Berlatih Di Dimensi Cahaya Keabadian

Sementara itu, Huang She dan Liu Wei sudah berkali-kali mencapai batas, mereka menghentikan meditasi setiap harinya, sebab menyerap Qi memanglah harus dilakukan secara bertahap, jika memaksakan diri itu akan menyebabkan tubuh mereka terluka. Kini sudah hari ke 36 semenjak kepergian Arya.

Untuk mengisi waktu luang, kedua gadis itupun melakukan latih tanding dan mencari buah sumberdaya untuk mengganjal perut. Baik Huang She dan Liu Wei, mereka saling berbagi ilmu, membuat kemampuan keduanya sedikit berimbang dan tahu akan kelemahan serta kelebihan masing-masing. 

Hari demi hari membuat mereka semakin akrab, tidak ada lagi persaingan antara keduanya. Mereka sudah memutuskan akan menyerahkan pilihan pada Arya. Bagi siapapun yang tidak di pilih pemuda itu, harus dapat berbesar hati menerima keputusan. Bahkan mereka juga sepakat, jikapun Arya memilih keduanya, mereka juga rela bilapun harus berbagi kasih.

Di lain tempat, semenjak kedatangan Wukong dan Kaisar Surga, Arya mendapatkan pelatihan khusus dari keduanya. Pemuda itu di latih mereka secara bergantian di alam lain, itu semua sebagai persiapan untuk menghadapi kesulitan yang akan di hadapi pemuda itu mendatang.

Meskipun para iblis masih terikat perjanjian tidak akan mencampuri urusan manusia, tapi dengan bangkitnya sebagian kekuatan Kaisar Dewa Naga Emas, Kaisar Surga dan Wukong yakin jika para iblis pasti akan melakukan berbagai cara untuk melenyapkan Arya, karena pemuda itulah acaman terbesar bagi makhluk kegelapan.

Arya sebenarnya ingin menolak di latih mereka, karena bagaimanapun dia masih harus belajar berbagai kitab yang di milikinya. Namun dengan berbagai penjelasan dan desakan dari Wukong serta Kaisar Surga, akhirnya Arya tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan mereka.

Lima tahun sudah Arya berlatih di bawah bimbingan Wukong dan Kaisar Surga. Kini pemuda itu berada di dimensi yang disebut Cahaya Keabadian. Dimana disana hanya terdapat cahaya, tidak ada daratan, tumbuhan maupun lain sebagainya. Dimensi tersebut juga bisa di katakan tidak memiliki hukum ruang dan waktu, namun meski begitu waktu disana tetap berjalan tetapi sangatlah lambat. Gravitasi di dimensi tersebut juga beribu-ribu kali lebih berat daripada dunia yang ditempati Arya, membuat pemuda itu terkapar tidak bisa bergerak sama sekali ketika pertama kali berada di dalam sana.

Sebenarnya dimensi Cahaya Keabadian adalah tempat suci bagi para Dewa untuk dapat naik ke tahap selanjutnya, yaitu menjadi penghuni alam Surgawi. Namun Arya bisa berada disana karena dia memiliki tubuh istimewa dan energi cahaya. Jika tidak, bisa dipastikan tubuh pemuda itu akan hancur terburai karena kondisi ekstrim dimensi tersebut.

"Meski ku rasa kemampuan anda masih belumlah cukup namun baiklah, tapi ingat anda harus tetap berlatih setiap saat. Aku tidak tahu akan seperti apa kesulitan yang akan Anda hadapi." Tandas Kaisar Surga merasa kecewa karena Arya terus mendesak ingin kembali. 

Arya sangat bosan dan jengah jika harus terus berada di dalam sana terlalu lama, meski dia tahu dimensi cahaya keabadian memiliki ukuran waktu yang sangat lambat. Namun pemuda itu ingin hidup bebas, mencari pengalaman dan tidak ingin terus terkurung dengan kegiatan membosankan.

"Tenanglah, aku akan menggantikan posisi petir kecil untuk menjaganya." Tukas Wukong seraya menepuk-nepuk dadanya.

