Bantuan Tiba

"Woiii Fang Wu, kenapa kau diam saja di sana." Seru Zang Lu yang geram melihat temannya itu terus berdiam diri di belakang para pendekar yang sedang kewalahan melawan serbuan para mayat hidup.

Melihat Fang Wu mematung dan tidak membalas perkataannya, Zang Lu melompat mundur ke tempat temannya itu.

"Woii... Woii... Wooiii.." Kesal seruannya tidak di dengar, Zang Lu berteriak tepat di telinga Fang Wu.

Karena begitu terkejut, Fang Wu melompat mundur dan terjengkang terduduk di tanah. Dia mengelus-elus dadanya yang jantungnya serasa mau copot.

"Apa masalahmu? Kau hampir membunuhku.." Geram Fang Wu dengan muka tersungut marah.

"Membunuhmu? Justru kaulah yang ingin membunuh teman-temanmu. Kenapa diam saja dan tidak membantu." Ketus Zang Lu.

"Bukankah kau tahu jika aku takut dengan makhluk seperti mereka." Balas Fang Wu dengan menundukkan kepala.

"Hahaha... Pendekar macam apa kau ini." Zang Lu tertawa mengejek dan lalu menampar kepala Fang Wu.

"Lihatlah, semua orang sedang berjuang. Untuk apa kau menjadi Pendekar jika menghadapi seonggok mayat saja kau takut. Apa kau tidak malu pada saudari Qin." Cibir Zang Lu.

"Semua orang memiliki ketakutan masing-masing, dan ketakutanku adalah makhluk setan seperti mereka." Fang Wu berkata dingin.

Zang Lu tersenyum. "Memang setiap orang memiliki ketakutan, tapi ketakutan bukanlah alasan untuk kau berhenti dan tidak melangkah maju. Hadapilah ketakutan sebagai tantangan, merekalah yang akan membuatmu semakin berkembang." Zang Lu berkata dengan nada bicara seperti orang bijak.

"Kau..." Mata Fang Wu mendelik, dia seakan tidak percaya orang yang mengatakan kata-kata bijak itu adalah sahabatnya yang menurutnya konyol.

"Lekaslah bangun! Mari kita hadapi mereka bersama, aku akan menjaga dan membantumu melawan rasa takutmu." Zang Lu mengulurkan tangannya pada Fang Wu yang terduduk di tanah.

Fang Wu meraih tangan Zang Lu dan berdiri. Dia mengeratkan rahangnya, berusaha menekan rasa takutnya. Dengan menarik nafas dalam-dalam, Fang Wu berkelebat menyambut pasukan mayat hidup yang bertarung dengan teman-teman Sektenya.

"Dasar buaya, urusan wanita saja nomor satu tapi menghadapi mayat saja takut. Bodoh." Cetus Zang Lu tersenyum tipis, diapun lalu berkelebat menyusul sahabatnya itu.

Kilatan-kilatan cahaya saling berpendar mewarnai pertempuran di malam yang menjelang pagi. Sebagian tetua melancarkan serangan jarak jauh melalui udara, sementara ratusan pendekar serta prajurit menyerang dari jarak dekat. Dentingan senjata maupun ledakan energi tidak henti-hentinya bergemuruh di lokasi pertempuran. Tapi untungnya sampai detik ini pasukan mayat hidup belum bisa menembus perisai pelindung yang membatasi akses menuju Markas Lembah Petir.

Informasi yang berhasil di dapatkan Qin Ling mengenai kelemahan mayat hidup dengan cepat menyebar dan hampir di ketahui oleh semua Pendekar serta prajurit yang berjuang. 

Dengan memanfaatkan kelemahan mayat hidup tersebut, kini area pertempuran di penuhi bangkai dan kerangka tulang yang berserakan dimana-mana, menimbulkan bau busuk yang teramat dan rasa jijik yang membuat perut mual. Tidak sedikit Pendekar yang mual-mual dan kehilangan konsentrasi dalam pertarungan. Dan itulah yang menyebabkan banyaknya korban luka-luka dan korban jiwa dari pihak Aliansi Pendekar Surgawi.

