Sementara itu, Dewa Petir bersama para Dewa lainnya tiba di pusat atau inti galaxy yang di sebut the super massive black hole. Lubang hitam super raksasa yang disekelilingnya memancarkan cahaya Kuasar, pancaran cahaya milyaran kali lebih terang daripada cahaya matahari. Cahaya tersebut tercipta dari gas ataupun planet-planet yang tersedot masuk ke dalam lubang hitam.
Lubang hitam inilah yang menjadi medan gravitasi sehingga milyaran planet serta milyaran bintang dapat berotasi mengorbit pusat galaxy. Namun jika bintang ataupun planet berada dekat dalam jangkauan pusaran even horizon lubang hitam, maka apapun objek ataupun benda akan tersedot masuk, bahkan cahayapun tidak akan bisa kabur dari gaya tarik lubang hitam. Black Hole inilah yang pada akhirnya akan melenyapkan seluruh planet, bisa di sebut dialah monster alami alam semesta. Meski begitu keberadaannya juga adalah penunjang adanya kehidupan.
Setibanya Dewa Petir di depan batas even horizon lubang hitam, disana sudah berkumpul para petinggi bangsa iblis yang ingin memastikan ataupun melihat langsung Sang Raja Dewa di eksekusi.
"Tidak ku sangka kau akan benar-benar datang, ku kira kau akan lari seperti pengecut." Cibir Iblis yang memiliki kepala rusa dan bertanduk.
Dewa Petir diam tidak menanggapi perkataan iblis itu, dia tersenyum kecut sambil mengepalkan tangan.
Para Iblis sebenarnya ingin memancing kemarahan Dewa Petir dengan memprovokasi jika sebentar lagi mereka akan menghancurkan dan menguasai alam Dewa. Namun ketika melihat Kaisar Surga juga datang, merekapun tidak berani sesumbar. Bagaimanapun kekuatan mereka belum cukup untuk melawan Para Dewa dan Para Makhluk Surgawi.
"Kami sebenarnya sangat penasaran kenapa Raja sepertimu melanggar aturan langit hanya demi anak manusia. Tapi biar kami cari tahu sendiri nanti.. sekarang kami sedang sangat senang karena sebentar lagi kami akan melihatmu lenyap selamanya. Hahaha..."
Belasan iblis yang ada di sana tertawa terbahak-bahak karena merasa kejayaan mereka sebentar lagi akan tercapai.
Para Dewa hanya diam sambil menatap para Iblis dengan tatapan penuh kebencian.
Melihat Gundala tidak bisa menahan lagi kemarahan, Dewa Petir dengan cepat mencengkram pundak putranya itu kuat, membuat Gundala tidak jadi bergerak menyerang.
Demi mempercepat waktu dan agar tidak terjadi konflik, Dewa Petir memeluk istrinya, putra dan putrinya sebelum melayang perlahan mendekati garis horizon lobang hitam.
Tangis Kirana pecah, air matanya mengalir tanpa bisa dibendung. Sementara Gundala nampak berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata, tatapan putra Dewa Petir itu begitu tajam penuh kemarahan.
"Kalian ingatlah pesan ayah.. disana ayah pasti akan selalu merindukan kalian." Ucap Dewa Petir dengan melambaikan tangan. Terlihat setetes air bening jatuh dari kelopak matanya.
Dewa Petir tanpa ragu dan takut terbang menuju pusat lobang hitam. Beberapa detik, Dewa Petir masih terlihat menyunggingkan senyuman tepat di depan lobang hitam yang menganga sangat lebar.
Meski ukuran tubuh Dewa Petir hanya seperti sebutir pasir di antara luasnya lobang hitam yang terlihat mengerikan, namun semua mata dapat melihat jika muka Dewa Petir sama sekali tidak menunjukkan penyesalan ataupun ketakutan.
"Aku bangga mempunyai ayah seperti anda... Aku berjanji akan selalu mengingat pesan ayah." Gundala membatin dengan tubuh bergetar hebat, dia sekuat tenaga membendung air matanya.
"Dari awal kau sudah tahu akan resiko ini.. pengorbananmu ini aku pastikan tidak akan sia-sia, petir kecil." Kaisar Surga menyunggingkan senyuman bangga juga haru.
"A..aaa.. aaayyyaahh.." Pekik Kirana parau, suaranya seakan tercekat, air matanya benar-benar tidak dapat ia bendung. Gadis itu menutup matanya karena tidak sanggup lagi melihat ayahnya berada di ujung kematian.
Perlahan tubuh Dewa Petir memanjang karena tekanan gravitasi yang maha kuat. Proses itu di sebut spagetifikasi. Dalam sekejap tubuh Dewa Petir tersedot dan lenyap tidak akan keluar selamanya.
