Jenius dari lahir vs fisik yang ditempa

Hari yang ditunggu tiba, final seleksi dukun sakti istana hari ini akan berlangsung. Final yang mempertemukan sang jenius dengan kemampuan luar biasa dari lahir, melawan pemuda dengan kemampuan rata rata yang selama dua hari ini digembleng habis habisan di fasilitas latihan gelanggang nomor satu di kerajaan Lintang.

Aksara telah siap dan bertekad akan memenangkan pertarungan dan membawa pulang lencana perak. Selama dua hari Aksara telah berlatih dengan sangat intens. Dia yang menyadari level roh keduanya tak terlalu mengesankan, melatih fisiknya agar lebih kuat. Badannya lebih keras dan terbentuk, Aksara menarik nafas perlahan dan berjalan menyusuri lorong menuju arena pertarungan. Sayup sayup terdengar gegap gempita para penonton yang berada di tribun. Seberkas cahaya terlihat di ujung lorong, detak jantung Aksara berdegup semakin kencang. Dia merasa sangat antusias sekaligus grogi dalam waktu yang bersamaan.

"Kita sambut, pemuda dari ujung utara kerajaan Lintang. Secara menakjubkan berhasil melangkahkan kakinya di babak final, beri tepuk tangan yang meriah untuk Ak Sa Raaaa . . .," Bibo berteriak memanggil Aksara. Aksara berjalan ke arena, memakai setelan berwarna cokelat. Baju tanpa lengan mempertontonkan otot bisep dan trisep yang tertempa, terlihat kokoh dan kuat. Beberapa penonton terdengar bertepuk tangan namun tidak ada seperempat dari seluruhnya yang hadir. Hal ini menandakan delapan puluh persen orang yang hadir hari ini lebih menjagokan Axel.

Axel sudah berdiri bersedekap di sisi arena yang berlawanan dengan tempat Aksara berdiri. Axel menatap Aksara dengan penuh percaya diri.

"Keberuntunganmu telah habis hari ini . .," Axel tersenyum, mengintimidasi.

Aksara mengepalkan tinjunya dan meletakkannya di dada.

"Jangan membicarakan keberuntungan, saat nasib sial datang padamu bersama tinjuku," Aksara membalas, mengolok olok sambil tersenyum.

Bibo segera maju ke tengah arena, sebelum pertarungan kata kata terjadi semakin liar.

"Baiklah, pertarungan puncak babak final seleksi dukun istana dimulaiii," Bibo berteriak lantang.

Doongg

Doongg

Doooooonggg

Gong ditabuh tiga kali, bersamaan dengan teriakan teriakan, siulan dan tepuk tangan bagai gemuruh dari tribun penonton. Diantara para penonton, ada dua gadis yang sedang duduk bersama sembari berdoa untuk keberhasilan Aksara. Lyodra hadir bersama Diana yang sudah cukup sehat untuk menyaksikan pertarungan final

"Apakah Aksara punya kesempatan?," Diana membuka pembicaraan, ada getaran dalam suaranya yang menandakan dirinya begitu khawatir.

"Kesempatan babak belur?," Lyodra spontan bertanya.

"Hei. . .," Diana melotot.

"Ha ha. . .oke, aku hanya becanda. Aku sendiri nggak tahu ya, tapi kelihatannya si bodoh itu sudah berlatih keras dua hari ini," Lyodra tadi sempat mengamati, bagaimana perkembangan bentuk tubuh Aksara yang terlihat lebih kekar hanya dalam dua hari saja.

"Tapi tetap saja sulit, lawannya adalah manusia brengsek yang disebut pemuda jenius berbakat dari lahir," Lyodra mengawang, membayangkan Aksara nanti akan menjadi perkedel. Lyodra menggeleng geleng sendiri.

Di arena pertarungan, dua peserta saling tatap beberapa saat, belum ada pergerakan yang berarti. Hingga tiba tiba tanpa kuda kuda Aksara melompat dan berlari dengan cepat. Mendekat dan mengayunkan tinjunya pada Axel.

Buaaghhhh

Tinju tangan kanan Aksara menghantam perisai lingkaran pasir besi Axel.

"Kau mencoba memukulku dengan tangan kosong? Jangan melawak," Axel sinis menatap Aksara.

"Kemamang!,"

Aksara mengucap mantranya. Api berkobar, menyala, namun bukan dari kepalan tinju melainkan dari ujung sikunya.

BWOOOSSSHHHH

Api bagaikan mesin pendorong, memberikan ledakan dan lecutan pada siku Aksara. Tinju Aksara terdorong mendobrak perisai pasir besi Axel.

Kraaakkkk . . .

