Dong
Doongg
Dooonggg
Gong ditabuh tiga kali, penanda dimulainya pertarungan antara Lyodra melawan Diana.
"Hei hei, lebih baik kamu menyerah saja! Daripada nyala api ku membakarmu nona!," Lyodra menyeringai, mengejek Diana.
"Cobalah menembus benteng airku daripada kamu banyak bicara!," Diana kali ini membalas perkataan Lyodra, yang artinya Diana menyulut api pertarungan.
Bwoossshhhhh
Lingkaran benteng air terbentuk menyelubungi Diana. Lyodra terlihat tidak senang, matanya menyala menggambarkan amarahnya yang sudah siap meledak.
Ctaasss
Sebuah cambuk api muncul dari telapak tangan kanan Lyodra. Terlihat sangat panas, dengan warna kemerahan, ujungnya berupa api biru. Lyodra mengibas ngibaskan cambuk apinya di udara, menghasilkan fatamorgana, bagaikan gelombang air di udara.
Ctass
Ctass
Cambuk api menyabet tanah, menghasilkan kobaran kobaran api kecil di permukaan arena.
"Kamu mau bertahan dengan benteng air murahanmu itu ya?," Lyodra terus saja mengolok olok Diana.
"Kita lihat berapa lama trik pertahanan murahanmu itu mampu bertahan!," Lyodra melotot, dia serius.
Dengan satu hentakan, Lyodra berlari ke arah Diana dan mengayunkan cambuk api nya sekuat tenaga.
Splaasshhh
Cambuk api menghantam benteng air menimbulkan uap karena air yang mendidih. Penonton bertepuk tangan heboh. Pertarungan pertama langsung menyajikan ketegangan, penonton girang.
"Lumayan Nona. . .," Lyodra tersenyum, dia sedikit mengakui kemampuan benteng air Diana.
"Tapi benteng airmu takkan cukup untuk bertahan dari dua cambukku," Kali ini cambuk api muncul dari telapak tangan kiri Lyodra. Sepasang cambuk api akan sangat berat dan sulit untuk Diana hadapi.
Wuussh
Wuusshh
Cttass
Cttaasss
Dua cambuk api berputar melingkar menghantam tanah, udara di sekitar Lyodra semakin terasa panas dan menyesakkan. Lyodra mengayunkan kuat kuat cambuk api nya ke benteng air Diana.
Blaarr
Blaarr
Blaarr
Ledakan uap air hebat, langsung menutupi seluruh area pertarungan. Gelanggang penuh dengan asap dan uap air. Semua mata tertuju pada gelanggang namun tak mampu melihat apa yang sedang terjadi di dalamnya. Aksara mengerjap ngerjap, berusaha menajamkan penglihatannya. Dari tempatnya duduk tak terlihat apa apa hanya kepulan asap putih.
Penonton di tribun terdiam, terpaku. Apakah pertarungan akan berakhir dengan ledakan tersebut? Sementara itu, Kapten Wigan terlihat tidak terlalu peduli dengan kejadian itu. Meskipun bisa saja Diana adiknya, saat ini dalam keadaan bahaya.
Wuusshh
Wuusshh
Wuuusshh
Sebuah angin yang terasa panas, menyibak kepulan uap air. Mulai menyingkirkan asap secara perlahan perlahan. Terlihat samar samar sosok Lyodra memutar mutar cambuk api nya di atas kepala seperti sebuah baling baling menciptakan angin yang menghempaskan asap.
Di depan Lyodra terlihat sosok yang sedang tergeletak. Setelah uap air benar benar menghilang barulah terlihat jelas Diana sedang jatuh tersungkur dengan beberapa luka gosong. Pakaiannya di beberapa bagian, seperti lengan, paha dan betis terlihat compang camping terbakar.
"Bangunlah, seranganku gagal mengenai bagian vital tubuhmu. Atau memang, kamu selemah ini!," Lyodra terlihat tidak puas. Ya, meskipun Lyodra berhasil meledakkan benteng air Diana, namun nyatanya Diana mampu membelokkan setiap cambuk api Lyodra hingga tidak terlalu fatal mengenai Diana.
Diana perlahan bangun, memegangi bahu kanannya yang terasa nyeri sementara seluruh tubuhnya terasa panas dan perih.
Bwoosshhh
Diana kembali membentuk benteng air melingkar, seluruh lukanya terlihat mulai tertutup. Luar biasa, luka apapun selama berada di dalam lingkaran benteng air akan disembuhkan. Mungkin memang kemampuan Diana daripada sebagai Dukun Sakti petarung, lebih tepat sebagai Dukun medis.
Lyodra menggeram jengkel.
"Jadi kamu mau membuat pertarungan ini sebagai pertarungan adu ketahanan fisik dan tenaga? Hah?," Lyodra sudah habis kesabaran. Padahal tadi dia mengira satu serangan saja cukup untuk membuat Diana menyerah.
