Patriark Tao Lian sambil melirik Arya.

"Kenapa malah jadi seperti ini.." Rutuk Arya dalam hati.

Arya sudah menyusun rencana, setelah semua urusannya selesai, dia ingin fokus meningkatkan Kultivasinya untuk menghadapi masalah besar yang akan dihadapinya di kemudian hari. Baginya mengikuti kompetisi Pendekar terkuat sama saja akan semakin menarik perhatian.

"Tapi paman.."

Patriark Tao Lian mengangkat tangannya sebagai isyarat agar semua orang berhenti bicara. "Mulai sekarang Tabib Xian akan dikenal sebagai Pendekar Naga Emas."

"Kalian tahu mengapa aku menilai tinggi dirinya? Itu semua karena aku yang paling tahu siapa pemuda ini sebenarnya. Dia adalah Li Xian anak dari adikku Li Hongyi." Patriark Tao Lian berkata dengan bangga dan lalu melanjutkan. "Jika kalian keberatan, maka tunjukkan kemampuan kalian di kompetisi itu. Kalian akan sadar jika kemampuan Li Xian tidak kalah jauh dari kalian semua."

"Maaf Patriark Tao, pemuda ini bahkan tidak memiliki aura Pendekar. Aku juga tidak bisa membaca tingkat kultivasinya, dia malah terlihat seperti manusia biasa." Ucap Patriark Gu Ta Sian dari Sekte Cakar Naga.

"Apa kalian lupa, jika kalian tidak bisa membaca tingkat kultivasi seseorang, ada 3 kemungkinan. Yang pertama, dia memang manusia biasa. Kedua, orang itu menyembunyikan Kultivasinya, dan yang ketiga orang itu lebih tinggi Kultivasinya dari kalian." Tetua Din Thai Fung angkat bicara, dirinya merasa geram dan tidak tahan lagi melihat sahabatnya di sudutkan banyak pihak.

Tetua Din Thai Fung berkata seperti itu karena dia mengetahui jika Arya memang menekan aura Pendekar dan menyamarkan Kultivasinya. Tetua Din Thai Fung juga pernah melihat sendiri ketika Arya mengeluarkan energinya yang setingkat Pendekar Suci saat berada di kerajaan Lanzhu. Menurutnya, kemampuan Arya saat ini memang pantas disandingkan dengan pendekar-pendekar kelas atas Kekaisaran Ming.

"Jika benar begitu, tunjukkan pada kami kultivasimu yang sebenarnya, anak muda." Ye Han yang menantang Arya sebelumnya angkat bicara. Dia memang sangat penasaran dengan pemuda itu.

Arya menghela nafas berat. Semua ini sudah terlanjur dan dia juga tidak ingin membuat malu Patriark Tao Lian. "Baiklah.."

Arya lantas menunjukkan energinya yang setingkat Pendekar Kaisar, dia tidak mau menarik perhatian semua orang. Jikapun Arya menunjukkan Kultivasinya yang sebenarnya, tidak akan ada yang dapat mengetahuinya, sebab bagaimanapun pendekar-pendekar kekaisaran Ming hanya mengetahui kultivasi tertinggi berada di puncak Pendekar Suci.

"Benar-benar pemuda yang jenius, aku yakin puluhan tahun kedepan dia akan menjadi Pendekar terkuat." Batin Patriark Gu Ta Sian sambil tersenyum bangga. Dia sangat senang melihat generasi muda berbakat, karena bagaimanapun generasi muda lah yang akan meneruskan perjuangan orang-orang tua seperti dirinya.

"Hah, hanya pendekar kaisar saja sudah berlagak sok hebat. Lihat saja nanti, aku akan memberimu pelajaran." Geram Ye Han membatin.

"Baiklah, dengan kemampuannya dia boleh ikut kompetisi. Kalau menurut saya, sebaiknya Patriark Tao Lian melatihnya beberapa tahun lagi. Aku yakin sepuluh tahun lagi dia akan lebih matang untuk ikut serta dalam kompetisi mendatang." Patriark Liu Bei dari Sekte Macan Putih berpendapat.

