"Woiii Fang Wu, kenapa kau diam saja di sana." Seru Zang Lu yang geram melihat temannya itu terus berdiam diri di belakang para pendekar yang sedang kewalahan melawan serbuan para mayat hidup.
Melihat Fang Wu mematung dan tidak membalas perkataannya, Zang Lu melompat mundur ke tempat temannya itu.
"Woii... Woii... Wooiii.." Kesal seruannya tidak di dengar, Zang Lu berteriak tepat di telinga Fang Wu.
Karena begitu terkejut, Fang Wu melompat mundur dan terjengkang terduduk di tanah. Dia mengelus-elus dadanya yang jantungnya serasa mau copot.
"Apa masalahmu? Kau hampir membunuhku.." Geram Fang Wu dengan muka tersungut marah.
"Membunuhmu? Justru kaulah yang ingin membunuh teman-temanmu. Kenapa diam saja dan tidak membantu." Ketus Zang Lu.
"Bukankah kau tahu jika aku takut dengan makhluk seperti mereka." Balas Fang Wu dengan menundukkan kepala.
"Hahaha... Pendekar macam apa kau ini." Zang Lu tertawa mengejek dan lalu menampar kepala Fang Wu.
"Lihatlah, semua orang sedang berjuang. Untuk apa kau menjadi Pendekar jika menghadapi seonggok mayat saja kau takut. Apa kau tidak malu pada saudari Qin." Cibir Zang Lu.
"Semua orang memiliki ketakutan masing-masing, dan ketakutanku adalah makhluk setan seperti mereka." Fang Wu berkata dingin.
Zang Lu tersenyum. "Memang setiap orang memiliki ketakutan, tapi ketakutan bukanlah alasan untuk kau berhenti dan tidak melangkah maju. Hadapilah ketakutan sebagai tantangan, merekalah yang akan membuatmu semakin berkembang." Zang Lu berkata dengan nada bicara seperti orang bijak.
"Kau..." Mata Fang Wu mendelik, dia seakan tidak percaya orang yang mengatakan kata-kata bijak itu adalah sahabatnya yang menurutnya konyol.
"Lekaslah bangun! Mari kita hadapi mereka bersama, aku akan menjaga dan membantumu melawan rasa takutmu." Zang Lu mengulurkan tangannya pada Fang Wu yang terduduk di tanah.
Fang Wu meraih tangan Zang Lu dan berdiri. Dia mengeratkan rahangnya, berusaha menekan rasa takutnya. Dengan menarik nafas dalam-dalam, Fang Wu berkelebat menyambut pasukan mayat hidup yang bertarung dengan teman-teman Sektenya.
"Dasar buaya, urusan wanita saja nomor satu tapi menghadapi mayat saja takut. Bodoh." Cetus Zang Lu tersenyum tipis, diapun lalu berkelebat menyusul sahabatnya itu.
Kilatan-kilatan cahaya saling berpendar mewarnai pertempuran di malam yang menjelang pagi. Sebagian tetua melancarkan serangan jarak jauh melalui udara, sementara ratusan pendekar serta prajurit menyerang dari jarak dekat. Dentingan senjata maupun ledakan energi tidak henti-hentinya bergemuruh di lokasi pertempuran. Tapi untungnya sampai detik ini pasukan mayat hidup belum bisa menembus perisai pelindung yang membatasi akses menuju Markas Lembah Petir.
Informasi yang berhasil di dapatkan Qin Ling mengenai kelemahan mayat hidup dengan cepat menyebar dan hampir di ketahui oleh semua Pendekar serta prajurit yang berjuang.
Dengan memanfaatkan kelemahan mayat hidup tersebut, kini area pertempuran di penuhi bangkai dan kerangka tulang yang berserakan dimana-mana, menimbulkan bau busuk yang teramat dan rasa jijik yang membuat perut mual. Tidak sedikit Pendekar yang mual-mual dan kehilangan konsentrasi dalam pertarungan. Dan itulah yang menyebabkan banyaknya korban luka-luka dan korban jiwa dari pihak Aliansi Pendekar Surgawi.
