Kuda Bersayap

Dewa Petir mengajak Arya ke halaman belakang istana para Dewa, tepatnya ke padang rumput yang luas. Meski tempat itu berjarak puluhan mil dari istana, namun mereka berdua hanya membutuhkan beberapa tarikan nafas untuk tiba disana.

Di hadapan Arya kini terpampang banyak binatang-binatang aneh, dari auranya jelas semua binatang tersebut bukanlah siluman maupun binatang Iblis. Semua hewan tersebut adalah binatang langit.

Arya tersenyum saat melihat beberapa Dewa memberikan makan untuk binatang langit yang mungkin adalah peliharaan mereka. Dari sekian banyak binatang langit yang ada di sana, terlihat kuda putih bersayap dan bertanduk satu di dahi perlahan mendekati mereka.

Kuda bersayap itupun menatap Arya seolah tersenyum. Kuda tersebut merapatkan diri dan lalu mengusap-usapkan kepalanya ke badan pemuda itu.

"Kuda sialan, tuanmu itu aku bukan dia." Umpat Dewa Petir menunjukkan ekspresi kesal.

Seakan mengerti, kuda bersayap itupun melotot kepada Dewa Petir dan lalu cepat membuang muka, tersenyum dan beberapa kali mengedipkan mata kepada Arya.

"Kuda pintar.." Arya mengusap-usap kepala kuda bersayap tersebut dengan menyunggingkan senyuman hangat.

Melihat kuda bersayap tersebut jinak pada Arya, Dewa Petir berkacak pinggang sambil mendengus kesal. "Sudahlah, lagipula aku datang ke sini karena ingin memperkenalkanmu pada pemuda ini. Dialah yang kedepannya akan merawatmu sekaligus menjadi tuan barumu."

Mendengar perkataan Dewa Petir, kuda bersayap itupun meringkik senang. Dia lantas menundukkan tubuh, seakan mempersilahkan Arya untuk menungganginya.

"Apa dia tidak bisa bicara, guru?" Arya bertanya sambil membelai lembut rambut kepala kuda bersayap tersebut.

"Tentu saja bisa.. jika siluman saja bisa bicara, apalagi mereka." Dewa Petir yang tidak tahan karena kesal, lantas memukul kepala kuda bersayap itu. "Kenapa kau manja sekali padanya, sedangkan padaku kau susah sekali di atur."

Kuda bersayap itupun tidak memperdulikan perkataan Dewa Petir, dia memejamkan matanya menikmati kelembutan dari sentuhan Arya.

"Nanti pasti kau akan melihat sendiri, kuda ini sangat liar dan mudah sekali marah. Jika dia bersamamu, lebih baik kau kurung saja kuda itu." Ketus Dewa Petir, tersenyum mengejek.

Kuda bersayap tersebut menatap Arya sambil menggeleng cepat dengan tatapan yang seolah menyuruh pemuda itu agar tidak mempercayai ucapan Dewa Petir.

"Hahaha..." Arya tertawa, merasa lucu melihat ekspresi kuda bersayap. "Lebih baik kau berbicaralah saja, siapa namamu?"

Kuda bersayap itupun menunduk malu sambil menggaruk-garuk tanah dengan satu kaki depannya.

"Bicaralah, tuan barumu ini ingin mendengar suaramu yang indah itu." Dewa Petir menahan diri untuk tidak tertawa.

Seakan tersinggung, kuda bersayap itu menatap tajam Dewa Petir. Tanduknya menyala merah seperti besi yang di panaskan.

"Jika kau tidak mau bicara juga tidak apa-apa. Tapi aku tidak akan merawatmu, aku tidak menyukai kuda yang tidak penurut." Arya berkata dingin.

"Na.. namaku Pegasus.." Ucap Kuda bersayap itu malu-malu.

Arya berusaha menahan tawanya, sedangkan Dewa Petir seketika tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.

Ternyata di balik badannya yang kekar, kuda bersayap tersebut memiliki suara yang kecil, sedikit cempreng.