"Terimakasih atas sarannya Patriark Bei.. Sebenarnya tujuanku mengikut sertakan Li Xian karena aku ingin dia semakin matang dan bisa menambah pengalamannya di kompetisi itu." Balas Patriark Tao Lian merasa lega.

"Baiklah, sekarang saatnya membahas tentang penyerangan Sekte Iblis Berdarah." Ucap Jenderal Qian Tangjiang salah satu Jenderal kekaisaran Ming.

"Kita butuh waktu dan menyusun kekuatan lebih untuk menghadapi mereka, kemampuan mereka benar-benar tidak masuk akal. Kami sudah pernah menyerang ke tempat persembunyian mereka, tapi untuk menghadapi murid-murid Sekte mereka saja, anggotaku banyak yang kehilangan nyawa." Balas Patriark Xin Fei dari Sekte Pedang Tunggal.

"Sebaiknya lebih cepat lebih baik, saat ini kita hanya memiliki waktu kurang dari dua purnama. Jika lewat dari itu, maka tujuan mereka membangkitkan Raja Iblis akan tercapai." Tandas Arya.

Semua orang yang berada di ruangan pertemuan dibuat terkejut.

"Anak muda, darimana kau tahu?" Tanya Jenderal Qian Tangjiang penuh selidik.

"Dari salah satu anggota mereka." Balas Arya dengan tenang.

Jenderal Qian Tangjiang masih belum sepenuhnya percaya, dia bahkan menaruh curiga kepada Arya. Informasi mengenai Sekte Iblis Berdarah sangatlah minim dan sulit di dapatkan, bahkan beberapa anggota Sekte Iblis Berdarah yang berhasil di tangkap, tidak ada satupun yang mau membocorkan informasi, para anggota Sekte Iblis Berdarah tersebut lebih memilih bunuh diri.

"Apa kau punya bukti untuk menguatkan perkataanmu itu."

"Aku memang tidak punya bukti, kalian mau percaya ataupun tidak itu urusan kalian. Tapi jika perkataan terbukti benar, maka persiapkan diri kalian untuk menyesal." Arya berusaha menjatuhkan mental semua orang. Mereka jelas tahu resiko apa yang akan mereka hadapi jika semua yang di katakannya terjadi.

"Anak muda, bicara memang mudah. Apa kau tahu mereka memiliki kemampuan aneh yang seolah bisa hidup abadi." Cibir Ye Han.

"Aku sempat beberapa kali menghadapi mereka dan sedikit banyak aku mengetahui kelebihan serta kelemahan mereka. Setiap hal pasti mempunyai kelemahan, dan kelemahan mereka adalah api, jantung dan kepala." Jelas Arya.

"Anak muda, kau sepertinya tahu banyak tentang mereka. Sebenarnya apa hubunganmu dengan sekte iblis itu." Tukas Jenderal Qian Tangjiang penuh curiga.

"Hahaha... Di saat seperti ini bagaimana bisa kalian masih sempat-sempatnya berfikiran untung rugi. Jika kalian kehilangan anggota kalian ketika menghentikan mereka sekarang, ku rasa semua itu tidaklah seberapa jika di bandingkan nanti saat kalian menghadapi Raja Iblis." Arya tertawa lantang, dia sedikit kesal.

"Dan yang lebih lucu, bagaimana bisa kalian mencurigaiku yang sudah mau memberitahukan kelemahan dari musuh. Jika kalian masih tidak percaya padaku, silahkan tanyakan pada para anggota Sekte Bunga Sakura mengenai benar tidaknya ucapanku ini." Lanjut Arya dengan lugas.

"Baiklah, untuk sekarang kita hanya bisa mempercayainya. Tapi untuk jaga-jaga sebaiknya kita tanyakan dulu pada anggota Sekte Bunga Sakura mengenai perkataannya." Patriark Gu Ta Sian memberikan usul.

"Lalu apa selanjutnya rencanamu, anak muda?" Tanya Jenderal Qian Tangjiang kepada Arya.

"Aku tidak memiliki rencana. Tujuanku hanya satu, yaitu menghancurkan mereka. Dengan atau tidaknya kalian, aku akan tetap menghancurkan mereka." Arya berkata dengan tenang, seolah baginya menghancurkan Sekte Iblis Berdarah sama mudahnya dengan membalikkan tangan.