Memahami situasi yang terjadi, para tetua dan panglima yang memimpin anggotanya dengan segera memberikan arahan agar menggunakan teknik yang mengandalkan elemen api, di maksudkan untuk membakar semua bangkai agar tidak menimbulkan wabah penyakit dan polusi udara.

Regu pemanah di tugaskan untuk membakar mayat hidup yang berhasil di kalahkan dengan menggunakan anak panah api, sementara pasukan maupun pendekar yang tidak memiliki kemampuan elemen api mengakali hal itu dengan bertarung sambil membawa obor.

Api merambat membakar Padang ilalang membuat kobaran api dengan cepat meluas dan membumbung tinggi, namun semua itu tidak menghentikan langkah pasukan mayat hidup. Para mayat hidup tetap berjalan menerobos kobaran api, meski tubuh pasukan mayat hidup kini terbakar tetapi mereka tetap merangsek dan menyerang para Pendekar serta para prajurit yang ada dihadapan mereka.

Melihat cahaya kemerahan dan asap hitam yang mengepul di langit, Griffinhan dan Wouven segera terbang ke tempat kejadian. Sesampainya disana, mereka langsung membantu Aliansi Pendekar Surgawi menghadapi ribuan pasukan mayat hidup.

Banyak yang bertanya-tanya siapa pemilik dua siluman burung tersebut, mereka yang melihat aksi Griffinhan dan Wouven tidak bisa untuk tidak merasa takjub. Kedua binatang peliharaan Arya tersebut bergerak cepat dan dalam satu serangan saja dapat melenyapkan puluhan mayat hidup.

Tak pelak, kemunculan Griffinhan dan Wouven menjadi angin segar bagi mereka yang sebelumnya patah semangat dan frustasi. Mereka yang terluka kembali bersemangat dan ingin secepatnya terjun ke medan pertempuran, namun tentu saja niat mereka langsung di cegah oleh para perawat yang merawat luka-luka mereka.

Melihat Padang ilalang yang terbakar, Griffinhan dan Wouven teringat dengan Arya. Dimana pemuda itu sangat menyayangi dan menjaga kelestarian alam, bahkan saat bertarung pun pemuda itu masih sempat-sempatnya memikirkan kerusakan yang akan ditimbulkan. Pemuda itu juga kadang tidak segan meluangkan waktunya menanam benih untuk menggantikan pohon yang tumbang.

Griffinhan nampak sedang mengumpulkan sebagian besar energinya, dia lantas mengibaskan sayapnya dengan kuat.

Wuuuusssshh...

Deruan angin yang sangat kencang seketika memadamkan api yang merambat hampir membakar hutan. Para mayat hidup yang berada dalam jangkauan terpaan angin, di buat terhempas jauh menabrak para mayat hidup yang berada di belakang.

Di sisi lain, Wouven juga melakukan hal yang serupa namun dengan menggunakan teknik petir. Kilatan petir besar membuat tanah berlubang luas dan dalam, dari gelombang kejutnya membuat para mayat hidup seketika hancur, sementara api yang membakar padang ilalang seketika juga padam.

Semua mata yang menyaksikan hal itu terbelalak tidak percaya, sebagian bahkan ada yang bernafsu ingin menjadikan kedua burung itu peliharaan. Menyaksikan kekuatan kedua siluman itu, mereka menebak jika kedua burung tersebut telah mencapai tahap Pendekar Suci.

"Pemilik kedua siluman burung itu pastilah Pendekar yang hebat." Celetuk salah seorang Pendekar yang sedang dirawat.

"Aku pernah melihat mereka berada di Markas Lembah Petir, mungkin kedua burung itu milik Patriark mereka." Sahut Pendekar yang di rawat disebelahnya.

"Menarik.." Gumam Ye Han tetua Sekte Ombak Karang. Seseorang yang pernah menantang Arya ketika di dalam pertemuan Aliansi Pendekar Surgawi.

"Urungkan niatmu itu tetua, kedua burung itu Kultivasinya jauh di atasmu." Sergah salah satu tetua Sekte Ombak Karang yang terbang di samping Ye Han.

"Selama mereka tidak memiliki tuan, kenapa tidak boleh?"

