Arya kemudian memandangi Huang She dan Liu Wei bergantian. "Saatnya kalian berlatih." Ucapnya sebelum mengibaskan tangannya, membuat kedua gadis itupun lenyap masuk ke dalam dunia dimensi miliknya.
Sesaat kemudian Arya membuka portal dan lalu memasuki alam dimensinya, menyusul kedua gadis tersebut.
Melihat Arya muncul dari lobang hitam, Huang She dan Liu Wei yang baru pertama kali menyaksikan kemampuan Arya nampak mengerutkan dahi.
"Dimana ini?" Liu Wei bertanya dengan muka kebingungan, celingukan kesana kemari. Pemandangan yang dia dapati hanyalah hamparan tanah yang luas sejauh mata memandang.
Arya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu, dia lalu mengajak mereka menghampiri bongkahan batu besar yang sedikit menyembul dari permukaan tanah.
"Batu apa ini, kenapa bisa mengeluarkan cahaya?"
Lagi-lagi pertanyaan Liu Wei tidak diperdulikan Arya. Pemuda itu malah menggigit jarinya dan lalu menempelkan jarinya yang mengeluarkan darah ke permukaan batu besar di hadapan mereka.
Terlihat dahi Arya mengerenyit karena harus mengerahkan sebagian besar Qi untuk dapat melakukan kontrak dengan Batu Ruang Semesta yang hampir telah sepenuhnya berevolusi tersebut.
Batu sebesar rumah itupun meredup, lalu mengecil dan mengambang beberapa jengkal dari tangan kanan Arya.
Arya kemudian meraih batu tersebut dan lalu menghela nafas panjang. Dia tidak menyangka jika kali ini dia harus mengerahkan banyak Qi untuk dapat melakukan kontrak dengan batu ruang semesta, tidak seperti dulu saat dia melakukan kontrak batu ruang semesta pemberian dari kakeknya Zhen Long.
"Jangan bertanya dulu, nanti akan aku jelaskan." Setelah mengatakan demikian, Arya mengarahkan batu ruang semesta ke arah Liu Wei dan Huang She.
Dalam sekejap kedua gadis itupun lenyap, berpindah tempat ke Lembah Naga. Tanpa membuang waktu, Arya kemudian menyusul mereka.
Mata Huang She melebar dan kemudian tersenyum senang. Dia tidak menyangka akan bisa kembali lagi ke tempat ini. Tempat dia menghabiskan waktu berbulan-bulan berlatih bersama ketiga bocah bersaudara. Pulau kehidupan.
"Disini adalah tempat yang cocok untuk kalian berlatih. Kalian seraplah dulu energi Qi yang ada di tempat ini sampai aku kembali." Setelah mengatakan demikian, Arya melontarkan dirinya seperti roket dan terbang menuju ke suatu tempat.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia sekarang tidak banyak bicara seperti biasanya." Liu Wei menoleh kepada Huang She untuk mendapatkan jawaban dari gadis di sampingnya itu.
"Entahlah, aku juga tidak mengerti. Sikapnya akhir-akhir ini memang sering kali berubah-ubah." Balas Huang She dan lalu menempatkan diri duduk di atas permukaan tanah.
"Aku rasa ini ada kaitannya dengan putri itu." Liu Wei berkata setelah memposisikan dirinya duduk di samping Huang She.
"Berhentilah bicara, sebaiknya kita segera berkultivasi. Qi di tempat ini begitu melimpah, jangan buang-buang waktu, ku rasa Arya sedang merencanakan sesuatu dan itu sepertinya juga ada kaitannya dengan kita." Setelah berkata, Huang She segera memejamkan mata, bermeditasi.
Arya terbang menuju ke Lembah Naga, tempat dimana para siluman Naga berkultivasi. Dalam beberapa tarikan nafas, dia sudah tiba di tengah-tengah tebing tinggi yang mengelilingi area bebatuan.
"Ternyata kondisi kalian sudah jauh lebih baik dari terakhir kali bertemu." Arya tersenyum senang mendapati sembilan Naga yang tersisa telah pulih sepenuhnya dari luka-luka yang di dapatkan dari pertarungan melawan Chaizu. Bahkan kultivasi para siluman Naga tersebut sedikit banyak mengalami peningkatan.
"Hmm.. bagaimana aku bisa lupa jika dimensi ini memiliki waktu yang jauh berbeda." Arya menepuk dahinya.
