Menyerap Energi Matahari

Arya kemudian memandangi Huang She dan Liu Wei bergantian. "Saatnya kalian berlatih." Ucapnya sebelum mengibaskan tangannya, membuat kedua gadis itupun lenyap masuk ke dalam dunia dimensi miliknya.

Sesaat kemudian Arya membuka portal dan lalu memasuki alam dimensinya, menyusul kedua gadis tersebut.

Melihat Arya muncul dari lobang hitam, Huang She dan Liu Wei yang baru pertama kali menyaksikan kemampuan Arya nampak mengerutkan dahi.

"Dimana ini?" Liu Wei bertanya dengan muka kebingungan, celingukan kesana kemari. Pemandangan yang dia dapati hanyalah hamparan tanah yang luas sejauh mata memandang.

Arya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu, dia lalu mengajak mereka menghampiri bongkahan batu besar yang sedikit menyembul dari permukaan tanah.

"Batu apa ini, kenapa bisa mengeluarkan cahaya?"

Lagi-lagi pertanyaan Liu Wei tidak diperdulikan Arya. Pemuda itu malah menggigit jarinya dan lalu menempelkan jarinya yang mengeluarkan darah ke permukaan batu besar di hadapan mereka.

Terlihat dahi Arya mengerenyit karena harus mengerahkan sebagian besar Qi untuk dapat melakukan kontrak dengan Batu Ruang Semesta yang hampir telah sepenuhnya berevolusi tersebut.

Batu sebesar rumah itupun meredup, lalu mengecil dan mengambang beberapa jengkal dari tangan kanan Arya.

Arya kemudian meraih batu tersebut dan lalu menghela nafas panjang. Dia tidak menyangka jika kali ini dia harus mengerahkan banyak Qi untuk dapat melakukan kontrak dengan batu ruang semesta, tidak seperti dulu saat dia melakukan kontrak batu ruang semesta pemberian dari kakeknya Zhen Long.

"Jangan bertanya dulu, nanti akan aku jelaskan." Setelah mengatakan demikian, Arya mengarahkan batu ruang semesta ke arah Liu Wei dan Huang She.

Dalam sekejap kedua gadis itupun lenyap, berpindah tempat ke Lembah Naga. Tanpa membuang waktu, Arya kemudian menyusul mereka.

Mata Huang She melebar dan kemudian tersenyum senang. Dia tidak menyangka akan bisa kembali lagi ke tempat ini. Tempat dia menghabiskan waktu berbulan-bulan berlatih bersama ketiga bocah bersaudara. Pulau kehidupan.

"Disini adalah tempat yang cocok untuk kalian berlatih. Kalian seraplah dulu energi Qi yang ada di tempat ini sampai aku kembali." Setelah mengatakan demikian, Arya melontarkan dirinya seperti roket dan terbang menuju ke suatu tempat.

"Ada apa dengannya? Kenapa dia sekarang tidak banyak bicara seperti biasanya." Liu Wei menoleh kepada Huang She untuk mendapatkan jawaban dari gadis di sampingnya itu.

"Entahlah, aku juga tidak mengerti. Sikapnya akhir-akhir ini memang sering kali berubah-ubah." Balas Huang She dan lalu menempatkan diri duduk di atas permukaan tanah.

"Aku rasa ini ada kaitannya dengan putri itu." Liu Wei berkata setelah memposisikan dirinya duduk di samping Huang She.

"Berhentilah bicara, sebaiknya kita segera berkultivasi. Qi di tempat ini begitu melimpah, jangan buang-buang waktu, ku rasa Arya sedang merencanakan sesuatu dan itu sepertinya juga ada kaitannya dengan kita." Setelah berkata, Huang She segera memejamkan mata, bermeditasi. 

Arya terbang menuju ke Lembah Naga, tempat dimana para siluman Naga berkultivasi. Dalam beberapa tarikan nafas, dia sudah tiba di tengah-tengah tebing tinggi yang mengelilingi area bebatuan.

"Ternyata kondisi kalian sudah jauh lebih baik dari terakhir kali bertemu." Arya tersenyum senang mendapati sembilan Naga yang tersisa telah pulih sepenuhnya dari luka-luka yang di dapatkan dari pertarungan melawan Chaizu. Bahkan kultivasi para siluman Naga tersebut sedikit banyak mengalami peningkatan.

"Hmm.. bagaimana aku bisa lupa jika dimensi ini memiliki waktu yang jauh berbeda." Arya menepuk dahinya.

