Arya yang terkejut dengan reflek langsung meraih tangan yang memegang pundaknya. Namun yang dia dapati hanyalah pundaknya sendiri. Diapun segera bangkit dan cepat berbalik badan, di hadapannya kini berdiri sesosok pria yang sangat dikenalinya.
"Guru... Kemana saja kau selama ini."
Dewa Petir tersenyum ramah dan lalu berkata. "Aku ada urusan penting, nanti saja akan aku jelaskan. Sekarang ikutlah denganku."
Arya mengangguk, namun saat itu juga dia baru menyadari jika dirinya telah berada di tempat yang berbeda. Kini dia berada di sebuah taman yang di penuhi berbagai macam bunga berwarna-warni yang juga menyebarkan aroma begitu harum menenangkan.
Meski banyak pertanyaan yang memenuhi pikirannya, Arya hanya diam dan berjalan mengikuti Dewa Petir dari belakang.
Mereka berjalan melewati pintu emas dan terus menyusuri koridor yang terlihat mewah dengan hiasan pernak-pernik batu mulia yang terlihat memancarkan energi Qi besar.
Dalam perjalanan, Arya melihat banyaknya prajurit penjaga di sepanjang koridor segera membungkuk ketika melihat Dewa Petir akan melewati mereka. Arya juga melihat adanya gadis-gadis muda cantik yang langsung berlutut ketika melihat Dewa Petir.
"Sudah lama aku tidak ke sini..." Arya tersenyum sambil mengingat kembali kenangan Kaisar Dewa Naga Emas yang dulu juga sering main ke alam Dewa untuk sekedar mengisi waktu luangnya ataupun memberi tugas untuk Para Dewa.
Arya sama sekali tidak merasa aneh dan bersikap biasa saja saat melihat beberapa makhluk yang bukan dari ras manusia. Meski beberapa Dewa memiliki wujud aneh dan bahkan beberapa diantaranya bisa di katakan mengerikan, namun pancaran aura dewa yang di miliki mereka membuat mereka begitu berwibawa dan berkedudukan di tinggi di mata manusia.
Sampailah mereka di depan ruangan yang pintunya memiliki ukiran burung hantu. Arya langsung mengenali ruangan tersebut, yang tidak lain adalah kediaman sekaligus ruangan penelitian milik Dewa Pengetahuan yang bernama Alan Osbert.
Sekilas Arya sudah dapat menyimpulkan mengenai permasalahan yang tengah dihadapi gurunya, Dewa Petir. Namun dia tetap diam dan membiarkan Dewa Petir sendiri yang akan menyampaikan permasalahan itu kepadanya.
Pintu ruangan itupun terbuka dari dalam, dan lalu muncul sosok pria berambut pirang pendek. Dialah Dewa Pengetahuan, Alan Osbert.
Setelah membungkuk memberi hormat, Alan Osbert kemudian mempersilahkan Dewa Petir dan Arya masuk.
Di dalam ruangan tersebut, Arya di perlihatkan berbagai peralatan canggih. Mulai dari layar komputer hologram, robot-robot mekanik, tabung laboratorium dan lain sebagainya.
Alan Osbert lalu menyuruh Arya duduk di kursi panjang yang terlihat transparan. Tanpa ragu Arya menurut, dia kemudian di baringkan di kursi transparan tersebut. Setelahnya, Alan Osbert lantas menempelkan beberapa kabel ke permukaan kulit tangan serta dada Arya.
Setelah pemasangan kabel selesai, Alan Osbert kemudian memunculkan layar hologram di hadapannya. Tangannya bergerak lihai menyentuh setiap tombol yang ada di layar hologram, detik kemudian mesin-mesin di sekeliling Arya langsung menyala dan bekerja.
Seketika itu juga Arya langsung merasakan rasa hangat yang merangsek ke setiap otot serta syarafnya. Meski kebingungan, Arya lebih memilih diam saja karena dia yakin Dewa Petir dan Dewa Pengetahuan tidak akan melakukan hal yang buruk terhadapnya.
