Jebakan Leluhur

Di dalam Markas Lembah Petir, terlihat adanya pertarungan sengit di lokasi pemakaman. Puluhan pendekar berseragam Lembah Petir nampak kewalahan menghadapi empat pendekar berpakaian serba hitam.

"Laporkan situasi di sini pada Patriark." Perintah Tetua Din Thai Fung pada seseorang yang berdiri di dekatnya.

Orang tersebut mengangguk mengerti, dan lalu berkelebat meninggalkan lokasi pemakaman. Namun salah seorang pendekar berpakaian hitam yang menyadari itu langsung terbang menghadang orang tersebut.

"Cepat pergilah.." Seru Din Thai Fung yang tiba-tiba berdiri di depan anggotanya tersebut.

Tetua Din Thai Fung segera melancarkan serangan untuk mengalihkan perhatian serta memberi jalan bagi anggotanya itu agar secepatnya mencari bantuan.

Meski tetua Din Thai Fung sudah mencapai Pendekar Suci tingkat 4, namun di hadapan pendekar berpakaian hitam, tetua Sekte Lembah Petir tersebut seperti di permainkan.

Dalam beberapa tarikan nafas, Pendekar berpakaian hitam yang memiliki bekas sayatan luka di matanya dapat mendaratkan serangan ke tubuh tetua Din Thai Fung. Namun meski begitu, tetua Din Thai Fung tetap bertahan dan terus menghadang lawan yang berniat mengejar anggotanya tersebut.

Di sisi lain, formasi yang di gunakan puluhan anggota Lembah Petir dapat di hancurkan dengan mudah oleh seorang wanita yang bertato kalajengking di pelipis kanan.

"Mereka benar-benar kuat.. siapa sebenarnya mereka?" Decak tetua Zhan Ji. Dia adalah tetua yang sedari awal sudah curiga adanya penyusup ketika lonceng tanda bahaya tiba-tiba di bunyikan tanpa adanya perintah dari tetua maupun Patriark.

Ketika itu, tetua Zhan Ji langsung melesat ke gedung utama untuk mencari anggota yang menyampaikan informasi tentang adanya penyerangan. Awalnya dia tidak mendapati keanehan pada anggota tersebut, namun setelah Patriark Tao Lian dan beberapa tetua pergi ke lokasi perkemahan, dia tidak sengaja melihat adanya aliran darah hitam yang terus membasahi punggung anggota tersebut.

Setelah memastikan, akhirnya Tetua Zhan Ji mendapati jika anggota yang menyampaikan kabar itu telah tewas beberapa jam yang lalu. Tubuh anggota itu masih bisa bergerak layaknya hidup karena di kendalikan oleh sebuah teknik.

"Lapor Patriark, di makam leluhur ada penyusup." Salah seorang anggota Sekte Lembah Petir memberikan laporan pada Patriark Tao Lian.

"Apa?! Bukankah sudah ku tugaskan kalian memperketat penjagaan disana." Patriark Tao Lian mengeratkan rahangnya, dia kemudian berkelebat keluar ruangan melalui jendela.

Patriark Tao Lian yakin penyusup itu bukanlah pendekar sembarangan, dia telah menugaskan 5 tetua dan puluhan murid inti untuk memperketat penjagaan disana. Jikapun ada orang yang masih dapat melewati penjagaan, pastilah para penyusup tersebut berilmu tinggi.

Setibanya di lokasi pemakaman, Patriark Tao Lian nampak mengeratkan rahangnya, dia mengepalkan tangannya erat saat mendapati beberapa tetuanya terluka parah serta beberapa anggotanya telah tewas dengan tubuh terbelah.

Kemarahan Patriark Tao Lian seketika berganti kecemasan saat melihat salah satu makam telah terbongkar. Dengan segera diapun melesat menuju lobang pemakaman tersebut.

Namun, Traaaanggg...

Beruntung Patriark Tao Lian masih sempat menangkis tebasan yang mengarah padanya dengan ledakan energi.

"Tidak akan ku biarkan ada seorangpun yang merusak rencana kami."

Patriark Tao Lian mengerutkan dahi. Mendengar logat perkataan pria berpakaian serba hitam dihadapannya, dia menduga jika orang tersebut bukanlah berasal dari daratan timur.

Melihat lawannya mematung, pendekar berpakaian hitam langsung melesat dan tiba-tiba sudah melayangkan tebasan yang menargetkan kepala Patriark Tao Lian.