"Pikirkan baik-baik, kenapa dua burung itu datang membantu jika mereka tidak memiliki tuan? Mungkin mereka adalah peliharaan Patriark salah satu Sekte."

Ye Han baru menyadari hal itu, dia tersenyum kecut namun nafsu ingin mendapatkan Griffinhan dan Wouven sudah menghilangkan akal jernihnya. "Bagaimanapun caranya kedua burung itu harus menjadi milikku." Ye Han membatin sambil menatap Griffinhan dan Wouven dengan tatapan penuh serakah.

****

Sementara itu di tenda Kekaisaran Ming, dua panglima berjaga di depan ruangan Putri Ming Yu Hua, sebagaimana perintah dari Jenderal Qian Tangjiang. Salah satu dari mereka membicarakan mengenai perubahan sikap dan kondisi Sang Putri setelah bertemu dengan pemuda yang bernama Li Xian.

"Benarkah? Bagaimana mungkin tuan putri bisa sembuh secepat itu. Siapa sebenarnya pemuda itu?" Panglima Long Hu terperanjat, matanya sedikit melebar ketika mendengar informasi dari panglima Ling Tian.

Meski yang di dengarnya adalah kabar gembira, namun Panglima Long Hu masih tidak dapat mempercayai kabar tersebut, walaupun yang menyampaikannya adalah panglima Ling Tian sendiri, seseorang yang terkenal kejujurannya.

Selain ahli beladiri, Panglima Long Hu juga adalah seorang Alkemis, jadi dia sangat tahu bagaimana kondisi tubuh Putri Ming Yu Hua.

Sampai sekarang panglima Long Hu masih ingat fenomena kelahiran Putri Ming Yu Hua yang membuat geger seantero negeri. Sebagian penduduk menganggap fenomena yang terjadi pada saat kelahiran Putri Ming Yu Hua adalah berkah, namun mayoritas menganggap kelahiran Sang Putri adalah bencana.

Fenomena kelahiran Putri Ming Yu Hua memang memakan banyak korban nyawa, dimana pada saat itu terjadi gempa dan badai petir yang berkepanjangan, di barengi juga dengan suara raungan keras di langit selama 7 hari di setiap malamnya. Namun setelah badai dan gempa mereda, tanah di seluruh wilayah Kekaisaran Ming menjadi subur. Beberapa tanah yang berlubang akibat sambaran petir di temukan banyak menyimpan emas dan permata.

Hidup rakyat menjadi makmur, ditambah lagi kekacauan akibat konflik antar sekte juga mereda. Angka kejahatan dan kemiskinan terus berkurang. Namun hal itu tidak bertahan lama, beberapa tahun kemudian, bersamaan dengan suburnya tanah sehingga hasil sumberdaya melimpah membuat manusia menjadi serakah, saling memperbutkan harta dan kekuasaan. Puncaknya adalah pertarungan antara Aliansi Pendekar Surgawi dengan Aliansi aliran hitam pendekar cobra.

"Setelah bertanya pada jenderal, ternyata dialah pemuda yang dijuluki Tabib Xian. Entahlah apa yang dilakukan pemuda itu, namun yang pasti tuan putri memang benar-benar telah sembuh." Jawab Panglima Ling Tian meyakinkan.

Panglima Long Hu hanya manggut-manggut, dia ingin memastikannya sendiri, namun sang putri sampai saat ini tidak pernah keluar ruangan. Membuat panglima Long Hu hanya bisa memendam rasa penasarannya.

Menyadari panglima Long Hu begitu penasaran, panglima Ling Tian lantas mengalihkan topik pembicaraan dengan membahas mengenai serangan dari pasukan mayat hidup.

Di dalam ruangan, terlihat Putri Ming Yu Hua duduk meringkuk di atas kasur dengan wajah yang di benamkan di kedua lututnya. Gadis itu sepanjang hari terus meratapi nasib, dia menyalahkan dirinya sendiri yang terlahir sebagai reinkarnasi Qinqin. Putri Ming Yu Hua berfikir jika saja dia bukan reinkarnasi kekasih Arya di masalalu, mungkin saja dia masih memiliki kesempatan untuk terus berada dekat dengan pemuda itu.

