Sementara itu, Huang She dan Liu Wei sudah berkali-kali mencapai batas, mereka menghentikan meditasi setiap harinya, sebab menyerap Qi memanglah harus dilakukan secara bertahap, jika memaksakan diri itu akan menyebabkan tubuh mereka terluka. Kini sudah hari ke 36 semenjak kepergian Arya.
Untuk mengisi waktu luang, kedua gadis itupun melakukan latih tanding dan mencari buah sumberdaya untuk mengganjal perut. Baik Huang She dan Liu Wei, mereka saling berbagi ilmu, membuat kemampuan keduanya sedikit berimbang dan tahu akan kelemahan serta kelebihan masing-masing.
Hari demi hari membuat mereka semakin akrab, tidak ada lagi persaingan antara keduanya. Mereka sudah memutuskan akan menyerahkan pilihan pada Arya. Bagi siapapun yang tidak di pilih pemuda itu, harus dapat berbesar hati menerima keputusan. Bahkan mereka juga sepakat, jikapun Arya memilih keduanya, mereka juga rela bilapun harus berbagi kasih.
Di lain tempat, semenjak kedatangan Wukong dan Kaisar Surga, Arya mendapatkan pelatihan khusus dari keduanya. Pemuda itu di latih mereka secara bergantian di alam lain, itu semua sebagai persiapan untuk menghadapi kesulitan yang akan di hadapi pemuda itu mendatang.
Meskipun para iblis masih terikat perjanjian tidak akan mencampuri urusan manusia, tapi dengan bangkitnya sebagian kekuatan Kaisar Dewa Naga Emas, Kaisar Surga dan Wukong yakin jika para iblis pasti akan melakukan berbagai cara untuk melenyapkan Arya, karena pemuda itulah acaman terbesar bagi makhluk kegelapan.
Arya sebenarnya ingin menolak di latih mereka, karena bagaimanapun dia masih harus belajar berbagai kitab yang di milikinya. Namun dengan berbagai penjelasan dan desakan dari Wukong serta Kaisar Surga, akhirnya Arya tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan mereka.
Lima tahun sudah Arya berlatih di bawah bimbingan Wukong dan Kaisar Surga. Kini pemuda itu berada di dimensi yang disebut Cahaya Keabadian. Dimana disana hanya terdapat cahaya, tidak ada daratan, tumbuhan maupun lain sebagainya. Dimensi tersebut juga bisa di katakan tidak memiliki hukum ruang dan waktu, namun meski begitu waktu disana tetap berjalan tetapi sangatlah lambat. Gravitasi di dimensi tersebut juga beribu-ribu kali lebih berat daripada dunia yang ditempati Arya, membuat pemuda itu terkapar tidak bisa bergerak sama sekali ketika pertama kali berada di dalam sana.
Sebenarnya dimensi Cahaya Keabadian adalah tempat suci bagi para Dewa untuk dapat naik ke tahap selanjutnya, yaitu menjadi penghuni alam Surgawi. Namun Arya bisa berada disana karena dia memiliki tubuh istimewa dan energi cahaya. Jika tidak, bisa dipastikan tubuh pemuda itu akan hancur terburai karena kondisi ekstrim dimensi tersebut.
"Meski ku rasa kemampuan anda masih belumlah cukup namun baiklah, tapi ingat anda harus tetap berlatih setiap saat. Aku tidak tahu akan seperti apa kesulitan yang akan Anda hadapi." Tandas Kaisar Surga merasa kecewa karena Arya terus mendesak ingin kembali.
Arya sangat bosan dan jengah jika harus terus berada di dalam sana terlalu lama, meski dia tahu dimensi cahaya keabadian memiliki ukuran waktu yang sangat lambat. Namun pemuda itu ingin hidup bebas, mencari pengalaman dan tidak ingin terus terkurung dengan kegiatan membosankan.
"Tenanglah, aku akan menggantikan posisi petir kecil untuk menjaganya." Tukas Wukong seraya menepuk-nepuk dadanya.
Kaisar surga tersenyum kecut. "Kau tidak memiliki ikatan dengannya, bagaimana mungkin kau bisa menjaganya."
Perkataan Kaisar Surga bukan tanpa alasan, sebab dirinya sendiri yang bisa merasakan energi Kaisar Dewa Naga Emas saja tidak bisa mendeteksi keberadaan pemuda itu, hanya Dewa Petir saja lah yang telah di berikan kepercayaan Kaisar Dewa Naga Emas yang dapat mengetahuinya dimanapun pemuda itu berada.
