Di dalam Markas Lembah Petir, terlihat adanya pertarungan sengit di lokasi pemakaman. Puluhan pendekar berseragam Lembah Petir nampak kewalahan menghadapi empat pendekar berpakaian serba hitam.
"Laporkan situasi di sini pada Patriark." Perintah Tetua Din Thai Fung pada seseorang yang berdiri di dekatnya.
Orang tersebut mengangguk mengerti, dan lalu berkelebat meninggalkan lokasi pemakaman. Namun salah seorang pendekar berpakaian hitam yang menyadari itu langsung terbang menghadang orang tersebut.
"Cepat pergilah.." Seru Din Thai Fung yang tiba-tiba berdiri di depan anggotanya tersebut.
Tetua Din Thai Fung segera melancarkan serangan untuk mengalihkan perhatian serta memberi jalan bagi anggotanya itu agar secepatnya mencari bantuan.
Meski tetua Din Thai Fung sudah mencapai Pendekar Suci tingkat 4, namun di hadapan pendekar berpakaian hitam, tetua Sekte Lembah Petir tersebut seperti di permainkan.
Dalam beberapa tarikan nafas, Pendekar berpakaian hitam yang memiliki bekas sayatan luka di matanya dapat mendaratkan serangan ke tubuh tetua Din Thai Fung. Namun meski begitu, tetua Din Thai Fung tetap bertahan dan terus menghadang lawan yang berniat mengejar anggotanya tersebut.
Di sisi lain, formasi yang di gunakan puluhan anggota Lembah Petir dapat di hancurkan dengan mudah oleh seorang wanita yang bertato kalajengking di pelipis kanan.
"Mereka benar-benar kuat.. siapa sebenarnya mereka?" Decak tetua Zhan Ji. Dia adalah tetua yang sedari awal sudah curiga adanya penyusup ketika lonceng tanda bahaya tiba-tiba di bunyikan tanpa adanya perintah dari tetua maupun Patriark.
Ketika itu, tetua Zhan Ji langsung melesat ke gedung utama untuk mencari anggota yang menyampaikan informasi tentang adanya penyerangan. Awalnya dia tidak mendapati keanehan pada anggota tersebut, namun setelah Patriark Tao Lian dan beberapa tetua pergi ke lokasi perkemahan, dia tidak sengaja melihat adanya aliran darah hitam yang terus membasahi punggung anggota tersebut.
Setelah memastikan, akhirnya Tetua Zhan Ji mendapati jika anggota yang menyampaikan kabar itu telah tewas beberapa jam yang lalu. Tubuh anggota itu masih bisa bergerak layaknya hidup karena di kendalikan oleh sebuah teknik.
"Lapor Patriark, di makam leluhur ada penyusup." Salah seorang anggota Sekte Lembah Petir memberikan laporan pada Patriark Tao Lian.
"Apa?! Bukankah sudah ku tugaskan kalian memperketat penjagaan disana." Patriark Tao Lian mengeratkan rahangnya, dia kemudian berkelebat keluar ruangan melalui jendela.
Patriark Tao Lian yakin penyusup itu bukanlah pendekar sembarangan, dia telah menugaskan 5 tetua dan puluhan murid inti untuk memperketat penjagaan disana. Jikapun ada orang yang masih dapat melewati penjagaan, pastilah para penyusup tersebut berilmu tinggi.
Setibanya di lokasi pemakaman, Patriark Tao Lian nampak mengeratkan rahangnya, dia mengepalkan tangannya erat saat mendapati beberapa tetuanya terluka parah serta beberapa anggotanya telah tewas dengan tubuh terbelah.
Kemarahan Patriark Tao Lian seketika berganti kecemasan saat melihat salah satu makam telah terbongkar. Dengan segera diapun melesat menuju lobang pemakaman tersebut.
Namun, Traaaanggg...
Beruntung Patriark Tao Lian masih sempat menangkis tebasan yang mengarah padanya dengan ledakan energi.
"Tidak akan ku biarkan ada seorangpun yang merusak rencana kami."
Patriark Tao Lian mengerutkan dahi. Mendengar logat perkataan pria berpakaian serba hitam dihadapannya, dia menduga jika orang tersebut bukanlah berasal dari daratan timur.