Kesembuhan yang dia damba-dambakan selama ini, kini malah terasa hambar karena pemuda pertama yang dia cintai memutuskan hubungan dengannya. 

Jika bisa memilih, Putri Ming Yu akan lebih memilih tetap menderita penyakit dan harus mati 2 tahun lagi, jika hal itu bisa membuatnya terus berada dekat dengan Arya.

Rasa cinta yang tumbuh di hatinya bukan karena kenangan masalalu yang di bawa Qinqin ke dalam ingatannya, namun cinta itu tumbuh dengan sendirinya ketika melihat kebaikan budi, kejujuran serta sikap kesatria pemuda itu.

Awalnya Putri Ming Yu Hua sangat marah karena mengira Arya telah merenggut kesuciannya, namun ketika Qinqin mengatakan kejadian yang sebenarnya dan melihat kebaikan Arya, dia menjadi tertarik pada pemuda itu. Diapun kemudian memutuskan akan mengikuti pemuda itu kemanapun. Namun kini dia tidak bisa lagi memaksakan egonya, karena bagaimanapun cinta memang tidak bisa di paksakan.

"Ini semua salahmu Qinqin, kenapa aku yang harus menanggung derita seperti ini." Air mata Putri Ming Yu Hua kembali mengucur dari matanya yang sembab karena terlalu lama menangis.

*****

Kembali ke pertempuran.

Kehadiran Griffinhan dan Wouven dapat membalikkan keadaan, kini hampir separuh dari pasukan mayat hidup telah berhasil di kalahkan. Namun meski begitu jumlah mereka masihlah terlalu banyak, membuat para pendekar yang sempat mendapatkan harapan terpaksa kembali menelan kekecewaan. Semangat tempur mereka memanglah masih membara tapi energi serta kondisi fisik mereka sudah mencapai batasnya.

Meski telah menerapkan strategi tempur secara bergantian, dimana setiap genderang di bunyikan para pendekar serta prajurit yang bertempur akan di istirahatkan dan di gantikan yang lainnya. Namun waktu istirahat mereka tidaklah cukup untuk memulihkan kondisi, energi serta menyembuhkan luka-luka yang di dera.

Tidak ada pilihan lain, para pendekar serta prajurit kembali menyerang menggunakan api. Regu pemanah juga kembali menghujani anak panah api ke arah ribuan pasukan mayat hidup yang sama sekali tidak terlihat kelelahan.

Kini setiap kali api semakin membesar membakar ilalang, para pendekar pengendali air dan tanah langsung memadamkannya, dengan cara menyiramkan elemen air ataupun dengan membuat lobang tanah di titik api berada dan kembali menguburnya.

Pada satu kejadian dimana beberapa mayat hidup tidak sengaja terjatuh ke dalam lubang tanah yang diciptakan para pendekar, mereka mendapatkan satu lagi kelemahan mayat hidup. Yaitu para mayat hidup yang terkubur tidak dapat lagi muncul ke permukaan.

Mengetahui hal itu, Zang Lu dan Fang Wu yang nampak kelelahan seketika seolah mendapatkan suntikan semangat baru. Keahlian kedua pemuda itu memanglah di bidang pengendalian elemen tanah, maka dengan itu mereka tidak akan lagi kerepotan menghadapi kepungan mayat hidup.

Hari sudah menjelang siang, para mayat hidup terus menyerang, sinar matahari nyatanya bukan kelemahan mereka, namun meski begitu kekuatan para mayat hidup mengalami penurunan jika di siang hari, sebaliknya dimalam hari mereka akan bertambah kuat dan beringas.

Ketika kondisi semua Pendekar dan prajurit semakin melemah, dari belakang terlihat ratusan pendekar muncul dari dalam hutan.

"Akhirnya bantuan datang..." Ucap Qin Ling lirih, wajah gadis itu nampak begitu lelah dan lusuh, banyak debu serta coretan hitam akibat kebakaran ilalang memenuhi pakaian serta kulitnya yang putih. Membuat penampilan gadis itu seperti gembel, namun meski begitu tidak menutupi esensi kecantikannya yang alami.