"Sombong kau anak muda.. Dengan kemampuan yang hanya Pendekar Kaisar tapi kau sudah merasa paling hebat." Hardik Ye Han.

Patriark Tao Lian memegang pundak Arya dan lalu menggeleng pelan.

"Maaf bukan maksudku bersikap sombong, tapi jika melihat keraguan kalian, aku khawatir kalian akan terus mengulur-ulur waktu terlalu lama." Arya berkata dengan sopan. "Begini saja, jika kalian percaya padaku, setelah acara disini selesai ikutlah denganku menyerang mereka. Jangan khawatir aku akan berada di garis paling depan untuk membuka jalan bagi kalian."

"Xian'er, aku tidak setuju.. Itu akan membahayakan nyawamu." Patriark Tao Lian berkata dengan nada tegas.

"Jangan khawatir paman, aku melakukan ini tentu sudah memiliki persiapan yang matang. Setidaknya aku telah mengumpulkan banyak informasi mengenai mereka serta kelemahannya."

"Aku tidak bisa memutuskannya sekarang. Jika aku sudah yakin padamu dan mendapatkan izin dari Yang Mulia, aku akan ikut menyerang bersamamu." Jendral Qian Tangjiang bangkit berdiri. "Semuanya aku mohon pamit."

Setelah kepergian jenderal Qian Tangjiang, satu persatu dari mereka juga kemudian meninggalkan ruangan pertemuan. Mereka semua merasa perlu mengonfirmasi terkait perkataan Arya, yaitu mengenai kelemahan Sekte Iblis Berdarah yang di paparkan pemuda itu.

"Aku tidak habis pikir, kenapa mereka masih mementingkan diri sendiri. Padahal saat ini kehancuran sudah di depan mata." Gumam Arya pelan namun cukup dapat di dengar oleh Patriark Tao Lian dan beberapa tetua Sekte Lembah Petir yang masih berada di sana.

"Beginilah watak manusia, Xian'er. Mereka akan selalu mementingkan dirinya sendiri, dan hal itu akan membuat mereka menutup mata atas kenyataan yang terjadi. Tapi mereka juga tidak sepenuhnya salah, karena bagaimanapun informasi yang kau sampaikan tadi belum bisa dipastikan kebenarannya." Balas Patriark Tao Lian sambil memegang pundak Arya.

"Kalau begitu, mari kita hancurkan pusaka itu, paman."

"Sebaiknya nanti saja setelah semua acara disini selesai, aku tidak ingin ada yang mengetahui masalah ini."

Arya menghela nafas. "Baiklah, terserah paman saja."

Terpopuler

Comments

Iwan Arema

Iwan Arema

hmmmm

2024-05-11

1

Yanka Raga

Yanka Raga

🤩

2024-03-12

0

Harman LokeST

Harman LokeST

. tiiiinnnnnnnnnnngggggkkaaaaaaaaaaaattt teeeeeeeeerrrrrrrrrrruuuuuuuusssssssss kuuuulllllltttiiiiiioiiiioivaaasiiiiiommuuuuuuu yang lebih tinggi lagi Li Tian