"Apa kau serius ingin mengikutiku?" Tanya Arya.

Kuda bersayap yang bernama Pegasus itupun mengangguk cepat.

"Baiklah, tapi ingatlah aku bukanlah tuanmu. Kita adalah teman, kau mengerti." Arya tersenyum ramah sambil mengelus kepala Pegasus.

"Mengerti, tuan." Pegasus menyunggingkan senyuman, menampakkan barisan giginya yang seputih salju.

"Jangan panggil aku TUAN, panggil saja namaku, Arya." Arya berkata dengan memberikan tekanan pada kalimat tuan.

"Baiklah Arya, sebagai perkenalan, mari biar aku ajak kau jalan-jalan." Ucap Pegasus yang di akhiri ringkikan sambil mengangkat kedua kaki depannya ke atas.

Arya mengangguk, tersenyum dan lantas melompat dengan ringan duduk di atas punggung Pegasus.

Dengan hentakan kecil, Pegasus melesat cepat ke atas. Membuat Arya gelagapan, dia belum siap dengan kecepatan Pegasus, hampir saja tubuhnya terjengkang karena kaget.

"Benar-benar kuda sialan.. aku yang merawatmu dari kecil, tetapi kau malah lebih jinak pada pemuda itu." Gerutu Dewa Petir sambil menatap Pegasus yang membawa terbang Arya.

Arya mengelus rambut Pegasus. "Pelan-pelan, katanya ingin mengajakku jalan-jalan. Kenapa terburu-buru seperti kebelet kencing."

Pegasus menengokkan kepalanya, matanya melirik Arya yang duduk di punggungnya. "Ini sudah yang paling pelan."

Arya mengerutkan dahi, dia penasaran. "Kalau begitu tunjukkan kecepatan terbaikmu."

"Baiklah, apa kau sudah siap. Berpeganglah yang erat, kita akan terbang cepat." Pegasus menyeringai, sebelum Wuuuusssshh....

Dalam satu kedipan mata, Pegasus telah terbang keluar dari alam Dewa. Dia terus terbang melintasi berbagai planet, dan planet-planet itu hanya terlihat seperti kilasan cahaya, sangking cepatnya.

"Kecepatannya melebihi kecepatan cahaya, gila." Arya membatin.

Arya beberapa kali menggerutu, sebab kecepatan Pegasus membuat tubuhnya benar-benar tertekan. Dia juga harus mengerahkan hampir 70 persen energinya agar tubuhnya tetap stabil dan tidak terhempas.

"Bagaimana, apa masih kurang cepat?" Cibir Pegasus, dia tahu Arya tidak akan mampu bertahan dengan kecepatannya, maka dari itu dia hanya menggunakan 60 persen dari kecepatan penuhnya.

Arya mendelik, dia sadar ucapan Pegasus tersebut menunjukkan jika ini bukanlah kecepatan penuh kuda terbang itu. "Sudah cukup, pelan-pelan saja... Ku akui kau memang cepat. Lalu sekarang kita mau kemana?"

"Aku juga tidak tahu mau kemana, hik.. hik..hik." Pegasus tertawa nyaring, suara cemprengnya membuat kuping Arya terasa panas dan sakit.

Arya menepuk dahinya. "Kau yang mengajak jalan-jalan tapi kau sendiri tidak tahu tujuannya. Dasar kuda dungu.."

"Apa kau bilang..."

"Ah tidak, tadi ada nyamuk lewat.." Timpal Arya sekenanya sambil cengengesan.

"Oh bocah sableng.. mana ada nyamuk di ruang angkasa." gerutu Pegasus.

"Darimana kau bisa bahasa bumi."

"Tentu saja dari Dewa listrik konslet itu.. haha" Pegasus tertawa lepas.

Kali ini Arya harus menutup telinganya, suara tawa Pegasus seperti suara guntur yang menggelegar berkepenjangan.