Kaisar surga tersenyum kecut. "Kau tidak memiliki ikatan dengannya, bagaimana mungkin kau bisa menjaganya."

Perkataan Kaisar Surga bukan tanpa alasan, sebab dirinya sendiri yang bisa merasakan energi Kaisar Dewa Naga Emas saja tidak bisa mendeteksi keberadaan pemuda itu, hanya Dewa Petir saja lah yang telah di berikan kepercayaan Kaisar Dewa Naga Emas yang dapat mengetahuinya dimanapun pemuda itu berada.

Wukong menggaruk-garuk kepalanya sambil mendekati Arya, kemudian dia membuat pola tangan dan lalu meletakkan tangan kanannya ke dada pemuda itu. Namun dia terpental dan merasa tangannya begitu panas ketika ingin menandai Arya dengan tekniknya. Teknik yang akan membuatnya bisa mengetahui dimanapun keberadaan Arya.

"Hahaha.. sudah ku bilang. Ternyata kau masih saja seperti dulu, masih saja bodoh dan keras kepala, Wukong." Ejek Kaisar Surga sambil tertawa.

Wukong menggigit kuku ibu jarinya nampak sedang berfikir. 

"Sudahlah, ayo kita kembali. Aku ingin melihat Dewa Petir untuk terakhir kalinya." Ucap Arya. Menurut perhitungannya dia masih memiliki waktu untuk dapat melihat saat-saat terkahir sebelum Dewa Petir menjalani eksekusi hukuman.

Kaisar Surga mengangguk dan lalu menyentuh pundak Arya untuk keluar dari dimensi Cahaya Keabadian dengan teknik berpindah dimensi. Dalam sekejap merekapun berada di ruangan Dewa Petir, dimana saat itu Dewa Petir sedang berkumpul dengan istri serta anak-anaknya.

Melihat kemunculan Arya dan Kaisar Surga, Dewa Petir, istrinya serta putrinya Kirana Larasati tersenyum menyambut mereka. Hanya Gundala Sena yang menunjukkan ekspresi muka masam di sertai tatapan kemarahan pada pemuda itu.

Walaupun Gundala Sena sudah diberitahu oleh Dewa Petir mengenai siapa Arya dan alasan mengapa ayahnya melanggar aturan langit demi pemuda itu, namun Gundala Sena tetap menaruh kemarahan terhadap pemuda itu, sebab dia tidak rela ayahnya lenyap selama-lamanya meski itu semua dilakukan demi kebaikan seluruh alam semesta.

Rasa sayangnya terhadap Dewa Petir serta egonya membuat Gundala begitu membenci Arya, jika tidak di larang Dewa Petir mungkin saat ini dia sudah menyerang dan menghajar pemuda itu.

Kemarahan dan kebencian Gundala Sena terhadap Arya dapat diketahui Dewa Petir karena laporan dari Kirana Larasati yang mengadukan rencana kakaknya tersebut yang ingin membunuh Arya. Dengan marah Dewa Petir mendatangi Gundala Sena dan menyuruhnya untuk berjanji akan bersikap baik terhadap Arya. Dewa Petir menceritakan semua jasa Kaisar Dewa Naga Emas pada alam Dewa dan alam Surgawi, namun meski sudah tahu dan sudah berjanji, Gundala Sena tetap tidak bisa membuang kebenciannya terhadap pemuda itu.

Sementara Kirana Larasati dari awal memang sudah menaruh ketertarikan kepada Arya, namun saat mengetahui jika pemuda itulah yang menjadi penyebab ayahnya di hukum, Kirana sempat begitu marah sama halnya seperti Gundala Sena. Tetapi setelah mengetahui kebenarannya, Kirana dapat memaklumi keputusan ayahnya dan tidak lagi membenci pemuda itu.

Disaat semua mata tertuju padanya, Arya malah sibuk mengamati tubuhnya. Dia merasa tubuhnya seperti melayang, sama sekali tidak merasakan berat tubuhnya sendiri. 