Bruuaaghhh

Perisai pasir besi Axel pecah, tinju Aksara menghantam pipi kanan Axel dengan telak. Axel terlempar ke udara dan ambrug tertelungkup di tanah. Aksara berdiri tegap dengan tinju yang memar dan berdarah. Pasir besi Axel sangat keras dan tebal, meskipun tinju Aksara mampu menembusnya namun ternyata meninggalkan bekas luka.

"Aku tak secepat lawanmu yang sebelumnya. Tapi ototku lebih keras dari yang kau duga," Aksara sekali lagi mengepalkan tangannya dengan erat.

Selama dua hari ini Aksara mati matian menambah masa otot, daya tahan dan kekuatan fisiknya. Lady Kapten Joanne menunjukkan tempat latihan dan menu latihan yang bagaikan di neraka. Aksara awalnya tak mengira seorang perempuan memiliki menu latihan yang gila seperti itu.

"Jangan kau kira menjadi Kapten itu mudah hanya mengandalkan bakat saja. Orang orang seperti aku dan juga dirimu harus melalui jalan yang penuh luka untuk mencapai puncak. Jika level roh keduamu biasa biasa saja, maka perkuat fisikmu," Lady Kapten Joanne melepaskan jubah besarnya.

Braagghhh

Jubah Lady Kapten Joanne jatuh menimbulkan bunyi bergema, ternyata di dalamnya terdapat pemberat. Aksara terbelalak kaget. Bukan hanya pemberat yang membuatnya heran. Ketika jubah dilepas otot otot tangan Lady Kapten Joanne terlihat keras dan besar untuk ukuran perempuan.

"Aku sama sepertimu. Level roh kedua ku hanya biasa biasa saja. Jadi, aku menempa tubuhku untuk bisa mencapai posisiku yang sekarang. Akulah Kapten dengan fisik terkuat di kerajaan Lintang," sorot mata Lady Kapten Joanne terlihat menyala nyala.

Dan setelahnya selama dua hari Aksara menerima latihan yang sangat berat hingga dia memiliki kekuatan fisik yang mampu menembus pasir besi Axel.

"Ha ha ha. . . Menarik . . .kau lawan yang menarik. Semakin senang rasanya kalau aku bisa merobek robek mulutmu yang banyak bac*t itu!," Axel berdiri sempoyongan. Pukulan Aksara hampir saja membuatnya pingsan.

Tapi mungkin Aksara telah membangunkan kemarahan orang yang salah. Axel mengepalkan kedua tangannya, pasir besi berkumpul di sekitar tubuhnya dalam jumlah yang luar biasa banyak. Axel mengangkat tangannya, pasir besi menggumpal di udara.

"Serangan jarum pasir besi!," Axel berteriak, disusul pasir besi yang langsung membentuk jarum kecil kecil yang menyerang Aksara dari berbagai penjuru.

"Coba bertahanlah! Meskipun kecil, jarum pasirku akan melumpuhkanmu!," Axel tersenyum mengejek.

Craasshh

Crraashhh

Crraasshh

Aksara menghalau serangan pasir besi Axel dengan tinju apinya. Namun saking banyaknya dan ukuran yang sangat kecil dari ribuan jarum pasir Axel, Aksara kewalahan. Jarum pasir itu menusuk nusuk tubuh Aksara dengan liar.

Debu dan pasir beterbangan, Axel bersedekap tersenyum lebar, dan puas melihat kondisi lawannya yang berdarah darah. Sekujur tubuh Aksara penuh luka, tertancap ratusan jarum pasir yang tersebar di lengan, tangan, dada, punggung dan kaki.

"Uhukk," Aksara batuk, berdarah. Terasa sesak dan menyakitkan, leher Aksara tertancap beberapa jarum pasir besi.

"Aksara," Diana memekik tertahan dari bangku tribun penonton. Hatinya gundah dan gusar. Sakit yang dirasakan Aksara seakan Diana juga ikut merasakan.

Bibo menoleh, meminta pertimbangan Dukun Agung Ziyan, apakah pertarungan dilanjutkan ataukah dihentikan saja.

"Mau menyerah sekarang?," Axel bertanya pada Aksara masih dengan senyum culasnya.

"Hah? Ha ha ha. . .Segitu senangnya kau menyiksa lawanmu? Aku takkan menyerah, sampai mati," Aksara melotot, rasa sakit yang dirasa kalah dengan kebulatan tekadnya. Api di tinjunya masih belum padam

"Baiklah, kita lihat . .apakah semangatmu masih akan tetap menyala?," Axel memutar tangannya. Dan jarum pasir yang menancap di sekujur badan Aksara ikut berputar seperti gerakan mata bor menghujam kulit dan daging. Darah segar terciprat.