Wukong menggaruk-garuk kepalanya sambil mendekati Arya, kemudian dia membuat pola tangan dan lalu meletakkan tangan kanannya ke dada pemuda itu. Namun dia terpental dan merasa tangannya begitu panas ketika ingin menandai Arya dengan tekniknya. Teknik yang akan membuatnya bisa mengetahui dimanapun keberadaan Arya.
"Hahaha.. sudah ku bilang. Ternyata kau masih saja seperti dulu, masih saja bodoh dan keras kepala, Wukong." Ejek Kaisar Surga sambil tertawa.
Wukong menggigit kuku ibu jarinya nampak sedang berfikir.
"Sudahlah, ayo kita kembali. Aku ingin melihat Dewa Petir untuk terakhir kalinya." Ucap Arya. Menurut perhitungannya dia masih memiliki waktu untuk dapat melihat saat-saat terkahir sebelum Dewa Petir menjalani eksekusi hukuman.
Kaisar Surga mengangguk dan lalu menyentuh pundak Arya untuk keluar dari dimensi Cahaya Keabadian dengan teknik berpindah dimensi. Dalam sekejap merekapun berada di ruangan Dewa Petir, dimana saat itu Dewa Petir sedang berkumpul dengan istri serta anak-anaknya.
Melihat kemunculan Arya dan Kaisar Surga, Dewa Petir, istrinya serta putrinya Kirana Larasati tersenyum menyambut mereka. Hanya Gundala Sena yang menunjukkan ekspresi muka masam di sertai tatapan kemarahan pada pemuda itu.
Walaupun Gundala Sena sudah diberitahu oleh Dewa Petir mengenai siapa Arya dan alasan mengapa ayahnya melanggar aturan langit demi pemuda itu, namun Gundala Sena tetap menaruh kemarahan terhadap pemuda itu, sebab dia tidak rela ayahnya lenyap selama-lamanya meski itu semua dilakukan demi kebaikan seluruh alam semesta.
Rasa sayangnya terhadap Dewa Petir serta egonya membuat Gundala begitu membenci Arya, jika tidak di larang Dewa Petir mungkin saat ini dia sudah menyerang dan menghajar pemuda itu.
Kemarahan dan kebencian Gundala Sena terhadap Arya dapat diketahui Dewa Petir karena laporan dari Kirana Larasati yang mengadukan rencana kakaknya tersebut yang ingin membunuh Arya. Dengan marah Dewa Petir mendatangi Gundala Sena dan menyuruhnya untuk berjanji akan bersikap baik terhadap Arya. Dewa Petir menceritakan semua jasa Kaisar Dewa Naga Emas pada alam Dewa dan alam Surgawi, namun meski sudah tahu dan sudah berjanji, Gundala Sena tetap tidak bisa membuang kebenciannya terhadap pemuda itu.
Sementara Kirana Larasati dari awal memang sudah menaruh ketertarikan kepada Arya, namun saat mengetahui jika pemuda itulah yang menjadi penyebab ayahnya di hukum, Kirana sempat begitu marah sama halnya seperti Gundala Sena. Tetapi setelah mengetahui kebenarannya, Kirana dapat memaklumi keputusan ayahnya dan tidak lagi membenci pemuda itu.
Disaat semua mata tertuju padanya, Arya malah sibuk mengamati tubuhnya. Dia merasa tubuhnya seperti melayang, sama sekali tidak merasakan berat tubuhnya sendiri.
Meski sudah 5 tahun berlatih di dalam dimensi Cahaya Keabadian namun kultivasi Arya sama sekali tidak mengalami peningkatan, sebab energi di dimensi itu memang tidak dapat di serap untuk berkultivasi, energi di sana hanya dapat di gunakan untuk mengisi energi yang terbuang saat berlatih. Aneh memang, walau Qi di dimensi Cahaya Keabadian begitu melimpah namun tidak bisa di serap. Itu semua karena sejatinya dimensi itu adalah tempat untuk menyucian jiwa bagi para Dewa, bukan untuk berkultivasi.
Meski tidak bisa berkultivasi, tetapi Arya masih bisa memperbanyak tenaga dalamnya. Melalui segala pelatihan keras yang memaksa tubuhnya menyamai kualitas tubuh para Dewa, Arya dapat mengolah kekuatan fisiknya untuk dijadikan tenaga dalam. Kini tenaga dalam pemuda itu sudah terkumpul 10.000 Cakra.