Meski sudah 5 tahun berlatih di dalam dimensi Cahaya Keabadian namun kultivasi Arya sama sekali tidak mengalami peningkatan, sebab energi di dimensi itu memang tidak dapat di serap untuk berkultivasi, energi di sana hanya dapat di gunakan untuk mengisi energi yang terbuang saat berlatih. Aneh memang, walau Qi di dimensi Cahaya Keabadian begitu melimpah namun tidak bisa di serap. Itu semua karena sejatinya dimensi itu adalah tempat untuk menyucian jiwa bagi para Dewa, bukan untuk berkultivasi.

Meski tidak bisa berkultivasi, tetapi Arya masih bisa memperbanyak tenaga dalamnya. Melalui segala pelatihan keras yang memaksa tubuhnya menyamai kualitas tubuh para Dewa, Arya dapat mengolah kekuatan fisiknya untuk dijadikan tenaga dalam. Kini tenaga dalam pemuda itu sudah terkumpul 10.000 Cakra.

Cakra adalah hitungan himpunan tenaga dalam, dimana satu Cakra sama dengan 100 lingkaran tenaga dalam. Dan 100 Cakra sama dengan 1 benang Qi. Dimana membutuhkan seratus ribu benang Qi untuk mencapai tahap Pendekar Suci tingkat awal. Jika dihitung tenaga dalam Arya hanya mencapai tahap Pendekar Raja jika dalam hitungan benang Qi.

Arya bisa saja merubah tenaga dalamnya menjadi Qi, namun untuk menghadapi musuh alaminya Arya tidak bisa menggunakan Qi, dia hanya bisa bertarung menggunakan tenaga dalam. Untuk itulah tenaga dalam lebih penting baginya di bandingkan energi Qi. Butuh beberapa triliun Cakra untuk mencapai kekuatan sejati Kaisar Dewa Naga Emas yang sesungguhnya, tentu saja untuk mencapai itu semua butuh waktu sangat panjang, bisa ribuan tahun bahkan milyaran tahun.

Saat ini kualitas tulangnya mencapai tulang naga pertapa, ototnya telah sekeras tembaga dan kulitnya setebal tembok baja. Tubuh pemuda itu bisa di katakan bukan lagi tubuh manusia normal, tapi tubuh setengah Dewa.

"Aku sudah menemukan cara..." Ucap Wukong ketika baru saja muncul diantara mereka.

Semua pandangan seketika tertuju pada Wukong, Arya yang masih sibuk mengamati tubuhnya juga sontak menatap ke arah siluman raja kera itu.

Wukong tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya dengan canggung, lalu berkata. "Ini adalah permata penyimpan energi, dengan ini aku bisa mencari keberadaanmu." Ucapnya sambil memperlihatkan permata bening seukuran sekepalan tangan.

Dewa Petir dan Kaisar Surga sontak saja terbelalak. "Kau.." pekik mereka berdua.

Wukong kembali mengaruk kepalanya seraya tersenyum lebar. "Benar, aku mengambilnya dari tongkat istana Dewa."

Urat leher Dewa Petir terlihat mengeras pertanda dirinya sedang menahan amarah. Sedangkan Kaisar Surga malah terkekeh.

"Benar-benar kera nakal ini tidak pernah berubah." Celetuk Kaisar Surga setelah selesai tertawa.

"Kera tengik, cepat kembalikan atau kalau tidak.."

"Kalau tidak apa? Kau ingin menantangku bertarung, petir kecil.." Sergap Wukong dengan nada mengejek sambil membusungkan dada.

"Biarkan saja, lagipula permata itu selama ini hanya menjadi pajangan di istanamu. Biar Wukong menggunakan permata itu untuk mengantikan posisimu menjaga pemuda ini." Ucap Kaisar Surga dengan nada berwibawa.