Memahami situasi yang terjadi, para tetua dan panglima yang memimpin anggotanya dengan segera memberikan arahan agar menggunakan teknik yang mengandalkan elemen api, di maksudkan untuk membakar semua bangkai agar tidak menimbulkan wabah penyakit dan polusi udara.
Regu pemanah di tugaskan untuk membakar mayat hidup yang berhasil di kalahkan dengan menggunakan anak panah api, sementara pasukan maupun pendekar yang tidak memiliki kemampuan elemen api mengakali hal itu dengan bertarung sambil membawa obor.
Api merambat membakar Padang ilalang membuat kobaran api dengan cepat meluas dan membumbung tinggi, namun semua itu tidak menghentikan langkah pasukan mayat hidup. Para mayat hidup tetap berjalan menerobos kobaran api, meski tubuh pasukan mayat hidup kini terbakar tetapi mereka tetap merangsek dan menyerang para Pendekar serta para prajurit yang ada dihadapan mereka.
Melihat cahaya kemerahan dan asap hitam yang mengepul di langit, Griffinhan dan Wouven segera terbang ke tempat kejadian. Sesampainya disana, mereka langsung membantu Aliansi Pendekar Surgawi menghadapi ribuan pasukan mayat hidup.
Banyak yang bertanya-tanya siapa pemilik dua siluman burung tersebut, mereka yang melihat aksi Griffinhan dan Wouven tidak bisa untuk tidak merasa takjub. Kedua binatang peliharaan Arya tersebut bergerak cepat dan dalam satu serangan saja dapat melenyapkan puluhan mayat hidup.
Tak pelak, kemunculan Griffinhan dan Wouven menjadi angin segar bagi mereka yang sebelumnya patah semangat dan frustasi. Mereka yang terluka kembali bersemangat dan ingin secepatnya terjun ke medan pertempuran, namun tentu saja niat mereka langsung di cegah oleh para perawat yang merawat luka-luka mereka.
Melihat Padang ilalang yang terbakar, Griffinhan dan Wouven teringat dengan Arya. Dimana pemuda itu sangat menyayangi dan menjaga kelestarian alam, bahkan saat bertarung pun pemuda itu masih sempat-sempatnya memikirkan kerusakan yang akan ditimbulkan. Pemuda itu juga kadang tidak segan meluangkan waktunya menanam benih untuk menggantikan pohon yang tumbang.
Griffinhan nampak sedang mengumpulkan sebagian besar energinya, dia lantas mengibaskan sayapnya dengan kuat.
Wuuuusssshh...
Deruan angin yang sangat kencang seketika memadamkan api yang merambat hampir membakar hutan. Para mayat hidup yang berada dalam jangkauan terpaan angin, di buat terhempas jauh menabrak para mayat hidup yang berada di belakang.
Di sisi lain, Wouven juga melakukan hal yang serupa namun dengan menggunakan teknik petir. Kilatan petir besar membuat tanah berlubang luas dan dalam, dari gelombang kejutnya membuat para mayat hidup seketika hancur, sementara api yang membakar padang ilalang seketika juga padam.
Semua mata yang menyaksikan hal itu terbelalak tidak percaya, sebagian bahkan ada yang bernafsu ingin menjadikan kedua burung itu peliharaan. Menyaksikan kekuatan kedua siluman itu, mereka menebak jika kedua burung tersebut telah mencapai tahap Pendekar Suci.
"Pemilik kedua siluman burung itu pastilah Pendekar yang hebat." Celetuk salah seorang Pendekar yang sedang dirawat.
"Aku pernah melihat mereka berada di Markas Lembah Petir, mungkin kedua burung itu milik Patriark mereka." Sahut Pendekar yang di rawat disebelahnya.
