Diana membuka kedua matanya perlahan lahan. Pandangannya kabur dan berkunang kunang. Badannya terasa berat dan lemah. Dengan sedikit memaksa, Diana akhirnya mampu menjernihkan penglihatannya. Diana menoleh ke kanan dan kiri. Diana berada di sebuah tempat yang asing baginya.
Diana berada di tengah tengah sebuah ruangan besar dengan suara deburan air yang sangat keras. Empat pilar besar mengelilinginya. Diana mencoba bangun, ketika dia berhasil duduk, kakinya terasa dingin menyentuh air. Tersadar ternyata dirinya berada di sebuah meja batu di tengah kolam air yang luas.
"Dimana ini?," Diana bergumam sendiri.
Terakhir kali dia ingat sedang bertarung melawan Lyodra, dan tiba tiba saja sekarang dia berada di tempat antah berantah. Air di bawahnya terlihat biru tua, seakan siap melahap dan menenggalamkannya. Pasti sangat dalam, seperti sebuah palung.
Pyuk. .Pyuukkk
Air tiba tiba saja bergelombang dan beriak. Ada sesuatu di bawah sana. Diana segera menarik kaki nya dari dalam air. Diana berdiri di atas meja batu dan memasang kuda kuda.
Seseorang terlihat keluar dari dalam air. Perlahan nampak seorang laki laki berambut emas berpakaian yang mirip sisik ikan berkilauan. Ekspresi wajahnya terlihat ramah.
"Si-siapa kau?," Diana bertanya tergagap pada laki laki yang berenang di hadapannya. Hanya badan bagian atasnya saja yang terlihat, sementara bagian tubuh bawahnya ada di dalam air.
"Tempat apa ini?," Diana kembali bertanya.
"Kau tak mengenal tempat ini Diana? Kau tak tahu siapa aku?," Laki laki itu balik bertanya pada Diana.
"Aku tak mengenalmu, dan bagaimana mungkin kamu mengenalku?," Diana benar benar merasa bingung.
"Ahhh, sejak kamu dilahirkan ke dunia ini kita selalu bersama sama Diana. Aku sudah ditakdirkan bersamamu. Aku adalah roh kedua mu," laki laki itu menatap Diana dengan serius. Diana masih terlihat bingung.
"Namaku Atlan," laki laki itu ternyata bernama Atlan.
"Aku roh kedua mu Diana. Sumber kekuatan airmu berasal dariku," Atlan berenang memutari meja batu tempat Diana berdiri. Kini nampak, Atlan tidak seperti manusia pada umumnya, dia memiliki sirip ikan besar di bagian bawah tubuhnya.
"Dan sekarang ini, kita berada di alam bawah sadarmu. Tempat yang telah kamu siapkan sebagai rumah untukku. Aku bisa saja muncul di duniamu, jika kamu mengingatku dan membutuhkanku," Atlan kali ini berhenti berenang, dia berada di hadapan Diana, menatapnya dengan serius.
"Jika demikian, mengapa kamu nggak pernah membantuku saat aku dalam kesulitan?," Diana bertanya, berhenti memasang kuda kuda dan memilih duduk di atas meja batu.
"Karena kamu lupa dan tak menganggap keberadaanku ada. Kamu tidak percaya pada kemampuanmu sendiri, kamu ragu untuk bertarung. Tapi memang itulah kamu, kebaikan hatimu adalah ciri khas mu. Kemampuan menyembuhkanmu itu juga merupakan salah satu dari tiga kekuatan yang aku miliki," Atlan tersenyum pada Diana.
"Jadi, ada tiga kekuatan dalam diriku?," Diana bertanya pada Atlan, sorot matanya penuh dengan rasa penasaran.
"Ya, jika aku mau meminjamkannya padamu, jika kamu mampu menguasaianya, jika kamu bisa percaya pada dirimu sendiri, kamu mungkin saja menjadi dukun sakti komponen air yang terhebat di dunia," Atlan terlihat serius dengan ucapannya.
"Tapi kukira itu masih lama, kemampuanmu sekarang masih jauh untuk menguasai semua kekuatan itu," Atlan melanjutkan.
"Jadi, aku datang kesini hanya untuk kamu olok olok Atlan?," Diana sedikit sewot.
"Ha ha ha . .Jangan marah Tuan puteri. Kebetulan saja kamu bisa datang kesini, karena kamu sedang pingsan. Aku memanfaatkan pingsanmu untuk mengajakmu kesini membicarakan sesuatu yang penting," Atlan terkekeh.
"Apa itu?," Diana semakin penasaran.