Wiiirrrr Wiiirrr Wiiirrrr

"Aarrrggggghhhhh," Aksara mengerang kesakitan.

Bersambung . . .

Terpopuler

Comments

Zuhril Witanto

Zuhril Witanto

ngilu bayangin nya

2024-02-02

0

🇴 🇫 🇫 (ᴛᴜᴛᴜᴘ ᴀᴋᴜɴ)📵

🇴 🇫 🇫 (ᴛᴜᴛᴜᴘ ᴀᴋᴜɴ)📵

kapan axel di nerf moonton 😒

2021-08-16

3

Raisya Nada

Raisya Nada

walahh sek bersambung

2021-06-24

1

lihat semua
Episodes
1 Aksara
2 Kekuatan seorang kapten
3 KEMAMANG
4 Restu Bu Mirna
5 Diana
6 Babak pertama dimulai
7 Babak pertama telah usai
8 Adik sang Kapten
9 Dukun Agung Istana
10 Undian pertarungan
11 Lyodra vs Diana
12 Aksara vs Bagin
13 Kekuatan Dukun Agung Ziyan
14 Pemuda Pemuda Harapan Kerajaan
15 Atlan
16 Babak semifinal dimulai
17 Jaguar vs Axel
18 Aksara vs Lady Kapten
19 Jenius dari lahir vs fisik yang ditempa
20 Aero Mada
21 Raja vs Putera Mahkota
22 Squad Dukun Sakti Istana
23 Batu Sakti
24 Peta Dunia
25 Regu Api
26 Berlatih serangan jarak jauh
27 Dukun Medis
28 Lady Pegri
29 Awal musim panas hutan mayit
30 Rencana perburuan batu sakti
31 Buku Kuno
32 Kekuatan kedua Atlan
33 Istana diserang
34 Taring angin
35 Japra vs Bibo
36 Medusa Api
37 Papat vs Anak dan Ayah
38 Pedang Kegelapan
39 Aksara vs Limo
40 Harimau dan Badak maju ke pertempuran
41 Akhir pertempuran
42 Aksara dan Diana
43 Peringatan dari Bibo
44 Undangan Rapat
45 Rapat tertutup
46 Ruang tahanan
47 Liga Dukun Sakti
48 Tidak berbakat, tapi bertekad!
49 Perjalanan ke Barat
50 PENGUMUMAN KARYA HOROR KEDUA RTS#2
51 Warga pesisir pantai Barat
52 Di ambang kematian
53 Siapa Kemamang sebenarnya?
54 Aksara vs Kemamang
55 Tinggal dua hari lagi
56 Harimau Jaguar
57 Kembali dari dunia Roh
58 Persiapan keberangkatan
59 Pojok Curhat
60 NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Aksara
2
Kekuatan seorang kapten
3
KEMAMANG
4
Restu Bu Mirna
5
Diana
6
Babak pertama dimulai
7
Babak pertama telah usai
8
Adik sang Kapten
9
Dukun Agung Istana
10
Undian pertarungan
11
Lyodra vs Diana
12
Aksara vs Bagin
13
Kekuatan Dukun Agung Ziyan
14
Pemuda Pemuda Harapan Kerajaan
15
Atlan
16
Babak semifinal dimulai
17
Jaguar vs Axel
18
Aksara vs Lady Kapten
19
Jenius dari lahir vs fisik yang ditempa
20
Aero Mada
21
Raja vs Putera Mahkota
22
Squad Dukun Sakti Istana
23
Batu Sakti
24
Peta Dunia
25
Regu Api
26
Berlatih serangan jarak jauh
27
Dukun Medis
28
Lady Pegri
29
Awal musim panas hutan mayit
30
Rencana perburuan batu sakti
31
Buku Kuno
32
Kekuatan kedua Atlan
33
Istana diserang
34
Taring angin
35
Japra vs Bibo
36
Medusa Api
37
Papat vs Anak dan Ayah
38
Pedang Kegelapan
39
Aksara vs Limo
40
Harimau dan Badak maju ke pertempuran
41
Akhir pertempuran
42
Aksara dan Diana
43
Peringatan dari Bibo
44
Undangan Rapat
45
Rapat tertutup
46
Ruang tahanan
47
Liga Dukun Sakti
48
Tidak berbakat, tapi bertekad!
49
Perjalanan ke Barat
50
PENGUMUMAN KARYA HOROR KEDUA RTS#2
51
Warga pesisir pantai Barat
52
Di ambang kematian
53
Siapa Kemamang sebenarnya?
54
Aksara vs Kemamang
55
Tinggal dua hari lagi
56
Harimau Jaguar
57
Kembali dari dunia Roh
58
Persiapan keberangkatan
59
Pojok Curhat
60
NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!