2024-02-29

1

lihat semua
Episodes
1 Legenda Pusaka Matahari Penghancur
2 Tiba Di Sekte Lembah Petir
3 Bertemu Sang Paman
4 Rencana Penyerangan
5 Formasi Badai Petir
6 Pendekar Penyair
7 Membantu Putri Ming Yu Hua
8 Menyerap Energi Matahari
9 Amanat Dewa Petir
10 Kuda Bersayap
11 Serangan Mayat Hidup
12 Pertempuran
13 Berlatih Di Dimensi Cahaya Keabadian
14 Selamat Jalan Dewa Petir
15 Bantuan Tiba
16 Jebakan Leluhur
17 Tubuh Dewi Bulan
18 Memberikan Hukuman
19 Pedang Ilusi Penguasa Jiwa
20 Kembali
21 Kemunculan Dua Gadis Berpakaian Hitam
22 Arya Vs Tiga Tetua Iblis Berdarah
23 Membawa Tawanan
24 Keterkejutan Para Tetua
25 Rencana Arya
26 Menerima Tantangan
27 Menunjukkan Kemampuan
28 Ritual Persembahan
29 Ramuan Kejujuran
30 Tubuh Raja Kegelapan
31 Latih Tanding
32 Menghancurkan Pusaka Legenda
33 Sekte Yang Menghilang
34 Pengejaran Ke Daratan Utara
35 Asap Hijau Dari Pedang
36 Meningkatkan Kultivasi Paman
37 Zhiyuhan Pemuda Penyair
38 Makhluk Asap
39 Efek Kekuatan Raja Kegelapan
40 Membuka Gerbang
41 Saatnya Berpetualang
42 Amarah Sang Legenda Naga
43 Merubah Wujud
44 Nikmat Sesaat Derita Yang Bertubi-tubi
45 Tetua Muda
46 Menyelamatkan Anak Perempuan
47 Markas Bandit Taring Hitam
48 Tewasnya Wakil Ketua Bandit
49 Karma
50 Penyelamat Yang Di Nantikan
51 Bayangan Putih Dan Hitam
52 Sihir Hitam
53 Organisasi Yenmin
54 Air Suci Biarawati
55 Sosok Sebenarnya Biarawati
56 Gunung Phoenix
57 Pertapa Gila
58 Memberikan Tugas
59 Penjambret
60 Memenuhi Janji Nenek
61 Ujian Menjadi Prajurit
62 Kemunculan Panglima Kegelapan
63 Nasib Wanita Malang
64 Wabah Penyakit
65 Kericuhan Di Dalam Kedai
66 Awal Manis Berujung Kecewa
67 Menjalankan Rencana
68 Pertemuan Para Penyusup
69 Situasi Kerajaan
70 Rumah Seribu Bunga
71 Membeli Para Gadis
72 Memulai Pembersihan Kota
73 Kekacauan Di Dalam Kota
74 Duel Sengit
75 Pertarungan Di Dalam Kerajaan
76 Keputusasaan Para Penduduk
77 Transformasi
78 Penyerangan Dimulai
79 Jenderal Sun Jian Vs Demiao
80 Portal Dimensi
81 Rasa Bersalah
82 Mengirim Bantuan Ke Kerajaan Goading
83 Munculnya Pendekar Khusus
84 Membantu Pertempuran Di Kerjaaan
85 Pendekar Khusus Dan Ke-empat Tetua Iblis Berdarah
86 Ratu Hewan Iblis
87 Kemunculan Yang Selalu Membuat Rusuh
