Dooongg
Dooongg
Doonggg
Suara gong dipukul tiga kali pertanda babak kedua seleksi dukun istana akan segera dimulai. Para peserta yang terdiri atas delapan orang satu persatu memasuki gelanggang. Aksara takjub, set dan bentuk gelanggang yang berbeda dari kemarin. Ada sebuah bangunan kotak persegi di tengah tengah gelanggang dengan 4 pilar yang menyangga obor api raksasa.
Penonton penuh sesak di sekililing gelanggang. Mereka berteriak teriak, bersiul, memberikan dukungan pada masing masing peserta. Namun suara yang terdengar paling keras adalah dukungan untuk Axel. Ada ribuan orang yang kelihatannya menjagokannya.
Axel Axel Axelll
Tepuk tengan gegap gempita memekakkan telinga, seperti gemuruh di tengah area gelanggang. Para peserta di arahkan untuk duduk di masing masing kursi yang berjauhan. Aksara sekali lagi merasa heran sekaligus takjub, dirinya yang bukan siapa siapa duduk di sebuah kursi layaknya singgasana nan empuk.
"Hadirin sekalian," Bibo muncul di tribun di tengah tengah penonton.
"Kini saatnya para peserta seleksi dukun istana masuk di babak kedua . . .," Bibo berteriak menggebu gebu, suaranya bergema, disusul gemuruh semangat para penonton.
Bibo melompat ke dalam gelanggang.
"Untuk para peserta, babak kedua adalah babak pertarungan satu lawan satu," Bibo terlihat tersenyum penuh semangat.
"Delapan peserta akan diundi dan diacak, untuk saling bertarung. Dan pemenangnya akan langsung menjadi dukun istana berlencana perak, setingkat dengan saya. Untuk para peserta, mungkin disini ada yang sudah menjalin pertemanan selama satu hari kemarin. Tapi ingat, di babak kedua ini kalian semua adalah rival. Tujuan kalian adalah untuk menjadi pemenang. Jadi, untuk yang bermental lemah, tidak sanggup bertarung, silahkan untuk keluar dari gelanggang," Bibo berbicara lantang, semua penonton dan peserta terdiam mendengarkan.
Diana terlihat menunduk, membulatkan tekadnya. Selama ini dia takut untuk bertarung, takut untuk melukai orang lain. Hatinya terlalu lembut untuk menjadi seorang dukun istana. Tapi kemarin, Aksara mengatakan ingin bersaing dengannya, bagi Diana itu merupakan sebuah kalimat pengakuan akan kemampuan Diana. Selama ini di dalam keluarganya, Diana dianggap beban, keberadaan paling lemah. Kakaknya, Kapten Wigan adalah contoh sukses dari keluarganya. Diana menetapkan hatinya, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi pemenang, dan membuktikan keberadaanya pada Kakak dan kedua orangtuanya.
"Baiklah sebelum pengundian dimulai, kita sambut empat orang Kapten dukun istana, yang akan menilai kemampuan kalian dan nantinya akan diputuskan kalian dibutuhkan di squadnya atau tidak," Bibo kembali melanjutkan pengumumannya.
"Yang pertama, seorang Kapten dari keluarga bangsawan kerajaan. Kapten dengan kemampuan cermin airnya. Kita sambut Kapten Wigaannn . . .," Bibo berteriak penuh semangat. Suara tepuk tangan dan siulan mengiringi kedatangan Kapten yang pernah menghajar Aksara itu.
"Yang kedua, pemilik golem batu. Kapten terlucu yang pernah kita kenal. Kita sambut Kapten Bumiii . . .," Bibo melanjutkan, disusul tanah yang bergetar, sebuah golem raksasa tetlihat berjalan memanggul Kapten Bumi yang sedang memakan buah apel dengan santainya. Tepuk tangan bercampur suara tawa dari para penonton terdengar bergemuruh.
"Yang ketiga, satu satunya lady Kapten. Satu satunya kapten perempuan dukun istana. Dengan roh kedua elemen anginnya yang penuh misteri, kita Sambut Kapten Joannee . . .," Bibo memanggil sang Kapten. Terlihat seorang wanita berjubah dan berlencana emas dengan rambut tergerai berwarna perak, tanpa senyum Kapten Joanne melangkah dengan anggun. Terlihat seluruh penonton kaum laki laki terpana menatapnya. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada siulan, semua orang seakan teralihkan perhatiannya pada sang Kapten. Aura yang menyejukkan dan menarik perhatian. Sungguh seorang Kapten yang luar biasa.
"Ah, selanjutnya . . .," Bibo kembali pada pengumumannya, dia seakan baru saja terhipnotis oleh Kapten Joanne.
