"Bagaimana dengan hasil babak kedua Aksara?," Diana duduk di ranjang tempatnya di rawat, sementara Aksara berdiri di samping Diana dan tengah sibuk mengupas buah apel.
"Ah, yaa . .kamu dan Lyodra seri, kebetulan aku berhasil menang. Jadi besok aku tinggal nungguin hasil pertarungan Jaguar sama Axel. Yaahh, bisa dikatakan aku beruntung karena kamu dan Lyodra seri sih, aku langsung ke final jadinya," Aksara sedikit tersenyum, ada rasa ketidakpuasan dalam hatinya.
"Maafkan aku, padahal kemarin kamu bilang ingin bertarung denganku," Diana merasa menyesal.
"Ya, memang aku sedikit kecewa soal itu . . . Tapi, yang penting kamu nggak apa apa Diana, kamu segera sehat," Aksara meletakkan piring kecil berisi potongan apel di hadapan Diana. Aksara tersenyum memandang Diana, sementara Diana hanya bisa menunduk malu.
Terdengar langkah kaki yang terasa terburu buru mendekat. Pintu ruangan terbuka, dan Lyodra masuk ke dalam ruangan.
"Hai Diana . . .," Lyodra mengangkat tangannya ragu ragu.
"Ah, Hai . .," Diana juga terlihat kikuk dan canggung dengan situasi saat ini.
"Ah, sebaiknya kalian berdua ngobrol deh dari hati ke hati. Apa perlu aku keluar saja?," Aksara ikut merasakan kecanggungan yang terjadi, berusaha mencairkan suasana.
"Ah, nggak perlu. Kamu disini saja," Diana mencegah Aksara beranjak dari duduknya. Setelah terbangun dari pingsannya entah mengapa Diana merasa ingin selalu dekat dengan Aksara.
"Baiklah," Aksara menghela nafas, mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan.
"Jadi, aku kemari ingin minta maaf padamu Diana," Lyodra akhirnya membuka percakapan.
"Untuk apa?," Diana mengerutkan keningnya, tidak mengerti.
"Kalau soal aku pingsan, itu memang sudah resiko pertarungan kan," Diana mengambil apel di hadapannya, dan memasukkan satu potong apel kecil ke mulut mungilnya.
"Bukan itu, aku ingin meminta maaf atas sikapku yang kurasa sangat sombong dan angkuh terhadap kamu dan Aksara. Aku merasa paling hebat, paling kuat. Bertemu kalian, aku sadar banyak sekali kekuranganku. Jadi, ijinkan aku menjadi teman kalian," Lyodra mengutarakan isi hatinya.
"Ah, ya. . .Aku nggak pernah merasa kamu musuhku Lyodra. Kita bersaing di tempat ini memang untuk mengetahui kemampuan kita, menemukan versi terbaik dari diri kita, juga untuk mengabdi pada kerajaan ini. Jadi, di luar kegiatan seleksi, seharusnya kita bisa berteman baik," Diana tersenyum pada Lyodra.
Lyodra segera menghambur memeluk Diana. Lyodra sadar, gadis yang ada di hadapannya ini memang memiliki hati bagaikan malaikat. Hati yang baik, lembut, jauh dari rasa pendendam. Betapa beruntungnya bisa berteman dengan kaum bangsawan dengan kebaikan dan kecantikan, seperti menemukan sebuah berlian.
"Ah, bolehkah aku ikut berpelukan?," Aksara tersenyum jail. Sebuah pukulan mendarat di bahu Aksara. Lyodra menatapnya dengan garang. Aksara segera menggeser kursinya, mundur. Para gadis terlihat lebih menakutkan ketika sedang marah atau jengkel, seperti bundanya. Aksara begidik ngeri.
Kembali terdengar langkah kaki mendekati ruangan. Kali ini sepertinya ada beberapa pasang kaki yang melangkah mendekat. Suara langkah yang terdengar kompak dan seragam.
Kapten Wigan memasuki ruangan bersama Bibo dan satu orang lagi di belakangnya. Aksara dan Lyodra segera berdiri membungkuk memberi hormat pada sang Kapten.
"Biarkan adik saya beristirahat agar kesehatannya segera pulih," Kapten Wigan menatap Aksara serius, Aksara menelan ludah merasa gugup. Aura seorang Kapten memang beda, dari tatapan saja sudah sanggup membuat nyali menciut.
"Kakak, mereka kan teman temanku. Ijinkan mereka disini menemaniku," Diana merengek menatap kakaknya.
"Ingat, kamu gagal menang di pertarungan kemarin. Sudah sangat baik hati aku tak memarahimu sekarang. Jangan bertindak aneh aneh. Kita keluarga yang turun temurun menjadi dukun sakti andalan kerajaan. Seharusnya kamu fokus dengan kesembuhanmu, jangan malah main main," Kapten Wigan memberikan penekanan pada ucapannya.