"Lebih baik kita kembali daripada jalan-jalan tidak tentu tujuannya." Tukas Arya setelah Pegasus berhenti tertawa. Pemuda itu sedikit jengkel, dia merasa Pegasus hanya ingin mempermainkan dirinya atau memamerkan kecepatannya saja.

Pegasus meringkik sebelum melesat dengan kecepatan melebihi cahaya, membuat Arya tersentak dan mengumpat berkali-kali.

Setibanya di tempat Dewa Petir berada, Arya dan Pegasus sudah di sambut Dewa Petir yang melayang di udara.

"Kenapa cepat sekali kembali? memangnya kemana kuda cempreng itu membawamu?" Tanya Dewa Petir, dia sebenarnya berniat kembali ke istana karena ingin membiarkan Arya dan Pegasus saling mengakrabkan diri. Namun baru saja terbang, dia merasakan hawa keberadaan Pegasus yang mendekat. Akhirnya Dewa Petir lantas terbang kembali ke tempat semula.

Arya nampak pucat dan merasa perutnya mual, bagaimanapun kecepatan Pegasus belum bisa di terima oleh tubuhnya atau mungkin pemuda itu belum terbiasa saja.

Setelah kondisinya sedikit membaik, Arya lantas menjawab pertanyaan Dewa Petir. "Guru, sebenarnya aku ingin melihat-lihat kondisi alam ini, tapi kuda cempreng ini malah mengajakku ke tempat yang tidak jelas."

Pegasus meringkik dan nyengir seolah tidak merasa bersalah. Dia sebenarnya ingin menguji kemampuan tuan barunya itu, yang entah kenapa dia merasa ada sesuatu pada pemuda itu yang membuatnya tertarik.

"Hahaha... Memang seperti itulah kelakuan kuda ini. Kau hanya perlu membiasakan diri saja. Kalau begitu ikutlah denganku.." Dewa Petir melesat terlebih dahulu ke istana.

Seakan tidak mau kalah, Pegasus terbang cepat dan dalam sepersekian detik dia sudah mendahului Dewa Petir. Arya yang kepalanya masih sedikit pusing dibuat tersentak terhuyung hampir terjatuh, dia benar-benar kesal pada Pegasus.

"Woi keledai cempreng, kau benar-benar harus di beri pelajaran." Teriak Arya kesal sambil memukul kepala Pegasus dengan keras.

"Bocah sableng, apa matamu sudah katarak hingga tidak bisa membedakan mana kuda mana keledai." Bukannya marah, Pegasus malah nyengir sambil menolehkan kepala kearah Arya. Baginya pukulan pemuda itu hanyalah seperti pukulan anak kecil.

Dahi Arya mengerut, dia heran kenapa pukulannya sama sekali tidak berdampak pada kuda bersayap itu. Menurutnya, pukulannya tersebut sudah cukup untuk menghancurkan gunung besar sekalipun. "Jadi seperti ini kekuatan Dewa." Pikirnya sambil mendengus kecewa.

"Apa kurang cukup kau kalah berkali-kali denganku." Ucapan Dewa Petir mengudara namun sosoknya sudah lenyap meninggalkan percikan garis petir yang sudah sampai di istana.

Sesampainya Pegasus dan Arya menyusul Dewa Petir, Arya kemudian di ajak ke gedung yang ada di sebelah istana, mereka memasuki sebuah ruangan yang sangat luas. Di dalamnya, Arya mendapati ratusan Dewa dan Dewi sedang berlatih. Melihat pakaian mereka, Arya menebak jika Dewa Dewi tersebut adalah Dewa yang memiliki kedudukan tinggi, jika di dunia manusia mereka bisa di katakan dari kalangan bangsawan.

Semua pelatih ataupun guru yang sedang sibuk memberikan pengarahan untuk muridnya, dengan segera menghampiri dan memberikan penghormatan kepada Dewa Petir. Semua murid juga langsung berbaris rapi dan membungkukkan badan.