Kelebatan ratusan pendekar menyambut para mayat hidup, mengantikan pendekar dan prajurit yang sejak semalam berjuang di medan pertempuran.

"Kalian istirahatlah, mulai dari sekarang kami yang akan ambil alih." Seru seseorang yang melayang di angkasa. Dia adalah Patriark Gu Ta Sian.

Semua Pendekar dan prajurit yang pakaiannya telah mengalami kerusakan, kulitnya yang penuh bekas arang kebakaran, serta yang mendapatkan luka segera mundur dari medan pertempuran.

Baru saja bantuan datang, terlihat dari arah barat dan timur muncul segerombolan orang dari dalam hutan.

Melihat hal itu, semua prajurit dan orang-orang Aliansi Pendekar Surgawi tersenyum lega. Sebab segerombolan orang yang datang dari dalam hutan tersebut adalah anggota aliansi Pendekar Surgawi yang baru datang dari Sekte dan puluhan prajurit dari kerajaan.

Seluruh Anggota Sekte Bunga Sakura nampak terperangah tidak percaya dengan pemandangan yang mereka lihat. Awalnya mereka mengira jika yang melakukan penyerangan ke Sekte Lembah Petir adalah Pendekar dari aliran hitam. Namun kenyataan yang mereka lihat saat ini sangatlah di luar dugaan, dimana bukan Pendekar aliran hitam yang menyerang namun justru ribuan mayat hidup.

"Apakah semua ini nyata ataukah ilusi." Celetuk salah seorang anggota Sekte Bunga Sakura sambil mengucek matanya untuk memastikan jika dirinya tidaklah salah melihat.

"Mereka memang mayat hidup! Entah siapa di balik penyerangan ini. Tapi sebaiknya kita cepat membantu mereka." Tukas tetua Sekte Bunga Sakura. Wanita bergaun putih dengan lambang bunga sakura di punggung, segera terbang ke pusat pertempuran yang berlangsung.

"Bagaimana ini? Nasib sial apa yang menimpaku sampai harus menghadapi makhluk menjijikkan itu." Gerutu salah seorang gadis anggota Sekte Bunga Sakura.

"Jangan mengeluh! Kita semua adalah murid-murid terbaik... siapapun lawannya, kita tidak boleh takut." Seru seorang pria berkumis tipis karena melihat adanya keraguan serta ketakutan di mata teman-temannya.

Terpopuler

Comments

Harman LokeST

Harman LokeST

seeeeeeeeeeeeeeemmmaaaaaaaaaannngggaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaTtttttttttttttttttt teeeeeeeeerrrrrrrrrrruuuuuuuussssss

2024-02-29

2

Harman LokeST

Harman LokeST

baaaaaaaaannnntttttttaaaaaaaaaiiiiiiiiiiii ssssseeeeeeeeeeeemmmmuuuuuuaaanyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa jangan beri ampun