"Semua sistem telah menyatu ke dalam tubuhmu, dengan ini kau sudah bisa menggunakan senjata penemuan terbaruku ini." Alan Osbert tersenyum, lalu memunculkan sebuah piringan kecil bercahaya dari ruang hampa dan kemudian memberikannya kepada Arya.
Nampak Arya menautkan alisnya karena kebingungan. Sambil membolak-balikkan piringan besi seukuran telapak tangannya, dia mencoba mencari keistimewaan dari benda itu. "Untuk apa ini?" Tanyanya sambil menatap Alan Osbert.
"Benda itu memiliki banyak kegunaan, seperti untuk alat komunikasi, transportasi, armor ataupun senjata." Alan Osbert menjelaskan.
"Lalu bagaimana cara kerjanya?"
"Kau hanya perlu memerintahkan lewat pikiranmu, mau kau jadikan apa benda itu."
Arya mengangguk dan lalu menyuruh piringan yang dia pegang menjadi pedang.
Dan benar saja, piringan yang di pegang Arya dalam sekejap berubah menjadi pedang yang bilahnya tercipta dari cahaya.
"Pedang itu biasa di sebut lightsaber atau pedang cahaya." Jelas Alan Osbert.
"Menarik.." Gumam Arya.
"Tapi jika cahaya piringan itu berubah merah, artinya kau harus mengisi ulang energinya agar kau dapat menggunakannya lagi." Alan Osbert kemudian menjelaskan bagaimana cara untuk mengisi ulang energi serta seberapa banyak energi yang dibutuhkan untuk mengisi penuh energi piringan tersebut.
"Apa!" Pekik Arya karena terkejut. Dia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana mungkin piringan sekecil ini membutuhkan energi satu planet untuk 4 kali pengisian.
"Seperti yang sudah aku jelaskan, piringan ini memiliki berbagai kegunaan. Jika kau merubahnya menjadi alat transportasi seperti pesawat antariksa, kau butuh satu kali pengisian untuk dapat melintasi satu galaxy." Alan Osbert tersenyum, dia dapat memahami keterkejutan Arya.
"Bocah, kedepannya nanti aku sudah tidak dapat membantumu mencari pecahan Kaisar Dewa Naga Emas yang tersisa. Karena itulah aku menyuruh Dewa Pengetahuan untuk membuatkan senjata itu untukmu. Dengan itu kau bisa melintasi alam semesta dan mencari sendiri pecahan roh Kaisar Dewa Naga Emas, meski kau belum mencapai Pendekar Langit." Dewa Petir memaparkan tujuannya kepada Arya.
"Baiklah guru, tapi apa alasan guru tidak bisa membantuku?" Arya menunjukkan ekspresi tenang, dia kemudian merubah Pedang cahaya menjadi cincin agar lebih mudah membawanya.
"Besok aku akan menjalani hukuman langit karena ketahuan turun ke alam manusia. Maka dari itulah aku membawamu kesini sebab aku memerlukan bantuanmu.." Dewa Petir mendengus kesal. "Seharusnya hukumanku masih beberapa minggu lagi, tapi karena kemarin Alam Dewa dan Alam Iblis terguncang karena bangkitnya sebagian kekuatanmu, para iblis lantas mendesak agar hukumanku di percepat."
Arya mengangguk karena dugaannya ternyata benar. "Tapi untuk membantu guru, energiku saat ini tidaklah cukup."
"Apa!" Pekik Dewa Petir sambil mengepalkan tangannya. "Tapi kenapa Kaisar Dewa Naga Emas dulu mengatakan bisa membantuku dalam situasi ini jika kau sudah berada di tahap Pendekar Pertapa. Lagipula saat ini kau sudah di tahap Pendekar Fana. Cobalah kau ingat-ingat dan cari cara untuk membantuku."