Arya kemudian melayang perlahan menghampiri Nuwa, siluman Naga hijau gelap yang menjadi penguasa di dimensi tersebut. Setelah berjarak beberapa jengkal dari Nuwa, Arya lalu menempelkan tangannya ke tubuh siluman Naga itu.

Awalnya Nuwa tidak menyadari kehadiran Arya, namun dia tiba-tiba merasakan adanya energi asing yang merayap memasuki tubuhnya. Nuwa dengan segara mengakhiri meditasi dan membuka mata. Diapun mendapati sosok manusia yang sangat dia kenali sedang tersenyum ramah, sambil melayang di hadapannya.

"Tuan, akhirnya anda kembali." Nuwa tersenyum menarik sudut mulutnya, sehingga memperlihatkan gigi besarnya yang tajam.

"Aku datang karena ada tujuan, mungkin saja aku akan membutuhkan tenaga kalian." Balas Arya.

Ketika Arya menyentuh tubuh Nuwa, pada saat itu juga dia sedang menggunakan Teknik Penyerapan Bahasa. Sebuah teknik yang membuat penggunanya bisa menggunakan bahasa apapun, dengan catatan dia harus menyentuh tubuh makhluk yang ingin dia serap bahasanya.

Kornea mata Nuwa melebar, dia terkejut dan sedikit tidak percaya saat mendapati pemuda itu sekarang sudah bisa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang dia gunakan. Meski pemuda itu berkata tanpa menggerakkan bibirnya, alias berbicara tanpa suara.

"Apa yang perlu kami lakukan untuk membantu tuan?" Tanya Nuwa sedikit penasaran.

"Ini hanya masalah kecil, tapi jika nanti situasi mendesak aku harap kalian mau membantuku."

"Kami akan selalu siap membantu anda kapanpun tuan. Bahkan jika harus mengorbankan nyawa, kamipun akan siap." Balas Nuwa dengan mantap.

Arya tersenyum puas, dia tidak melihat sedikitpun adanya keraguan ataupun kebohongan dari ucapan Nuwa tersebut.

"Terimakasih.. aku sebenarnya datang kesini juga ingin meminta izin pada kalian untuk menggunakan pulau kehidupan untuk berkultivasi."

"Silahkan tuan menggunakannya sepuasnya, tapi aku harap tuan jangan membuat kerusakan disana. Karena pulau itu adalah tempat suci bagi kami." 

Meski mendapatkan izin, namun Arya menangkap ada kekhawatiran dari Nuwa. "Tidak perlu cemas, aku hanya akan menggunakan tempat itu untuk berkultivasi. Dan aku akan mencari tempat lain jika ingin berlatih."

Nuwa mengangguk. "Sudah lama tidak bertemu, sepertinya anda masih terlihat seperti sebelumnya. Apakah mataku ini yang salah tuan."

"Tidak, kau tidaklah salah. Aku masih seperti sebelumnya hanya sedikit peningkatan saja. Maafkan aku karena telah mengganggu meditasimu, sekarang teruskanlah kegiatanmu itu. Di lain waktu kita akan berbincang-bincang lagi." 

Setelah mengatakan demikian, Arya lantas melesat ke atas menembus lapisan segel pelindung Lembah Naga, melewati beberapa lapisan awan dan sampai keluar dari atmosfer dimensi tersebut.

Meski sudah berada di tahap Pendekar Bintang, namun nyatanya penglihatan Nuwa tidak bisa menangkap pergerakan Arya. Di mata Nuwa, Arya seolah menghilang, namun dia masih bisa merasakan energi pemuda itu yang tengah melesat cepat ke atas langit.

Bukan tanpa alasan Nuwa tidak bisa melihat pergerakan Arya. Sebab pemuda itu bergerak sepuluh kali lipat lebih cepat dari kecepatan suara, atau biasa di kenal dengan kecepatan Hipersonik. Dengan kecepatan seperti itu, memungkinkan Arya memutari dunia dalam kurun waktu kurang dari 2 jam.

Sebelum keluar dari atmosfer, Arya menggunakan teknik perisai Naga Emas untuk melindungi tubuhnya dari ancaman radiasi ruang angkasa. Melalui pengetahuan yang didapatkannya, Arya mengetahui jika ruang angkasa hampa udara, yang mana akan menyebabkan organ tubuhnya berhenti bekerja dan bahkan bisa membuat tubuhnya meledak. Tanpa adanya lapisan ozon, paparan sinar matahari langsung akan dapat membakar kulitnya dan jika tidak terkena paparan matahari akan membuat tubuhnya membeku.