2022-06-17

0

Iing Nasikhin

Iing Nasikhin

arya. masih ngrumpi, sama, wukong

2022-05-07

1

lihat semua
Episodes
1 Legenda Pusaka Matahari Penghancur
2 Tiba Di Sekte Lembah Petir
3 Bertemu Sang Paman
4 Rencana Penyerangan
5 Formasi Badai Petir
6 Pendekar Penyair
7 Membantu Putri Ming Yu Hua
8 Menyerap Energi Matahari
9 Amanat Dewa Petir
10 Kuda Bersayap
11 Serangan Mayat Hidup
12 Pertempuran
13 Berlatih Di Dimensi Cahaya Keabadian
14 Selamat Jalan Dewa Petir
15 Bantuan Tiba
16 Jebakan Leluhur
17 Tubuh Dewi Bulan
18 Memberikan Hukuman
19 Pedang Ilusi Penguasa Jiwa
20 Kembali
21 Kemunculan Dua Gadis Berpakaian Hitam
22 Arya Vs Tiga Tetua Iblis Berdarah
23 Membawa Tawanan
24 Keterkejutan Para Tetua
25 Rencana Arya
26 Menerima Tantangan
27 Menunjukkan Kemampuan
28 Ritual Persembahan
29 Ramuan Kejujuran
30 Tubuh Raja Kegelapan
31 Latih Tanding
32 Menghancurkan Pusaka Legenda
33 Sekte Yang Menghilang
34 Pengejaran Ke Daratan Utara
35 Asap Hijau Dari Pedang
36 Meningkatkan Kultivasi Paman
37 Zhiyuhan Pemuda Penyair
38 Makhluk Asap
39 Efek Kekuatan Raja Kegelapan
40 Membuka Gerbang
41 Saatnya Berpetualang
42 Amarah Sang Legenda Naga
43 Merubah Wujud
44 Nikmat Sesaat Derita Yang Bertubi-tubi
45 Tetua Muda
46 Menyelamatkan Anak Perempuan
47 Markas Bandit Taring Hitam
48 Tewasnya Wakil Ketua Bandit
49 Karma
50 Penyelamat Yang Di Nantikan
51 Bayangan Putih Dan Hitam
52 Sihir Hitam
53 Organisasi Yenmin
54 Air Suci Biarawati
55 Sosok Sebenarnya Biarawati
56 Gunung Phoenix
57 Pertapa Gila
58 Memberikan Tugas
59 Penjambret
60 Memenuhi Janji Nenek
61 Ujian Menjadi Prajurit
62 Kemunculan Panglima Kegelapan
63 Nasib Wanita Malang
64 Wabah Penyakit
65 Kericuhan Di Dalam Kedai
66 Awal Manis Berujung Kecewa
67 Menjalankan Rencana
68 Pertemuan Para Penyusup
69 Situasi Kerajaan
70 Rumah Seribu Bunga
71 Membeli Para Gadis
72 Memulai Pembersihan Kota
73 Kekacauan Di Dalam Kota
74 Duel Sengit
75 Pertarungan Di Dalam Kerajaan
76 Keputusasaan Para Penduduk
77 Transformasi
78 Penyerangan Dimulai
79 Jenderal Sun Jian Vs Demiao
80 Portal Dimensi
81 Rasa Bersalah
82 Mengirim Bantuan Ke Kerajaan Goading
83 Munculnya Pendekar Khusus
84 Membantu Pertempuran Di Kerjaaan
85 Pendekar Khusus Dan Ke-empat Tetua Iblis Berdarah
