Dalam pertemuan, Patriark Tao Lian memang sempat menyinggung Arya dalam pembahasan. Dia memberitahukan pada semua orang yang ada di ruangan pertemuan mengenai seorang pendekar yang baru saja bergabung dengan Aliansi Pendekar Surgawi. Patriark Tao Lian tidak memberitahukan jika pendekar itu adalah Tabib Xian, melainkan dia memperkenalkannya sebagai Pendekar Naga Emas. Julukan itu dia sematkan terhadap Arya, karena ia menyaksikan sendiri pada saat kelahiran anak tersebut, yang mana bersamaan dengan kelahiran Li Xian dia melihat penampakan Naga Emas di angkasa.
Jelas saja semua orang yang ada di tempat pertemuan dibuat penasaran, sebab mereka selama ini tidak pernah mendengar adanya Pendekar yang memiliki julukan seperti itu. Ketika mendengar Pendekar Naga Emas sudah tiba di Lembah Petir, merekapun serta-merta meminta agar Patriark Tao Lian mempertemukan mereka dengan Pendekar tersebut.
Patriark Tao Lian menyetujuinya, dia mengatakan akan memperkenalkan Pendekar Naga Emas pada mereka semua di pertemuan besok.
Selepas membubarkan pertemuan, Patriark Tao Lian dan Tetua Din Thai Fung menuju ke kamar yang di persediakan untuk Arya. Meski sudah di beritahukan jika Arya masih belum sadarkan diri, namun Patriark Tao Lian tetap ingin menemui pemuda itu. Dia sudah tidak sabar ingin memastikan benar tidaknya Arya adalah anak dari adik angkatnya, Li Hongyi.
Dalam keadaan tidak sadarkan diri, Arya seperti di tarik ke dalam dunia lain. Dia melihat rentetan kejadian di masalalu Kaisar Dewa Naga Emas. Mulai dari permulaan terciptanya alam semesta, pertempuran dahsyat dengan para monster dan Dewa Iblis Ashura, sampai terpecahnya roh Kaisar Dewa Naga Emas yang berakhir dengan reinkarnasi dirinya sendiri.
Huang She, Putri Ming Yu Hua dan ketiga bocah bersaudara melihat keanehan pada tubuh Arya yang terbaring di atas ranjang. Mereka menyaksikan tubuh pemuda itu bersinar keemasan dan lalu terangkat mengambang di udara.
Karena panik takut terjadi sesuatu pada Arya, Huang She mencoba meraih tubuh pemuda itu. Namun baru beberapa jengkal dia melompat, tubuhnya terpelanting membentur dinding ruangan sampai jebol.
Kejadian itu membuat ketiga bocah bersaudara ketakutan, tanpa sadar mereka beringsut mundur dengan tubuh gemetaran.
"Jangan takut, tidak akan terjadi sesuatu padanya." Putri Ming Yu Hua berkata sambil terus mengamati tubuh Arya yang di selimuti cahaya berupa Naga Emas yang melilit tubuh pemuda itu.
Peristiwa tersebut berlangsung beberapa menit sebelum semuanya menjadi gelap, bersamaan dengan kesadaran Putri Ming Yu Hua dan ketiga bocah bersaudara yang turut menghilang, alias pingsan.
Patriark Tao Lian dan Tetua Din Thai Fung mengetuk pintu meminta izin masuk, namun beberapa saat menunggu mereka tidak kunjung mendapatkan jawaban dari dalam. Merekapun kemudian memaksa masuk dan mendapati semua orang yang ada di dalam ruangan itu dalam kondisi terbaring di atas lantai, kecuali Arya yang sudah kembali terbaring tenang di ranjang. Namun anehnya tembok yang tadinya jebol telah kembali utuh, seolah tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.
"Mungkin mereka kelelahan.." Gumam Tetua Din Thai Fung, meski begitu dia menghampiri dan memeriksa mereka semua satu persatu.