Beberapa saat kemudian lobang hitam meledakan jutaan Sambaran petir ke segala arah, dan lalu normal kembali.
"Bodoh, dia bilang akan merindukan anaknya. Lelucon macam apa itu... Hahaha..." Iblis berkepala tengkorak bertanduk berbicara lantang dan lalu tertawa berkepanjangan. "Dengan ini dendamku terbayar sudah."
Semua Iblis menatap para Dewa dengan tatapan tajam seakan mengatakan, 'Tunggulah, sebentar lagi giliran kalian yang akan menyusulnya.'
Setelah memastikan Dewa Petir tidak keluar lagi dari lubang hitam, semua Iblis lantas menghilang meninggalkan tempat tersebut.
Di dalam istana ruangan Dewa Petir. Arya dan Wukong menyaksikan proses eksekusi hukuman yang di jalani Dewa Petir dari layar energi, mereka nampak terdiam merasakan gejolak dalam hati masing-masing.
Meski Wukong yakin Dewa Petir akan kembali lagi, namun melihat proses hukuman yang di jalani sahabatnya itu membuat hatinya bergemuruh, antara marah dan bangga. Tidak terasa Sang Raja Kera Langit menitikan air mata atas perjuangan dan pengorbanan sahabatnya itu demi keberlangsungan alam semesta.
Melihat pengorbanan Dewa Petir, Arya tidak bisa membendung air mata. Kenangan kebersamaan yang di jalaninya bersama Dewa Petir satu persatu terbayang dalam benaknya. Dia merasa bersalah dan menyalahkan takdir yang membuat dirinya selalu kehilangan orang-orang terdekatnya, mulai dari orang tuanya, semua orang di desanya, kakek angkatnya, guru yang tidak sengaja dia temui di hutan, juga Dewa Petir, guru yang menemani serta menjaganya semenjak masih kecil sampai sekarang.
Candaan dan keusilan Dewa Petir yang dulu membuatnya jengkel kini menjadi kenangan indah, tanpa Dewa Petir mungkin Arya tidak akan bisa menjadi sekarang. Tanpa Dewa Petir, hidupnya dulu pasti akan sangat terasa kosong karena tidak punya teman, tidak ada orang yang membuatnya tertawa dan jengkel.
"Selamat jalan Guru, aku berjanji akan membawamu kembali." Arya membatin sambil menyeka air matanya.
"Kenapa kau menangis, teman." Ucapan Wukong sontak membuat Arya menoleh.
"Kau juga menangis monyet batu.." Balas Arya sambil menunjuk mata Wukong.
"Hahaha..."
Melihat Wukong tertawa, Arya sedikit terhibur dan ikutan tertawa.
"Kenapa kau tertawa?"
"Monyet sialan, kau sendiri juga kenapa tertawa."
"Hahaha... Hidup tidak perlu terlalu serius, jalani kehidupan dengan tertawa. Maka hidupmu akan penuh warna." Tukas Wukong mengedipkan matanya berulang kali.
"Woi monyet, kenapa dengan matamu. Apa matamu kemasukkan semut." Arya tersenyum mengejek.
"Tunggu, sepertinya aku mengingat sesuatu." Wukong mengelus pipinya. "Oh iya, bukankah perkataan itu juga pernah aku katakan waktu pertama kali bertemu denganmu. Kenapa kau meniruku.."
"Siapa juga yang mau meniru monyet jelek dan nakal sepertimu." Arya menjulurkan lidahnya.
Setelah semua urusan di alam Dewa selesai, Arya kemudian di antar Wukong ke dimensi hutan Hei'an. Sebelum pergi Wukong mengatakan akan selalu siap membantu jika di butuhkan. Arya mengangguk senang, meski hatinya masih merasakan kehilangan atas kepergian Dewa Petir, namun setidaknya sekarang dia mendapatkan teman baru, walaupun ia sedikit somplak juga usil.
Dan mengenai Pegasus, Arya tidak bisa membawanya sebab kuda bersayap itu memilih di alam Dewa untuk sementara waktu. Jika sudah siap dan semua urusannya selesai, Pegasus berjanji akan menemui pemuda itu.
Arya mengerutkan kening ketika mendapati kondisi Liu Wei dan Huang She, dia menggaruk kepalanya dan lalu bergumam pelan. "Maafkan aku karena begitu lama meninggalkan kalian."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 173 Episodes
Comments
Harman LokeST
cepat kembali Li Tian
2024-02-29
2
Rusliza Deraman
betul tu..dua2 cewek ni..d matikan watak nye hahahaha
2023-05-12
0
Teddy
,,
2022-10-17
0