"Menarik.." Gumam Ye Han tetua Sekte Ombak Karang. Seseorang yang pernah menantang Arya ketika di dalam pertemuan Aliansi Pendekar Surgawi.
"Urungkan niatmu itu tetua, kedua burung itu Kultivasinya jauh di atasmu." Sergah salah satu tetua Sekte Ombak Karang yang terbang di samping Ye Han.
"Selama mereka tidak memiliki tuan, kenapa tidak boleh?"
"Pikirkan baik-baik, kenapa dua burung itu datang membantu jika mereka tidak memiliki tuan? Mungkin mereka adalah peliharaan Patriark salah satu Sekte."
Ye Han baru menyadari hal itu, dia tersenyum kecut namun nafsu ingin mendapatkan Griffinhan dan Wouven sudah menghilangkan akal jernihnya. "Bagaimanapun caranya kedua burung itu harus menjadi milikku." Ye Han membatin sambil menatap Griffinhan dan Wouven dengan tatapan penuh serakah.
****
Sementara itu di tenda Kekaisaran Ming, dua panglima berjaga di depan ruangan Putri Ming Yu Hua, sebagaimana perintah dari Jenderal Qian Tangjiang. Salah satu dari mereka membicarakan mengenai perubahan sikap dan kondisi Sang Putri setelah bertemu dengan pemuda yang bernama Li Xian.
"Benarkah? Bagaimana mungkin tuan putri bisa sembuh secepat itu. Siapa sebenarnya pemuda itu?" Panglima Long Hu terperanjat, matanya sedikit melebar ketika mendengar informasi dari panglima Ling Tian.
Meski yang di dengarnya adalah kabar gembira, namun Panglima Long Hu masih tidak dapat mempercayai kabar tersebut, walaupun yang menyampaikannya adalah panglima Ling Tian sendiri, seseorang yang terkenal kejujurannya.
Selain ahli beladiri, Panglima Long Hu juga adalah seorang Alkemis, jadi dia sangat tahu bagaimana kondisi tubuh Putri Ming Yu Hua.
Sampai sekarang panglima Long Hu masih ingat fenomena kelahiran Putri Ming Yu Hua yang membuat geger seantero negeri. Sebagian penduduk menganggap fenomena yang terjadi pada saat kelahiran Putri Ming Yu Hua adalah berkah, namun mayoritas menganggap kelahiran Sang Putri adalah bencana.
Fenomena kelahiran Putri Ming Yu Hua memang memakan banyak korban nyawa, dimana pada saat itu terjadi gempa dan badai petir yang berkepanjangan, di barengi juga dengan suara raungan keras di langit selama 7 hari di setiap malamnya. Namun setelah badai dan gempa mereda, tanah di seluruh wilayah Kekaisaran Ming menjadi subur. Beberapa tanah yang berlubang akibat sambaran petir di temukan banyak menyimpan emas dan permata.
Hidup rakyat menjadi makmur, ditambah lagi kekacauan akibat konflik antar sekte juga mereda. Angka kejahatan dan kemiskinan terus berkurang. Namun hal itu tidak bertahan lama, beberapa tahun kemudian, bersamaan dengan suburnya tanah sehingga hasil sumberdaya melimpah membuat manusia menjadi serakah, saling memperbutkan harta dan kekuasaan. Puncaknya adalah pertarungan antara Aliansi Pendekar Surgawi dengan Aliansi aliran hitam pendekar cobra.
"Setelah bertanya pada jenderal, ternyata dialah pemuda yang dijuluki Tabib Xian. Entahlah apa yang dilakukan pemuda itu, namun yang pasti tuan putri memang benar-benar telah sembuh." Jawab Panglima Ling Tian meyakinkan.
Panglima Long Hu hanya manggut-manggut, dia ingin memastikannya sendiri, namun sang putri sampai saat ini tidak pernah keluar ruangan. Membuat panglima Long Hu hanya bisa memendam rasa penasarannya.