Tangan Dewa Petir yang mengepal perlahan mengendur dan urat-uratnya yang sebelumnya menonjol kini sudah tidak terlihat lagi. Tatapan Dewa Petir pada Wukong berganti perasaan lega. "Baiklah, tapi ingat kau harus mengembalikan permata itu tanpa rusak sedikitpun. Kau tau sendiri seberapa pentingnya permata itu."

"Hahaha... Tenang saja petir kecil, aku hanya menggunakannya untuk mengawasi tuan Hydra, tidak lebih." Ucap Wukong dengan perasaan tanpa bersalah.

"Lalu apakah kalian juga akan mengantarku?" Tanya Dewa Petir.

"Tidak, aku tidak akan tega melihatmu menderita, petir kecil. Hahaha..." Nada bicara Wukong seakan sedih namun di akhiri dengan tawa, membuat Dewa Petir yang awalnya senang berganti jengkel.

"Dasar kera edan... Menyesal aku berteman denganmu." Ketus Dewa Petir.

"Hahaha... Sudahlah sana berangkat, kami akan melihatmu dari sini saja. Selamat jalan dan selamat berjumpa kembali petir kecil." Wukong mengibas-ngibaskan tangannya seakan mengusir lalat.

"Sialan... Ya sudah, aku pasrahkan keamanan disini padamu, kera tengik."

"Woi, apa seperti itu caramu meminta bantuan, petir kecil. Tidak sopan!!." Rutuk Wukong dengan nada kesal namun dengan mimik muka meledek.

Dewa Petir terpaksa diam, dia tahu berbicara dengan Wukong tidak akan ada ujungnya. 

Arya maju mendekati Dewa Petir. Setelah berada di hadapan gurunya itu, Arya lantas berlutut. "Guru, terimakasih atas semuanya. Muridmu ini berjanji akan menjalankan amanat guru dengan sebaik-baiknya. Murid juga pasti akan menyelamatkan guru." Ucapnya dan lalu bersujud sebanyak tiga kali.

Kaisar Surga dan Wukong nampak membelalakkan mata, mereka tidak menyangka reinkarnasi Kaisar Dewa Naga Emas akan bersikap demikian, bersujud kepada Dewa Petir.

Dewa Petir tersenyum dan menatap Arya dengan perasaan bangga. Ini adalah kali pertama murid bodohnya itu memberikan penghormatan kepadanya. Meski dirinya adalah guru pemuda itu, namun Dewa Petir tidak pernah mewajibkan Arya untuk melakukan ritual murid dan guru, seperti bersujud ataupun bersikap hormat kepadanya, sebab Arya sejatinya adalah reinkarnasi Dewa Naga Emas. Tuannya yang harus dia hormati.

"Bangunlah muridku, ini semua sudah menjadi kewajibanku. Aku percayakan semuanya padamu." Dewa Petir berkata sambil mengangkat bahu Arya agar kembali berdiri.

Dewa Petir kemudian memeluk Arya. Sebuah pelukan pertama sekaligus pelukan terakhir guru dan murid itu menimbulkan perasaan haru bagi keduanya. Sejenak mereka mengingat masa-masa kebersamaan mereka.

Kirana Larasati dan ibunya tersenyum haru melihat sepasang murid dan guru itu, mereka tahu pemuda itu kelak akan menjadi penguasa alam semesta dan derajatnya sendiri lebih tinggi dari Dewa Petir. Namun meski begitu pemuda itu masih memiliki etika sebagaimana seorang murid kepada gurunya.

Selepas mencubit hidung Arya sebagaimana yang biasa dilakukan Zhen Long terhadap muridnya itu, Dewa Petir lalu pamit dan keluar ruangan, kemudian di susul istri, kedua anaknya dan Kaisar Surga yang juga ingin mengantarkan Dewa Petir ke tempat hukuman.

"Wooii, petir kecil... Jangan khawatir kita pasti akan bertemu kembali." Seru Wukong. Bagaimanapun dia sebenarnya merasa sangat berat dan sedih ketika tahu sahabatnya itu akan mendapatkan hukuman. Namun setelah mendapati Kaisar Dewa Naga Emas telah kembali, kecemasan Raja Kera itu sedikit berkurang. Dia yakin dengan bantuan reinkarnasi Kaisar Dewa Naga Emas, Petir kecil pasti bisa di selamatkan.