Patriark Tao Lian berjalan perlahan dan berhenti tepat di sisi kanan ranjang Arya. "Adik Li, anakmu Xian'er telah kembali." Ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca.
Terlihat jari jemari Arya bergerak dan kemudian matanya terbuka.
"Xian'er.."
Arya menoleh, meski tidak pernah bertemu dengan pria tersebut, namun dari ingatan Li Xian, dia mengenalnya sebagai Paman Toa Lian, seseorang yang dulu tidak pernah putus asa dalam melatih dirinya yang cacat tanpa Dantian.
"Paman Lian.." Arya berusaha duduk.
Patriark Tao Lian dengan sigap membantu mendudukkan Arya. "Benarkah kau Xian'er kami?” Meski Patriark Tao Lian mendapati kemiripan Arya dengan Nie Xun istri dari Li Hongyi, tetapi Patriark Tao Lian merasa perlu untuk memastikannya langsung dari pemuda itu.
Arya mengangguk. "Maaf paman jika aku baru kembali sekarang."
"Ah sudahlah tidak perlu di pikirkan, justru aku merasa lega dan sangat senang melihatmu masih hidup, Xian'er." Patriark Tao Lian tersenyum hangat dan lalu bertanya. "Tapi bagaimana kau bisa membentuk dantianmu?"
Arya lantas menceritakan tentang kematian orang tua Li Xian, dan mengenai dirinya yang di selamatkan oleh seorang kakek tua ketika terjatuh ke dalam jurang kematian.
"Aku beruntung paman, kakek Zhen Long menyelamatkanku pada saat itu. Beliau juga mengangkatku menjadi cucu angkatnya, serta mengajariku berbagai ilmu sehingga aku bisa menjadi seperti ini."
"Tidak di sangka di balik musibah yang menimpamu, ternyata Sang Maha Kuasa memberkahimu berbagai anugerah yang besar." Patriark Tao Lian tersenyum namun terlihat kesedihan dari pancaran sorot matanya ketika menatap Arya.
Arya kemudian mengeluarkan lukisan seseorang yang sudah sejak lama dia lukis ketika masih berada di jurang kematian. "Apa paman mengenali orang ini?"
Patriark Tao Lian mengamati sosok yang ada di lukisan itu dan lalu mengangguk pelan. "Xu Zhong.. Apa dia yang telah membunuh orang tuamu?"
Sebenarnya Patriark Tao Lian sudah menduga pelaku dibalik kematian Li Hongyi dan Nie Xun adalah Xu Zhong, namun dia tidak mendapatkan bukti yang kuat. Semua itu hanyalah dugaan karena dia tahu Xu Zhong menyimpan kebencian pada keduanya, terlebih setelah Li Hongyi dan Nie Xun meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan.
"Iya paman, orang inilah yang membunuh mereka. Apa paman mengetahui dimana dia berada?"
"Tidak ku sangka api cemburu telah merubah seseorang yang baik menjadi jahat." Patriark Tao Lian membatin sambil mengepalkan tangannya.
"Xu Zhong sempat menjadi anggota Sekte Pedang Teratai, tapi beberapa tahun yang lalu dia telah menghilang dan tidak di ketahui lagi keberadaannya sampai sekarang." Jelas Patriark Tao Lian.
"Apa paman bisa membantuku mencarikan informasi dimana orang itu.. Bagaimanapun mereka harus membayar mahal atas kematian orang tuaku."
"Tanpa kau minta sekalipun aku akan mencarinya, bahkan jika perlu sampai ke ujung dunia." Patriark Tao Lian berkata dengan nada berat, batinnya kini di penuhi kemarahan, dia bertekad kematian adik angkatnya Li Hongyi dan Nie Xun harus terbalaskan.
"Paman, aku masih ingat beberapa orang yang juga ikut menyerang orang tuaku. Nanti aku akan melukiskan wajahnya dan menunjukkannya pada paman."