Melihat tatapan semua Dewa di hadapannya sedang menatap Arya dengan sorot mata penasaran. Dewa Petir lantas memperkenalkan Arya kepada mereka semua.

"Perkenalkan, pemuda ini adalah muridku. Dia bernama Arya. Ku harap kalian semua bisa bersikap baik padanya."

Arya nampak memasang wajah kebingungan, kenapa gurunya memperkenalkan dirinya pada semua Dewa Dewi tersebut. Dengan sedikit canggung, Arya menyunggingkan senyuman ramah kepada mereka semua.

Semua Dewa dan Dewi tersenyum membalas senyuman Arya, namun pikiran mereka di penuhi berbagai pertanyaan dan bahkan ada pula yang merasa iri pada pemuda itu.

"Kenapa Yang Mulia malah mengangkat pemuda lemah itu menjadi muridnya. Seharusnya akulah yang pantas menjadi murid Raja Dewa." Begitulah pemikiran para Dewa dan Dewi yang menaruh iri pada Arya.

"Kirana, Gundala ikutlah ayah.." Ucap Dewa Petir.

Seorang gadis cantik bergaun putih motif bunga anggrek dengan wajah simetris, bola mata hitam, kaki jenjang dan rambut hitam berkilauan maju dari barisan. Di sebelah kanan dari gadis itu yang berjarak belasan meter, seorang pria tinggi berkulit coklat dengan pakaian tanpa lengan memperlihatkan ototnya yang kekar, juga maju menghadap. Mereka berdua membungkuk pada Dewa Petir sebelum meninggalkan ruangan tersebut, mengikuti Dewa Petir dan Arya.

Terpopuler

Comments

Iwan Arema

Iwan Arema

Gundala putra petir🤣😂🤣🤦🏻🤦🏻
bisa2 Godam masuk sini🤔🤔

2024-05-11

1

CODET000

CODET000

hahahah
ada gundala segala... 😂😂😂😂

2024-03-17

0

Harman LokeST

Harman LokeST

kuuaaaaaaaaaaattkkaaaannnnnnn teeeeeeeeerrrrrrrrrrruuuuuuuusssss teekaaaaaaaaaaaaaaaayaaaaaddmuuuuu Li Tian untuk meningkatkan kultivasimu yang lebih tinggi lagi