Arya kemudian melayang perlahan menghampiri Nuwa, siluman Naga hijau gelap yang menjadi penguasa di dimensi tersebut. Setelah berjarak beberapa jengkal dari Nuwa, Arya lalu menempelkan tangannya ke tubuh siluman Naga itu.
Awalnya Nuwa tidak menyadari kehadiran Arya, namun dia tiba-tiba merasakan adanya energi asing yang merayap memasuki tubuhnya. Nuwa dengan segara mengakhiri meditasi dan membuka mata. Diapun mendapati sosok manusia yang sangat dia kenali sedang tersenyum ramah, sambil melayang di hadapannya.
"Tuan, akhirnya anda kembali." Nuwa tersenyum menarik sudut mulutnya, sehingga memperlihatkan gigi besarnya yang tajam.
"Aku datang karena ada tujuan, mungkin saja aku akan membutuhkan tenaga kalian." Balas Arya.
Ketika Arya menyentuh tubuh Nuwa, pada saat itu juga dia sedang menggunakan Teknik Penyerapan Bahasa. Sebuah teknik yang membuat penggunanya bisa menggunakan bahasa apapun, dengan catatan dia harus menyentuh tubuh makhluk yang ingin dia serap bahasanya.
Kornea mata Nuwa melebar, dia terkejut dan sedikit tidak percaya saat mendapati pemuda itu sekarang sudah bisa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang dia gunakan. Meski pemuda itu berkata tanpa menggerakkan bibirnya, alias berbicara tanpa suara.
"Apa yang perlu kami lakukan untuk membantu tuan?" Tanya Nuwa sedikit penasaran.
"Ini hanya masalah kecil, tapi jika nanti situasi mendesak aku harap kalian mau membantuku."
"Kami akan selalu siap membantu anda kapanpun tuan. Bahkan jika harus mengorbankan nyawa, kamipun akan siap." Balas Nuwa dengan mantap.
Arya tersenyum puas, dia tidak melihat sedikitpun adanya keraguan ataupun kebohongan dari ucapan Nuwa tersebut.
"Terimakasih.. aku sebenarnya datang kesini juga ingin meminta izin pada kalian untuk menggunakan pulau kehidupan untuk berkultivasi."
"Silahkan tuan menggunakannya sepuasnya, tapi aku harap tuan jangan membuat kerusakan disana. Karena pulau itu adalah tempat suci bagi kami."
Meski mendapatkan izin, namun Arya menangkap ada kekhawatiran dari Nuwa. "Tidak perlu cemas, aku hanya akan menggunakan tempat itu untuk berkultivasi. Dan aku akan mencari tempat lain jika ingin berlatih."
Nuwa mengangguk. "Sudah lama tidak bertemu, sepertinya anda masih terlihat seperti sebelumnya. Apakah mataku ini yang salah tuan."
"Tidak, kau tidaklah salah. Aku masih seperti sebelumnya hanya sedikit peningkatan saja. Maafkan aku karena telah mengganggu meditasimu, sekarang teruskanlah kegiatanmu itu. Di lain waktu kita akan berbincang-bincang lagi."
Setelah mengatakan demikian, Arya lantas melesat ke atas menembus lapisan segel pelindung Lembah Naga, melewati beberapa lapisan awan dan sampai keluar dari atmosfer dimensi tersebut.
Meski sudah berada di tahap Pendekar Bintang, namun nyatanya penglihatan Nuwa tidak bisa menangkap pergerakan Arya. Di mata Nuwa, Arya seolah menghilang, namun dia masih bisa merasakan energi pemuda itu yang tengah melesat cepat ke atas langit.
Bukan tanpa alasan Nuwa tidak bisa melihat pergerakan Arya. Sebab pemuda itu bergerak sepuluh kali lipat lebih cepat dari kecepatan suara, atau biasa di kenal dengan kecepatan Hipersonik. Dengan kecepatan seperti itu, memungkinkan Arya memutari dunia dalam kurun waktu kurang dari 2 jam.
Sebelum keluar dari atmosfer, Arya menggunakan teknik perisai Naga Emas untuk melindungi tubuhnya dari ancaman radiasi ruang angkasa. Melalui pengetahuan yang didapatkannya, Arya mengetahui jika ruang angkasa hampa udara, yang mana akan menyebabkan organ tubuhnya berhenti bekerja dan bahkan bisa membuat tubuhnya meledak. Tanpa adanya lapisan ozon, paparan sinar matahari langsung akan dapat membakar kulitnya dan jika tidak terkena paparan matahari akan membuat tubuhnya membeku.