"Baiklah,.." Patriark Tao Lian menghela nafas berat. "Xian'er.. seingatku dulu ibumu memberimu kalung giok embun biru, dan ada tanda lahir di punggungmu. Bolehkah aku melihatnya." Meski percaya pemuda di hadapannya adalah Li Xian anak dari adik angkatnya Li Hongyi, namun Patriark Tao Lian merasa perlu untuk menguatkan keyakinannya.
Arya tersenyum dan kemudian melepaskan kalung yang dia pakai, lalu memberikannya kepada Patriark Tao Lian. Setelahnya, dia juga menanggalkan bajunya agar Patriark Tao Lian bisa melihat tanda lahir yang ada di punggungnya.
Patriark Tao Lian mengangguk setelah memeriksa kalung giok embun biru. Matanya sedikit melebar saat melihat tanda lahir di punggung Arya kini hampir memenuhi permukaan kulitnya. Sebuah tanda lahir seperti tatoo yang bergambar Naga berkepala sembilan. Kini tanda lahir itu memancarkan sinar keemasan.
******
Di luar Perisai Pelindung. Sesosok manusia bertengger di dahan pohon dengan tatapan matanya tertuju ke markas Lembah Petir dari kejauhan.
"Jadi memang benar ada di sini.." Sosok tersebut tersenyum dan lalu berkelebat pergi.
Setelah melihat bukti, Patriark Tao Lian kini sepenuhnya sudah percaya jika Arya memang benar keponakan angkatnya. Patriark Tao Lian kemudian menceritakan mengenai asal-usul orang tuanya, yang mana ibu Li Xian adalah seorang putri dari permaisuri Kaisar Wei Heng, Kaisar dari Dinasti Kekaisaran Yun.
Patriark Tao Lian menceritakan sebelum Nie Xun menjadi Tetua Sekte Lembah Petir. Nie Xun dan ibunya terpaksa melarikan diri karena di fitnah telah membunuh Kaisar Wei Heng. Bertahun-tahun Nie Xun dan ibunya menyamar dan bersembunyi demi menghindari para pendekar bayaran maupun prajurit yang menginginkan kematiannya. Namun pada akhirnya Nie Xun harus rela melihat kematian ibunya di tangan para pendekar suruhan Kekaisaran.
Karena merasa kehidupannya di Kekaisaran Yun semakin tidak tenang, Nie Xun kemudian memutuskan keluar dari wilayah Kekaisaran Yun, berharap bisa memulai kehidupan baru yang damai di Kekaisaran Ming.
Setelah Kaisar Wei Heng meninggal, kursi kekuasaan Kekaisaran Yun di gantikan oleh adik mendingan Sang Kaisar, yaitu Wei Yanshio. Dan belakangan baru diketahui jika Wei Yanshio lah dalang di balik terbunuhnya Sang Kaisar, Wei Heng.
Meski kebenaran sudah terungkap namun tidak ada yang berani menggulingkan posisi Wei Yanshio dari jabatan Kaisar, sebab dengan kekuasaan yang di milikinya, dia mengancam akan menghabisi siapapun yang berani memberontak. Terlebih dia juga mendapatkan dukungan dari hampir separuh sekte aliran hitam yang ada di kekaisaran Yun.
Bertahun-tahun Nie Xun hidup di kekaisaran Ming. Hingga pada suatu saat dirinya ikut mendaftarkan diri agar bisa menjadi murid Sekte Lembah Petir. Takdir kemudian mempertemukan Nie Xun dan Li Hongyi di bawah bimbingan guru yang sama, sampai akhirnya timbullah benih-benih cinta di antara mereka.
Arya hanya diam mendengarkan, sebenarnya dia tidak terlalu perduli mengenai masalalu ibu dari tubuh yang dia pakai. Namun karena saat ini dia hidup dengan menggunakan tubuh Li Xian, yang mana juga adalah bagian dari pecahan roh Kaisar Dewa Naga Emas sama seperti dirinya. Arya merasa memiliki tanggungjawab dan juga perlu menghormati orang tua maupun orang-orang yang dekat dengan Li Xian.
