Panitia seleksi, seorang dukun sakti istana berlencana perak memasuki ruang tunggu.
"Selamat pagi. Perkenalkan nama saya Bibo, Dukun Sakti Istana dari skuat air Kapten Wigan," Bibo memperkenalkan diri pada para peserta seleksi dukun istana. Bibo merupakan salah satu dukun istana kepercayaan kapten Wigan. Kemampuannya adalah cermin air, mampu memantulkan setiap serangan yang datang padanya. Kali ini Bibo terpilih memberikan pengarahan pada para peserta seleksi Dukun Istana. Wajahnya yang nampak kalem serta cara bicara yang supel, dan enak didengar menjadi pertimbangan terpilihnya dia.
"Saya akan menjelaskan aturan seleksi dukun istana," Bibo melanjutkan, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Seleksi Dukun Istana terdiri atas 2 babak. Babak pertama adalah pertarungan melawan golem. Kalian bebas bekerjasama atau bertindak sendirian, yang penting kalian sanggup menjatuhkan satu golem. Di babak pertama menggunakan sistem gugur, jadi yang tidak mampu menjatuhkan satu golem pun maka dia dianggap gagal. Untuk babak kedua adalah pertarungan satu lawan satu secara acak. Pemenang dari satu pertandingan akan melawan pemenang dari pertandingan yang lain. Begitu seterusnya hingga terpilih satu juara. Sang juara akan langsung menjadi Dukun Sakti Istana lencana perak. Sementara yang sudah kalah tidak akan langsung gugur. Berdasar strategi dan cara bertarung, kalian akan dinilai oleh 4 kapten. Nah, nantinya tergantung apakah ada salah satu kapten yang menginginkan kalian ada di skuat nya atau tidak. Jika tidak ada satupun kapten yang memilih kalian, berarti kalian harus pulang. Tak peduli misalkan dalam pertandingan ini kalian masuk sampai pertandingan puncak final sekalipun. Jadi, di babak kedua nanti ada 2 hal yang mampu meloloskan kalian. Pertama adalah jika kalian bisa juara, dan yang kedua jika kekuatan roh kalian mampu menarik perhatian para kapten," Bibo menjelaskan aturan dari seleksi Dukun Sakti Istana. Para peserta terlihat memperhatikan, begitupun Aksara yang terlihat manggut manggut.
"Kalian mengerti? Kalian paham?," Bibo berteriak lantang.
"Ya. Siap!," Para peserta menjawab kompak, terlihat bersemangat.
"Baik, sekarang kalian semua ikut aku," Bibo melangkah keluar dari ruang tunggu. Para peserta beranjak dari duduknya dan berjalan mengekor Bibo.
"Aku sangat grogii, gimana ini?," Diana terlihat hendak menangis, berjalan di samping Aksara.
"Tenanglah. Babak pertama kan kita bisa saling kerjasama. Kita saling bantu ya," Aksara tersenyum menenangkan Diana.
"Kalian berdua awas ya nanti, jangan sampai menghalangiku. Jauh jauh deh dariku. . .huh," Cewek berambut merah berponi di depan Aksara dan Diana tiba tiba saja memotong pembicaraan dan terlihat menpercepat langkahnya. Aksara dan Diana hanya mampu beradu pandang tak mengerti.
Beberapa saat lamanya berjalan di lorong yang cukup gelap, tibalah semua peserta seleksi di sebuah pintu besar berukir emas.
"Di balik pintu ini adalah gelanggang yang harus kalian taklukkan. Kalian siap?!," Bibo bertanya lantang.
"Ya! Siap!," Semua menjawab kompak dan bersemangat.
Bibo membuka pintu, sinar matahari langsung menerobos menyilaukan. Suara riuh tepuk tangan penonton memekakkan telinga. Di depan para peserta terdapat lapangan luas dengan bebatuan besar di tengahnya. Sementara para penonton duduk di tribun melingkar di sekeliling gelanggang. Siulan, teriakan dari penonton bergema di arena. Seorang dukun Istana terlihat duduk di puncak batu tertinggi.
"Ha ha ha . . .Kalian semua. Perkenalkan, namaku Bumi. Aku adalah Kapten skuat tanah, yang bakal menguji kalian di babak pertama ini. . . ha ha ha ha ha," Kapten berkepala plontos berjenggot tebal bernama Bumi memperkenalkan diri. Kemampuan Kapten satu ini adalah menciptakan golem dari bebatuan dengan berbagai ukuran dan tingkat kekuatan.