Arya kini sudah melayang di ruang angkasa, dia menghadap matahari yang masih jauh disana. Pemuda itu nampaknya sedang menyesuaikan diri berada di lingkungan hampa udara dan tanpa adanya gaya tarik gravitasi.
Dengan menggunakan Qi, Arya memompa jantungnya agar aliran darahnya terus bekerja. Dia juga mengolah energinya untuk di jadikan sebagai oksigen agar dirinya dapat bernafas.
"Ini tidak semudah yang aku pikirkan." Arya membatin.
Meski sudah berlatih untuk menghadapi situasi seperti ini, namun kenyataannya mempraktekkan latihannya langsung di ruang angkasa tidak semudah dugaannya. Butuh beberapa puluh menit bagi Arya agar terbiasa menggunakan energinya untuk dapat bertahan di ruang angkasa.
"Hah, akhirnya..." Arya tersenyum lega dan lalu menatap serius ke arah matahari. "Baiklah, ini sudah saatnya."
Arya membuat tubuhnya seolah seperti black hole, yang mana dapat menyedot apa saja, tidak terkecuali cahaya. Namun teknik Arya hanya berguna untuk menyerap energi. Inilah tujuan Arya yang sebenarnya, dia ingin menyerap energi cahaya matahari. Sebab itulah dia memutuskan pergi ke dimensi lain, untuk menghindari kecurigaan jika terjadi fenomena di dunia yang dia tempati.
Perlahan tapi pasti, paparan cahaya matahari yang menyebarkan ke segala penjuru nampak mulai berkumpul pada satu titik dan tersedot masuk ke dalam tubuh Arya.
Bersamaan dengan itu, dimensi para siluman Naga mendadak gelap gulita dan hanya terlihat seutas sinar tipis panjang namun menyilaukan jauh di atas angkasa.
Kejadian itu berlangsung tidak lama, hanya beberapa menit kemudian suasana kembali terang. Seluruh siluman penghuni Hutan Hei'an yang menyaksikan fenomena tersebut, sebagian ada yang ketakutan lari tunggang langgang mencari tempat perlindungan, dan sebagian lagi malah terlihat penasaran. Pasalnya dalam kegelapan yang mendadak tersebut, juga membuat energi di seluruh dimensi Hutan Hei'an menjadi kacau. Meski tidak menimbulkan kerusakan sama sekali, tapi itu cukup untuk membuat para siluman yang bermeditasi kehilangan konsentrasi.
Arya terlihat terengah-engah. "Energi ini sangatlah besar, tapi baiklah mungkin segini sudah cukup."
Tanpa memperdulikan perubahan tubuhnya, Arya dengan cepat melesat turun kembali ke pulau kehidupan.
Dalam beberapa tarikan nafas, Arya sudah menjejakkan kakinya di tanah dengan ringan. Dia tersenyum saat melihat Huang She dan Liu Wei sedang bermeditasi.
"Pantas saja aku merasa tubuhku akan meledak." Gerutu Arya setelah menyadari perubahan tubuhnya.
Dengan segera Arya lantas duduk bersila untuk menstabilkan energi yang baru terkumpul di dalam tubuhnya. Dia tidak menyangka, dengan menyerap energi matahari beberapa menit saja, Dantian elemen cahaya miliknya sudah terisi penuh. Padahal dia memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mengisi elemen-elemen lain yang dimilikinya.
Setelah selesai menstabilkan energi cahaya di dalam tubuhnya, Arya tidak lantas membangunkan Liu Wei dan Huang She, sebab dia berencana ingin membiarkan mereka bermeditasi setidaknya sehari semalam.
Arya lalu kembali menutup mata dengan posisi masih duduk bersila, kali ini dia ingin memasuki alam jiwanya untuk berlatih. Namun baru saja dia memejamkan mata, tiba-tiba dia merasakan ada seseorang yang memegang pundaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 173 Episodes
Comments
Iwan Arema
hmmmm😡😡
2024-05-11
1
Harman LokeST
foooooikkkuuuuuuuuuosssssssss teeeeeeeeerrrrrrrrrrruuuuuuuusssss Li Tian untuk meningkatkan kultivasimu yang lebih tinggi lagi
2024-02-29
1
Harman LokeST
menyerap energi matahari
2022-06-17
0