Booommm...

Tebasan tersebut hanya membelah udara, sementara energi dari tebasan itu terus meluncur menghatam deretan batu nisan dan berakhir dengan ledakan yang membuat tanah sedikit bergetar.

"Sialan, siapa yang ikut campur." Bentak pria berpakaian hitam tersebut sambil mengedarkan pandangan ke segala arah.

"Berhati-hatilah, mereka bukan lawan kalian." Ucap seorang pemuda tampan berpakaian lusuh sambil mengintip dari balik pohon memandangi lokasi pemakaman.

Patriark Tao Lian terdiam, dia sedang mencerna situasi mengapa tiba-tiba dirinya berada disini bersama seorang pemuda lusuh yang sama sekali tidak dikenalinya.

"Kau sia..." Suara Patriark Tao Lian tercekat manakala pemuda lusuh tersebut tiba-tiba menghilang seperti hantu.

"Alam menjadi saksi.

Gunung ku daki.

Lautan ku sebrangi.

Sudah sangat jauh langkah kaki ini.

Meski dunia tidak lagi perduli.

Namun kejahatan harus tetap di basmi."

Seorang pemuda lusuh tiba-tiba muncul, berjalan mondar-mandir dengan tatapan tertunduk ke tanah.

"Pendekar penyair! Kenapa kau berada disini.." Pria berpakaian hitam yang menyerang Patriark Tao Lian sebelumnya, kini nampak melebarkan mata sambil mengeratkan rahangnya.

Pemuda lusuh yang berjuluk pendekar penyair berhenti, lalu membalikkan badan dan menatap pria berpakaian hitam sambil meringis lebar.

"Tak ada larangan bagi pengembara.

Mereka bebas pergi kemana saja.

Tapi yang pasti kalian harus binasa."

Pemuda penyair berkata dingin, dan tiba-tiba sudah menebas kepala pria berpakaian hitam hanya dengan kibasan tangan.

Kepala pria berpakaian hitam menggelinding dengan mata terbelalak, menunjukkan isyarat jika dia belum siap menerima kematian. Sementara tubuhnya masih berdiri dengan leher yang bermuncratan darah, sebelum akhirnya tumbang ke tanah.

Pendekar penyair menyeringai menatap kepala yang tergeletak terpisah dari badannya.

"Ilusi anak kecil seperti ini tidak akan berguna bagiku. Tunjukan dirimu jika berani." Suara pendekar penyair menggema menggetarkan tanah, membuat pertarungan yang berlangsung seketika terhenti.

Terlihat dari sisi utara sekelebat sosok membelah udara, membawa deruan angin serta debu yang menuju ke tempat Pendekar penyair berdiri.

Booommm...

Ledakan berdaya kejut menyapu debu serta membumbungkannya tinggi, membuat sebagian lokasi pertarungan tertutup kabut debu yang berterbangan.

Setelah kepulan debu luruh terbawa angin, terlihat dua sosok saling berhadap-hadapan. Di hadapan Pendekar Penyair telah berdiri seorang wanita yang rambutnya terkepang dua.

"Oh betapa bahagianya diri ini,

Ketika aku sedang bertarung hidup dan mati,

Seorang wanita menghampiri,

Apakah sudah saatnya ku akhiri kesendirian ini,

Menuju mahligai suci,

Untuk hidup beriringan sehidup semati..."

"Hentikan bualanmu.. jangan ikut campur dan pergilah dari sini, atau ku bungkam mulutmu selamanya." Decak kesal wanita berkepang sambil menghunuskan pedangnya ke arah si pemuda.

Pemuda lusuh itu siap membuka mulut untuk bersyair, namun tiba-tiba banyak kelebatan bayangan dan mengepung dirinya.

Dengan mulut menganga, pemuda lusuh itu memutar tubuhnya, mengamati orang-orang yang mengepungnya.

"Hahaha... Ternyata benar kalian kultivator dari Daratan Utara."

Mendengar perkataan Pendekar Penyair, Patriark Tao Lian yang sedang terbang ingin membantu, mengurungkan niatnya melayang di udara. Seluruh anggota Sekte Lembah Petir yang tidak lagi melakukan pertarungan karena lawannya telah pergi mengepung pemuda lusuh, nampak terkesiap. Mereka benar-benar tidak menyangka lawan mereka ternyata para kultivator dari daratan lain.