Setelah di ruangan itu hanya tersisa mereka berdua, Wukong kemudian menyuruh Arya meneteskan darahnya juga aura kehidupannya ke permata yang dia berikan.

Arya sedikit terkejut manakala darah yang keluar dari jarinya tidak lagi merah, namun menjadi putih serta memancarkan cahaya. Dia seketika sadar jika kualitas tubuhnya kini sudah bukan lagi tubuh manusia.

Wukong yang mengetahui perkembangan tubuh Arya terlihat tersenyum puas. "Tubuh anda memang benar-benar istimewa, tuan."

"Jangan panggil aku tuan, aku bukan orang yang suka di hormati dan di agung-agungkan. Saat ini aku hanyalah manusia biasa, kemampuanmu juga berada di atasku. Jadi anggap saja kita teman." Arya berkata dengan nada ketus.

"Hahaha... Baiklah, baiklah.. sekarang masukkanlah aura kehidupan serta sedikit energi yang tuan miliki."

"Sudah ku bilang jangan panggil aku tuan." Hardik Arya dengan menatap Wukong tajam.

Melihat Wukong seketika diam, Arya kemudian mengalirkan aura kehidupan serta energi emasnya ke permata yang dia genggam. Permata itupun nampak bergetar dan memancarkan pantulan cahaya yang beraneka warna.

"Cukup tuan.." Sergah Wukong sedikit meninggikan suaranya sebab khawatir pertama itu akan pecah.

"Monyet batu, apa kau tuli atau apa." Rutuk Arya dengan menekuk mukanya masam. "Panggil aku TEMAN." Lanjutnya dengan penuh penekanan.

"Hehehe... Aku tidak berani tuan." Wukong mengusapkan tengkuknya dengan canggung.

Arya melotot.

"Baiklah... Baiklah... Kita teman." Wukong mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah ke atas seraya tersenyum lebar.

"Bagus..." Arya berkata dingin dan lalu menyerahkan batu yang digenggamnya kepada Wukong.