Arya kemudian mencoba menggali ingatannya untuk mencari cara agar bisa menyelamatkan Dewa Petir. "Untuk saat ini aku hanya bisa menyegel roh guru.."
"Apa kau yakin ini akan berhasil.."
"Aku akan mengusahakannya semampuku, guru."
Arya kemudian mendekati Dewa Petir dan lalu meletakkan kedua telapak tangannya ke dada gurunya tersebut.
Melihat pancaran energi yang membentuk pola segitiga menyerupai paramida menyelubungi Arya dan Dewa Petir, Alan Osbert dengan segera menjauhkan diri.
Wajah Arya nampak mengerenyit, matanya yang terpejam berkedut-kedut berulangkali. Selama proses penyegelan roh berlangsung, Arya terus mengeratkan rahangnya, keringatnya tidak berhenti membanjiri tubuh serta membasahi pakaian yang di kenakannya.
Setelah berjam-jam berlalu, Arya menarik tangannya dan lalu tersungkur karena kehabisan energi. Dengan segera Alan Osbert membantu memulihkan kondisi Arya, dia mengalirkan energinya ke tubuh pemuda itu.
"Bagaimana kondisimu?" Tanya Dewa Petir yang nampak khawatir.
"Setidaknya segel itu telah berhasil guru.." Arya tersenyum lebar dengan kelopak mata yang setengah terpejam.
"Panggilkan Dewa Obat.." Perintah Dewa Petir kepada Alan Osbert.
"Tidak perlu guru, sebentar lagi aku akan kembali pulih. Apa guru melupakan siapa aku, hehe.." Ucap Arya sambil terkekeh pelan.
Dengan susah payah, Arya memposisikan tubuhnya untuk duduk bersila. Dia kemudian menggunakan teknik pernafasan Dewa Naga Emas, dengan cara seperti ini kondisinya akan lebih cepat pulih.
Beberapa menit kemudian, Arya membuka mata dengan menyunggingkan senyuman ramah. Wajahnya yang tadinya pucat, sudah kembali segar. Hanya pakaiannya saja yang masih basah kuyup seperti baru berendam di danau.
"Guru, mungkin butuh waktu lama bagiku untuk bisa membangkitkan guru kembali. Aku harus memasuki alam kuantum untuk mengambil sebagian roh anda yang lain di sana." Jelas Arya setelah mengeringkan pakaiannya dengan energi hawa panas.
"Alam kuantum, apa yang kau maksud adalah partikel atom terkecil?" Tanya Alan Osbert nampak antusias, dia beberapa kali gagal menciptakan alat yang memungkinkan untuk menjelajahi waktu.
"Alam kuantum atau bisa di sebut dunia paralel. Seseorang tidak mungkin bisa menjelajahi waktu, karena waktu akan terus berjalan sebagaimana mestinya. Namun waktu memiliki cabang realitas yang berbeda, yang mana di dunia paralel kita sedang berada di masalalu atau masa depan."
Arya melanjutkan penjelasan, sebenarnya orang yang kembali ke masalalu tidaklah berada di dunia yang semestinya berjalan, mereka sejatinya terlempar ke dunia paralel. Jika seandainya perjalanan waktu bisa terjadi, maka dunia ini akan di warnai banyak paradox.
Misalnya, jika seseorang kembali ke masalalu dan membunuh kakeknya ketika ia masih muda, maka orang tersebut tidak akan bisa terlahirkan. Lalu bagaimana orang tersebut bisa kembali ke masalalu dan membunuhnya?
Atau jika seseorang kembali ke masalalu dan bertemu dengan ibunya ketika masih gadis, kemudian mereka saling jatuh cinta, hingga akhirnya mereka menikah dan punya anak. Lalu apakah anak itu adalah dirinya sendiri atau orang itu sendiri yang meng-ayahi dirinya sendiri.?
