Dukun Agung Ziyan berjalan gagah, dengan jubah emas berambut perak. Wajahnya yang terlihat kalem, pembawaan yang tenang membuat setiap orang takjub dan kagum. Begitupun Aksara, baru kali ini dia melihat seorang Dukun Agung Istana.
Dukun Agung Ziyan melambaikan tangannya ke arah penonton juga ke arah para peserta. Senyumnya terkembang berwibawa. Akhirnya tepuk tangan dan sorak sorai semua orang di gelanggang pecah, bergema, mengelu elukan manusia terkuat di kerajaan Lintang.
Dukun Agung Ziyan berdiri di sebelah Bibo. Bibo membungkuk memberi hormat.
"Warga kerajaan Lintang yang berbahagia, juga para calon Dukun istana yang luar biasa. . . perkenalkan saya adalah Perdana Menteri Kerajaan Lintang . . . nama saya ziyan," Dukun Agung Ziyan membuka pidatonya.
"Untuk para calon dukun istana, saya hanya ingin berpesan pada kalian . . . kompetisi ini adalah sebuah wadah untuk menunjukkan kemampuan kalian. Wadah untuk mengabdikan diri kalian pada kerajaan Lintang. Kalaupun nantinya ada yang gagal, tetap tegakkan hati kalian, buktikan dengan berlatih dan di tahun berikutnya jadilah pemenang. Dan untuk saat ini tunjukkan semangat muda kalian, berikan yang terbaik dan cobalah mendaki ke puncak . . ," Dukun Agung Ziyan mengepalkan tangannya dan mengangkatnya ke atas. Kembali, arena gelanggang dihujani dan dibanjiri tepuk tangan dan teriakan penuh kobaran semangat.
"Dan ini lah saatnya pengundian pertarungan satu lawan satu untuk seleksi dukun Istana babak yang kedua," Bibo kembali memberikan pengumuman setelah tepuk tangan dan teriakan kekaguman mereda.
"Pertarungan nantinya akan dibagi menjadi dua group yaitu group A dan group B. Masing masing group menyajikan dua pertarungan, pemenangnya akan saling berhadapan di semifinal. Kemudian final nanti akan mempertemukan pemenang dari group A dengan group B. Baiklah, pengundian akan langsung dilakukan oleh Perdana Menteri Dukun Agung Istana . . .," Bibo menyodorkan gelas kaca bulat berisi kertas undian pada Dukun Agung Ziyan.
Dukun Agung Ziyan mengaduk aduk sebentar gulungan kertas yang berada dalam gelas kaca. Mengambil dua gulungan kertas dan menyerahkannya pada Bibo. Bibo menerima kemudian membukanya dan bersiap memberikan pengumuman. Suasana mendadak senyap, semua terdiam menunggu pengumuman hasil undian untuk pertarungan pertama.
"Untuk pertarungan pertama group A adalah . . .," Bibo menarik nafas dalam.
"Lyodra melawan. . .Dianaaa . . .," Bibo lantang mengumumkan pertarungan pertama.
Semua mata langsung tertuju pada dua calon dukun istana. Dua wanita diantara enam laki laki calon dukun istana harus saling berhadapan di pertarungan pertama. Lyodra mengepal kemudian mengangkat tangannya, seolah ingin menunjukkan dia sudah siap dengan pertarungan ini. Sebuah kepercayaan diri yang luar biasa, sementara Diana hanya tertunduk, masih mengumpulkan keberanian dan keyakinannya untuk bertarung.
"Dianaaa . . . kamu pasti bisaa," Aksara tiba tiba saja berteriak, memberikan semangat pada Diana. Diana terkaget dengan teriakan Aksara. Rasa kaget sekaligus menyadarkannya untuk bersemangat dan yakin akan kemampuannya. Sebuah teriakan dari Aksara menjadi pemicu teriakan teriakan lain dari tribun penonton.
Diana
Diana
Diana
Lyodra
Lyodra
Lyodra
Suara teriakan di tribun penonton terbelah dua. Sebagian mendukung Diana, namun tak kalah jumlah juga para pendukung Lyodra.
"Hadirin sekalian, dimohon untuk tetap tenang. Pengundian pertarungan kedua group A akan dilanjutkan," Bibo mencoba mengendalikan situasi yang sudah mulai riuh ramai.
Dukun Agung Ziyan melanjutkan pengambilan gulungan kertas undian. Setelah mengambil dua gulungan, kemudian diserahkan pada Bibo untuk dibuka.
"Dan untuk pertarungan kedua di group A adalah . . . Bagiinn melawan Aksaraa . . .," Bibo melanjutkan pengumumannya dengan lantang.