Menyadari panglima Long Hu begitu penasaran, panglima Ling Tian lantas mengalihkan topik pembicaraan dengan membahas mengenai serangan dari pasukan mayat hidup.
Di dalam ruangan, terlihat Putri Ming Yu Hua duduk meringkuk di atas kasur dengan wajah yang di benamkan di kedua lututnya. Gadis itu sepanjang hari terus meratapi nasib, dia menyalahkan dirinya sendiri yang terlahir sebagai reinkarnasi Qinqin. Putri Ming Yu Hua berfikir jika saja dia bukan reinkarnasi kekasih Arya di masalalu, mungkin saja dia masih memiliki kesempatan untuk terus berada dekat dengan pemuda itu.
Kesembuhan yang dia damba-dambakan selama ini, kini malah terasa hambar karena pemuda pertama yang dia cintai memutuskan hubungan dengannya.
Jika bisa memilih, Putri Ming Yu akan lebih memilih tetap menderita penyakit dan harus mati 2 tahun lagi, jika hal itu bisa membuatnya terus berada dekat dengan Arya.
Rasa cinta yang tumbuh di hatinya bukan karena kenangan masalalu yang di bawa Qinqin ke dalam ingatannya, namun cinta itu tumbuh dengan sendirinya ketika melihat kebaikan budi, kejujuran serta sikap kesatria pemuda itu.
Awalnya Putri Ming Yu Hua sangat marah karena mengira Arya telah merenggut kesuciannya, namun ketika Qinqin mengatakan kejadian yang sebenarnya dan melihat kebaikan Arya, dia menjadi tertarik pada pemuda itu. Diapun kemudian memutuskan akan mengikuti pemuda itu kemanapun. Namun kini dia tidak bisa lagi memaksakan egonya, karena bagaimanapun cinta memang tidak bisa di paksakan.
"Ini semua salahmu Qinqin, kenapa aku yang harus menanggung derita seperti ini." Air mata Putri Ming Yu Hua kembali mengucur dari matanya yang sembab karena terlalu lama menangis.
*****
Kembali ke pertempuran.
Kehadiran Griffinhan dan Wouven dapat membalikkan keadaan, kini hampir separuh dari pasukan mayat hidup telah berhasil di kalahkan. Namun meski begitu jumlah mereka masihlah terlalu banyak, membuat para pendekar yang sempat mendapatkan harapan terpaksa kembali menelan kekecewaan. Semangat tempur mereka memanglah masih membara tapi energi serta kondisi fisik mereka sudah mencapai batasnya.
Meski telah menerapkan strategi tempur secara bergantian, dimana setiap genderang di bunyikan para pendekar serta prajurit yang bertempur akan di istirahatkan dan di gantikan yang lainnya. Namun waktu istirahat mereka tidaklah cukup untuk memulihkan kondisi, energi serta menyembuhkan luka-luka yang di dera.
Tidak ada pilihan lain, para pendekar serta prajurit kembali menyerang menggunakan api. Regu pemanah juga kembali menghujani anak panah api ke arah ribuan pasukan mayat hidup yang sama sekali tidak terlihat kelelahan.
Kini setiap kali api semakin membesar membakar ilalang, para pendekar pengendali air dan tanah langsung memadamkannya, dengan cara menyiramkan elemen air ataupun dengan membuat lobang tanah di titik api berada dan kembali menguburnya.
Pada satu kejadian dimana beberapa mayat hidup tidak sengaja terjatuh ke dalam lubang tanah yang diciptakan para pendekar, mereka mendapatkan satu lagi kelemahan mayat hidup. Yaitu para mayat hidup yang terkubur tidak dapat lagi muncul ke permukaan.
Mengetahui hal itu, Zang Lu dan Fang Wu yang nampak kelelahan seketika seolah mendapatkan suntikan semangat baru. Keahlian kedua pemuda itu memanglah di bidang pengendalian elemen tanah, maka dengan itu mereka tidak akan lagi kerepotan menghadapi kepungan mayat hidup.