Cakra adalah hitungan himpunan tenaga dalam, dimana satu Cakra sama dengan 100 lingkaran tenaga dalam. Dan 100 Cakra sama dengan 1 benang Qi. Dimana membutuhkan seratus ribu benang Qi untuk mencapai tahap Pendekar Suci tingkat awal. Jika dihitung tenaga dalam Arya hanya mencapai tahap Pendekar Raja jika dalam hitungan benang Qi.
Arya bisa saja merubah tenaga dalamnya menjadi Qi, namun untuk menghadapi musuh alaminya Arya tidak bisa menggunakan Qi, dia hanya bisa bertarung menggunakan tenaga dalam. Untuk itulah tenaga dalam lebih penting baginya di bandingkan energi Qi. Butuh beberapa triliun Cakra untuk mencapai kekuatan sejati Kaisar Dewa Naga Emas yang sesungguhnya, tentu saja untuk mencapai itu semua butuh waktu sangat panjang, bisa ribuan tahun bahkan milyaran tahun.
Saat ini kualitas tulangnya mencapai tulang naga pertapa, ototnya telah sekeras tembaga dan kulitnya setebal tembok baja. Tubuh pemuda itu bisa di katakan bukan lagi tubuh manusia normal, tapi tubuh setengah Dewa.
"Aku sudah menemukan cara..." Ucap Wukong ketika baru saja muncul diantara mereka.
Semua pandangan seketika tertuju pada Wukong, Arya yang masih sibuk mengamati tubuhnya juga sontak menatap ke arah siluman raja kera itu.
Wukong tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya dengan canggung, lalu berkata. "Ini adalah permata penyimpan energi, dengan ini aku bisa mencari keberadaanmu." Ucapnya sambil memperlihatkan permata bening seukuran sekepalan tangan.
Dewa Petir dan Kaisar Surga sontak saja terbelalak. "Kau.." pekik mereka berdua.
Wukong kembali mengaruk kepalanya seraya tersenyum lebar. "Benar, aku mengambilnya dari tongkat istana Dewa."
Urat leher Dewa Petir terlihat mengeras pertanda dirinya sedang menahan amarah. Sedangkan Kaisar Surga malah terkekeh.
"Benar-benar kera nakal ini tidak pernah berubah." Celetuk Kaisar Surga setelah selesai tertawa.
"Kera tengik, cepat kembalikan atau kalau tidak.."
"Kalau tidak apa? Kau ingin menantangku bertarung, petir kecil.." Sergap Wukong dengan nada mengejek sambil membusungkan dada.
"Biarkan saja, lagipula permata itu selama ini hanya menjadi pajangan di istanamu. Biar Wukong menggunakan permata itu untuk mengantikan posisimu menjaga pemuda ini." Ucap Kaisar Surga dengan nada berwibawa.
Tangan Dewa Petir yang mengepal perlahan mengendur dan urat-uratnya yang sebelumnya menonjol kini sudah tidak terlihat lagi. Tatapan Dewa Petir pada Wukong berganti perasaan lega. "Baiklah, tapi ingat kau harus mengembalikan permata itu tanpa rusak sedikitpun. Kau tau sendiri seberapa pentingnya permata itu."
"Hahaha... Tenang saja petir kecil, aku hanya menggunakannya untuk mengawasi tuan Hydra, tidak lebih." Ucap Wukong dengan perasaan tanpa bersalah.
"Lalu apakah kalian juga akan mengantarku?" Tanya Dewa Petir.
"Tidak, aku tidak akan tega melihatmu menderita, petir kecil. Hahaha..." Nada bicara Wukong seakan sedih namun di akhiri dengan tawa, membuat Dewa Petir yang awalnya senang berganti jengkel.
"Dasar kera edan... Menyesal aku berteman denganmu." Ketus Dewa Petir.
"Hahaha... Sudahlah sana berangkat, kami akan melihatmu dari sini saja. Selamat jalan dan selamat berjumpa kembali petir kecil." Wukong mengibas-ngibaskan tangannya seakan mengusir lalat.
"Sialan... Ya sudah, aku pasrahkan keamanan disini padamu, kera tengik."
"Woi, apa seperti itu caramu meminta bantuan, petir kecil. Tidak sopan!!." Rutuk Wukong dengan nada kesal namun dengan mimik muka meledek.
Dewa Petir terpaksa diam, dia tahu berbicara dengan Wukong tidak akan ada ujungnya.
Arya maju mendekati Dewa Petir. Setelah berada di hadapan gurunya itu, Arya lantas berlutut. "Guru, terimakasih atas semuanya. Muridmu ini berjanji akan menjalankan amanat guru dengan sebaik-baiknya. Murid juga pasti akan menyelamatkan guru." Ucapnya dan lalu bersujud sebanyak tiga kali.