88 Akhir Dari Ratu Hewan Iblis
89 Racun Penyerap Sukma
90 Bunga Anggrek Hantu
91 Bersulang
92 Pembasmian Di Kota Goading
93 Pembasmian Kota Goading II
94 Pembasmian Kota Goading III
95 Pembasmian Kota Goading IV
96 Pembasmian Kota Goading V
97 Akhir Dari Sang Panglima Hewan Iblis
98 Panglima Kegelapan
99 Kembali Ke Benua Timur
100 Tiga Dara Di Sungai
101 Hantu Kepala Buntung
102 Rasa Penasaran
103 Pencuri Kacang
104 Teknik Terlarang
105 Kematian Yang Di Janjikan
106 Situasi Di Dalam Kerajaan
107 Keseriusan Arya
108 Arya Vs Yeva
109 Arya Vs Yeva II
110 Arya Vs Yeva III
111 Akhir Pertarungan
112 Memberikan Penjelasan
113 Kondisi Raja Kegelapan
114 Mengangkat Saudara
115 Rasa Penasaran Jenderal Yong We
116 Pertemuan Di Bukit Cinta
117 Memberikan Bukti
118 Berujung Perkelahian
119 Pertarungan Sepanjang Malam
120 Undangan
121 Berlatih Kembali
122 Keanehan Arya
123 Kerajaan Danau Lembah Peri
124 Dibawa Menghadap Tuan Rumah
125 Kehidupan Bawah Danau
126 Bertemu Sang Ratu
127 Bentuk Bunga Yang Dicari
128 Mengambil Bunga Energi
129 Meninggalkan Kerajaan Danau Lembah Peri
130 Pil Bunga Anggrek Hantu
131 Mengobati Sang Raja
132 Pendekar Bunga Darah
133 Kembalinya Raja Kegelapan
134 Soal Asmara Terbawa Sampai Tua
135 Pertarungan Sepasang Kekasih Dimasa lalu
136 Nasib Nie Zha
137 Kejahilan Putri Zhou Jing Yi
138 Orang Terluka Di Tengah Hutan
139 Pasukan Pangeran Tong Shun
140 Ajakan Bergabung
141 Surat Cinta
142 Ditangkap
143 Ketegangan Yang Berlarut-larut
144 Lengan Api
145 Cerita Desa Huangpu
146 Tiga Pembawa Maut
147 Pertarungan Di Tepi Sungai
148 Dendam Seorang Anak
149 Mendapatkan Teman Perjalanan
150 Potongan Tangan
151 Pertunjukan Nie Zha
152 Pengintip
153 Cinta Bersemi Di Malam Purnama
154 Niat Terselubung
155 Membantu Penyatuan Energi
156 Manusia Iblis
157 Tekad Melawan Sampai Mati
158 Pangeran Istana Es
159 Menginterogasi
160 Mencari Goa Tengkorak
161 Terjebak
162 Salah Memilih Lawan
163 Lorong Rahasia
164 Pesta Gila
165 Kebebasan Sang Pangeran Es
166 Menyelamatkan Sandera
167 Siluman Penjaga
168 Kakek Malang
169 Si Tua Sadis
170 Pedang Es Abadi
171 Kembalinya Pedang Pusaran Angin
172 Tewasnya Lima Biksu Sesat
173 Pengumuman
Episodes