Arya kini sudah melayang di ruang angkasa, dia menghadap matahari yang masih jauh disana. Pemuda itu nampaknya sedang menyesuaikan diri berada di lingkungan hampa udara dan tanpa adanya gaya tarik gravitasi.

Dengan menggunakan Qi, Arya memompa jantungnya agar aliran darahnya terus bekerja. Dia juga mengolah energinya untuk di jadikan sebagai oksigen agar dirinya dapat bernafas.

"Ini tidak semudah yang aku pikirkan." Arya membatin.

Meski sudah berlatih untuk menghadapi situasi seperti ini, namun kenyataannya mempraktekkan latihannya langsung di ruang angkasa tidak semudah dugaannya. Butuh beberapa puluh menit bagi Arya agar terbiasa menggunakan energinya untuk dapat bertahan di ruang angkasa.

"Hah, akhirnya..." Arya tersenyum lega dan lalu menatap serius ke arah matahari. "Baiklah, ini sudah saatnya."

Arya membuat tubuhnya seolah seperti black hole, yang mana dapat menyedot apa saja, tidak terkecuali cahaya. Namun teknik Arya hanya berguna untuk menyerap energi. Inilah tujuan Arya yang sebenarnya, dia ingin menyerap energi cahaya matahari. Sebab itulah dia memutuskan pergi ke dimensi lain, untuk menghindari kecurigaan jika terjadi fenomena di dunia yang dia tempati.

Perlahan tapi pasti, paparan cahaya matahari yang menyebarkan ke segala penjuru nampak mulai berkumpul pada satu titik dan tersedot masuk ke dalam tubuh Arya.

Bersamaan dengan itu, dimensi para siluman Naga mendadak gelap gulita dan hanya terlihat seutas sinar tipis panjang namun menyilaukan jauh di atas angkasa.

Kejadian itu berlangsung tidak lama, hanya beberapa menit kemudian suasana kembali terang. Seluruh siluman penghuni Hutan Hei'an yang menyaksikan fenomena tersebut, sebagian ada yang ketakutan lari tunggang langgang mencari tempat perlindungan, dan sebagian lagi malah terlihat penasaran. Pasalnya dalam kegelapan yang mendadak tersebut, juga membuat energi di seluruh dimensi Hutan Hei'an menjadi kacau. Meski tidak menimbulkan kerusakan sama sekali, tapi itu cukup untuk membuat para siluman yang bermeditasi kehilangan konsentrasi.

Arya terlihat terengah-engah. "Energi ini sangatlah besar, tapi baiklah mungkin segini sudah cukup."

Tanpa memperdulikan perubahan tubuhnya, Arya dengan cepat melesat turun kembali ke pulau kehidupan.

Dalam beberapa tarikan nafas, Arya sudah menjejakkan kakinya di tanah dengan ringan. Dia tersenyum saat melihat Huang She dan Liu Wei sedang bermeditasi.

"Pantas saja aku merasa tubuhku akan meledak." Gerutu Arya setelah menyadari perubahan tubuhnya.

Dengan segera Arya lantas duduk bersila untuk menstabilkan energi yang baru terkumpul di dalam tubuhnya. Dia tidak menyangka, dengan menyerap energi matahari beberapa menit saja, Dantian elemen cahaya miliknya sudah terisi penuh. Padahal dia memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mengisi elemen-elemen lain yang dimilikinya.

Setelah selesai menstabilkan energi cahaya di dalam tubuhnya, Arya tidak lantas membangunkan Liu Wei dan Huang She, sebab dia berencana ingin membiarkan mereka bermeditasi setidaknya sehari semalam.

Arya lalu kembali menutup mata dengan posisi masih duduk bersila, kali ini dia ingin memasuki alam jiwanya untuk berlatih. Namun baru saja dia memejamkan mata, tiba-tiba dia merasakan ada seseorang yang memegang pundaknya.