"Yah, apa yang dikatakan kakak robotmu ini benar juga. Kamu butuh istirahat Diana. Jadi, ayo kita keluar dari sini Aksara," Lyodra tersenyum pada Diana, menarik Aksara untuk segera keluar ruangan serta melemparkan tatapan sinis pada Kapten Wigan. Sementara Bibo dan Diana terlihat menahan senyum, Kapten Wigan disebut robot oleh gadis bar bar.
Setelah Aksara dan Lyodra pergi Kapten Wigan mendekat pada Diana.
"Kalian berdua tunggulah di luar, ada hal penting dan masalah keluarga yang mau kubahas dengan adikku," Kapten Wigan memberi perintah pada dua anak buahnya. Bibo dan rekannya mengangguk memahami dan segera keluar dari ruangan.
* * *
Pagi hari disambut dengan gegap gempita orang orang yang sudah memenuhi tribun penonton. Mereka sudah sangat tidak sabar menyaksikan pertarungan semifinal seleksi dukun istana antara Jaguar melawan Axel. Masing masing calon dukun sakti telah memiliki pendukungnya. Suara bersahut sahutan ramai menggetarkan arena pertarungan.
Jaguaarrr
Axellll
Jaguar
Axeellll
Tribun sebelah kanan menjagokan Jaguar, sementara tribun sebelah kiri mendukung Axel. Pertarungan yang menentukan siapa besok yang akan melaju ke final dimana Aksara secara beruntung telah menunggu untuk pertarungan puncak.
Satu persatu Kapten masuk ke arena, dan duduk di kursi singgasananya. Dan yang terakhir muncul di arena, berjalan dengan gagahnya, berjubah putih bersih sang Dukun Agung Ziyan. Seulas senyum selalu tersungging darinya.
Aksara dan Lyodra, duduk di tribun khusus para peserta calon dukun istana.
"Kamu memang beruntung. Kamu langsung lolos ke final, dan bisa melihat kekuatan calon lawanmu besok," Lyodra membuka percakapan, sementara Aksara malah merasa gugup.
Aksara tak sabar melihat seperti apa kemampuan dan kekuatan Jaguar dan Axel. Kakinya tak berhenti bergerak gerak, gelisah.
Dongg
Dooongg
Dooongggg
Gong penanda pertarungan akan dimulai telah ditabuh. Bibo berada di tengah arena. Sorot matanya berapi api, sama halnya dengan setiap orang yang hadir di gelanggang hari ini. Semua orang bersemangat dan penuh rasa penasaran, menantikan pertarungan dua calon dukun istana dengan kekuatan yang unik dan kuat.
"Baiklah hadirin sekalian, mari kita sambut calon dukun istana dengan kekuatan anginnya, manusia cepat sesuai namanya hewan tercepat di rimba. Dari sebelah kanan, beri semangat untuk Jaguaarrr . . .," Bibo berteriak lantang memanggil Jaguar.
Jaguar berjalan masuk dengan gagahnya. Pendukungnya langsung berteriak mengelu elukan namanya. Jaguar memakai pakaian serba hitam, dengan baju tanpa lengan memperlihatkan otot tangannya yang keras tertempa. Sorot matanya seperti hewan buas yang sedang lapar akan kemenangan.
"Dan dari sebelah kiri, beri semangat dan tepuk tangan meriah untuk sang jenius, calon dukun istana dengan kekuatan roh kedua tertinggi setara dengan para kapten, inilah Axeeellll," Bibo memanggil Axel dengan lantang. Axel berjalan masuk dengan cuek meskipun penonton terdengar heboh. Tribun bergetar saking semangatnya para penonton. Axel memakai jubah panjang berwarna abu abu terasa tidak cocok untuk pertarungan, terkesan pemuda yang tak peduli dengan penampilannya.
"Aturan masih tetap sama. Pemenang adalah orang yang mampu memaksa lawan menyerah, melempar lawan keluar dari arena pertarungan, ataupun hasil kemenangan dari keputusan para juri untuk menghentikan pertarungan jika membahayakan. Kalian mengerti?," Bibo bertanya memastikan. Jaguar dan Axel mengangguk bersamaan.
"Baiklah, pertarungan semifinal seleksi dukun sakti istana antara Jaguar melawan Axel. . . dimulaiii . . .
Doooongggg
Bersambung . . .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
🇴 🇫 🇫 (ᴛᴜᴛᴜᴘ ᴀᴋᴜɴ)📵
"ehm, bolehkah aku ikut berpelukan ?"
kamvret, segitu polosnya kah aksara 🤣🤣🤣🤣
2021-08-16
3
@elang_raihan.Nr☕+🚬🐅🗡🐫🍌
Lanjuttt... ☕🚬 dl 😁
2021-07-18
1
heni suhartini
siapakah yg menang???
2021-06-16
1