Hasil seri pertarungan Lyodra dan Diana memberikan pengaruh pada pertarungan kedua antara Aksara melawan Bagin. Karena pemenang dari pertarungan kedua otomatis akan langsung menuju babak final. Lyodra sudah kembali pada tempat duduknya. Dia tertunduk meresapi kegagalannya. Padahal tak ada luka sama sekali di tubuhnya, namun nyatanya dia tidak berhasil memenangkan pertarungan. Sementara Diana saat ini sedang menjalani perawatan medis.
"Baiklah, kini saatnya pertarungan kedua antara Aksara melawan Bagin. Dipersilahkan untuk bersiap siap," Bibo memberikan waktu pada Aksara dan Bagin untuk bersiap.
Aksara berjalan ke ruang ganti. Dia bukannya hendak berganti pakaian, hanya saja dia ingin mempersiapkan hatinya. Di depan sebuah cermin Aksara menggenggam erat kalung liontin putih pemberian Bapaknya.
"Aku harus menang. Aku harus bisa menjawab kepercayaan orangtuaku," Aksara menatap wajahnya sendiri di cermin. Sorot matanya penuh semangat dan kepercayaan diri. Namun, ada rasa khawatir di hati Aksara pada keadaan Diana. Aksara berjanji untuk memenangkan pertandingannya dan menyampaikan kabar baik itu pada Diana.
* * *
Aksara dan Bagin kini telah berhadap hadapan di gelanggang. Terlihat tatapan penuh kebencian dari Bagin untuk Aksara.
"Pertarungan kedua dimulaii . . .," Bibo memberi aba aba tanda pertarungan dimulai
Doongg.
Doongg
Doongg
Gong ditabuh tiga kali, Bagin langsung memasang kuda kuda. Bagin menarik nafas dalam, mengangkat kaki kanannya kemudian dengan satu sentakan Bagin membuka mulutnya lebar lebar.
"Aaanggggg . . .," sebuah teriakan panjang, langsung menggetarkan arena.
Obor api di atas pilar terlihat bergoyang, debu beterbangan, beberapa titik arena pertarungan mengalami keretakan. Bibo melompat mundur menjauh dari pertarungan, dia menyadari bahaya jika terlalu dekat dengan arena pertarungan. Semua penonton terlihat menutup telinganya.
Aksara menyilangkan tangan di depan wajahnya. Teriakan Bibo menimbulkan gelombang suara yang dahsyat, mendorong Aksara menuju ke tepi arena.
"Sebuah kemampuan roh kedua yang unik. Komponen udara dengan keahlian khusus berupa gelombang suara ya," Dukun Agung Ziyan bergumam sendiri.
Sementara itu Aksara semakin terdorong mundur, teriakan Bagin masih terasa sangat kuat. Aksara merasa kuwalahan. Aksara mengayunkan kaki kanannya kuat kuat.
BRAAAAKKKK
Aksara membenamkan kakinya pada tanah di arena pertarungan. Dengan begitu, kakinya berhenti tak terdorong mundur lagi. Bagin menghentikan teriakannya.
"Ah, akhirnya berhenti juga," Aksara tersenyum lega.
"Lumayan cerdik juga kau, manusia penjilat!," Bagin meneriaki Aksara.
"Hah?," Aksara nggak memahami maksud teriakan Bagin.
"Orang pinggiran macam aku dan kamu, seharusnya tidak bergaul dengan para bangsawan. Itu memalukan dan memuakkan! Kamu tahu, mereka selalu memandang kita rendah! Tatapan mereka seakan penuh hinaan pada orang macam kita! Apa kau tak merasa Aksara?!," Bagin bertanya pada Aksara.
"Mungkin memang ada sebagian yang seperti itu, tapi tidak semuanya. Kalaupun kamu bermasalah dengan seseorang dari suatu golongan, seharusnya kamu tidak membenci golongan itu secara membabi buta. Aku masih percaya, setiap orang punya kebaikan di lubuk hatinya masing-masing," Aksara berdiri tegak, menepis beberapa debu yang menempel di pundaknya.
"Hahaha . . . kukatakan padamu dan agar semua orang disini dengar! Aku ikut kompetisi pemilihan dukun istana semata mata untuk menunjukkan pada negara yang tak adil ini, bahwa orang pinggiran macam diriku sanggup merangkak dalam jalan penuh lumpur untuk menuju ke puncak. Aku tak sepertimu Aksara! Aku tak sudi bergaul dengan bangsawan bangsawan itu, yang merasa paling hebat di negara ini. Aku akan merangkak dan merebut posisi tertinggi! Aku ingin menjadi dukun Agung!," Bagin berapi rapi, tak ada keraguan dari perkataannya. Suara cemoohan langsung terdengar dari tribun penonton. Kapten Wigan terlihat sangat tidak senang dengan ucapan Bagin. Ujung jarinya mengetuk ngetuk pegangan pada tempat duduknya.