"Sepertinya kau tidak tertarik dengan ceritaku." Patriark Tao Lian merasa sedikit kecewa, sebenarnya tujuannya menceritakan masalalu Nie Xun hanya untuk mengakrabkan diri dengan keponakan angkatnya tersebut yang sudah hampir sepuluh tahun dia cari-cari keberadaannya.
"Xian'er, sebenarnya kalung giok embun biru ini adalah peninggalan dari kerajaan yang hilang di kekaisaran Yun. Menurut penjelasan dari ibumu, di dalam kalung ini terdapat sesuatu yang bisa membuka tempat rahasia di kerajaan itu." Patriark Tao Lian mengembalikan kalung giok embun biru kepada Arya.
"Kerajaan yang hilang?"
"Menurut cerita, kerajaan itu pernah ada namun tiba-tiba lenyap seperti di telan bumi. Ibumu adalah salah satu keturunan dari kerajaan itu, karena itulah kalung ini ada di tangan ibumu." Patriark Tao Lian mengambil nafas lalu kembali melanjutkan. "Ibumu sudah seperti adikku sendiri, dia juga sudah menganggapku sebagai keluarganya. Ibumu pernah menyampaikan padaku mengenai rahasia leluhurnya, dia mengatakan jika kalung inilah yang akan membawa seseorang untuk bisa mendapatkan kelima pecahan Pusaka Legenda."
Arya hanya mengangguk, dia sama sekali tidak tertarik dengan pusaka yang di bicarakan Patriark Tao Lian. Sudah banyak pusaka yang dia miliki, sehingga dia merasa tidak perlu lagi menambah koleksi pusakanya.
"Akhir-akhir ini banyak orang yang membicarakan Pusaka Legenda itu, aku khawatir jika pusaka itu akan jatuh ke tangan yang salah."
"Selama kalung ini ada padaku, tidak ada yang perlu di khawatirkan, paman." Arya berkata dengan tenang.
"Memang kalung itu adalah kunci membuka ruang rahasia kerajaan yang hilang, tetapi kata ibumu ada cara lain untuk membuka ruangan rahasia itu. Yaitu dengan memecahkan teka-teki kuno yang ada di sana. Dan aku yakin saat ini banyak orang yang sedang mencari keberadaan kerajaan yang hilang itu."
"Kenapa orang-orang suka sekali menggantungkan kekuatan pada pusaka..." Arya bergumam sambil menggeleng pelan.
"Hahaha... Tentu saja mereka ingin mendapatkan kekuatan besar dengan cara mudah dan cepat." Patriark Tao Lian terkekeh ringan atas kepolosan Arya.
Patriark Tao Lian kemudian menceritakan kisah mengenai Dewa yang memusnahkan seluruh kehidupan makhluk di masalalu, termasuk tentang Pusaka Matahari Penghancur yang di percaya memiliki kekuatan besar yang dapat mengguncang dunia, bahkan memusnahkan kehidupan seluruh umat manusia.
"Walaupun itu hanyalah cerita yang belum dapat dipastikan kebenarannya, namun setidaknya kita juga harus bertindak. Jika sampai pusaka itu benar adanya, dunia ini pasti akan semakin kacau."
Arya mengangguk, dia juga menyembunyikan beberapa pusaka bersamanya dengan tujuan agar pusaka itu tidak jatuh ke tangan yang salah.
"Paman terus terang saja padaku, aku merasa paman meyakini pusaka itu ada karena paman mengetahui keberadaan salah satunya."
Perkataan Arya tersebut membuat Patriark Tao Lian sedikit tercekat namun dengan cepat dia menenangkan diri.
"Apa orang tuamu pernah memberitahukan hal itu padamu?" Tanya Patriark Tao Lian menyelidik.