Tanpa diduga, undian pertarungan kedua sesuai harapan Bagin. Bagin tersenyum memandang Aksara dari kejauhan. Inilah saatnya bagi Bagin untuk menunjukkan kemampuannya, Bagin yakin mampu menghancurkan Aksara.
"Undian dilanjutkan untuk pertarungan ketiga, yang berada di group B," Bibo kembali menyodorkan gelas kaca bulat pada Dukun Agung Ziyan.
"Pertarungan ketiga adalah Silva melawan Jaguaarr . . .," Bibo mengumumkan pertarungan ketiga setelah membuka gulungan kertas hasil undian dari Dukun Agung Ziyan.
"Untuk pertarungan terakhir dapat disimpulkan adalah pertarungan antara Axel melawan Mozaa . . .," Bibo mengumumkan pertarungan terakhir disusul sorak sorai penonton yang semakin heboh. Penonton benar benar menantikan aksi Axel, calon dukun istana favorit di tahun ini.
"Pertarungan akan dilaksanakan di arena tempat saya berdiri. Para calon dukun istana diputuskan kalah apabila . . . terlempar atau keluar dari arena, pingsan atau tidak sadarkan diri, dan mengaku kalah atau menyerah. Untuk itu, para peserta jangan ragu untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Para dukun medis bersiap siaga diluar arena jika ada yang mengalami cidera. Wasitnya adalah saya sendiri dengan pengawasan dari para Kapten. Jika terlihat calon dukun istana terluka parah namun masih ingin bertarung, wasit memiliki hak untuk menghentikan pertandingan dan menyatakan peserta tersebut kalah. . . kalian paham para peserta calon dukun istana??!," Bibo berteriak bertanya pada para calon dukun istana.
"Siapp! Paham!," Semua calon dukun istana menjawab dengan kompak.
"Yang mulia dukun Agung, kami persilahkan untuk naik menuju singgasana untuk ikut menyaksikan babak kedua seleksi dukun istana," Bibo menunduk. Dukun Agung Ziyan mengangguk kemudian berjalan menuju singgasananya di tengah tengah tempat duduk para Kapten. Dan sekali lagi sorak sorai penonton pecah, menggetarkan arena gelanggang.
"Baik, untuk pertandingan pertama akan segera dimulai. Dimohon untuk peserta Lyodra dan Diana segera bersiap. Kami beri waktu lima menit untuk menyiapkan dan memantapkan hati, berganti pakaian yang lebih nyaman untuk pertarungan pun juga diperbolehkan," Bibo mempersilahkan peserta menyiapkan diri.
Diana berjalan masuk ke ruang ganti, sementara Lyodra langsung berjalan penuh percaya diri menuju arena pertarungan. Terlihat Lyodra sangat yakin dengan kemampuannya.
Diana membutuhkan waktu beberapa lama untuk berganti pakaian. Diana menepuk nepuk pipinya sendiri, berusaha melecut semangatnya. Dia mengingat perkataan Aksara yang ingin bertarung melawannya, Diana sadar dia nggak boleh mengecewakan Aksara. Arena ini, kompetisi ini adalah sarana untuk membuktikan kemampuannya. Diana menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan.
Setelah beberapa saat, akhirnya Diana keluar dari ruang ganti berjalan tegap menuju gelanggang. Diana berganti pakaian, memakai setelan baju dan celana berbahan kulit berwarna hitam, dengan rambut dikuncir kuda. Sorot matanya telah berubah, penuh keyakinan, penuh semangat.
"Dianaaaa . . .," Aksara lagi lagi berteriak pada Diana dari tempat dia duduk.
"Kamu pasti bisa, kita bertemu di pertarungan yang kedua!," Aksara berdiri, sorot matanya berapi api. Diana tersenyum, mengepalkan tangan dan mengarahkan tinjunya pada Aksara.
Lyodra terlihat menyeringai di arena, sementara Bagin terlihat menunjukkan ekspresi jijik dan muak.
"Dasar penjilat bangsawan kau Aksara," Bagin bergumam, semakin tidak sabar untuk menghajar Aksara.
Diana kini berada di dalam arena, berhadap hadapan dengan Lyodra.
"Sudah siap kalah? Jangan nangis ya Nona manja," Lyodra terkekeh, mengejek.
"Baiklah, pertarungan pertama. . . dimulaiii!," Bibo berteriak, pertarungan pertama segera berlangsung
Doongg
Doongg
Doongg
Gong ditabuh tiga kali.
...Lyodra vs Diana...
Bersambung . . .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
jeng jeng
2024-02-01
0
im_ha
10 like untukmu ya Thor. feedback ceritaku Doaku berbeda dengan doamu
2021-07-30
1
Mayang
Thooorrrr gw Vs siapa nech ????🙄
2021-06-17
3