Mendapati Pendekar Penyair mengetahui identitas mereka, ke-enam kultivator berpakaian hitam langsung bersamaan bergerak menyerang.

Dengan senyuman yang terus tersungging, Pendekar Penyair menyambut serangan demi serangan dengan gerakan yang teramat cepat. Membuat semua serangan para kultivator tersebut tidak membuahkan hasil.

****

Di dalam lorong tanah makam yang terbongkar. Terlihat belasan orang berpakaian hitam sedang menatap sebuah batu besar dan tebal setinggi 4 tombak, dan lebar 3 tombak, yang berada di sudut ruangan sebelah timur. Mereka berusaha memecahkan abjad kuno yang terukir di dinding batu tersebut.

"Xin Qian, apa kau bisa membaca tulisan itu?" Tanya Seorang pria berjenggot panjang pada seorang gadis yang memiliki bekas luka sayatan di pipi sebelah kanan.

Gadis itu mengangguk, keningnya mengkerut. Lama Xin Qian mengamati tulisan tersebut tanpa berkedip. "Maaf tetua Nan, ini tulisan yang sangat kuno. Aku tidak bisa membacanya." 

Pria yang di panggil tetua itu kesal. Satu-satunya yang bisa dia andalkan untuk masalah ini adalah gadis itu. "Tidak berguna!.. Kau tetaplah berusaha menerjemahkan tulisan itu. Aku dan yang lain akan memeriksa bagian lain tempat ini."

Ruangan bawah tanah yang lebih tepat disebut goa itu tidak mempunyai lubang angin. Hawanya pengap dan tidak ada cahaya yang masuk. Goa ini begitu gelap gulita.

Dengan mengandalkan kobaran api yang menyelimuti tangan, Tetua Chai Nan dan anggotanya tidak menemukan apapun. Kecuali nisan besar yang bertuliskan abjad kuno. 

"Kalian, gali makam ini..!" Perintah Tetua Chai Nan.

Belasan orang segera mencabut senjata dan mulai menggali. Tanah batu yang keras tidak menyulitkan mereka. Tiga meter setengah mereka menggali dan di dapati papan-papan kayu yang melintang. Tepatnya galih inti kayu yang tidak rapuh sedikitpun. Perlahan mereka membuka satu persatu papan.

Ada jasad yang terlihat bagian perut ke atas. Jasad manusia berbadan tinggi besar. "Ini jasad manusia jaman dulu, ternyata orang-orang dulu memiliki badan yang besar."

"Perluas penggalian dan periksa apakah ada sesuatu selain jasad itu." Tetua Chai Nan kembali memerintah.

Jasad yang besar hampir tujuh kali lipat ukuran lelaki dewasa itu mereka gelimpangkan ke kiri dan ke kanan.

"Disana tidak ada apa-apa, tetua." Lapor belasan orang yang menggali pada tetua Chai Nan yang menunggu di atas lubang.

"Sial..!!! Jika begitu mari kita ke tempat Xin Qian, mungkin dia sudah bisa membaca tulisan di batu." Tetua Chai Nan melangkah meninggalkan lubang bersamaan belasan anggotanya yang melompat tinggi ke atas keluar dari lubang yang mereka gali.

Setengah meter lagi belasan orang yang melompat tersebut menyentuh lantai goa, terdengar bunyi pecah belasan kali secara bergantian. Tubuh belasan orang tersebut menggeliat dengan kepala pecah.

Tetua Chai Nan secara naluri melompat menjauh, matanya nanar memandang seluruh ruangan dan memasang kuda-kuda siap bertarung. Dia menajamkan indera perasa, tapi hening.

"Ada apa tetua?" Xin Qian yang mendengar benda pecah langsung menghambur, dan kini dia sudah berdiri di samping Tetua Chai Nan.

"Ada yang menyerang diam-diam, bersiaplah!"

"Keluar kau pengecut..!" Suara tetua Chai Nan menggema. Pria berjenggot dari daratan lain itu menghunuskan pedangnya. Gema suara berganti kesunyian.

"Aneh, tapi kenapa aku tidak merasakan keberadaan orang lain selain kita." Xin Qian mendekati rekannya yang tergeletak tak bernyawa.

"Sepertinya tubuh mereka hancur dari dalam, tetua." Xin Qian memberikan kesimpulan setelah memperhatikan dengan seksama belasan kepala pecah rekan-rekannya tersebut.

"Benarkah?" Tukas tetua Chai Nan dengan pedang yang masih terhunus.