Hari sudah menjelang siang, para mayat hidup terus menyerang, sinar matahari nyatanya bukan kelemahan mereka, namun meski begitu kekuatan para mayat hidup mengalami penurunan jika di siang hari, sebaliknya dimalam hari mereka akan bertambah kuat dan beringas.
Ketika kondisi semua Pendekar dan prajurit semakin melemah, dari belakang terlihat ratusan pendekar muncul dari dalam hutan.
"Akhirnya bantuan datang..." Ucap Qin Ling lirih, wajah gadis itu nampak begitu lelah dan lusuh, banyak debu serta coretan hitam akibat kebakaran ilalang memenuhi pakaian serta kulitnya yang putih. Membuat penampilan gadis itu seperti gembel, namun meski begitu tidak menutupi esensi kecantikannya yang alami.
Kelebatan ratusan pendekar menyambut para mayat hidup, mengantikan pendekar dan prajurit yang sejak semalam berjuang di medan pertempuran.
"Kalian istirahatlah, mulai dari sekarang kami yang akan ambil alih." Seru seseorang yang melayang di angkasa. Dia adalah Patriark Gu Ta Sian.
Semua Pendekar dan prajurit yang pakaiannya telah mengalami kerusakan, kulitnya yang penuh bekas arang kebakaran, serta yang mendapatkan luka segera mundur dari medan pertempuran.
Baru saja bantuan datang, terlihat dari arah barat dan timur muncul segerombolan orang dari dalam hutan.
Melihat hal itu, semua prajurit dan orang-orang Aliansi Pendekar Surgawi tersenyum lega. Sebab segerombolan orang yang datang dari dalam hutan tersebut adalah anggota aliansi Pendekar Surgawi yang baru datang dari Sekte dan puluhan prajurit dari kerajaan.
Seluruh Anggota Sekte Bunga Sakura nampak terperangah tidak percaya dengan pemandangan yang mereka lihat. Awalnya mereka mengira jika yang melakukan penyerangan ke Sekte Lembah Petir adalah Pendekar dari aliran hitam. Namun kenyataan yang mereka lihat saat ini sangatlah di luar dugaan, dimana bukan Pendekar aliran hitam yang menyerang namun justru ribuan mayat hidup.
"Apakah semua ini nyata ataukah ilusi." Celetuk salah seorang anggota Sekte Bunga Sakura sambil mengucek matanya untuk memastikan jika dirinya tidaklah salah melihat.
"Mereka memang mayat hidup! Entah siapa di balik penyerangan ini. Tapi sebaiknya kita cepat membantu mereka." Tukas tetua Sekte Bunga Sakura. Wanita bergaun putih dengan lambang bunga sakura di punggung, segera terbang ke pusat pertempuran yang berlangsung.
"Bagaimana ini? Nasib sial apa yang menimpaku sampai harus menghadapi makhluk menjijikkan itu." Gerutu salah seorang gadis anggota Sekte Bunga Sakura.
"Jangan mengeluh! Kita semua adalah murid-murid terbaik... siapapun lawannya, kita tidak boleh takut." Seru seorang pria berkumis tipis karena melihat adanya keraguan serta ketakutan di mata teman-temannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 173 Episodes
Comments
Harman LokeST
seeeeeeeeeeeeeeemmmaaaaaaaaaannngggaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaTtttttttttttttttttt teeeeeeeeerrrrrrrrrrruuuuuuuussssss
2024-02-29
2
Harman LokeST
baaaaaaaaannnntttttttaaaaaaaaaiiiiiiiiiiii ssssseeeeeeeeeeeemmmmuuuuuuaaanyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa jangan beri ampun
2022-06-17
0
Iing Nasikhin
arya. masih ngrumpi, sama, wukong
2022-05-07
1