"Perjalanan ke masalalu atau masa depan bisa terjadi tapi yang sebenarnya mereka memasuki cabang realitas waktu yang berbeda. Sehingga apapun yang mereka lakukan di dunia paralel, hal itu tidak akan mempengaruhi realitas waktu yang sebenarnya."
"Segala sesuatu pasti memiliki pasangan begitu pula waktu. Inilah salah satu rahasia alam semesta.. Dan mengenai dunia paralel, itu semua termasuk satu kesatuan dari alam semesta." Arya menutup penjelasannya dengan tersenyum canggung, karena dia melihat Dewa Petir dan Alan Osbert nampak sedang berusaha mencerna ucapannya.
"Lalu apa tujuanmu mengambil roh ku di alam kuantum?” Tanya Dewa Petir yang nampak kebingungan.
"Jika guru di hukum, maka sejatinya guru sudah lenyap dari kehidupan ini... Dan untuk dapat bisa menghidupkan roh guru yang aku segel, aku memerlukan sedikit pecahan roh ataupun sumber kehidupan guru di dunia paralel." Jelas Arya.
Dewa Petir mengangguk meski tidak sepenuhnya mengerti. "Baiklah, aku percayakan semuanya padamu."
Dewa Petir kemudian mengeluarkan beberapa kitab dari ruang hampa. "Kau ingat jika aku masih menyimpan satu permintaan padamu?"
Arya mengangguk. "Lalu apa hubungannya dengan semua kitab-kitab ini, guru?"
"Anggaplah ini sebagai permintaanku. Jika kau berhasil membangkitkanku, maka di kehidupan selanjutnya kau harus mengembalikan kitab-kitab ini padaku. Tapi jika seandainya usahamu itu gagal, maka serahkanlah kitab-kitab ini pada anak-anakku." Jelas Dewa Petir.
"Baiklah guru.. aku siap menerima amanat guru." Balas Arya dengan mantap.
"Karena kau adalah muridku, dan sebagai pengganti diriku jika nanti tiada, kau pelajarilah kitab-kitab ini."
"Tapi guru, kitab-kitab yang aku miliki saja belum sepenuhnya dapat aku pelajari. Sekarang guru malah menyuruhku mempelajari tumpukan kitab itu." Wajah Arya nampak kusut. Dia sebenarnya ingin hidup santai dan damai untuk beberapa saat, tapi kenapa takdir selalu memaksanya untuk terus belajar dan bertarung.
"Jangan menolak, sebagai murid kau harus mewarisi semua ilmu gurumu." Dewa Petir berkata penuh penegasan.
Dengan wajah kusut, Arya terpaksa menerima perintah Dewa Petir. Dia lantas memasukkan semua kitab pemberian dari gurunya itu ke dalam cincin ruang miliknya.
Dewa Petir kembali memunculkan kitab dari ruang hampa. Ketika kitab tersebut muncul, kitab itu nampak biasa saja namun ketika Arya menyentuhnya, kitab itupun seketika mengeluarkan cahaya keemasan dan langsung lenyap masuk ke dalam tubuhnya.
"Itu adalah pecahan Kaisar Dewa Naga Emas terakhir yang ada padaku. Kau pelajarilah Kitab Dewa Naga Emas tahap semesta itu, jika kau sudah sepenuhnya dapat menguasai Kitab Dewa Naga Emas tahap surgawi." Dewa Petir lantas menatap Arya serius. "Kedepannya akan semakin banyak kesulitan yang siap menantimu, untuk itu cepatlah kumpulkan dua pecahan Kaisar Dewa Naga Emas yang tersisa."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 173 Episodes
Comments
Yanka Raga
semangaaat 💪
2024-03-12
1
Harman LokeST
kuuaaaaaaaaaaattkkaaaannnnnnn teeeeeeeeerrrrrrrrrrruuuuuuuusssss teekaaaaaaaaaaaaaaaayaaaaaddmuuuuu Li Tian
2024-02-29
1
Harman LokeST
di berikan kitab semesta
2022-06-17
0