Aksara mengerang kesakitan, kemudian jatuh tersungkur di tanah. Axel tersenyum bersiap mengklaim kemenangannya, begitupun para penonton sudah menduga Aksara telah kalah. Bibo bersiap untuk mengumumkan akhir pertarungan, saat Aksara mencengkeram tanah dan mencoba berdiri dengan sisa tenaganya.
"Jangan kau pikir akan mudah mengalahkanku!," Aksara tersenyum, meskipun sekujur tubuhnya penuh darah dan luka yang menganga.
Bibo terdiam, ragu harus bertindak. Dari yang terlihat pertarungan ini sudah sampai di titik akhir, luka yang begitu banyak diderita Aksara bisa membahayakan nyawanya.
"Aku mohon untuk para Kapten dan yang mulia dukun agung Ziyan . . . jangan hentikan pertarungan ini, meskipun tubuhku terkoyak, asalkan kakiku masih kuat untuk berdiri, maka semangatku dalam pertarungan ini lebih layak menang dibandingkan siapapun," Aksara menoleh pada singgasana para kapten, sorot matanya menyala, penuh dengan semangat. Lady Kapten Joanne tersenyum melihatnya.
"Haaaaaaahhhhhhhhh," Aksara berteriak, api di tinjunya semakin berkobar. Api menjalar di kedua kaki Aksara, kedua tangan hingga siku dan separuh wajah Aksara. Mata kanan Aksara berubah menjadi merah menyala. Luka luka di sekujur tubuhnya terkelupas oleh nyala api.
Axel segera memasang kuda kuda, meletakkan kedua telapak tangannya di tanah.
"Gelombang pasir besiii," tanah di sekitar Axel bergetar, pasir besi membentuk gelombang bagaikan ombak di samudera.
Aksara melompat bersiap menghantam gelombang pasir besi.
Jraasshhhhh . . .
Gelombang pasir besi terbelah terkena tinju api Aksara. Pasir besi terbakar dan menimbulkan abu yang beterbangan di udara. Aksara menjejak tanah sekuat tenaga, dan melesat dengan sangat cepat dengan bantuan api sebagai tenaga pendorong di telapak kakinya. Sekilas mirip dengan gerakan super cepat Jaguar.
Axel terhenyak kaget melihat kecepatan Aksara. Sementara pasir besinya belum kembali untuk membuat perisai.
Buaagghh Buukkk Buuaagghhh
Tiga pukulan telak menghantam Axel. Kali ini Axel terlontar ke udara. Dan tanpa memberi Axel kesempatan, Aksara langsung menendang Axel yang sedang melayang.
"Hyyaaahhhh," Aksara berteriak, berusaha menuntaskan pertarungan.
Jdaarrrrr
Debu beterbangan, Aksara berdiri dihadapan sosok Axel yang tertelungkup di tanah. Aksara mengatur nafasnya yang tersengal, staminanya benar benar terkuras.
"Gila, hebat juga si bodoh itu," Lyodra yang menyaksikan pertarungan spontan berdiri, dia kagum melihat perjuangan Aksara.
"Semoga ini sudah berakhir. Aksara menanglah," Diana menangkupkan tangannya di dada, berdoa penuh harap.
Namun ternyata Axel masih sanggup berdiri. Wajahnya retak, kemudian retakan retakan itu pecah jatuh ke tanah. Kulitnya yang mengelupas berubah menjadi butiran pasir. Axel terlihat seperti ular yang sedang berganti kulit.
"Brengsek!," Umpatan terlontar dari mulut Axel.
Perlahan lahan retakan di wajah Axel meluas dan akhirnya mengelupas. Kini, wajah Axel terlihat berubah.
"Hah? Kau siapa?," Aksara bertanya heran. Lawan yang dihadapinya kini berganti wajah. Pria yang dari awal berkulit sawo matang, berubah menjadi pria berkulit putih bersih.
Ternyata sedari awal Axel memakai topeng yang terbuat dari pasir besinya. Dan kini topeng itu berhasil disingkirkan oleh pukulan pukulan Aksara. Wajah yang berada di balik topeng pasir itu membuat para Kapten dan Dukun Agung Ziyan terhenyak kaget. Beberapa penonton juga berbisik bisik, begitupun Diana terlihat menutup mulut dengan tangannya, seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Yang mulia Tuan muda?," Dukun Agung Ziyan membungkukkan badannya.
Ternyata Axel adalah putra mahkota kerajaan Lintang. Semua kapten pun ikut membungkuk memberi hormat. Dukun Agung Ziyan selama ini tidak tahu jika putra mahkota kerajaan Lintang memiliki bakat untuk menjadi dukun sakti.
"Tuan Muda apa yang anda lakukan disini?," Bibo mendekat bertanya pada Axel.
"Ah sial! Gara gara kau, penyamaranku terbongkar," Axel menatap Aksara jengkel.