86 Ratu Hewan Iblis
87 Kemunculan Yang Selalu Membuat Rusuh
88 Akhir Dari Ratu Hewan Iblis
89 Racun Penyerap Sukma
90 Bunga Anggrek Hantu
91 Bersulang
92 Pembasmian Di Kota Goading
93 Pembasmian Kota Goading II
94 Pembasmian Kota Goading III
95 Pembasmian Kota Goading IV
96 Pembasmian Kota Goading V
97 Akhir Dari Sang Panglima Hewan Iblis
98 Panglima Kegelapan
99 Kembali Ke Benua Timur
100 Tiga Dara Di Sungai
101 Hantu Kepala Buntung
102 Rasa Penasaran
103 Pencuri Kacang
104 Teknik Terlarang
105 Kematian Yang Di Janjikan
106 Situasi Di Dalam Kerajaan
107 Keseriusan Arya
108 Arya Vs Yeva
109 Arya Vs Yeva II
110 Arya Vs Yeva III
111 Akhir Pertarungan
112 Memberikan Penjelasan
113 Kondisi Raja Kegelapan
114 Mengangkat Saudara
115 Rasa Penasaran Jenderal Yong We
116 Pertemuan Di Bukit Cinta
117 Memberikan Bukti
118 Berujung Perkelahian
119 Pertarungan Sepanjang Malam
120 Undangan
121 Berlatih Kembali
122 Keanehan Arya
123 Kerajaan Danau Lembah Peri
124 Dibawa Menghadap Tuan Rumah
125 Kehidupan Bawah Danau
126 Bertemu Sang Ratu
127 Bentuk Bunga Yang Dicari
128 Mengambil Bunga Energi
129 Meninggalkan Kerajaan Danau Lembah Peri
130 Pil Bunga Anggrek Hantu
131 Mengobati Sang Raja
132 Pendekar Bunga Darah
133 Kembalinya Raja Kegelapan
134 Soal Asmara Terbawa Sampai Tua
135 Pertarungan Sepasang Kekasih Dimasa lalu
136 Nasib Nie Zha
137 Kejahilan Putri Zhou Jing Yi
138 Orang Terluka Di Tengah Hutan
139 Pasukan Pangeran Tong Shun
140 Ajakan Bergabung
141 Surat Cinta
142 Ditangkap
143 Ketegangan Yang Berlarut-larut
144 Lengan Api
145 Cerita Desa Huangpu
146 Tiga Pembawa Maut
147 Pertarungan Di Tepi Sungai
148 Dendam Seorang Anak
149 Mendapatkan Teman Perjalanan
150 Potongan Tangan
151 Pertunjukan Nie Zha
152 Pengintip
153 Cinta Bersemi Di Malam Purnama
154 Niat Terselubung
155 Membantu Penyatuan Energi
156 Manusia Iblis
157 Tekad Melawan Sampai Mati
158 Pangeran Istana Es
159 Menginterogasi
160 Mencari Goa Tengkorak
161 Terjebak
162 Salah Memilih Lawan
163 Lorong Rahasia
164 Pesta Gila
165 Kebebasan Sang Pangeran Es
166 Menyelamatkan Sandera
167 Siluman Penjaga
168 Kakek Malang
169 Si Tua Sadis
170 Pedang Es Abadi
171 Kembalinya Pedang Pusaran Angin
172 Tewasnya Lima Biksu Sesat
173 Pengumuman
Episodes