"Tetua lihatlah sendiri.."

"Liang itu mengandung racun... Racun itu terlepas ketika mereka membalikkan jasad. Racun tanpa rupa, sungguh mengerikan!! Bahkan racun jenis ini tidak ada di negri kita," tetua Chai Nan berusaha memecahkan misteri pecahnya kepala para anggotanya tersebut.

"Bagaimana Xin Qian? Apa kau sudah bisa menerjemahkan abjad kuno di batu itu?" Tetua Chai Nan bangkit dan menuju batu besar.

"Aku tidak yakin tetua. Tapi intinya, seseorang yang ingin menemukan sesuatu di tempat ini harus mengucapkan sebuah kalimat yang tertera di batu itu dengan jumlah 1001 kali." Ucap Xin Qian seraya menempelkan kedua tangan ke lubang dangkal yang ada di permukaan batu.

"Apa kau sudah tau apa yang harus kita baca?"

"Sudah tetua.."

Xin Qian kemudian memasukkan kedua tangannya ke lobang batu dan mulai mengucap. "Chuangzhuo zhe, Chuangzhuo zhe.."

Tetua Chai Nan mundur dan waspada, dia khawatir akan ada jebakan ataupun racun yang tiba-tiba menyerang.

Tidak butuh waktu lama, Xin Qian sudah mengucapkan kalimat tersebut sebanyak 1001 kali.

"Batu ini bergetar, sepertinya ini berhasil tetua." Xin Qian mengeluarkan tangannya dan mundur beberapa langkah.

"Akhirnya.." tetua Chai Nan berseru senang. 

Di dalam lobang yang tidak terlalu dalam pada dinding goa, terdapat sebuah pedang yang keluar dari dalam. Pedang itu melengkung, ujungnya mengecil dan bercabang, dengan selongsong pedang berwarna hijau.

Melihat ada tulisan kuno di selongsong pedang tersebut, tetua Chai Nan menyerahkan pedang tersebut pada Xin Qian. "Apa kau bisa membaca tulisan itu?"

"Teruskan atau kau mati?" Xin Qian mengerutkan dahi saat membaca tulisan di selongsong pedang.

"Apa maksudnya?" Tanya Tetua Chai Nan dengan muka tertekuk.

"Sudahlah tetua, sebaiknya kita simpan saja dulu pedang ini. Aku memiliki firasat untuk jangan menarik pedang ini sebelumnya misteri dari kata-kata tadi terpecahkan." Xin Qian memberikan usul, dia merasa ada yang tidak beres dengan pedang itu.

Tetua Chai Nan mengangguk dan kemudian memasukkan pedang tersebut ke dalam cincin ruang miliknya.

Di atas tanah pemakaman, ke-enam kultivator berpakaian hitam tengah kewalahan menghadapi pendekar penyair, terlebih mereka juga harus membagi perhatian pada para anggota Sekte Lembah Petir yang menyerang dan mengepung mereka dari segala sisi.

"Semuanya, ayo kita kembali." Seru tetua Chai Nan sambil melayang di udara bersama Xin Qian yang juga melayang di sebelah kirinya.

Ke-enam kultivator yang terkepung mengangguk dan secara bersamaan mereka melesat terbang menyusul Tetua Chai Nan dan Xin Qian yang sudah terlebih dulu melesat meninggalkan lokasi pemakaman.

"Sebaiknya anda periksa ke dalam.. biar aku yang mengejar mereka." Ucap Pendekar Penyair sambil menoleh kearah Patriark Tao Lian.

_______________

Jangan lupa untuk terus memberikan dukungan berupa like, komen dan vote ya.

Terpopuler

Comments

Roni Sakroni

Roni Sakroni

pendekar utamanya seperti polisi India selalu terlambat datangnya. klo sudah hancur baru sampai.