"Di babak pertama ini, kalian akan melawan para golemku yang bersembunyi di bebatuan tengah sini. Berhati hatilah! Golemku dapat dengan mudah mematahkan tulang belulang kalian . . . hah haha ha," Kapten Bumi tertawa seakan apa yang disampaikannnya hanyalah guyonan. Tipikal Kapten yang memang suka tertawa dan cengengesan.
Dong Dong Dong
Suara gong ditabuh tiga kali, artinya babak pertama telah dimulai. Beberapa peserta terlihat langsung maju ke tengah lapangan, mencari golem lawan mereka. Suara tepuk tangan semakin riuh menggetarkan gelanggang. Sementara Aksara dan Diana belum beranjak dari tempatnya berdiri.
"Aksara maafkan aku karena merepotkanmu. Padahal kita baru kenal," Diana terlihat memelas, kakinya gemetaran. Diana benar benar grogi dan ketakutan. Diana memegang lengan Aksara dengan erat.
"Tenanglah. Aku tidak akan meninggalkan temanku," Aksara tersenyum. Sejurus kemudian Aksara berjongkok.
"Naiklah ke punggungku, sampai kamu bisa menata hatimu. Sampai tidak grogi lagi, Ok?," Aksara meminjamkan punggungnya untuk menggendong Diana. Gadis itu terlihat malu malu naik di punggung Aksara.
"Berpeganganlah," Aksara langsung berlari sekuat tenaga. Cukup cepat dan cekatan mengingat dia sedang menggendong seorang gadis di punggungnya. Dengan lincah Aksara berlari masuk di celah celah bebatuan.
Sementara itu di tempat lain, pemuda berambut emas dengan nilai roh tertinggi sudah berhasil menghancurkan 3 golem. Roh kedua komponen tanah dengan kemampuan membentuk pasir besi. Semua penonton takjub melihat bakat yang luar biasa tersebut. Kapten Bumi melompat dari satu batu ke batu yang lain. Mendekati pemuda berambut emas yang telah menghancurkan golemnya.
"Ha ha ha ha. . . hebat kau bocah! Siapa namamu?," Kapten Bumi terlihat tertarik dengan pemuda di depannya.
"Namaku Axel. Sudah wawancaranya? Aku mau lanjut," Pemuda bernama Axel tersebut menjawab ketus bahkan kepada seorang Kapten.
"Ha ha ha ha . .Aku suka aku suka. Congkak dan sombongmu itu mengingatkan aku pada salah satu kapten disini . . .ha ha ha ha," Kapten Bumi terus saja tertawa.
"Kamu sudah dipastikan lolos ke babak kedua, jadi keluarlah dari arena," Kapten Bumi mengingatkan Axel.
"Aku akan menghancurkan semua golem. Bukankah tidak ada aturan kita dilarang memburu lebih dari 1 golem? Semakin banyak yang kuhancurkan semakin sedikit pula pesaingku yang akan lolos di babak kedua nanti," Axel tersenyum sinis.
"Ha ha ha ha," Kapten Bumi tertawa terbahak bahak mendengar apa yang baru saja dikatakan Axel.
Di sudut lain beberapa peserta seleksi telah berhasil menumbangkan para golem. Tak terkecuali gadis berambut poni warna merah, dia juga telah berhasil menumbangkan satu golem. Dengan congkaknya dia berjalan keluar dari gelanggang. Suara tepuk tangan gegap gempita menyaksikan pertunjukan yang maha dahsyat dari para calon dukun istana. Memang tahun ini pesertanya terlihat banyak yang memiliki kekuatan luar biasa. Yang paling menjadi sorotan tentu saja adalah Axel. Kekuatan dan kecerdasannya mungkin setara dengan seorang Kapten.
Kembali lagi, pada Aksara dan Diana yang belum juga bertemu dengan satu golem pun. Yang mereka lakukan hanyalah melompat lompat di antara bebatuan.
"Bagaimana jika golem sudah habis, berarti kita gagal dong" Diana terlihat khawatir. Aksara terdiam, dirinya pun saat ini sedang bingung dan penuh keraguan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
🇴 🇫 🇫 (ᴛᴜᴛᴜᴘ ᴀᴋᴜɴ)📵
aksara = Naruto
diana = hinata
axel = Gaara
🤣🤣🤣
2021-08-16
4
heni suhartini
semangat Aksara dan diana
2021-04-26
1
Nur Azizah
next thor
2021-04-01
1