Melihat lawannya mematung, pendekar berpakaian hitam langsung melesat dan tiba-tiba sudah melayangkan tebasan yang menargetkan kepala Patriark Tao Lian.
Booommm...
Tebasan tersebut hanya membelah udara, sementara energi dari tebasan itu terus meluncur menghatam deretan batu nisan dan berakhir dengan ledakan yang membuat tanah sedikit bergetar.
"Sialan, siapa yang ikut campur." Bentak pria berpakaian hitam tersebut sambil mengedarkan pandangan ke segala arah.
"Berhati-hatilah, mereka bukan lawan kalian." Ucap seorang pemuda tampan berpakaian lusuh sambil mengintip dari balik pohon memandangi lokasi pemakaman.
Patriark Tao Lian terdiam, dia sedang mencerna situasi mengapa tiba-tiba dirinya berada disini bersama seorang pemuda lusuh yang sama sekali tidak dikenalinya.
"Kau sia..." Suara Patriark Tao Lian tercekat manakala pemuda lusuh tersebut tiba-tiba menghilang seperti hantu.
"Alam menjadi saksi.
Gunung ku daki.
Lautan ku sebrangi.
Sudah sangat jauh langkah kaki ini.
Meski dunia tidak lagi perduli.
Namun kejahatan harus tetap di basmi."
Seorang pemuda lusuh tiba-tiba muncul, berjalan mondar-mandir dengan tatapan tertunduk ke tanah.
"Pendekar penyair! Kenapa kau berada disini.." Pria berpakaian hitam yang menyerang Patriark Tao Lian sebelumnya, kini nampak melebarkan mata sambil mengeratkan rahangnya.
Pemuda lusuh yang berjuluk pendekar penyair berhenti, lalu membalikkan badan dan menatap pria berpakaian hitam sambil meringis lebar.
"Tak ada larangan bagi pengembara.
Mereka bebas pergi kemana saja.
Tapi yang pasti kalian harus binasa."
Pemuda penyair berkata dingin, dan tiba-tiba sudah menebas kepala pria berpakaian hitam hanya dengan kibasan tangan.
Kepala pria berpakaian hitam menggelinding dengan mata terbelalak, menunjukkan isyarat jika dia belum siap menerima kematian. Sementara tubuhnya masih berdiri dengan leher yang bermuncratan darah, sebelum akhirnya tumbang ke tanah.
Pendekar penyair menyeringai menatap kepala yang tergeletak terpisah dari badannya.
"Ilusi anak kecil seperti ini tidak akan berguna bagiku. Tunjukan dirimu jika berani." Suara pendekar penyair menggema menggetarkan tanah, membuat pertarungan yang berlangsung seketika terhenti.
Terlihat dari sisi utara sekelebat sosok membelah udara, membawa deruan angin serta debu yang menuju ke tempat Pendekar penyair berdiri.
Booommm...
Ledakan berdaya kejut menyapu debu serta membumbungkannya tinggi, membuat sebagian lokasi pertarungan tertutup kabut debu yang berterbangan.
Setelah kepulan debu luruh terbawa angin, terlihat dua sosok saling berhadap-hadapan. Di hadapan Pendekar Penyair telah berdiri seorang wanita yang rambutnya terkepang dua.
"Oh betapa bahagianya diri ini,
Ketika aku sedang bertarung hidup dan mati,
Seorang wanita menghampiri,
Apakah sudah saatnya ku akhiri kesendirian ini,
Menuju mahligai suci,
Untuk hidup beriringan sehidup semati..."
"Hentikan bualanmu.. jangan ikut campur dan pergilah dari sini, atau ku bungkam mulutmu selamanya." Decak kesal wanita berkepang sambil menghunuskan pedangnya ke arah si pemuda.
Pemuda lusuh itu siap membuka mulut untuk bersyair, namun tiba-tiba banyak kelebatan bayangan dan mengepung dirinya.
Dengan mulut menganga, pemuda lusuh itu memutar tubuhnya, mengamati orang-orang yang mengepungnya.
"Hahaha... Ternyata benar kalian kultivator dari Daratan Utara."
Mendengar perkataan Pendekar Penyair, Patriark Tao Lian yang sedang terbang ingin membantu, mengurungkan niatnya melayang di udara. Seluruh anggota Sekte Lembah Petir yang tidak lagi melakukan pertarungan karena lawannya telah pergi mengepung pemuda lusuh, nampak terkesiap. Mereka benar-benar tidak menyangka lawan mereka ternyata para kultivator dari daratan lain.