Terpopuler

Comments

Iwan Arema

Iwan Arema

hmmmm

2024-05-12

1

Harman LokeST

Harman LokeST

crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up crazy up

2024-02-29

1

Alan Bumi

Alan Bumi

menyucikan jiwa

2023-04-15

0

lihat semua
Episodes
1 Legenda Pusaka Matahari Penghancur
2 Tiba Di Sekte Lembah Petir
3 Bertemu Sang Paman
4 Rencana Penyerangan
5 Formasi Badai Petir
6 Pendekar Penyair
7 Membantu Putri Ming Yu Hua
8 Menyerap Energi Matahari
9 Amanat Dewa Petir
10 Kuda Bersayap
11 Serangan Mayat Hidup
12 Pertempuran
13 Berlatih Di Dimensi Cahaya Keabadian
14 Selamat Jalan Dewa Petir
15 Bantuan Tiba
16 Jebakan Leluhur
17 Tubuh Dewi Bulan
18 Memberikan Hukuman
19 Pedang Ilusi Penguasa Jiwa
20 Kembali
21 Kemunculan Dua Gadis Berpakaian Hitam
22 Arya Vs Tiga Tetua Iblis Berdarah
23 Membawa Tawanan
24 Keterkejutan Para Tetua
25 Rencana Arya
26 Menerima Tantangan
27 Menunjukkan Kemampuan
28 Ritual Persembahan
29 Ramuan Kejujuran
30 Tubuh Raja Kegelapan
31 Latih Tanding
32 Menghancurkan Pusaka Legenda
33 Sekte Yang Menghilang
34 Pengejaran Ke Daratan Utara
35 Asap Hijau Dari Pedang
36 Meningkatkan Kultivasi Paman
37 Zhiyuhan Pemuda Penyair
38 Makhluk Asap
39 Efek Kekuatan Raja Kegelapan
40 Membuka Gerbang
41 Saatnya Berpetualang
42 Amarah Sang Legenda Naga
43 Merubah Wujud
44 Nikmat Sesaat Derita Yang Bertubi-tubi
45 Tetua Muda
46 Menyelamatkan Anak Perempuan
47 Markas Bandit Taring Hitam
48 Tewasnya Wakil Ketua Bandit
49 Karma
50 Penyelamat Yang Di Nantikan
51 Bayangan Putih Dan Hitam
52 Sihir Hitam
53 Organisasi Yenmin
54 Air Suci Biarawati
55 Sosok Sebenarnya Biarawati
56 Gunung Phoenix
57 Pertapa Gila
58 Memberikan Tugas
59 Penjambret
60 Memenuhi Janji Nenek
61 Ujian Menjadi Prajurit
62 Kemunculan Panglima Kegelapan
63 Nasib Wanita Malang
64 Wabah Penyakit
65 Kericuhan Di Dalam Kedai
66 Awal Manis Berujung Kecewa
67 Menjalankan Rencana
68 Pertemuan Para Penyusup
69 Situasi Kerajaan
70 Rumah Seribu Bunga
71 Membeli Para Gadis
72 Memulai Pembersihan Kota
73 Kekacauan Di Dalam Kota
74 Duel Sengit
75 Pertarungan Di Dalam Kerajaan
76 Keputusasaan Para Penduduk
77 Transformasi
78 Penyerangan Dimulai
79 Jenderal Sun Jian Vs Demiao
80 Portal Dimensi
81 Rasa Bersalah
82 Mengirim Bantuan Ke Kerajaan Goading
83 Munculnya Pendekar Khusus
84 Membantu Pertempuran Di Kerjaaan