Terpopuler

Comments

Iwan Arema

Iwan Arema

hmmmm😡😡

2024-05-11

1

Harman LokeST

Harman LokeST

foooooikkkuuuuuuuuuosssssssss teeeeeeeeerrrrrrrrrrruuuuuuuusssss Li Tian untuk meningkatkan kultivasimu yang lebih tinggi lagi

2024-02-29

1

Harman LokeST

Harman LokeST

menyerap energi matahari

2022-06-17

0

lihat semua
Episodes
1 Legenda Pusaka Matahari Penghancur
2 Tiba Di Sekte Lembah Petir
3 Bertemu Sang Paman
4 Rencana Penyerangan
5 Formasi Badai Petir
6 Pendekar Penyair
7 Membantu Putri Ming Yu Hua
8 Menyerap Energi Matahari
9 Amanat Dewa Petir
10 Kuda Bersayap
11 Serangan Mayat Hidup
12 Pertempuran
13 Berlatih Di Dimensi Cahaya Keabadian
14 Selamat Jalan Dewa Petir
15 Bantuan Tiba
16 Jebakan Leluhur
17 Tubuh Dewi Bulan
18 Memberikan Hukuman
19 Pedang Ilusi Penguasa Jiwa
20 Kembali
21 Kemunculan Dua Gadis Berpakaian Hitam
22 Arya Vs Tiga Tetua Iblis Berdarah
23 Membawa Tawanan
24 Keterkejutan Para Tetua
25 Rencana Arya
26 Menerima Tantangan
27 Menunjukkan Kemampuan
28 Ritual Persembahan
29 Ramuan Kejujuran
30 Tubuh Raja Kegelapan
31 Latih Tanding
32 Menghancurkan Pusaka Legenda
33 Sekte Yang Menghilang
34 Pengejaran Ke Daratan Utara
35 Asap Hijau Dari Pedang
36 Meningkatkan Kultivasi Paman
37 Zhiyuhan Pemuda Penyair
38 Makhluk Asap
39 Efek Kekuatan Raja Kegelapan
40 Membuka Gerbang
41 Saatnya Berpetualang
42 Amarah Sang Legenda Naga
43 Merubah Wujud
44 Nikmat Sesaat Derita Yang Bertubi-tubi
45 Tetua Muda
46 Menyelamatkan Anak Perempuan
47 Markas Bandit Taring Hitam
48 Tewasnya Wakil Ketua Bandit
49 Karma
50 Penyelamat Yang Di Nantikan
51 Bayangan Putih Dan Hitam
52 Sihir Hitam
53 Organisasi Yenmin
54 Air Suci Biarawati
55 Sosok Sebenarnya Biarawati
56 Gunung Phoenix
57 Pertapa Gila
58 Memberikan Tugas
59 Penjambret
60 Memenuhi Janji Nenek
61 Ujian Menjadi Prajurit
62 Kemunculan Panglima Kegelapan
63 Nasib Wanita Malang
64 Wabah Penyakit
65 Kericuhan Di Dalam Kedai
66 Awal Manis Berujung Kecewa
67 Menjalankan Rencana
68 Pertemuan Para Penyusup
69 Situasi Kerajaan
70 Rumah Seribu Bunga
71 Membeli Para Gadis
72 Memulai Pembersihan Kota
73 Kekacauan Di Dalam Kota
74 Duel Sengit
75 Pertarungan Di Dalam Kerajaan
76 Keputusasaan Para Penduduk
77 Transformasi
78 Penyerangan Dimulai
79 Jenderal Sun Jian Vs Demiao
80 Portal Dimensi
81 Rasa Bersalah
82 Mengirim Bantuan Ke Kerajaan Goading