"Kapten dengan roh kedua api phoenix. Kapten termuda, sekaligus terpanas siap berjuang dan membakar semangat para peserta. Selalu menjadi lentera dalam gelap, menyala dalam keheningan. Kita sambut Kapten Yoshaaa . . .," Bibo berteriak lantang, matanya berapi api.
Wuusshhh. . .angin semilir menerbangkan debu di gelanggang. Yang dipanggil Bibo tak kunjung datang. Tak menampakkan batang hidungnya.
"Kapten Yoshaa??," Bibo kembali memanggilnya.
Semua orang menoleh ke arah pintu gerbang. Tak ada yang keluar dari dalam sana.
"Ha ha ha ha ha . . .aku disiniiii," sebuah teriakan lantang, suara seperti anak kecil.
Semua orang menoleh ke sumber suara. Di atas salah satu pilar gelanggang, duduk dengan santainya, remaja yang mungkin saja seumuran dengan Aksara namun dengan postur mungil. Dengan santai Kapten Yosha duduk di pilar dengan obor api yang berkobar. Terlihat rambut sang Kapten bukan seperti rambut manusia pada umumnya, rambut Kapten Yosha adalah sebuah api yang bergerak kesana kemari tertiup angin.
"Turunlah bocah! Atau ku suruh golemku menyeretmu! Ha ha ha ha. . .," terdengar Kapten Bumi berteriak sambil tertawa.
"Diam kau orangtuaa," Kapten Yosha menyeringai. Kemudian terlihat melompat dari atas pilar.
BWOOOSSHHHHHHH
Sayap api langsung muncul menyala, berkobar dari bahunya. Kapten Yosha bersedekap dan turun perlahan dengan sayap api yang terkepak pelan. Setiap kepakan sayap menimbulkan gelombang panas yang luar biasa. Udara di sekitarnya seakan ikut mengering dan terbakar.
"Ah, baiklah Tuan tuan. Para Kapten, kami mohon untuk segera duduk di tempat yang telah kami siapkan," Bibo segera mengambil alih keadaan.
Empat orang Kapten duduk di kursi di hadapan arena persegi di tengah gelanggang. Gemuruh tepuk tangan kembali terdengar dari tribun penonton. Aksara pun ikut bertepuk tangan girang, dia takjub melihat itu semua. Dia sangat bersemangat, apalagi melihat Kapten Yosha dengan usianya yang sangat muda, memiliki kemampuan se hebat dan sesakti itu.
Sementara itu, Bagin terlihat memandang Aksara penuh kebencian. Kejadian tadi malam di resto membuatnya ingin menghajar Aksara. Dia berharap pertarungan kali ini akan mempertemukan dirinya dengan Aksara. Bagin ingin menunjukkan kemampuannya pada Aksara, dia ingin menunjukkan bahwa orang orang pinggiran seperti dirinya dan Aksara tidak seharusnya berteman atau menjadi penjilat untuk para bangsawan. Bagin benar benar membenci para bangsawan dari lubuk hatinya.
Aksara tak menyadari tatapan kebencian yang diarahkan padanya. Dia masih asyik mengagumi kekuatan para Kapten dukun Sakti istana.
"Baiklah hadirin sekalian, dan para peserta . . . kini saatnya kita melakukan pengundian pertarungan babak ke dua," Bibo mengambil sebuah gelas kaca bulat mengkilap, berisi gulungan kertas.
"Dan untuk pengundiannya akan langsung dipimpin oleh yang mulia Perdana menteri, dukun Agung istana," Bibo berbicara penuh penekanan. Semua penonton terlihat berdiri.
Perdana menteri dukun Agung Istana merupakan dukun sakti terkuat kerajaan. Seorang dengan kemampuan roh kedua tertinggi di kerajaan Lintang. Pemimpin para kapten, dan semua dukun Sakti Istana. Bahkan pengaruhnya pada kerajaan terkadang melebihi titah Sang Raja itu sendiri.
Raja merupakan sosok terpilih berdasarkan keturunan. Sama halnya dengan gelar bangsawan. Sementara Perdana Menteri Dukun Agung adalah sosok terpilih karena kemampuannya.
"Mari kita sambut, Yang Mulia Dukun Agung Ziyaann . . .,"
Bibo dan para Kapten menunduk, semua orang di tribun bertepuk tangan.
Bersambung . . .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
jadi ingat film Naruto ya
2024-02-01
0
Yuli Eka Puji R
joni lebih simpel thor 😂🤭🤭
2022-09-28
0
heni suhartini
Alhamdulilla akhirnya up juga thoooor😊😊
2021-05-10
1