Kaisar Surga dan Wukong nampak membelalakkan mata, mereka tidak menyangka reinkarnasi Kaisar Dewa Naga Emas akan bersikap demikian, bersujud kepada Dewa Petir.
Dewa Petir tersenyum dan menatap Arya dengan perasaan bangga. Ini adalah kali pertama murid bodohnya itu memberikan penghormatan kepadanya. Meski dirinya adalah guru pemuda itu, namun Dewa Petir tidak pernah mewajibkan Arya untuk melakukan ritual murid dan guru, seperti bersujud ataupun bersikap hormat kepadanya, sebab Arya sejatinya adalah reinkarnasi Dewa Naga Emas. Tuannya yang harus dia hormati.
"Bangunlah muridku, ini semua sudah menjadi kewajibanku. Aku percayakan semuanya padamu." Dewa Petir berkata sambil mengangkat bahu Arya agar kembali berdiri.
Dewa Petir kemudian memeluk Arya. Sebuah pelukan pertama sekaligus pelukan terakhir guru dan murid itu menimbulkan perasaan haru bagi keduanya. Sejenak mereka mengingat masa-masa kebersamaan mereka.
Kirana Larasati dan ibunya tersenyum haru melihat sepasang murid dan guru itu, mereka tahu pemuda itu kelak akan menjadi penguasa alam semesta dan derajatnya sendiri lebih tinggi dari Dewa Petir. Namun meski begitu pemuda itu masih memiliki etika sebagaimana seorang murid kepada gurunya.
Selepas mencubit hidung Arya sebagaimana yang biasa dilakukan Zhen Long terhadap muridnya itu, Dewa Petir lalu pamit dan keluar ruangan, kemudian di susul istri, kedua anaknya dan Kaisar Surga yang juga ingin mengantarkan Dewa Petir ke tempat hukuman.
"Wooii, petir kecil... Jangan khawatir kita pasti akan bertemu kembali." Seru Wukong. Bagaimanapun dia sebenarnya merasa sangat berat dan sedih ketika tahu sahabatnya itu akan mendapatkan hukuman. Namun setelah mendapati Kaisar Dewa Naga Emas telah kembali, kecemasan Raja Kera itu sedikit berkurang. Dia yakin dengan bantuan reinkarnasi Kaisar Dewa Naga Emas, Petir kecil pasti bisa di selamatkan.
Setelah di ruangan itu hanya tersisa mereka berdua, Wukong kemudian menyuruh Arya meneteskan darahnya juga aura kehidupannya ke permata yang dia berikan.
Arya sedikit terkejut manakala darah yang keluar dari jarinya tidak lagi merah, namun menjadi putih serta memancarkan cahaya. Dia seketika sadar jika kualitas tubuhnya kini sudah bukan lagi tubuh manusia.
Wukong yang mengetahui perkembangan tubuh Arya terlihat tersenyum puas. "Tubuh anda memang benar-benar istimewa, tuan."
"Jangan panggil aku tuan, aku bukan orang yang suka di hormati dan di agung-agungkan. Saat ini aku hanyalah manusia biasa, kemampuanmu juga berada di atasku. Jadi anggap saja kita teman." Arya berkata dengan nada ketus.
"Hahaha... Baiklah, baiklah.. sekarang masukkanlah aura kehidupan serta sedikit energi yang tuan miliki."
"Sudah ku bilang jangan panggil aku tuan." Hardik Arya dengan menatap Wukong tajam.
Melihat Wukong seketika diam, Arya kemudian mengalirkan aura kehidupan serta energi emasnya ke permata yang dia genggam. Permata itupun nampak bergetar dan memancarkan pantulan cahaya yang beraneka warna.
"Cukup tuan.." Sergah Wukong sedikit meninggikan suaranya sebab khawatir pertama itu akan pecah.
"Monyet batu, apa kau tuli atau apa." Rutuk Arya dengan menekuk mukanya masam. "Panggil aku TEMAN." Lanjutnya dengan penuh penekanan.
"Hehehe... Aku tidak berani tuan." Wukong mengusapkan tengkuknya dengan canggung.
Arya melotot.
"Baiklah... Baiklah... Kita teman." Wukong mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah ke atas seraya tersenyum lebar.
"Bagus..." Arya berkata dingin dan lalu menyerahkan batu yang digenggamnya kepada Wukong.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 173 Episodes
Comments
Iwan Arema
hmmmm
2024-05-12
1
Harman LokeST
crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up
2024-02-29
1
Alan Bumi
menyucikan jiwa
2023-04-15
0