"Kamu dengar Aksara? Suara cemoohan dan hinaan itu? Mereka yang duduk di tribun penonton adalah para bangsawan dan orang orang berduit. Mereka tak terima dengan apa yang kukatakan, padahal itu memang kenyataan. Betapa tidak adilnya negara ini. Aku akan merebut tahta Dukun Agung itu, dan akan kuciptakan keadilan tanpa diskriminasi. Bukan hanya orang orang kaya yang boleh duduk di tribun ini, tapi orang pinggiran seperti kita pun punya kesempatan Aksara! Untuk itu aku akan mengalahkanmu disini!," Bagin melotot, dia mengedarkan pandangan penuh kebencian ke semua penjuru. Kapten Wigan mengepalkan tinjunya, giginya gemeretak beradu. Bagin bebar benar membuatnya marah.
"Aku takkan kalah darimu Bagin!," Aksara membalas perkataan Bagin.
"Aku tahu, negara bahkan dunia ini tidak adil. Ada kesenjangan dan perbedaan perlakuan untuk si kaya dan si miskin. Aku berdiri disini pun memiliki tujuan yang hampir sama denganmu. Aku juga bercita cita menjadi Dukun Agung Istana, bahkan lebih dari itu aku ingin menjadi Dukun sakti terkuat di dunia," Aksara mengepalkan tinjunya.
"Tapi aku tak pernah ingin membenci bangsawan, ataupun golongan golongan tertentu. Bangsa ini, negara ini, memang terbentuk atas banyak golongan, yang seharusnya saling bekerja sama untuk meraih kejayaan. Jangan biarkan rasa sentimen atau kebencian menguasai dirimu. Percuma menjadi Dukun Sakti terkuat namun dengan kekuatanmu itu hanya digunakan untuk menebar kebencian. Akan kukalahkan dirimu disini, dan akan kuhancurkan kebencianmu!," Aksara menarik nafas, memejamkan mata sejenak.
"KEMAMANG!," Aksara mengucap mantra.
BWOOOOOSSHHH
Api berkobar di area wajah dan dua tangan Aksara yang terkepal.
"Yah, laki laki memang tak bisa saling memahami lewat perkataan. Tinju dan pukulan lah yang akan membuatmu mengerti Aksara!," Kali ini Bagin yang berkonsentrasi penuh. Angin bergerak liar dan berkumpul di sekitar Bagin, membentuk sosok hewan tinggi besar. Roh kedua Bagin seekor gajah angin, bertelinga seperti sepasang sayap lebar yang terkembang. Setiap hempasan telinga sang gajah, angin ribut terbentuk.
"Tenanglah Wigan, kau tak perlu marah. Karena sebagian yang dikatakan pemuda bernama Bagin itu ada benarnya juga. Pertarungan ini akan menarik. . .," Dukun Agung Ziyan manggut manggut menenangkan Kapten Wigan yang terlihat begitu emosi.
Di arena, dua anak manusia yang memiliki mimpi yang serupa sedang berhadap hadapan. Bagin menarik nafasnya dalam dalam, dengan satu sentakan Bagin meniupkan sebuah siulan panjang yang membuat roh kedua Gajah angin, terlihat berlari bersiap menubruk Aksara.
Gajah angin menciptakan putaran tornado yang benar benar dahsyat. Menimbulkan suara gemuruh yang siap menerbangkan apapun yang dilewatinya. Aksara telah bersiap siap. Dengan satu sentakan Aksara melesat dengan kecepatan yang luar biasa. Apinya dipusatkan pada ujung tumit kaki, bagaikan sebuah jet meledak ledak, mempercepat lari Aksara.
BLAAAARRRRHHHHH
Aksara dengan kecepatan penuh menghantam Gajah angin Bagin, menimbulkan ledakan yang dahsyat. Angin bercampur dengan api terlihat meliuk liuk membubung ke angkasa. Aroma sangit, seakan udara terbakar menyeruak di arena pertarungan. Asap hitam tebal menghalangi pandangan.
Semua mata tertuju pada arena pertarungan, semua ingin tahu siapa yang keluar sebagai pemenang.
Wuusshhhh. . .
Semilir angin berhembus menyibak asap hitam tebal di arena. Siapakah pemenangnya??
Bersambung . . .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
@elang_raihan.Nr☕+🚬🐅🗡🐫🍌
Aksara kau bisa menginginkan apapun kau kuasa ingin ☕ tinggal ketik ( kopi ) 😅
2021-07-17
1
heni suhartini
Ayoo Aksara menangkan pertarungan ini jadilah seorang dukun sakti yg adil dan bijaksana,tak ada dendam yg akan membakar hati dan emosimu,semangat Aksaraaaaaa kamu pasti menangggg....💪💪💪
2021-05-22
1
🐾🐾🎯Chandra Dewi♐🐾🐾
semangat aksara.. km pasti bisa menang..
wah, author udah blenger nih kayake maem ketupat 2hr kemarin.. makanya skrg bisa up lagi walau harus di gantung critanya😅
2021-05-22
1