Mendapati Pendekar Penyair mengetahui identitas mereka, ke-enam kultivator berpakaian hitam langsung bersamaan bergerak menyerang.
Dengan senyuman yang terus tersungging, Pendekar Penyair menyambut serangan demi serangan dengan gerakan yang teramat cepat. Membuat semua serangan para kultivator tersebut tidak membuahkan hasil.
****
Di dalam lorong tanah makam yang terbongkar. Terlihat belasan orang berpakaian hitam sedang menatap sebuah batu besar dan tebal setinggi 4 tombak, dan lebar 3 tombak, yang berada di sudut ruangan sebelah timur. Mereka berusaha memecahkan abjad kuno yang terukir di dinding batu tersebut.
"Xin Qian, apa kau bisa membaca tulisan itu?" Tanya Seorang pria berjenggot panjang pada seorang gadis yang memiliki bekas luka sayatan di pipi sebelah kanan.
Gadis itu mengangguk, keningnya mengkerut. Lama Xin Qian mengamati tulisan tersebut tanpa berkedip. "Maaf tetua Nan, ini tulisan yang sangat kuno. Aku tidak bisa membacanya."
Pria yang di panggil tetua itu kesal. Satu-satunya yang bisa dia andalkan untuk masalah ini adalah gadis itu. "Tidak berguna!.. Kau tetaplah berusaha menerjemahkan tulisan itu. Aku dan yang lain akan memeriksa bagian lain tempat ini."
Ruangan bawah tanah yang lebih tepat disebut goa itu tidak mempunyai lubang angin. Hawanya pengap dan tidak ada cahaya yang masuk. Goa ini begitu gelap gulita.
Dengan mengandalkan kobaran api yang menyelimuti tangan, Tetua Chai Nan dan anggotanya tidak menemukan apapun. Kecuali nisan besar yang bertuliskan abjad kuno.
"Kalian, gali makam ini..!" Perintah Tetua Chai Nan.
Belasan orang segera mencabut senjata dan mulai menggali. Tanah batu yang keras tidak menyulitkan mereka. Tiga meter setengah mereka menggali dan di dapati papan-papan kayu yang melintang. Tepatnya galih inti kayu yang tidak rapuh sedikitpun. Perlahan mereka membuka satu persatu papan.
Ada jasad yang terlihat bagian perut ke atas. Jasad manusia berbadan tinggi besar. "Ini jasad manusia jaman dulu, ternyata orang-orang dulu memiliki badan yang besar."
"Perluas penggalian dan periksa apakah ada sesuatu selain jasad itu." Tetua Chai Nan kembali memerintah.
Jasad yang besar hampir tujuh kali lipat ukuran lelaki dewasa itu mereka gelimpangkan ke kiri dan ke kanan.
"Disana tidak ada apa-apa, tetua." Lapor belasan orang yang menggali pada tetua Chai Nan yang menunggu di atas lubang.
"Sial..!!! Jika begitu mari kita ke tempat Xin Qian, mungkin dia sudah bisa membaca tulisan di batu." Tetua Chai Nan melangkah meninggalkan lubang bersamaan belasan anggotanya yang melompat tinggi ke atas keluar dari lubang yang mereka gali.
Setengah meter lagi belasan orang yang melompat tersebut menyentuh lantai goa, terdengar bunyi pecah belasan kali secara bergantian. Tubuh belasan orang tersebut menggeliat dengan kepala pecah.
Tetua Chai Nan secara naluri melompat menjauh, matanya nanar memandang seluruh ruangan dan memasang kuda-kuda siap bertarung. Dia menajamkan indera perasa, tapi hening.
"Ada apa tetua?" Xin Qian yang mendengar benda pecah langsung menghambur, dan kini dia sudah berdiri di samping Tetua Chai Nan.
"Ada yang menyerang diam-diam, bersiaplah!"
"Keluar kau pengecut..!" Suara tetua Chai Nan menggema. Pria berjenggot dari daratan lain itu menghunuskan pedangnya. Gema suara berganti kesunyian.
"Aneh, tapi kenapa aku tidak merasakan keberadaan orang lain selain kita." Xin Qian mendekati rekannya yang tergeletak tak bernyawa.