Updated 173 Episodes

1
Legenda Pusaka Matahari Penghancur
2
Tiba Di Sekte Lembah Petir
3
Bertemu Sang Paman
4
Rencana Penyerangan
5
Formasi Badai Petir
6
Pendekar Penyair
7
Membantu Putri Ming Yu Hua
8
Menyerap Energi Matahari
9
Amanat Dewa Petir
10
Kuda Bersayap
11
Serangan Mayat Hidup
12
Pertempuran
13
Berlatih Di Dimensi Cahaya Keabadian
14
Selamat Jalan Dewa Petir
15
Bantuan Tiba
16
Jebakan Leluhur
17
Tubuh Dewi Bulan
18
Memberikan Hukuman
19
Pedang Ilusi Penguasa Jiwa
20
Kembali
21
Kemunculan Dua Gadis Berpakaian Hitam
22
Arya Vs Tiga Tetua Iblis Berdarah
23
Membawa Tawanan
24
Keterkejutan Para Tetua
25
Rencana Arya
26
Menerima Tantangan
27
Menunjukkan Kemampuan
28
Ritual Persembahan
29
Ramuan Kejujuran
30
Tubuh Raja Kegelapan
31
Latih Tanding
32
Menghancurkan Pusaka Legenda
33
Sekte Yang Menghilang
34
Pengejaran Ke Daratan Utara
35
Asap Hijau Dari Pedang
36
Meningkatkan Kultivasi Paman
37
Zhiyuhan Pemuda Penyair
38
Makhluk Asap
39
Efek Kekuatan Raja Kegelapan
40
Membuka Gerbang
41
Saatnya Berpetualang
42
Amarah Sang Legenda Naga
43
Merubah Wujud
44
Nikmat Sesaat Derita Yang Bertubi-tubi
45
Tetua Muda
46
Menyelamatkan Anak Perempuan
47
Markas Bandit Taring Hitam
48
Tewasnya Wakil Ketua Bandit
49
Karma
50
Penyelamat Yang Di Nantikan
51
Bayangan Putih Dan Hitam
52
Sihir Hitam
53
Organisasi Yenmin
54
Air Suci Biarawati
55
Sosok Sebenarnya Biarawati
56
Gunung Phoenix
57
Pertapa Gila
58
Memberikan Tugas
59
Penjambret
60
Memenuhi Janji Nenek
61
Ujian Menjadi Prajurit
62
Kemunculan Panglima Kegelapan
63
Nasib Wanita Malang
64
Wabah Penyakit
65
Kericuhan Di Dalam Kedai
66
Awal Manis Berujung Kecewa
67
Menjalankan Rencana
68
Pertemuan Para Penyusup
69
Situasi Kerajaan
70
Rumah Seribu Bunga
71
Membeli Para Gadis
72
Memulai Pembersihan Kota
73
Kekacauan Di Dalam Kota
74
Duel Sengit
75
Pertarungan Di Dalam Kerajaan
76
Keputusasaan Para Penduduk
77
Transformasi
78
Penyerangan Dimulai
79
Jenderal Sun Jian Vs Demiao
80
Portal Dimensi
81
Rasa Bersalah
82
Mengirim Bantuan Ke Kerajaan Goading
83
Munculnya Pendekar Khusus
84
Membantu Pertempuran Di Kerjaaan
85
Pendekar Khusus Dan Ke-empat Tetua Iblis Berdarah
86
Ratu Hewan Iblis
87
Kemunculan Yang Selalu Membuat Rusuh
88
Akhir Dari Ratu Hewan Iblis
89
Racun Penyerap Sukma
90
Bunga Anggrek Hantu
91
Bersulang
92
Pembasmian Di Kota Goading
93
Pembasmian Kota Goading II
94
Pembasmian Kota Goading III
95
Pembasmian Kota Goading IV
96
Pembasmian Kota Goading V
97
Akhir Dari Sang Panglima Hewan Iblis
98
Panglima Kegelapan
99
Kembali Ke Benua Timur
100
Tiga Dara Di Sungai
101
Hantu Kepala Buntung
102
Rasa Penasaran
103
Pencuri Kacang
104
Teknik Terlarang
105
Kematian Yang Di Janjikan
106
Situasi Di Dalam Kerajaan
107
Keseriusan Arya
108
Arya Vs Yeva
109
Arya Vs Yeva II
110
Arya Vs Yeva III
111
Akhir Pertarungan
112
Memberikan Penjelasan
113
Kondisi Raja Kegelapan
114
Mengangkat Saudara
115
Rasa Penasaran Jenderal Yong We
116
Pertemuan Di Bukit Cinta
117
Memberikan Bukti
118
Berujung Perkelahian
119
Pertarungan Sepanjang Malam
120
Undangan
121
Berlatih Kembali
122
Keanehan Arya
123
Kerajaan Danau Lembah Peri
124
Dibawa Menghadap Tuan Rumah
125
Kehidupan Bawah Danau
126
Bertemu Sang Ratu
127
Bentuk Bunga Yang Dicari
128
Mengambil Bunga Energi
129
Meninggalkan Kerajaan Danau Lembah Peri
130
Pil Bunga Anggrek Hantu
131
Mengobati Sang Raja
132
Pendekar Bunga Darah
133
Kembalinya Raja Kegelapan
134
Soal Asmara Terbawa Sampai Tua
135
Pertarungan Sepasang Kekasih Dimasa lalu
136
Nasib Nie Zha
137
Kejahilan Putri Zhou Jing Yi
138
Orang Terluka Di Tengah Hutan
139
Pasukan Pangeran Tong Shun
140
Ajakan Bergabung
141
Surat Cinta
142
Ditangkap
143
Ketegangan Yang Berlarut-larut
144
Lengan Api
145
Cerita Desa Huangpu
146
Tiga Pembawa Maut
147
Pertarungan Di Tepi Sungai
148
Dendam Seorang Anak
149
Mendapatkan Teman Perjalanan
150
Potongan Tangan
151
Pertunjukan Nie Zha
152
Pengintip
153
Cinta Bersemi Di Malam Purnama
154
Niat Terselubung
155
Membantu Penyatuan Energi
156
Manusia Iblis
157
Tekad Melawan Sampai Mati
158
Pangeran Istana Es
159
Menginterogasi
160
Mencari Goa Tengkorak
161
Terjebak
162
Salah Memilih Lawan
163
Lorong Rahasia
164
Pesta Gila
165
Kebebasan Sang Pangeran Es
166
Menyelamatkan Sandera
167
Siluman Penjaga
168
Kakek Malang
169
Si Tua Sadis
170
Pedang Es Abadi
171
Kembalinya Pedang Pusaran Angin
172
Tewasnya Lima Biksu Sesat
173
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!