2024-04-08

1

Harman LokeST

Harman LokeST

Li Tian cepat kembali

2024-02-29

1

Harman LokeST

Harman LokeST

sssssssssiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiippppppppppp

2022-06-17

0

lihat semua
Episodes
1 Legenda Pusaka Matahari Penghancur
2 Tiba Di Sekte Lembah Petir
3 Bertemu Sang Paman
4 Rencana Penyerangan
5 Formasi Badai Petir
6 Pendekar Penyair
7 Membantu Putri Ming Yu Hua
8 Menyerap Energi Matahari
9 Amanat Dewa Petir
10 Kuda Bersayap
11 Serangan Mayat Hidup
12 Pertempuran
13 Berlatih Di Dimensi Cahaya Keabadian
14 Selamat Jalan Dewa Petir
15 Bantuan Tiba
16 Jebakan Leluhur
17 Tubuh Dewi Bulan
18 Memberikan Hukuman
19 Pedang Ilusi Penguasa Jiwa
20 Kembali
21 Kemunculan Dua Gadis Berpakaian Hitam
22 Arya Vs Tiga Tetua Iblis Berdarah
23 Membawa Tawanan
24 Keterkejutan Para Tetua
25 Rencana Arya
26 Menerima Tantangan
27 Menunjukkan Kemampuan
28 Ritual Persembahan
29 Ramuan Kejujuran
30 Tubuh Raja Kegelapan
31 Latih Tanding
32 Menghancurkan Pusaka Legenda
33 Sekte Yang Menghilang
34 Pengejaran Ke Daratan Utara
35 Asap Hijau Dari Pedang
36 Meningkatkan Kultivasi Paman
37 Zhiyuhan Pemuda Penyair
38 Makhluk Asap
39 Efek Kekuatan Raja Kegelapan
40 Membuka Gerbang
41 Saatnya Berpetualang
42 Amarah Sang Legenda Naga
43 Merubah Wujud
44 Nikmat Sesaat Derita Yang Bertubi-tubi
45 Tetua Muda
46 Menyelamatkan Anak Perempuan
47 Markas Bandit Taring Hitam
48 Tewasnya Wakil Ketua Bandit
49 Karma
50 Penyelamat Yang Di Nantikan
51 Bayangan Putih Dan Hitam
52 Sihir Hitam
53 Organisasi Yenmin
54 Air Suci Biarawati
55 Sosok Sebenarnya Biarawati
56 Gunung Phoenix
57 Pertapa Gila
58 Memberikan Tugas
59 Penjambret
60 Memenuhi Janji Nenek
61 Ujian Menjadi Prajurit
62 Kemunculan Panglima Kegelapan
63 Nasib Wanita Malang
64 Wabah Penyakit
65 Kericuhan Di Dalam Kedai
66 Awal Manis Berujung Kecewa
67 Menjalankan Rencana
68 Pertemuan Para Penyusup
69 Situasi Kerajaan
70 Rumah Seribu Bunga
71 Membeli Para Gadis
72 Memulai Pembersihan Kota
73 Kekacauan Di Dalam Kota
74 Duel Sengit
75 Pertarungan Di Dalam Kerajaan
76 Keputusasaan Para Penduduk
77 Transformasi
78 Penyerangan Dimulai
79 Jenderal Sun Jian Vs Demiao
80 Portal Dimensi
81 Rasa Bersalah
82 Mengirim Bantuan Ke Kerajaan Goading
83 Munculnya Pendekar Khusus
84 Membantu Pertempuran Di Kerjaaan
