Dewa Petir mengajak Arya ke halaman belakang istana para Dewa, tepatnya ke padang rumput yang luas. Meski tempat itu berjarak puluhan mil dari istana, namun mereka berdua hanya membutuhkan beberapa tarikan nafas untuk tiba disana.
Di hadapan Arya kini terpampang banyak binatang-binatang aneh, dari auranya jelas semua binatang tersebut bukanlah siluman maupun binatang Iblis. Semua hewan tersebut adalah binatang langit.
Arya tersenyum saat melihat beberapa Dewa memberikan makan untuk binatang langit yang mungkin adalah peliharaan mereka. Dari sekian banyak binatang langit yang ada di sana, terlihat kuda putih bersayap dan bertanduk satu di dahi perlahan mendekati mereka.
Kuda bersayap itupun menatap Arya seolah tersenyum. Kuda tersebut merapatkan diri dan lalu mengusap-usapkan kepalanya ke badan pemuda itu.
"Kuda sialan, tuanmu itu aku bukan dia." Umpat Dewa Petir menunjukkan ekspresi kesal.
Seakan mengerti, kuda bersayap itupun melotot kepada Dewa Petir dan lalu cepat membuang muka, tersenyum dan beberapa kali mengedipkan mata kepada Arya.
"Kuda pintar.." Arya mengusap-usap kepala kuda bersayap tersebut dengan menyunggingkan senyuman hangat.
Melihat kuda bersayap tersebut jinak pada Arya, Dewa Petir berkacak pinggang sambil mendengus kesal. "Sudahlah, lagipula aku datang ke sini karena ingin memperkenalkanmu pada pemuda ini. Dialah yang kedepannya akan merawatmu sekaligus menjadi tuan barumu."
Mendengar perkataan Dewa Petir, kuda bersayap itupun meringkik senang. Dia lantas menundukkan tubuh, seakan mempersilahkan Arya untuk menungganginya.
"Apa dia tidak bisa bicara, guru?" Arya bertanya sambil membelai lembut rambut kepala kuda bersayap tersebut.
"Tentu saja bisa.. jika siluman saja bisa bicara, apalagi mereka." Dewa Petir yang tidak tahan karena kesal, lantas memukul kepala kuda bersayap itu. "Kenapa kau manja sekali padanya, sedangkan padaku kau susah sekali di atur."
Kuda bersayap itupun tidak memperdulikan perkataan Dewa Petir, dia memejamkan matanya menikmati kelembutan dari sentuhan Arya.
"Nanti pasti kau akan melihat sendiri, kuda ini sangat liar dan mudah sekali marah. Jika dia bersamamu, lebih baik kau kurung saja kuda itu." Ketus Dewa Petir, tersenyum mengejek.
Kuda bersayap tersebut menatap Arya sambil menggeleng cepat dengan tatapan yang seolah menyuruh pemuda itu agar tidak mempercayai ucapan Dewa Petir.
"Hahaha..." Arya tertawa, merasa lucu melihat ekspresi kuda bersayap. "Lebih baik kau berbicaralah saja, siapa namamu?"
Kuda bersayap itupun menunduk malu sambil menggaruk-garuk tanah dengan satu kaki depannya.
"Bicaralah, tuan barumu ini ingin mendengar suaramu yang indah itu." Dewa Petir menahan diri untuk tidak tertawa.
Seakan tersinggung, kuda bersayap itu menatap tajam Dewa Petir. Tanduknya menyala merah seperti besi yang di panaskan.
"Jika kau tidak mau bicara juga tidak apa-apa. Tapi aku tidak akan merawatmu, aku tidak menyukai kuda yang tidak penurut." Arya berkata dingin.
"Na.. namaku Pegasus.." Ucap Kuda bersayap itu malu-malu.
Arya berusaha menahan tawanya, sedangkan Dewa Petir seketika tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.
Ternyata di balik badannya yang kekar, kuda bersayap tersebut memiliki suara yang kecil, sedikit cempreng.
"Apa kau serius ingin mengikutiku?" Tanya Arya.
Kuda bersayap yang bernama Pegasus itupun mengangguk cepat.
"Baiklah, tapi ingatlah aku bukanlah tuanmu. Kita adalah teman, kau mengerti." Arya tersenyum ramah sambil mengelus kepala Pegasus.
"Mengerti, tuan." Pegasus menyunggingkan senyuman, menampakkan barisan giginya yang seputih salju.
"Jangan panggil aku TUAN, panggil saja namaku, Arya." Arya berkata dengan memberikan tekanan pada kalimat tuan.
"Baiklah Arya, sebagai perkenalan, mari biar aku ajak kau jalan-jalan." Ucap Pegasus yang di akhiri ringkikan sambil mengangkat kedua kaki depannya ke atas.