"Sepertinya tubuh mereka hancur dari dalam, tetua." Xin Qian memberikan kesimpulan setelah memperhatikan dengan seksama belasan kepala pecah rekan-rekannya tersebut.
"Benarkah?" Tukas tetua Chai Nan dengan pedang yang masih terhunus.
"Tetua lihatlah sendiri.."
"Liang itu mengandung racun... Racun itu terlepas ketika mereka membalikkan jasad. Racun tanpa rupa, sungguh mengerikan!! Bahkan racun jenis ini tidak ada di negri kita," tetua Chai Nan berusaha memecahkan misteri pecahnya kepala para anggotanya tersebut.
"Bagaimana Xin Qian? Apa kau sudah bisa menerjemahkan abjad kuno di batu itu?" Tetua Chai Nan bangkit dan menuju batu besar.
"Aku tidak yakin tetua. Tapi intinya, seseorang yang ingin menemukan sesuatu di tempat ini harus mengucapkan sebuah kalimat yang tertera di batu itu dengan jumlah 1001 kali." Ucap Xin Qian seraya menempelkan kedua tangan ke lubang dangkal yang ada di permukaan batu.
"Apa kau sudah tau apa yang harus kita baca?"
"Sudah tetua.."
Xin Qian kemudian memasukkan kedua tangannya ke lobang batu dan mulai mengucap. "Chuangzhuo zhe, Chuangzhuo zhe.."
Tetua Chai Nan mundur dan waspada, dia khawatir akan ada jebakan ataupun racun yang tiba-tiba menyerang.
Tidak butuh waktu lama, Xin Qian sudah mengucapkan kalimat tersebut sebanyak 1001 kali.
"Batu ini bergetar, sepertinya ini berhasil tetua." Xin Qian mengeluarkan tangannya dan mundur beberapa langkah.
"Akhirnya.." tetua Chai Nan berseru senang.
Di dalam lobang yang tidak terlalu dalam pada dinding goa, terdapat sebuah pedang yang keluar dari dalam. Pedang itu melengkung, ujungnya mengecil dan bercabang, dengan selongsong pedang berwarna hijau.
Melihat ada tulisan kuno di selongsong pedang tersebut, tetua Chai Nan menyerahkan pedang tersebut pada Xin Qian. "Apa kau bisa membaca tulisan itu?"
"Teruskan atau kau mati?" Xin Qian mengerutkan dahi saat membaca tulisan di selongsong pedang.
"Apa maksudnya?" Tanya Tetua Chai Nan dengan muka tertekuk.
"Sudahlah tetua, sebaiknya kita simpan saja dulu pedang ini. Aku memiliki firasat untuk jangan menarik pedang ini sebelumnya misteri dari kata-kata tadi terpecahkan." Xin Qian memberikan usul, dia merasa ada yang tidak beres dengan pedang itu.
Tetua Chai Nan mengangguk dan kemudian memasukkan pedang tersebut ke dalam cincin ruang miliknya.
Di atas tanah pemakaman, ke-enam kultivator berpakaian hitam tengah kewalahan menghadapi pendekar penyair, terlebih mereka juga harus membagi perhatian pada para anggota Sekte Lembah Petir yang menyerang dan mengepung mereka dari segala sisi.
"Semuanya, ayo kita kembali." Seru tetua Chai Nan sambil melayang di udara bersama Xin Qian yang juga melayang di sebelah kirinya.
Ke-enam kultivator yang terkepung mengangguk dan secara bersamaan mereka melesat terbang menyusul Tetua Chai Nan dan Xin Qian yang sudah terlebih dulu melesat meninggalkan lokasi pemakaman.
"Sebaiknya anda periksa ke dalam.. biar aku yang mengejar mereka." Ucap Pendekar Penyair sambil menoleh kearah Patriark Tao Lian.
_______________
Jangan lupa untuk terus memberikan dukungan berupa like, komen dan vote ya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 173 Episodes
Comments
Roni Sakroni
pendekar utamanya seperti polisi India selalu terlambat datangnya. klo sudah hancur baru sampai.
2024-04-08
1
Harman LokeST
Li Tian cepat kembali
2024-02-29
1
Harman LokeST
sssssssssiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiippppppppppp
2022-06-17
0