Arya tentu saja tidak bisa mengatakan yang sebenarnya jika dia telah membaca pikiran Patriark Tao Lian. Dengan sedikit kebingungan diapun mengangguk pelan.
Patriark Tao Lian menunjukkan ekspresi tidak percaya. Karena bagaimanapun rahasia ini hanya segelintir orang Lembah Petir yang tahu, dia dan Li Hongyi di amanahi Patriark Lembah Petir sebelumnya untuk menjaga rahasia ini dari siapapun.
"Orang tuamu mengatakan apa padamu?" Patriark Tao Lian bertanya melalui telepati. Dia tidak ingin sampai rahasia ini di ketahui orang-orang yang ada di ruangan tersebut, termasuk sahabatnya sendiri, tetua Din Thai Fung.
Arya tersenyum tipis saat mendengar suara Patriark Tao Lian di dalam pikirannya, dan lantas diapun menjawab. "Salah satu pusaka legenda itu ada di sini."
Patriark Tao Lian begitu terkejut, matanya melebar dan dahinya mengkerut tebal. Sekilas wajahnya terlihat lebih tua dari sebelumnya. Meski sudah mengira jika Arya dapat berkomunikasi melalui gelombang energi, tapi mengetahuinya langsung adalah hal yang berbeda. Terlebih Arya mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah dia sangka.
"Aku yakin tidak mungkin Li Hongyi memberitahukan hal ini padamu. Sekalipun kau adalah anaknya sendiri." Sergah Patriark Tao Lian masih melalui telepati.
"Maaf paman, bukan maksudku membohongi paman. Tapi meskipun aku sudah tahu yang sebenarnya, paman percayalah padaku, aku tidak ada sedikitpun niatan untuk merebut pusaka itu."
Patriark Tao Lian menghela nafas panjang. "Aku percaya padamu, Xian'er. Tapi aku minta, jangan beritahukan hal ini pada siapapun."
"Aku berjanji padamu paman, aku akan merahasiakan hal ini, meski nyawaku taruhannya." Arya bersumpah dengan mengangkat satu tangannya ke atas.
Patriark Tao Lian tersenyum dan bisa bernafas lega. "Sebenarnya aku dan ayahmu di tugaskan untuk menghancurkan pusaka itu agar tidak menimbulkan malapetaka bagi sekte maupun seluruh dunia." Patriark Tao Lian mengambil jeda, lalu melirik tetua Din Thai Fung yang terlihat sedang mengalirkan energinya untuk menyadarkan Huang She dan yang lainnya.
"Jangankan untuk menghancurkannya, menyentuh pusaka itu saja kami tidak bisa. Sudah beberapa generasi Sekte Lembah Petir yang berusaha menghancurkannya, tetapi sampai saat ini pusaka itu..." Patriark Tao Lian menghentikan ucapannya.
"Apa Pusaka itu memiliki roh pusaka yang kuat paman?" Tanya Arya melalui telepati.
"Entahlah Xian'er, tapi menurut sesepuh, roh pusaka itu berwujud roh kekuatan murni, tidak seperti kebanyakan pusaka pada umumnya."
Arya mengangguk, sedikit banyak dia mengetahui hal tersebut. "Jika paman mengizinkan, aku akan mencoba menghancurkannya."
Patriark Tao Lian kembali di buat mengerutkan dahi, dia sedikit curiga khawatir Arya akan menyalahi kepercayaannya dan berniat mencuri pusaka itu. Tapi setelah mengingat pesan dari Dewi Bulan yang mengatakan jika pemuda di hadapannya itu adalah seseorang yang akan membawa perdamaian di dunia, Patriark Tao Lian lantas mengangguk setuju.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 173 Episodes
Comments
Yanka Raga
🤩😎
2024-03-12
1
Harman LokeST
foooooikkkuuuuuuuuuosssssssss teeeeeeeeerrrrrrrrrrruuuuuuuusssss Li Tian
2024-02-29
1
Rusliza Deraman
betul tu.. guna la nama xianer.😁
2023-05-12
0