2024-02-29

0

lihat semua
Episodes
1 Legenda Pusaka Matahari Penghancur
2 Tiba Di Sekte Lembah Petir
3 Bertemu Sang Paman
4 Rencana Penyerangan
5 Formasi Badai Petir
6 Pendekar Penyair
7 Membantu Putri Ming Yu Hua
8 Menyerap Energi Matahari
9 Amanat Dewa Petir
10 Kuda Bersayap
11 Serangan Mayat Hidup
12 Pertempuran
13 Berlatih Di Dimensi Cahaya Keabadian
14 Selamat Jalan Dewa Petir
15 Bantuan Tiba
16 Jebakan Leluhur
17 Tubuh Dewi Bulan
18 Memberikan Hukuman
19 Pedang Ilusi Penguasa Jiwa
20 Kembali
21 Kemunculan Dua Gadis Berpakaian Hitam
22 Arya Vs Tiga Tetua Iblis Berdarah
23 Membawa Tawanan
24 Keterkejutan Para Tetua
25 Rencana Arya
26 Menerima Tantangan
27 Menunjukkan Kemampuan
28 Ritual Persembahan
29 Ramuan Kejujuran
30 Tubuh Raja Kegelapan
31 Latih Tanding
32 Menghancurkan Pusaka Legenda
33 Sekte Yang Menghilang
34 Pengejaran Ke Daratan Utara
35 Asap Hijau Dari Pedang
36 Meningkatkan Kultivasi Paman
37 Zhiyuhan Pemuda Penyair
38 Makhluk Asap
39 Efek Kekuatan Raja Kegelapan
40 Membuka Gerbang
41 Saatnya Berpetualang
42 Amarah Sang Legenda Naga
43 Merubah Wujud
44 Nikmat Sesaat Derita Yang Bertubi-tubi
45 Tetua Muda
46 Menyelamatkan Anak Perempuan
47 Markas Bandit Taring Hitam
48 Tewasnya Wakil Ketua Bandit
49 Karma
50 Penyelamat Yang Di Nantikan
51 Bayangan Putih Dan Hitam
52 Sihir Hitam
53 Organisasi Yenmin
54 Air Suci Biarawati
55 Sosok Sebenarnya Biarawati
56 Gunung Phoenix
57 Pertapa Gila
58 Memberikan Tugas
59 Penjambret
60 Memenuhi Janji Nenek
61 Ujian Menjadi Prajurit
62 Kemunculan Panglima Kegelapan
63 Nasib Wanita Malang
64 Wabah Penyakit
65 Kericuhan Di Dalam Kedai
66 Awal Manis Berujung Kecewa
67 Menjalankan Rencana
68 Pertemuan Para Penyusup
69 Situasi Kerajaan
70 Rumah Seribu Bunga
71 Membeli Para Gadis
72 Memulai Pembersihan Kota
73 Kekacauan Di Dalam Kota
74 Duel Sengit
75 Pertarungan Di Dalam Kerajaan
76 Keputusasaan Para Penduduk
77 Transformasi
78 Penyerangan Dimulai
79 Jenderal Sun Jian Vs Demiao
80 Portal Dimensi
81 Rasa Bersalah
82 Mengirim Bantuan Ke Kerajaan Goading
83 Munculnya Pendekar Khusus
84 Membantu Pertempuran Di Kerjaaan
85 Pendekar Khusus Dan Ke-empat Tetua Iblis Berdarah
86 Ratu Hewan Iblis
87 Kemunculan Yang Selalu Membuat Rusuh