"Baiklah, aku akan jujur saja. Namaku Aero Mada . .aku putra tunggal dari Raja Mada. Aku memakai identitas salah satu anak pengawal istana yang bernama Axel. Kenapa aku ikut seleksi dukun istana ini? Karena aku nggak mau meneruskan kepemimpinan kerajaan ini seperti ayahku. Raja yang kalah pamor dari seorang dukun Agung. Aku akan menjadi raja sekaligus dukun sakti nomor satu di kerajaan ini. Aku akan menjadi raja yang dihormati dan disegani lebih dari seorang dukun Agung," Axel yang ternyata adalah Aero Mada putra Mahkota kerajaan Lintang berpidato dengan berapi api.
"Aku tak peduli siapa kau. Kalaupun dari awal kau menunjukkan wajahmu itu padaku, takkan ada pengaruhnya untukku. Aku adalah orang yang akan menjadi dukun sakti nomor satu, jadi aku takkan gentar menghadapi siapapun," Aksara kembali menegaskan tekadnya. Mata, semangat, dan apinya menyala berkobar siap mengalahkan lawannya.
"Ha ha ha ha . . .Aku suka lawan sepertimu. Tapi akulah yang akan menjadi dukun sakti terkuat nomor satu," Aero tertawa menantang.
Wuuussshhhhhh
Terlihat seekor iguana raksasa muncul di belakang Aero. Roh kedua Aero telah menampakkan diri, kali ini dia akan menunjukkan kekuatan dan serangan pamungkasnya.
Iguana raksasa memuntahkan pasir besi, mengubur Aero di dalamnya. Gundukan pasir besi membentuk kloningan tubuh Aero. Kini ada puluhan Aero dihadapan Aksara. Melawan satu Aero saja sulit, apalagi harus melawan puluhan Aero dengan kekuatan serupa.
"Bolo sewu pasir besii," Aero mengucap mantra jurusnya.
Dengan serentak, pasukan kloning an Aero maju bersiap mengeroyok Aksara. Aksara memejamkan matanya sejenak, api di tubuhnya semakin berkobar. Terlihat di beberapa bagian tubuh, termasuk kulit wajah Aksara mengelupas terkena nyala api nya sendiri. Kekuatan api Aksara ternyata juga memberi dampak buruk bagi penggunanya. Aksara harus bergegas menyelesaikan pertarungan, atau tubuhnya akan hangus terbakar menjadi abu.
"Hyyaaaaaahhhhh," Aksara berteriak, langsung berlari dan menghantam pasukan klonning secara membabi buta.
Buaagghh
BAAMM BAAMMM
Ledakan demi ledakan terjadi, aroma pasir yang terbakar semakin menyeruak di udara. Semua mata tertuju pada pertarungan yang dahsyat, tidak ada satupun suara selain suara tinju yang beradu. Sang putra mahkota saat ini sedang bertarung dengan pemuda desa dengan tekad baja.
BLAARRRRRR
Sebuah ledakan dahsyat, menimbulkan kepulan asap sekaligus debu pasir yang beterbangan. Diana dan Lyodra terlihat gelisah, apakah Aksara mampu memenangkan pertarungan?
Saat asap dan debu mereda, perlahan terlihat dua sosok yang masih sama sama berdiri berhadapan. Aksara terlihat compang camping, pakaian yang dia kenakan hangus sebagian. Beberapa bagian tubuhnya terlihat melepuh memerah kepanasan. Sementara Aero terlihat mengatur nafas, meskipun tidak ada tambahan luka di tubuhnya kali ini, namun staminanya terkuras habis oleh jurus klonning pasir besi.
"Ha ha ha ha . . .kau luar biasa! Baru kali ini aku kehabisan tenaga seperti ini. Ayo kita akhiri," Aero tertawa tersengal. Kemudian tangan Aero mengepal dan pasir besi dengan jumlah yang sedikit bergerak membentuk sebuah tombak.
Aksara tersenyum, sebenarnya saat ini dia merasa setengah pingsan. Kemauan dan semangatnya yang membuat dia masih kuat berdiri. Sekujur tubuhnya terasa sakit, pandangannya berkunang kunang, tapi dia nggak mau menyerah.
"Kemamang!,"
BWOOOSSHHH
Aksara kembali mengucap mantra dan apinya kembali menyala. Namun saat ini semua orang sadar bahwa Aksara sedang menahan rasa sakit oleh luka bakarnya.
"Hyyaaaaahhhhhhh," Aero dan Aksara berteriak bersama dan bersiap untuk mengakhiri pertarungan.
Kraakkkk Braaakkkkj
Di tengah arena, muncul pohon raksasa menjulang tinggi memisahkan dan menghentikan pertarungan.
"Pertarungan selesai," Dukun Agung Ziyan berada di atas salah satu dahan pohon raksasa.
Bersambung . . .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
di hentikan
2024-02-02
0
Zuhril Witanto
kayak gaara ya🤭
2024-02-02
0
🇴 🇫 🇫 (ᴛᴜᴛᴜᴘ ᴀᴋᴜɴ)📵
uhuk
2021-08-16
3