83 Munculnya Pendekar Khusus
84 Membantu Pertempuran Di Kerjaaan
85 Pendekar Khusus Dan Ke-empat Tetua Iblis Berdarah
86 Ratu Hewan Iblis
87 Kemunculan Yang Selalu Membuat Rusuh
88 Akhir Dari Ratu Hewan Iblis
89 Racun Penyerap Sukma
90 Bunga Anggrek Hantu
91 Bersulang
92 Pembasmian Di Kota Goading
93 Pembasmian Kota Goading II
94 Pembasmian Kota Goading III
95 Pembasmian Kota Goading IV
96 Pembasmian Kota Goading V
97 Akhir Dari Sang Panglima Hewan Iblis
98 Panglima Kegelapan
99 Kembali Ke Benua Timur
100 Tiga Dara Di Sungai
101 Hantu Kepala Buntung
102 Rasa Penasaran
103 Pencuri Kacang
104 Teknik Terlarang
105 Kematian Yang Di Janjikan
106 Situasi Di Dalam Kerajaan
107 Keseriusan Arya
108 Arya Vs Yeva
109 Arya Vs Yeva II
110 Arya Vs Yeva III
111 Akhir Pertarungan
112 Memberikan Penjelasan
113 Kondisi Raja Kegelapan
114 Mengangkat Saudara
115 Rasa Penasaran Jenderal Yong We
116 Pertemuan Di Bukit Cinta
117 Memberikan Bukti
118 Berujung Perkelahian
119 Pertarungan Sepanjang Malam
120 Undangan
121 Berlatih Kembali
122 Keanehan Arya
123 Kerajaan Danau Lembah Peri
124 Dibawa Menghadap Tuan Rumah
125 Kehidupan Bawah Danau
126 Bertemu Sang Ratu
127 Bentuk Bunga Yang Dicari
128 Mengambil Bunga Energi
129 Meninggalkan Kerajaan Danau Lembah Peri
130 Pil Bunga Anggrek Hantu
131 Mengobati Sang Raja
132 Pendekar Bunga Darah
133 Kembalinya Raja Kegelapan
134 Soal Asmara Terbawa Sampai Tua
135 Pertarungan Sepasang Kekasih Dimasa lalu
136 Nasib Nie Zha
137 Kejahilan Putri Zhou Jing Yi
138 Orang Terluka Di Tengah Hutan
139 Pasukan Pangeran Tong Shun
140 Ajakan Bergabung
141 Surat Cinta
142 Ditangkap
143 Ketegangan Yang Berlarut-larut
144 Lengan Api
145 Cerita Desa Huangpu
146 Tiga Pembawa Maut
147 Pertarungan Di Tepi Sungai
148 Dendam Seorang Anak
149 Mendapatkan Teman Perjalanan
150 Potongan Tangan
151 Pertunjukan Nie Zha
152 Pengintip
153 Cinta Bersemi Di Malam Purnama
154 Niat Terselubung
155 Membantu Penyatuan Energi
156 Manusia Iblis
157 Tekad Melawan Sampai Mati
158 Pangeran Istana Es
159 Menginterogasi
160 Mencari Goa Tengkorak
161 Terjebak
162 Salah Memilih Lawan
163 Lorong Rahasia
164 Pesta Gila
165 Kebebasan Sang Pangeran Es
166 Menyelamatkan Sandera
167 Siluman Penjaga
168 Kakek Malang
169 Si Tua Sadis
170 Pedang Es Abadi
171 Kembalinya Pedang Pusaran Angin
172 Tewasnya Lima Biksu Sesat
173 Pengumuman
Episodes