85 Pendekar Khusus Dan Ke-empat Tetua Iblis Berdarah
86 Ratu Hewan Iblis
87 Kemunculan Yang Selalu Membuat Rusuh
88 Akhir Dari Ratu Hewan Iblis
89 Racun Penyerap Sukma
90 Bunga Anggrek Hantu
91 Bersulang
92 Pembasmian Di Kota Goading
93 Pembasmian Kota Goading II
94 Pembasmian Kota Goading III
95 Pembasmian Kota Goading IV
96 Pembasmian Kota Goading V
97 Akhir Dari Sang Panglima Hewan Iblis
98 Panglima Kegelapan
99 Kembali Ke Benua Timur
100 Tiga Dara Di Sungai
101 Hantu Kepala Buntung
102 Rasa Penasaran
103 Pencuri Kacang
104 Teknik Terlarang
105 Kematian Yang Di Janjikan
106 Situasi Di Dalam Kerajaan
107 Keseriusan Arya
108 Arya Vs Yeva
109 Arya Vs Yeva II
110 Arya Vs Yeva III
111 Akhir Pertarungan
112 Memberikan Penjelasan
113 Kondisi Raja Kegelapan
114 Mengangkat Saudara
115 Rasa Penasaran Jenderal Yong We
116 Pertemuan Di Bukit Cinta
117 Memberikan Bukti
118 Berujung Perkelahian
119 Pertarungan Sepanjang Malam
120 Undangan
121 Berlatih Kembali
122 Keanehan Arya
123 Kerajaan Danau Lembah Peri
124 Dibawa Menghadap Tuan Rumah
125 Kehidupan Bawah Danau
126 Bertemu Sang Ratu
127 Bentuk Bunga Yang Dicari
128 Mengambil Bunga Energi
129 Meninggalkan Kerajaan Danau Lembah Peri
130 Pil Bunga Anggrek Hantu
131 Mengobati Sang Raja
132 Pendekar Bunga Darah
133 Kembalinya Raja Kegelapan
134 Soal Asmara Terbawa Sampai Tua
135 Pertarungan Sepasang Kekasih Dimasa lalu
136 Nasib Nie Zha
137 Kejahilan Putri Zhou Jing Yi
138 Orang Terluka Di Tengah Hutan
139 Pasukan Pangeran Tong Shun
140 Ajakan Bergabung
141 Surat Cinta
142 Ditangkap
143 Ketegangan Yang Berlarut-larut
144 Lengan Api
145 Cerita Desa Huangpu
146 Tiga Pembawa Maut
147 Pertarungan Di Tepi Sungai
148 Dendam Seorang Anak
149 Mendapatkan Teman Perjalanan
150 Potongan Tangan
151 Pertunjukan Nie Zha
152 Pengintip
153 Cinta Bersemi Di Malam Purnama
154 Niat Terselubung
155 Membantu Penyatuan Energi
156 Manusia Iblis
157 Tekad Melawan Sampai Mati
158 Pangeran Istana Es
159 Menginterogasi
160 Mencari Goa Tengkorak
161 Terjebak
162 Salah Memilih Lawan
163 Lorong Rahasia
164 Pesta Gila
165 Kebebasan Sang Pangeran Es
166 Menyelamatkan Sandera
167 Siluman Penjaga
168 Kakek Malang
169 Si Tua Sadis
170 Pedang Es Abadi
171 Kembalinya Pedang Pusaran Angin
172 Tewasnya Lima Biksu Sesat
173 Pengumuman
Episodes