Cambuk api sendiri memiliki efek menyakitkan pada tubuh Lyodra. Tangan Lyodra terasa perih dengan kulit terkelupas dan melepuh saking panasnya. Tak ada pilihan lain, dia harus segera mengalahkan Diana.
Dari bawah kaki Lyodra terlihat seekor ular berwarna merah menyala, merambat melingkari kaki Lyodra. Roh kedua Lyodra sudah menampakkan diri. Munculnya roh kedua ular api membuat wajah Lyodra bersisik api, cambuk di tangan Lyodra terlihat bergerak gerak sendiri, seperti ekor ular.
Dengan gerakan sangat cepat cambuk api bergerak liar dan menghantam benteng air Diana.
Blaarrrr
Diana terpental menghantam tanah, hampir saja terjatuh dari arena. Satu serangan saja mampu menghancurkan benteng air Diana. Cambuk api Lyodra bertambah kuat berkali kali lipat.
"Hebat hebaatt, aku mau perempuan ular api itu masuk squadku . . .haha haha," Kapten Yosha tiba tiba saja berteriak dari tempatnya duduk. Kapten bocah nakal itu memang tidak sabaran, merasa tertarik dengan kekuatan api Lyodra, komponen yang sejenis dengan roh kedua miliknya.
"Tenanglah Yosha," Dukun Agung Ziyan menatap Kapten Yosha dengan dingin. Tatapan yang mengintimidasi membuat Kapten Yosha langsung terdiam. Aura dukun Agung memang beda, hanya dengan tatapan mata saja sudah mampu membuat orang lain rontok nyalinya.
Diana kembali berdiri. Diana menarik nafas dalam dalam, dia mencoba untuk fokus. Benteng air mulai terbentuk, dengan ukuran yang lebih besar dari sebelumnya.
"Memperbesar ukuran benteng air tidak akan bisa membuatmu terlindung dari cambukku Nona!," Lyodra memyeringai, sisik api nya terlihat semakin menyala. Dengan sekali ayunan, cambuk menghantam benteng air Diana. Benteng air terbelah dengan mudahnya menyisakan cipratan cipratan air yang panas mendidih.
"Menyerahlah, seribu kali kau membuat benteng air, seribu kali pula cambukku akan membelahnya!," Lyodra mengancam.
"Aku takkan pernah menyerah," Diana bergumam, meskipun dia tahu hampir mustahil untuk mengalahkan lawannya, namun hatinya berkata untuk tidak menyerah. Dia sadar betul untuk diakui Kakak dan keluarga besarnya Diana tidak boleh terlihat lemah. Gelar bangsawan tidak boleh dipermalukan oleh betapa lemahnya dirinya.
Bwuusshhhhh
Benteng air bulat terbentuk kembali dengan ukuran yang kecil kali ini. Luka luka Diana kembali sembuh dalam sekejap.
"Baiklah, waktunya menghancurkanmu Nona bangsawann!," cambuk api di tangan Lyodra menyala hebat dan bergerak semakin liar tak beraturan.
"Hyaahhhhhh," Lyodra berteriak, dua cambuk api mengayun siap menghantam Diana.
Bwoosshhh
Tiba-tiba saja benteng air Diana membesar dengan kecepatan luar biasa. Sangat besar, hingga menutup seluruh arena. Meskipun cambuk api Lyodra berhasil membelah benteng air tersebut, namun karena pembesaran benteng air sangat cepat, berhasil mementalkan Lyodra.
Bllaarrrr
Ledakan dahsyat terjadi. Di tengah kepulan asap terlihat Diana tertelungkup tak sadarkan diri penuh dengan luka bakar. Bibo berlari mendekat bersama dengan dukun medis. Diana langsung di tandu keluar arena. Aksara berdiri dari tempat duduknya. Diana telah kalah? Penonton di tribun terdiam.
"Pertarungan babak pertama telah berakhir. Dan hasilnya . . . seri. Tidak ada pemenang!," Bibo mengumumkan hasil pertarungan.
Semua mata beralih tertuju pada Lyodra yang masih berdiri dengan gagahnya. Semua orang baru tersadar, meskipun Lyodra tak terluka, namun saat ini dirinya berdiri di luar arena pertarungan. Diana berhasil mementalkan Lyodra dengan benteng airnya hingga keluar arena, meskipun dirinya harus menerima cambuk api hingga tak sadarkan diri. Luar biasa, pertarungan antara taktik dan teknik yang luar biasa.
Sorak sorai penonton pecah, menggelegar. Lyodra tertunduk geram dan kecewa.
. . .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
ku kira Diana menang ternyata seri
2024-02-01
0
Raditya Rohadi
black clover ya bang
2023-02-19
0
heni suhartini
Semangat Diana kalahkan lawan yg sombong dan angkuh dengan kemampuanmu
jangan terbawa emosi 💪💪💪
2021-05-22
1