88 Akhir Dari Ratu Hewan Iblis
89 Racun Penyerap Sukma
90 Bunga Anggrek Hantu
91 Bersulang
92 Pembasmian Di Kota Goading
93 Pembasmian Kota Goading II
94 Pembasmian Kota Goading III
95 Pembasmian Kota Goading IV
96 Pembasmian Kota Goading V
97 Akhir Dari Sang Panglima Hewan Iblis
98 Panglima Kegelapan
99 Kembali Ke Benua Timur
100 Tiga Dara Di Sungai
101 Hantu Kepala Buntung
102 Rasa Penasaran
103 Pencuri Kacang
104 Teknik Terlarang
105 Kematian Yang Di Janjikan
106 Situasi Di Dalam Kerajaan
107 Keseriusan Arya
108 Arya Vs Yeva
109 Arya Vs Yeva II
110 Arya Vs Yeva III
111 Akhir Pertarungan
112 Memberikan Penjelasan
113 Kondisi Raja Kegelapan
114 Mengangkat Saudara
115 Rasa Penasaran Jenderal Yong We
116 Pertemuan Di Bukit Cinta
117 Memberikan Bukti
118 Berujung Perkelahian
119 Pertarungan Sepanjang Malam
120 Undangan
121 Berlatih Kembali
122 Keanehan Arya
123 Kerajaan Danau Lembah Peri
124 Dibawa Menghadap Tuan Rumah
125 Kehidupan Bawah Danau
126 Bertemu Sang Ratu
127 Bentuk Bunga Yang Dicari
128 Mengambil Bunga Energi
129 Meninggalkan Kerajaan Danau Lembah Peri
130 Pil Bunga Anggrek Hantu
131 Mengobati Sang Raja
132 Pendekar Bunga Darah
133 Kembalinya Raja Kegelapan
134 Soal Asmara Terbawa Sampai Tua
135 Pertarungan Sepasang Kekasih Dimasa lalu
136 Nasib Nie Zha
137 Kejahilan Putri Zhou Jing Yi
138 Orang Terluka Di Tengah Hutan
139 Pasukan Pangeran Tong Shun
140 Ajakan Bergabung
141 Surat Cinta
142 Ditangkap
143 Ketegangan Yang Berlarut-larut
144 Lengan Api
145 Cerita Desa Huangpu
146 Tiga Pembawa Maut
147 Pertarungan Di Tepi Sungai
148 Dendam Seorang Anak
149 Mendapatkan Teman Perjalanan
150 Potongan Tangan
151 Pertunjukan Nie Zha
152 Pengintip
153 Cinta Bersemi Di Malam Purnama
154 Niat Terselubung
155 Membantu Penyatuan Energi
156 Manusia Iblis
157 Tekad Melawan Sampai Mati
158 Pangeran Istana Es
159 Menginterogasi
160 Mencari Goa Tengkorak
161 Terjebak
162 Salah Memilih Lawan
163 Lorong Rahasia
164 Pesta Gila
165 Kebebasan Sang Pangeran Es
166 Menyelamatkan Sandera
167 Siluman Penjaga
168 Kakek Malang
169 Si Tua Sadis
170 Pedang Es Abadi
171 Kembalinya Pedang Pusaran Angin
172 Tewasnya Lima Biksu Sesat
173 Pengumuman
Episodes