85 Pendekar Khusus Dan Ke-empat Tetua Iblis Berdarah
86 Ratu Hewan Iblis
87 Kemunculan Yang Selalu Membuat Rusuh
88 Akhir Dari Ratu Hewan Iblis
89 Racun Penyerap Sukma
90 Bunga Anggrek Hantu
91 Bersulang
92 Pembasmian Di Kota Goading
93 Pembasmian Kota Goading II
94 Pembasmian Kota Goading III
95 Pembasmian Kota Goading IV
96 Pembasmian Kota Goading V
97 Akhir Dari Sang Panglima Hewan Iblis
98 Panglima Kegelapan
99 Kembali Ke Benua Timur
100 Tiga Dara Di Sungai
101 Hantu Kepala Buntung
102 Rasa Penasaran
103 Pencuri Kacang
104 Teknik Terlarang
105 Kematian Yang Di Janjikan
106 Situasi Di Dalam Kerajaan
107 Keseriusan Arya
108 Arya Vs Yeva
109 Arya Vs Yeva II
110 Arya Vs Yeva III
111 Akhir Pertarungan
112 Memberikan Penjelasan
113 Kondisi Raja Kegelapan
114 Mengangkat Saudara
115 Rasa Penasaran Jenderal Yong We
116 Pertemuan Di Bukit Cinta
117 Memberikan Bukti
118 Berujung Perkelahian
119 Pertarungan Sepanjang Malam
120 Undangan
121 Berlatih Kembali
122 Keanehan Arya
123 Kerajaan Danau Lembah Peri
124 Dibawa Menghadap Tuan Rumah
125 Kehidupan Bawah Danau
126 Bertemu Sang Ratu
127 Bentuk Bunga Yang Dicari
128 Mengambil Bunga Energi
129 Meninggalkan Kerajaan Danau Lembah Peri
130 Pil Bunga Anggrek Hantu
131 Mengobati Sang Raja
132 Pendekar Bunga Darah
133 Kembalinya Raja Kegelapan
134 Soal Asmara Terbawa Sampai Tua
135 Pertarungan Sepasang Kekasih Dimasa lalu
136 Nasib Nie Zha
137 Kejahilan Putri Zhou Jing Yi
138 Orang Terluka Di Tengah Hutan
139 Pasukan Pangeran Tong Shun
140 Ajakan Bergabung
141 Surat Cinta
142 Ditangkap
143 Ketegangan Yang Berlarut-larut
144 Lengan Api
145 Cerita Desa Huangpu
146 Tiga Pembawa Maut
147 Pertarungan Di Tepi Sungai
148 Dendam Seorang Anak
149 Mendapatkan Teman Perjalanan
150 Potongan Tangan
151 Pertunjukan Nie Zha
152 Pengintip
153 Cinta Bersemi Di Malam Purnama
154 Niat Terselubung
155 Membantu Penyatuan Energi
156 Manusia Iblis
157 Tekad Melawan Sampai Mati
158 Pangeran Istana Es
159 Menginterogasi
160 Mencari Goa Tengkorak
161 Terjebak
162 Salah Memilih Lawan
163 Lorong Rahasia
164 Pesta Gila
165 Kebebasan Sang Pangeran Es
166 Menyelamatkan Sandera
167 Siluman Penjaga
168 Kakek Malang
169 Si Tua Sadis
170 Pedang Es Abadi
171 Kembalinya Pedang Pusaran Angin
172 Tewasnya Lima Biksu Sesat
173 Pengumuman
Episodes