"Aku perhatikan, akhir akhir ini kamu dekat dengan seorang bocah bernama Aksara," Atlan mendekat pada Diana.
"Ah, ah ya. .kami hanya berteman," entah kenapa wajah Diana memerah, dia menunduk malu.
"Ah, aku nggak peduli soal hubunganmu Nona. Hanya saja aku merasa pemuda itu berbahaya," Atlan kembali memasang mimik muka serius.
"Hah? Apa maksudmu?," Diana nggak ngerti maksud ucapan Atlan.
"Yah, aku seperti mengenal aura dan aroma kekuatan roh kedua komponen air miliknya," Atlan mencoba mengingat ingat.
"Roh kedua komponen air? Kamu salah Atlan, Aksara berkekuatan api, kamu salah orang sepertinya," Diana menyangkal perkataan Atlan.
"Ya itulah anehnya, ada sosok lain dari diri pemuda bernama Aksara itu. Sosok lain itu terasa sangat berbahaya. Tapi dari aura dan aromanya jelas bahwa Aksara itu sama sepertimu, roh kedua unsur air," Atlan serius dengan ucapannya.
"Dan aku merasa perlu untuk menyelidiki pemuda itu. Jadi, aku meminta padamu untuk terus mengamati Aksara, sebisa mungkin kamu cobalah semakin dekat dengannya," Atlan memohon pada Diana.
"Ah, Eng, itu harus ya?," Diana tergagap, wajahnya kembali memerah karena malu.
"Kurasa permintaanku dan suasana hatimu selaras Nona . . . ha ha ha ," Atlan terkekeh melihat gerak gerik Diana.
"Sebenarnya aku khawatir pada roh kedua yang ada di dalam tubuh Aksara. Aku tak mungkin keliru mengenali, Aksara seharusnya berkekuatan air namun nyatanya dia malah mengeluarkan pukulan api. Entah apa yang terjadi dalam jiwa pemuda itu," Atlan menghela nafas.
"Aku benar benar meminta dan memohon padamu untuk mengawasi Aksara," Atlan kembali menatap Diana.
"Baiklah. . . tapi, mengapa kau begitu peduli pada roh orang lain?," Diana bertanya pada Atlan.
"Akan kuberitahu di lain kesempatan. Pesan terakhirku di pertemuan kali ini, yakinlah dengan kemampuanmu. Banyak banyaklah berlatih dengan fisikmu, jangan mudah pingsan, dan jadilah kuat bersamaku," Atlan mengakhiri ucapannya, kemudian menyelam ke dalam air.
Diana merasa masih banyak hal yang ingin dia tanyakan, namun Atlan telah menghilang, pergi meninggalkannya. Bersamaan dengan perginya Atlan, terasa goncangan dahsyat di tempat Diana berpijak.
Grrrkkk Grrrkkk Gerkkkkkk
Empat pilar besar yang menyangga ruangan terlihat retak. Beberapa batu terlihat berjatuhan dari langit langit.
Byuurrr Byuurr Byuuurr
Bangunan mulai roboh, Diana mulai ketakutan.
"Atlaaann . . .Atllaaann! Heeiiii!," Diana berteriak teriak memanggil Atlan, namun tak ada jawaban.
Kini meja batu tempat Diana berdiri, ikut berguncang hebat.
Kletekk . .Kraaakk . . .Braaakkk
Meja Batu retak, terbelah dan pecah.
Byuuurrr
Diana jatuh ke dalam air. Entah kenapa massa jenis air di tempat ini sangat kecil, sehingga terasa berat untuk Diana berenang ke permukaan. Beberapa kali Diana meneguk air yang terasa tawar, dan aneh. Akhirnya Diana pasrah, melayang jatuh dalam kegelapan.
Bluupp Bluuppp Bluuppp
"Uhuukk Uhuukkk Uhukkk. . .," Diana tersedak, air keluar dari mulutnya.
Diana tersadar, terduduk di ranjang berwarna putih bersih. Ruangan tempatnya berada kini juga berwarna putih bersih, dengan kaca lebar di depannya. Terlihat Aksara dari balik kaca, beradu pandang dengannya.
Aksara tersenyum lebar, melihat Diana sudah bangun. Aksara segera berlari ke dukun medis yang ada di pos jaga, memberi tahu bahwa temannya itu kini telah siuman.
Bersambung . . .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
lah iya katanya elemen air tapi gak bisa...
2024-02-01
0
Yuli Eka Puji R
elemen api dan air tinggal nyiapin kopinya saja
2022-09-28
0
Surya Dharma
kyknya elemen airnya itu dari kalungnya🤔🤔🤔bener gk sih?
2022-09-18
0