Updated 173 Episodes

1
Legenda Pusaka Matahari Penghancur
2
Tiba Di Sekte Lembah Petir
3
Bertemu Sang Paman
4
Rencana Penyerangan
5
Formasi Badai Petir
6
Pendekar Penyair
7
Membantu Putri Ming Yu Hua
8
Menyerap Energi Matahari
9
Amanat Dewa Petir
10
Kuda Bersayap
11
Serangan Mayat Hidup
12
Pertempuran
13
Berlatih Di Dimensi Cahaya Keabadian
14
Selamat Jalan Dewa Petir
15
Bantuan Tiba
16
Jebakan Leluhur
17
Tubuh Dewi Bulan
18
Memberikan Hukuman
19
Pedang Ilusi Penguasa Jiwa
20
Kembali
21
Kemunculan Dua Gadis Berpakaian Hitam
22
Arya Vs Tiga Tetua Iblis Berdarah
23
Membawa Tawanan
24
Keterkejutan Para Tetua
25
Rencana Arya
26
Menerima Tantangan
27
Menunjukkan Kemampuan
28
Ritual Persembahan
29
Ramuan Kejujuran
30
Tubuh Raja Kegelapan
31
Latih Tanding
32
Menghancurkan Pusaka Legenda
33
Sekte Yang Menghilang
34
Pengejaran Ke Daratan Utara
35
Asap Hijau Dari Pedang
36
Meningkatkan Kultivasi Paman
37
Zhiyuhan Pemuda Penyair
38
Makhluk Asap
39
Efek Kekuatan Raja Kegelapan
40
Membuka Gerbang
41
Saatnya Berpetualang
42
Amarah Sang Legenda Naga
43
Merubah Wujud
44
Nikmat Sesaat Derita Yang Bertubi-tubi
45
Tetua Muda
46
Menyelamatkan Anak Perempuan
47
Markas Bandit Taring Hitam
48
Tewasnya Wakil Ketua Bandit
49
Karma
50
Penyelamat Yang Di Nantikan
51
Bayangan Putih Dan Hitam
52
Sihir Hitam
53
Organisasi Yenmin
54
Air Suci Biarawati
55
Sosok Sebenarnya Biarawati
56
Gunung Phoenix
57
Pertapa Gila
58
Memberikan Tugas
59
Penjambret
60
Memenuhi Janji Nenek
61
Ujian Menjadi Prajurit
62
Kemunculan Panglima Kegelapan
63
Nasib Wanita Malang
64
Wabah Penyakit
65
Kericuhan Di Dalam Kedai
66
Awal Manis Berujung Kecewa
67
Menjalankan Rencana
68
Pertemuan Para Penyusup
69
Situasi Kerajaan
70
Rumah Seribu Bunga
71
Membeli Para Gadis
72
Memulai Pembersihan Kota
73
Kekacauan Di Dalam Kota
74
Duel Sengit
75
Pertarungan Di Dalam Kerajaan
76
Keputusasaan Para Penduduk
77
Transformasi
78
Penyerangan Dimulai
79
Jenderal Sun Jian Vs Demiao
80
Portal Dimensi
81
Rasa Bersalah
82
Mengirim Bantuan Ke Kerajaan Goading
83
Munculnya Pendekar Khusus
84
Membantu Pertempuran Di Kerjaaan
85
Pendekar Khusus Dan Ke-empat Tetua Iblis Berdarah
86
Ratu Hewan Iblis
87
Kemunculan Yang Selalu Membuat Rusuh
88
Akhir Dari Ratu Hewan Iblis
89
Racun Penyerap Sukma
90
Bunga Anggrek Hantu
91
Bersulang
92
Pembasmian Di Kota Goading
93
Pembasmian Kota Goading II
94
Pembasmian Kota Goading III
95
Pembasmian Kota Goading IV
96
Pembasmian Kota Goading V
97
Akhir Dari Sang Panglima Hewan Iblis
98
Panglima Kegelapan
99
Kembali Ke Benua Timur
100
Tiga Dara Di Sungai
101
Hantu Kepala Buntung
102
Rasa Penasaran
103
Pencuri Kacang
104
Teknik Terlarang
105
Kematian Yang Di Janjikan
106
Situasi Di Dalam Kerajaan
107
Keseriusan Arya
108
Arya Vs Yeva
109
Arya Vs Yeva II
110
Arya Vs Yeva III
111
Akhir Pertarungan
112
Memberikan Penjelasan
113
Kondisi Raja Kegelapan
114
Mengangkat Saudara
115
Rasa Penasaran Jenderal Yong We
116
Pertemuan Di Bukit Cinta
117
Memberikan Bukti
118
Berujung Perkelahian
119
Pertarungan Sepanjang Malam
120
Undangan
121
Berlatih Kembali
122
Keanehan Arya
123
Kerajaan Danau Lembah Peri
124
Dibawa Menghadap Tuan Rumah
125
Kehidupan Bawah Danau
126
Bertemu Sang Ratu
127
Bentuk Bunga Yang Dicari
128
Mengambil Bunga Energi
129
Meninggalkan Kerajaan Danau Lembah Peri
130
Pil Bunga Anggrek Hantu
131
Mengobati Sang Raja
132
Pendekar Bunga Darah
133
Kembalinya Raja Kegelapan
134
Soal Asmara Terbawa Sampai Tua
135
Pertarungan Sepasang Kekasih Dimasa lalu
136
Nasib Nie Zha
137
Kejahilan Putri Zhou Jing Yi
138
Orang Terluka Di Tengah Hutan
139
Pasukan Pangeran Tong Shun
140
Ajakan Bergabung
141
Surat Cinta
142
Ditangkap
143
Ketegangan Yang Berlarut-larut
144
Lengan Api
145
Cerita Desa Huangpu
146
Tiga Pembawa Maut
147
Pertarungan Di Tepi Sungai
148
Dendam Seorang Anak
149
Mendapatkan Teman Perjalanan
150
Potongan Tangan
151
Pertunjukan Nie Zha
152
Pengintip
153
Cinta Bersemi Di Malam Purnama
154
Niat Terselubung
155
Membantu Penyatuan Energi
156
Manusia Iblis
157
Tekad Melawan Sampai Mati
158
Pangeran Istana Es
159
Menginterogasi
160
Mencari Goa Tengkorak
161
Terjebak
162
Salah Memilih Lawan
163
Lorong Rahasia
164
Pesta Gila
165
Kebebasan Sang Pangeran Es
166
Menyelamatkan Sandera
167
Siluman Penjaga
168
Kakek Malang
169
Si Tua Sadis
170
Pedang Es Abadi
171
Kembalinya Pedang Pusaran Angin
172
Tewasnya Lima Biksu Sesat
173
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!