Updated 173 Episodes

1
Legenda Pusaka Matahari Penghancur
2
Tiba Di Sekte Lembah Petir
3
Bertemu Sang Paman
4
Rencana Penyerangan
5
Formasi Badai Petir
6
Pendekar Penyair
7
Membantu Putri Ming Yu Hua
8
Menyerap Energi Matahari
9
Amanat Dewa Petir
10
Kuda Bersayap
11
Serangan Mayat Hidup
12
Pertempuran
13
Berlatih Di Dimensi Cahaya Keabadian
14
Selamat Jalan Dewa Petir
15
Bantuan Tiba
16
Jebakan Leluhur
17
Tubuh Dewi Bulan
18
Memberikan Hukuman
19
Pedang Ilusi Penguasa Jiwa
20
Kembali
21
Kemunculan Dua Gadis Berpakaian Hitam
22
Arya Vs Tiga Tetua Iblis Berdarah
23
Membawa Tawanan
24
Keterkejutan Para Tetua
25
Rencana Arya
26
Menerima Tantangan
27
Menunjukkan Kemampuan
28
Ritual Persembahan
29
Ramuan Kejujuran
30
Tubuh Raja Kegelapan
31
Latih Tanding
32
Menghancurkan Pusaka Legenda
33
Sekte Yang Menghilang
34
Pengejaran Ke Daratan Utara
35
Asap Hijau Dari Pedang
36
Meningkatkan Kultivasi Paman
37
Zhiyuhan Pemuda Penyair
38
Makhluk Asap
39
Efek Kekuatan Raja Kegelapan
40
Membuka Gerbang
41
Saatnya Berpetualang
42
Amarah Sang Legenda Naga
43
Merubah Wujud
44
Nikmat Sesaat Derita Yang Bertubi-tubi
45
Tetua Muda
46
Menyelamatkan Anak Perempuan
47
Markas Bandit Taring Hitam
48
Tewasnya Wakil Ketua Bandit
49
Karma
50
Penyelamat Yang Di Nantikan
51
Bayangan Putih Dan Hitam
52
Sihir Hitam
53
Organisasi Yenmin
54
Air Suci Biarawati
55
Sosok Sebenarnya Biarawati
56
Gunung Phoenix
57
Pertapa Gila
58
Memberikan Tugas
59
Penjambret
60
Memenuhi Janji Nenek
61
Ujian Menjadi Prajurit
62
Kemunculan Panglima Kegelapan
63
Nasib Wanita Malang
64
Wabah Penyakit
65
Kericuhan Di Dalam Kedai
66
Awal Manis Berujung Kecewa
67
Menjalankan Rencana
68
Pertemuan Para Penyusup
69
Situasi Kerajaan
70
Rumah Seribu Bunga
71
Membeli Para Gadis
72
Memulai Pembersihan Kota
73
Kekacauan Di Dalam Kota
74
Duel Sengit
75
Pertarungan Di Dalam Kerajaan
76
Keputusasaan Para Penduduk
77
Transformasi
78
Penyerangan Dimulai
79
Jenderal Sun Jian Vs Demiao
80
Portal Dimensi
81
Rasa Bersalah
82
Mengirim Bantuan Ke Kerajaan Goading
83
Munculnya Pendekar Khusus
84
Membantu Pertempuran Di Kerjaaan
85
Pendekar Khusus Dan Ke-empat Tetua Iblis Berdarah
86
Ratu Hewan Iblis
87
Kemunculan Yang Selalu Membuat Rusuh
88
Akhir Dari Ratu Hewan Iblis
89
Racun Penyerap Sukma
90
Bunga Anggrek Hantu
91
Bersulang
92
Pembasmian Di Kota Goading
93
Pembasmian Kota Goading II
94
Pembasmian Kota Goading III
95
Pembasmian Kota Goading IV
96
Pembasmian Kota Goading V
97
Akhir Dari Sang Panglima Hewan Iblis
98
Panglima Kegelapan
99
Kembali Ke Benua Timur
100
Tiga Dara Di Sungai
101
Hantu Kepala Buntung
102
Rasa Penasaran
103
Pencuri Kacang
104
Teknik Terlarang
105
Kematian Yang Di Janjikan
106
Situasi Di Dalam Kerajaan
107
Keseriusan Arya
108
Arya Vs Yeva
109
Arya Vs Yeva II
110
Arya Vs Yeva III
111
Akhir Pertarungan
112
Memberikan Penjelasan
113
Kondisi Raja Kegelapan
114
Mengangkat Saudara
115
Rasa Penasaran Jenderal Yong We
116
Pertemuan Di Bukit Cinta
117
Memberikan Bukti
118
Berujung Perkelahian
119
Pertarungan Sepanjang Malam
120
Undangan
121
Berlatih Kembali
122
Keanehan Arya
123
Kerajaan Danau Lembah Peri
124
Dibawa Menghadap Tuan Rumah
125
Kehidupan Bawah Danau
126
Bertemu Sang Ratu
127
Bentuk Bunga Yang Dicari
128
Mengambil Bunga Energi
129
Meninggalkan Kerajaan Danau Lembah Peri
130
Pil Bunga Anggrek Hantu
131
Mengobati Sang Raja
132
Pendekar Bunga Darah
133
Kembalinya Raja Kegelapan
134
Soal Asmara Terbawa Sampai Tua
135
Pertarungan Sepasang Kekasih Dimasa lalu
136
Nasib Nie Zha
137
Kejahilan Putri Zhou Jing Yi
138
Orang Terluka Di Tengah Hutan
139
Pasukan Pangeran Tong Shun
140
Ajakan Bergabung
141
Surat Cinta
142
Ditangkap
143
Ketegangan Yang Berlarut-larut
144
Lengan Api
145
Cerita Desa Huangpu
146
Tiga Pembawa Maut
147
Pertarungan Di Tepi Sungai
148
Dendam Seorang Anak
149
Mendapatkan Teman Perjalanan
150
Potongan Tangan
151
Pertunjukan Nie Zha
152
Pengintip
153
Cinta Bersemi Di Malam Purnama
154
Niat Terselubung
155
Membantu Penyatuan Energi
156
Manusia Iblis
157
Tekad Melawan Sampai Mati
158
Pangeran Istana Es
159
Menginterogasi
160
Mencari Goa Tengkorak
161
Terjebak
162
Salah Memilih Lawan
163
Lorong Rahasia
164
Pesta Gila
165
Kebebasan Sang Pangeran Es
166
Menyelamatkan Sandera
167
Siluman Penjaga
168
Kakek Malang
169
Si Tua Sadis
170
Pedang Es Abadi
171
Kembalinya Pedang Pusaran Angin
172
Tewasnya Lima Biksu Sesat
173
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!