Arya mengangguk, tersenyum dan lantas melompat dengan ringan duduk di atas punggung Pegasus.
Dengan hentakan kecil, Pegasus melesat cepat ke atas. Membuat Arya gelagapan, dia belum siap dengan kecepatan Pegasus, hampir saja tubuhnya terjengkang karena kaget.
"Benar-benar kuda sialan.. aku yang merawatmu dari kecil, tetapi kau malah lebih jinak pada pemuda itu." Gerutu Dewa Petir sambil menatap Pegasus yang membawa terbang Arya.
Arya mengelus rambut Pegasus. "Pelan-pelan, katanya ingin mengajakku jalan-jalan. Kenapa terburu-buru seperti kebelet kencing."
Pegasus menengokkan kepalanya, matanya melirik Arya yang duduk di punggungnya. "Ini sudah yang paling pelan."
Arya mengerutkan dahi, dia penasaran. "Kalau begitu tunjukkan kecepatan terbaikmu."
"Baiklah, apa kau sudah siap. Berpeganglah yang erat, kita akan terbang cepat." Pegasus menyeringai, sebelum Wuuuusssshh....
Dalam satu kedipan mata, Pegasus telah terbang keluar dari alam Dewa. Dia terus terbang melintasi berbagai planet, dan planet-planet itu hanya terlihat seperti kilasan cahaya, sangking cepatnya.
"Kecepatannya melebihi kecepatan cahaya, gila." Arya membatin.
Arya beberapa kali menggerutu, sebab kecepatan Pegasus membuat tubuhnya benar-benar tertekan. Dia juga harus mengerahkan hampir 70 persen energinya agar tubuhnya tetap stabil dan tidak terhempas.
"Bagaimana, apa masih kurang cepat?" Cibir Pegasus, dia tahu Arya tidak akan mampu bertahan dengan kecepatannya, maka dari itu dia hanya menggunakan 60 persen dari kecepatan penuhnya.
Arya mendelik, dia sadar ucapan Pegasus tersebut menunjukkan jika ini bukanlah kecepatan penuh kuda terbang itu. "Sudah cukup, pelan-pelan saja... Ku akui kau memang cepat. Lalu sekarang kita mau kemana?"
"Aku juga tidak tahu mau kemana, hik.. hik..hik." Pegasus tertawa nyaring, suara cemprengnya membuat kuping Arya terasa panas dan sakit.
Arya menepuk dahinya. "Kau yang mengajak jalan-jalan tapi kau sendiri tidak tahu tujuannya. Dasar kuda dungu.."
"Apa kau bilang..."
"Ah tidak, tadi ada nyamuk lewat.." Timpal Arya sekenanya sambil cengengesan.
"Oh bocah sableng.. mana ada nyamuk di ruang angkasa." gerutu Pegasus.
"Darimana kau bisa bahasa bumi."
"Tentu saja dari Dewa listrik konslet itu.. haha" Pegasus tertawa lepas.
Kali ini Arya harus menutup telinganya, suara tawa Pegasus seperti suara guntur yang menggelegar berkepenjangan.
"Lebih baik kita kembali daripada jalan-jalan tidak tentu tujuannya." Tukas Arya setelah Pegasus berhenti tertawa. Pemuda itu sedikit jengkel, dia merasa Pegasus hanya ingin mempermainkan dirinya atau memamerkan kecepatannya saja.
Pegasus meringkik sebelum melesat dengan kecepatan melebihi cahaya, membuat Arya tersentak dan mengumpat berkali-kali.
Setibanya di tempat Dewa Petir berada, Arya dan Pegasus sudah di sambut Dewa Petir yang melayang di udara.
"Kenapa cepat sekali kembali? memangnya kemana kuda cempreng itu membawamu?" Tanya Dewa Petir, dia sebenarnya berniat kembali ke istana karena ingin membiarkan Arya dan Pegasus saling mengakrabkan diri. Namun baru saja terbang, dia merasakan hawa keberadaan Pegasus yang mendekat. Akhirnya Dewa Petir lantas terbang kembali ke tempat semula.
Arya nampak pucat dan merasa perutnya mual, bagaimanapun kecepatan Pegasus belum bisa di terima oleh tubuhnya atau mungkin pemuda itu belum terbiasa saja.
Setelah kondisinya sedikit membaik, Arya lantas menjawab pertanyaan Dewa Petir. "Guru, sebenarnya aku ingin melihat-lihat kondisi alam ini, tapi kuda cempreng ini malah mengajakku ke tempat yang tidak jelas."