Updated 173 Episodes

1
Legenda Pusaka Matahari Penghancur
2
Tiba Di Sekte Lembah Petir
3
Bertemu Sang Paman
4
Rencana Penyerangan
5
Formasi Badai Petir
6
Pendekar Penyair
7
Membantu Putri Ming Yu Hua
8
Menyerap Energi Matahari
9
Amanat Dewa Petir
10
Kuda Bersayap
11
Serangan Mayat Hidup
12
Pertempuran
13
Berlatih Di Dimensi Cahaya Keabadian
14
Selamat Jalan Dewa Petir
15
Bantuan Tiba
16
Jebakan Leluhur
17
Tubuh Dewi Bulan
18
Memberikan Hukuman
19
Pedang Ilusi Penguasa Jiwa
20
Kembali
21
Kemunculan Dua Gadis Berpakaian Hitam
22
Arya Vs Tiga Tetua Iblis Berdarah
23
Membawa Tawanan
24
Keterkejutan Para Tetua
25
Rencana Arya
26
Menerima Tantangan
27
Menunjukkan Kemampuan
28
Ritual Persembahan
29
Ramuan Kejujuran
30
Tubuh Raja Kegelapan
31
Latih Tanding
32
Menghancurkan Pusaka Legenda
33
Sekte Yang Menghilang
34
Pengejaran Ke Daratan Utara
35
Asap Hijau Dari Pedang
36
Meningkatkan Kultivasi Paman
37
Zhiyuhan Pemuda Penyair
38
Makhluk Asap
39
Efek Kekuatan Raja Kegelapan
40
Membuka Gerbang
41
Saatnya Berpetualang
42
Amarah Sang Legenda Naga
43
Merubah Wujud
44
Nikmat Sesaat Derita Yang Bertubi-tubi
45
Tetua Muda
46
Menyelamatkan Anak Perempuan
47
Markas Bandit Taring Hitam
48
Tewasnya Wakil Ketua Bandit
49
Karma
50
Penyelamat Yang Di Nantikan
51
Bayangan Putih Dan Hitam
52
Sihir Hitam
53
Organisasi Yenmin
54
Air Suci Biarawati
55
Sosok Sebenarnya Biarawati
56
Gunung Phoenix
57
Pertapa Gila
58
Memberikan Tugas
59
Penjambret
60
Memenuhi Janji Nenek
61
Ujian Menjadi Prajurit
62
Kemunculan Panglima Kegelapan
63
Nasib Wanita Malang
64
Wabah Penyakit
65
Kericuhan Di Dalam Kedai
66
Awal Manis Berujung Kecewa
67
Menjalankan Rencana
68
Pertemuan Para Penyusup
69
Situasi Kerajaan
70
Rumah Seribu Bunga
71
Membeli Para Gadis
72
Memulai Pembersihan Kota
73
Kekacauan Di Dalam Kota
74
Duel Sengit
75
Pertarungan Di Dalam Kerajaan
76
Keputusasaan Para Penduduk
77
Transformasi
78
Penyerangan Dimulai
79
Jenderal Sun Jian Vs Demiao
80
Portal Dimensi
81
Rasa Bersalah
82
Mengirim Bantuan Ke Kerajaan Goading
83
Munculnya Pendekar Khusus
84
Membantu Pertempuran Di Kerjaaan
85
Pendekar Khusus Dan Ke-empat Tetua Iblis Berdarah
86
Ratu Hewan Iblis
87
Kemunculan Yang Selalu Membuat Rusuh
88
Akhir Dari Ratu Hewan Iblis
89
Racun Penyerap Sukma
90
Bunga Anggrek Hantu
91
Bersulang
92
Pembasmian Di Kota Goading
93
Pembasmian Kota Goading II
94
Pembasmian Kota Goading III
95
Pembasmian Kota Goading IV
96
Pembasmian Kota Goading V
97
Akhir Dari Sang Panglima Hewan Iblis
98
Panglima Kegelapan
99
Kembali Ke Benua Timur
100
Tiga Dara Di Sungai
101
Hantu Kepala Buntung
102
Rasa Penasaran
103
Pencuri Kacang
104
Teknik Terlarang
105
Kematian Yang Di Janjikan
106
Situasi Di Dalam Kerajaan
107
Keseriusan Arya
108
Arya Vs Yeva
109
Arya Vs Yeva II
110
Arya Vs Yeva III
111
Akhir Pertarungan
112
Memberikan Penjelasan
113
Kondisi Raja Kegelapan
114
Mengangkat Saudara
115
Rasa Penasaran Jenderal Yong We
116
Pertemuan Di Bukit Cinta
117
Memberikan Bukti
118
Berujung Perkelahian
119
Pertarungan Sepanjang Malam
120
Undangan
121
Berlatih Kembali
122
Keanehan Arya
123
Kerajaan Danau Lembah Peri
124
Dibawa Menghadap Tuan Rumah
125
Kehidupan Bawah Danau
126
Bertemu Sang Ratu
127
Bentuk Bunga Yang Dicari
128
Mengambil Bunga Energi
129
Meninggalkan Kerajaan Danau Lembah Peri
130
Pil Bunga Anggrek Hantu
131
Mengobati Sang Raja
132
Pendekar Bunga Darah
133
Kembalinya Raja Kegelapan
134
Soal Asmara Terbawa Sampai Tua
135
Pertarungan Sepasang Kekasih Dimasa lalu
136
Nasib Nie Zha
137
Kejahilan Putri Zhou Jing Yi
138
Orang Terluka Di Tengah Hutan
139
Pasukan Pangeran Tong Shun
140
Ajakan Bergabung
141
Surat Cinta
142
Ditangkap
143
Ketegangan Yang Berlarut-larut
144
Lengan Api
145
Cerita Desa Huangpu
146
Tiga Pembawa Maut
147
Pertarungan Di Tepi Sungai
148
Dendam Seorang Anak
149
Mendapatkan Teman Perjalanan
150
Potongan Tangan
151
Pertunjukan Nie Zha
152
Pengintip
153
Cinta Bersemi Di Malam Purnama
154
Niat Terselubung
155
Membantu Penyatuan Energi
156
Manusia Iblis
157
Tekad Melawan Sampai Mati
158
Pangeran Istana Es
159
Menginterogasi
160
Mencari Goa Tengkorak
161
Terjebak
162
Salah Memilih Lawan
163
Lorong Rahasia
164
Pesta Gila
165
Kebebasan Sang Pangeran Es
166
Menyelamatkan Sandera
167
Siluman Penjaga
168
Kakek Malang
169
Si Tua Sadis
170
Pedang Es Abadi
171
Kembalinya Pedang Pusaran Angin
172
Tewasnya Lima Biksu Sesat
173
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!