Updated 173 Episodes

1
Legenda Pusaka Matahari Penghancur
2
Tiba Di Sekte Lembah Petir
3
Bertemu Sang Paman
4
Rencana Penyerangan
5
Formasi Badai Petir
6
Pendekar Penyair
7
Membantu Putri Ming Yu Hua
8
Menyerap Energi Matahari
9
Amanat Dewa Petir
10
Kuda Bersayap
11
Serangan Mayat Hidup
12
Pertempuran
13
Berlatih Di Dimensi Cahaya Keabadian
14
Selamat Jalan Dewa Petir
15
Bantuan Tiba
16
Jebakan Leluhur
17
Tubuh Dewi Bulan
18
Memberikan Hukuman
19
Pedang Ilusi Penguasa Jiwa
20
Kembali
21
Kemunculan Dua Gadis Berpakaian Hitam
22
Arya Vs Tiga Tetua Iblis Berdarah
23
Membawa Tawanan
24
Keterkejutan Para Tetua
25
Rencana Arya
26
Menerima Tantangan
27
Menunjukkan Kemampuan
28
Ritual Persembahan
29
Ramuan Kejujuran
30
Tubuh Raja Kegelapan
31
Latih Tanding
32
Menghancurkan Pusaka Legenda
33
Sekte Yang Menghilang
34
Pengejaran Ke Daratan Utara
35
Asap Hijau Dari Pedang
36
Meningkatkan Kultivasi Paman
37
Zhiyuhan Pemuda Penyair
38
Makhluk Asap
39
Efek Kekuatan Raja Kegelapan
40
Membuka Gerbang
41
Saatnya Berpetualang
42
Amarah Sang Legenda Naga
43
Merubah Wujud
44
Nikmat Sesaat Derita Yang Bertubi-tubi
45
Tetua Muda
46
Menyelamatkan Anak Perempuan
47
Markas Bandit Taring Hitam
48
Tewasnya Wakil Ketua Bandit
49
Karma
50
Penyelamat Yang Di Nantikan
51
Bayangan Putih Dan Hitam
52
Sihir Hitam
53
Organisasi Yenmin
54
Air Suci Biarawati
55
Sosok Sebenarnya Biarawati
56
Gunung Phoenix
57
Pertapa Gila
58
Memberikan Tugas
59
Penjambret
60
Memenuhi Janji Nenek
61
Ujian Menjadi Prajurit
62
Kemunculan Panglima Kegelapan
63
Nasib Wanita Malang
64
Wabah Penyakit
65
Kericuhan Di Dalam Kedai
66
Awal Manis Berujung Kecewa
67
Menjalankan Rencana
68
Pertemuan Para Penyusup
69
Situasi Kerajaan
70
Rumah Seribu Bunga
71
Membeli Para Gadis
72
Memulai Pembersihan Kota
73
Kekacauan Di Dalam Kota
74
Duel Sengit
75
Pertarungan Di Dalam Kerajaan
76
Keputusasaan Para Penduduk
77
Transformasi
78
Penyerangan Dimulai
79
Jenderal Sun Jian Vs Demiao
80
Portal Dimensi
81
Rasa Bersalah
82
Mengirim Bantuan Ke Kerajaan Goading
83
Munculnya Pendekar Khusus
84
Membantu Pertempuran Di Kerjaaan
85
Pendekar Khusus Dan Ke-empat Tetua Iblis Berdarah
86
Ratu Hewan Iblis
87
Kemunculan Yang Selalu Membuat Rusuh
88
Akhir Dari Ratu Hewan Iblis
89
Racun Penyerap Sukma
90
Bunga Anggrek Hantu
91
Bersulang
92
Pembasmian Di Kota Goading
93
Pembasmian Kota Goading II
94
Pembasmian Kota Goading III
95
Pembasmian Kota Goading IV
96
Pembasmian Kota Goading V
97
Akhir Dari Sang Panglima Hewan Iblis
98
Panglima Kegelapan
99
Kembali Ke Benua Timur
100
Tiga Dara Di Sungai
101
Hantu Kepala Buntung
102
Rasa Penasaran
103
Pencuri Kacang
104
Teknik Terlarang
105
Kematian Yang Di Janjikan
106
Situasi Di Dalam Kerajaan
107
Keseriusan Arya
108
Arya Vs Yeva
109
Arya Vs Yeva II
110
Arya Vs Yeva III
111
Akhir Pertarungan
112
Memberikan Penjelasan
113
Kondisi Raja Kegelapan
114
Mengangkat Saudara
115
Rasa Penasaran Jenderal Yong We
116
Pertemuan Di Bukit Cinta
117
Memberikan Bukti
118
Berujung Perkelahian
119
Pertarungan Sepanjang Malam
120
Undangan
121
Berlatih Kembali
122
Keanehan Arya
123
Kerajaan Danau Lembah Peri
124
Dibawa Menghadap Tuan Rumah
125
Kehidupan Bawah Danau
126
Bertemu Sang Ratu
127
Bentuk Bunga Yang Dicari
128
Mengambil Bunga Energi
129
Meninggalkan Kerajaan Danau Lembah Peri
130
Pil Bunga Anggrek Hantu
131
Mengobati Sang Raja
132
Pendekar Bunga Darah
133
Kembalinya Raja Kegelapan
134
Soal Asmara Terbawa Sampai Tua
135
Pertarungan Sepasang Kekasih Dimasa lalu
136
Nasib Nie Zha
137
Kejahilan Putri Zhou Jing Yi
138
Orang Terluka Di Tengah Hutan
139
Pasukan Pangeran Tong Shun
140
Ajakan Bergabung
141
Surat Cinta
142
Ditangkap
143
Ketegangan Yang Berlarut-larut
144
Lengan Api
145
Cerita Desa Huangpu
146
Tiga Pembawa Maut
147
Pertarungan Di Tepi Sungai
148
Dendam Seorang Anak
149
Mendapatkan Teman Perjalanan
150
Potongan Tangan
151
Pertunjukan Nie Zha
152
Pengintip
153
Cinta Bersemi Di Malam Purnama
154
Niat Terselubung
155
Membantu Penyatuan Energi
156
Manusia Iblis
157
Tekad Melawan Sampai Mati
158
Pangeran Istana Es
159
Menginterogasi
160
Mencari Goa Tengkorak
161
Terjebak
162
Salah Memilih Lawan
163
Lorong Rahasia
164
Pesta Gila
165
Kebebasan Sang Pangeran Es
166
Menyelamatkan Sandera
167
Siluman Penjaga
168
Kakek Malang
169
Si Tua Sadis
170
Pedang Es Abadi
171
Kembalinya Pedang Pusaran Angin
172
Tewasnya Lima Biksu Sesat
173
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!