Pegasus meringkik dan nyengir seolah tidak merasa bersalah. Dia sebenarnya ingin menguji kemampuan tuan barunya itu, yang entah kenapa dia merasa ada sesuatu pada pemuda itu yang membuatnya tertarik.
"Hahaha... Memang seperti itulah kelakuan kuda ini. Kau hanya perlu membiasakan diri saja. Kalau begitu ikutlah denganku.." Dewa Petir melesat terlebih dahulu ke istana.
Seakan tidak mau kalah, Pegasus terbang cepat dan dalam sepersekian detik dia sudah mendahului Dewa Petir. Arya yang kepalanya masih sedikit pusing dibuat tersentak terhuyung hampir terjatuh, dia benar-benar kesal pada Pegasus.
"Woi keledai cempreng, kau benar-benar harus di beri pelajaran." Teriak Arya kesal sambil memukul kepala Pegasus dengan keras.
"Bocah sableng, apa matamu sudah katarak hingga tidak bisa membedakan mana kuda mana keledai." Bukannya marah, Pegasus malah nyengir sambil menolehkan kepala kearah Arya. Baginya pukulan pemuda itu hanyalah seperti pukulan anak kecil.
Dahi Arya mengerut, dia heran kenapa pukulannya sama sekali tidak berdampak pada kuda bersayap itu. Menurutnya, pukulannya tersebut sudah cukup untuk menghancurkan gunung besar sekalipun. "Jadi seperti ini kekuatan Dewa." Pikirnya sambil mendengus kecewa.
"Apa kurang cukup kau kalah berkali-kali denganku." Ucapan Dewa Petir mengudara namun sosoknya sudah lenyap meninggalkan percikan garis petir yang sudah sampai di istana.
Sesampainya Pegasus dan Arya menyusul Dewa Petir, Arya kemudian di ajak ke gedung yang ada di sebelah istana, mereka memasuki sebuah ruangan yang sangat luas. Di dalamnya, Arya mendapati ratusan Dewa dan Dewi sedang berlatih. Melihat pakaian mereka, Arya menebak jika Dewa Dewi tersebut adalah Dewa yang memiliki kedudukan tinggi, jika di dunia manusia mereka bisa di katakan dari kalangan bangsawan.
Semua pelatih ataupun guru yang sedang sibuk memberikan pengarahan untuk muridnya, dengan segera menghampiri dan memberikan penghormatan kepada Dewa Petir. Semua murid juga langsung berbaris rapi dan membungkukkan badan.
Melihat tatapan semua Dewa di hadapannya sedang menatap Arya dengan sorot mata penasaran. Dewa Petir lantas memperkenalkan Arya kepada mereka semua.
"Perkenalkan, pemuda ini adalah muridku. Dia bernama Arya. Ku harap kalian semua bisa bersikap baik padanya."
Arya nampak memasang wajah kebingungan, kenapa gurunya memperkenalkan dirinya pada semua Dewa Dewi tersebut. Dengan sedikit canggung, Arya menyunggingkan senyuman ramah kepada mereka semua.
Semua Dewa dan Dewi tersenyum membalas senyuman Arya, namun pikiran mereka di penuhi berbagai pertanyaan dan bahkan ada pula yang merasa iri pada pemuda itu.
"Kenapa Yang Mulia malah mengangkat pemuda lemah itu menjadi muridnya. Seharusnya akulah yang pantas menjadi murid Raja Dewa." Begitulah pemikiran para Dewa dan Dewi yang menaruh iri pada Arya.
"Kirana, Gundala ikutlah ayah.." Ucap Dewa Petir.
Seorang gadis cantik bergaun putih motif bunga anggrek dengan wajah simetris, bola mata hitam, kaki jenjang dan rambut hitam berkilauan maju dari barisan. Di sebelah kanan dari gadis itu yang berjarak belasan meter, seorang pria tinggi berkulit coklat dengan pakaian tanpa lengan memperlihatkan ototnya yang kekar, juga maju menghadap. Mereka berdua membungkuk pada Dewa Petir sebelum meninggalkan ruangan tersebut, mengikuti Dewa Petir dan Arya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 173 Episodes
Comments
Iwan Arema
Gundala putra petir🤣😂🤣🤦🏻🤦🏻
bisa2 Godam masuk sini🤔🤔
2024-05-11
1
CODET000
hahahah
ada gundala segala... 😂😂😂😂
2024-03-17
0
Harman LokeST
kuuaaaaaaaaaaattkkaaaannnnnnn teeeeeeeeerrrrrrrrrrruuuuuuuusssss teekaaaaaaaaaaaaaaaayaaaaaddmuuuuu Li Tian untuk meningkatkan kultivasimu yang lebih tinggi lagi
2024-02-29
0