Updated 173 Episodes

1
Legenda Pusaka Matahari Penghancur
2
Tiba Di Sekte Lembah Petir
3
Bertemu Sang Paman
4
Rencana Penyerangan
5
Formasi Badai Petir
6
Pendekar Penyair
7
Membantu Putri Ming Yu Hua
8
Menyerap Energi Matahari
9
Amanat Dewa Petir
10
Kuda Bersayap
11
Serangan Mayat Hidup
12
Pertempuran
13
Berlatih Di Dimensi Cahaya Keabadian
14
Selamat Jalan Dewa Petir
15
Bantuan Tiba
16
Jebakan Leluhur
17
Tubuh Dewi Bulan
18
Memberikan Hukuman
19
Pedang Ilusi Penguasa Jiwa
20
Kembali
21
Kemunculan Dua Gadis Berpakaian Hitam
22
Arya Vs Tiga Tetua Iblis Berdarah
23
Membawa Tawanan
24
Keterkejutan Para Tetua
25
Rencana Arya
26
Menerima Tantangan
27
Menunjukkan Kemampuan
28
Ritual Persembahan
29
Ramuan Kejujuran
30
Tubuh Raja Kegelapan
31
Latih Tanding
32
Menghancurkan Pusaka Legenda
33
Sekte Yang Menghilang
34
Pengejaran Ke Daratan Utara
35
Asap Hijau Dari Pedang
36
Meningkatkan Kultivasi Paman
37
Zhiyuhan Pemuda Penyair
38
Makhluk Asap
39
Efek Kekuatan Raja Kegelapan
40
Membuka Gerbang
41
Saatnya Berpetualang
42
Amarah Sang Legenda Naga
43
Merubah Wujud
44
Nikmat Sesaat Derita Yang Bertubi-tubi
45
Tetua Muda
46
Menyelamatkan Anak Perempuan
47
Markas Bandit Taring Hitam
48
Tewasnya Wakil Ketua Bandit
49
Karma
50
Penyelamat Yang Di Nantikan
51
Bayangan Putih Dan Hitam
52
Sihir Hitam
53
Organisasi Yenmin
54
Air Suci Biarawati
55
Sosok Sebenarnya Biarawati
56
Gunung Phoenix
57
Pertapa Gila
58
Memberikan Tugas
59
Penjambret
60
Memenuhi Janji Nenek
61
Ujian Menjadi Prajurit
62
Kemunculan Panglima Kegelapan
63
Nasib Wanita Malang
64
Wabah Penyakit
65
Kericuhan Di Dalam Kedai
66
Awal Manis Berujung Kecewa
67
Menjalankan Rencana
68
Pertemuan Para Penyusup
69
Situasi Kerajaan
70
Rumah Seribu Bunga
71
Membeli Para Gadis
72
Memulai Pembersihan Kota
73
Kekacauan Di Dalam Kota
74
Duel Sengit
75
Pertarungan Di Dalam Kerajaan
76
Keputusasaan Para Penduduk
77
Transformasi
78
Penyerangan Dimulai
79
Jenderal Sun Jian Vs Demiao
80
Portal Dimensi
81
Rasa Bersalah
82
Mengirim Bantuan Ke Kerajaan Goading
83
Munculnya Pendekar Khusus
84
Membantu Pertempuran Di Kerjaaan
85
Pendekar Khusus Dan Ke-empat Tetua Iblis Berdarah
86
Ratu Hewan Iblis
87
Kemunculan Yang Selalu Membuat Rusuh
88
Akhir Dari Ratu Hewan Iblis
89
Racun Penyerap Sukma
90
Bunga Anggrek Hantu
91
Bersulang
92
Pembasmian Di Kota Goading
93
Pembasmian Kota Goading II
94
Pembasmian Kota Goading III
95
Pembasmian Kota Goading IV
96
Pembasmian Kota Goading V
97
Akhir Dari Sang Panglima Hewan Iblis
98
Panglima Kegelapan
99
Kembali Ke Benua Timur
100
Tiga Dara Di Sungai
101
Hantu Kepala Buntung
102
Rasa Penasaran
103
Pencuri Kacang
104
Teknik Terlarang
105
Kematian Yang Di Janjikan
106
Situasi Di Dalam Kerajaan
107
Keseriusan Arya
108
Arya Vs Yeva
109
Arya Vs Yeva II
110
Arya Vs Yeva III
111
Akhir Pertarungan
112
Memberikan Penjelasan
113
Kondisi Raja Kegelapan
114
Mengangkat Saudara
115
Rasa Penasaran Jenderal Yong We
116
Pertemuan Di Bukit Cinta
117
Memberikan Bukti
118
Berujung Perkelahian
119
Pertarungan Sepanjang Malam
120
Undangan
121
Berlatih Kembali
122
Keanehan Arya
123
Kerajaan Danau Lembah Peri
124
Dibawa Menghadap Tuan Rumah
125
Kehidupan Bawah Danau
126
Bertemu Sang Ratu
127
Bentuk Bunga Yang Dicari
128
Mengambil Bunga Energi
129
Meninggalkan Kerajaan Danau Lembah Peri
130
Pil Bunga Anggrek Hantu
131
Mengobati Sang Raja
132
Pendekar Bunga Darah
133
Kembalinya Raja Kegelapan
134
Soal Asmara Terbawa Sampai Tua
135
Pertarungan Sepasang Kekasih Dimasa lalu
136
Nasib Nie Zha
137
Kejahilan Putri Zhou Jing Yi
138
Orang Terluka Di Tengah Hutan
139
Pasukan Pangeran Tong Shun
140
Ajakan Bergabung
141
Surat Cinta
142
Ditangkap
143
Ketegangan Yang Berlarut-larut
144
Lengan Api
145
Cerita Desa Huangpu
146
Tiga Pembawa Maut
147
Pertarungan Di Tepi Sungai
148
Dendam Seorang Anak
149
Mendapatkan Teman Perjalanan
150
Potongan Tangan
151
Pertunjukan Nie Zha
152
Pengintip
153
Cinta Bersemi Di Malam Purnama
154
Niat Terselubung
155
Membantu Penyatuan Energi
156
Manusia Iblis
157
Tekad Melawan Sampai Mati
158
Pangeran Istana Es
159
Menginterogasi
160
Mencari Goa Tengkorak
161
Terjebak
162
Salah Memilih Lawan
163
Lorong Rahasia
164
Pesta Gila
165
Kebebasan Sang Pangeran Es
166
Menyelamatkan Sandera
167
Siluman Penjaga
168
Kakek Malang
169
Si Tua Sadis
170
Pedang Es Abadi
171
Kembalinya Pedang Pusaran Angin
172
Tewasnya Lima Biksu Sesat
173
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!