"Haaahhh.....?" Kinan terkejut melihat orang itu, dia langsung mengeluarkan senyum paksanya.
"Mimpi apa, aku semalam?" Tanya Kinan pada hatinya.
Bayangkan saja sudah bangun kesiangan dan buru-buru berangkat kerja, tapi sekarang malah ada manusia es di depan rumahnya.
Tiba-tiba tangan kekarnya itu menjewer telinga Kinan, membuat Kinan merintih kesakitan.
Kinan memayunkan bibirnya, Aftar menatap Kinan dengan tatapan kesal tapi Aftar malah menatap Kinan dengan tajam.
"Auh, lepaskan! Apa Pak Aftar ini sudah gila?" Tanya Kinan, dia sungguh berani pada bosnya ini.
Dalam hati Aftar, pegawai macam apa? Berani sekali menyebut bos setampan ini gila. Dasar gadis jutek plus bawel, untung saja aku membutuhkanmu coba kalau tidak mana mau aku pagi-pagi sekali datang ke rumah gadis yang super jutek ini.
"Ikut denganku!" Aftar tidak melepaskan tangannya dari telinga Kinan, dia membuka pintu mobilnya lalu mendorong Kinan agar masuk ke dalam mobilnya.
Kinan merasa kesal, dia melihat Aftar dengan tatapan tidak suka.
"Apa, Pak Aftar mau menculikku? Sungguh keterlaluan pagi-pagi sudah membuat orang naik darah saja." Batin Kinan dalam hati.
Kinan memperhatikan mobil milik Aftar, sungguh Aftar itu memang seorang sultan semalam dia mengantar dirinya bukan dengan mobil ini. Jadi wajar saja jika Kinan tidak tahu kalau dari tadi itu mobilnya Aftar.
"Apa, mobil bapak baru?" Tanya Kinan dengan polosnya.
"Tidak, ini mobil sudah lama dan aku baru pertama kali memakainya." Jawab Aftar tanpa expresi.
Sungguh dia mau menjawab pertanyaan dari Kinan, tapi lagi-lagi dia tidak mau tersenyum pada Kinan.
"Mungkin pasta gigi dia mahal, makanya dia jarang sekali tersenyum." Kinan tertawa dalam hati.
"Oh, tapi kita mau kemana? Inikan bukan arah kantor, bapak jangan macam-macam dengan saya ya! Atau saya akan berteriak meminta tolong," Kinan menatap Aftar dengan tatapan marah, dia takut Aftar akan berbuat macam-macam pada dirinya.
"Jika kamu melakukan itu maka aku akan menciummu. Dan buang itu pikiran kotormu itu, siapa juga yang mau berbuat macam-macam padamu gadis jutek sepertimu?" Aftar geleng-geleng kepala, sungguh dia merasa pusing ntahlah akan seperti apa, 100 hari menikah dengan Kinan?
Kinan senyam-senyum, aduh dirinya sangat kepedean sekali menurutnya. Tapi sudahlah kan buat jaga-jaga juga agar Aftar tidak macam-macam pada dirinya.
"Jika bapak menciumku, maka bapak harus di denda! Gini-gini saya seorang gadis yang masih segelan rapat loh pak." Jawab Kinan, dia mengatakan semua itu dengan raut wajah yang begitu polos.
Astaga Kinan dengan raut wajah polosnya dia mengatakan hal sepele di hadapan Aftar.
Aftar menelan ludahnya dengan kasar, sungguh otaknya jadi traveling kemana-mana. Pikiran dibuat terngiang-ngiang ingin mencicipi barang segelan milik Kinan, tapi dengan cepat Aftar menepis pikiran kotornya itu dia sungguh tidak percaya bisa-bisanya otaknya ngebleng seperti ini?
Wajarlah jika seorang laki-laki pikirannya mesum saat mendengar percakapan seperti itu.
Aftar menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal " Aish Kinan, kamu membuat pikiranku traveling kemana-mana." Batin Aftar dalam hati.
"Bayar denda? Sudah seperti telat bayar tagihan saja." Jawab Aftar dia tertawa kecil.
Kinan ternganga tidak percaya, melihat Aftar tertawa, karena ini pertama kalinya dia melihat seorang Aftar Sanjaya tertawa.
"Pak Aftar, kalau mau tertawa seperti ini. Bapak terlihat semakin tampan." Cetus Kinan, yang langsung menutup mulutnya yang lancang itu.
"Aduh mulutku, kamu jangan buat aku malu!" Gumam Kinan dalam hati.
"Aku sudah tampan sejak lahir." Jawab Aftar yang kembali memasang wajah datarnya.
Seketika Kinan menyesal sudah memuji sang bosnya itu. Karena bosnya malah pamer dan menurut Kinan bosnya itu terlalu kepedean, tapi Aftar memang tampan sih.
"Aku tarik lagi pak ucapanku." Ucap Kinan.
"Mana bisa, ucapan yang sudah keluar dari mulut bisa di tarik kembali?" Jawab Aftar.
"Sudahlah pak lupakan saja! Kita mau kemana?" Kinan mengalihkan pembicaraan, karena dia terlalu malas mendengar Aftar pamer pada dirinya.
Dalam hati Aftar, apa ini gadis tidak bisa diam? Sudah jutek sekali, dia juga sangat bawel. Aku tidak bisa bayangkan jika gadis ini menjadi istriku selamanya untung aku cuma mengajaknya menikah kontrak saja.
Hati manusia tidak ada yang tahu dan tentunya saat mereka bersama, pasti akan timbul benih-benih cinta. Ntahlah siapa yang akan jatuh cinta lebih dulu nantinya?
"Diamlah, nanti kamu juga akan tahu kita mau kemana?" Jawab Aftar dengan begitu dinginnya.
Kinan merasa kesal, akhirnya dia memilih diam sambil melipat kedua tangannya ke dada. Matanya menatap jalanan yang tidak terlalu macet.
"Besok adalah pernikahan Arga dan Vira, untuk datang ke acara pernikahan mereka. Kira-kira aku beli kado apa ya?" Batin Kinan dalam hatinya.
Kinan hanya diam, dia membayangkan betapa bahagianya dulu waktu pacaran bersama Arga, tapi sayangnya orang tua Arga tidak merestui hubungan dirinya dengan Arga dan malah menjodohkan Arga dengan gadis lain.
Suasana begitu hening, karena Aftar dan Kinan saling diam saja, Aftar agak kikuk sekali-kali dia melirik ke arah Kinan duduk.
"Gadis jutek, kenapa kamu diam saja?" Tanya Aftar tiba-tiba.
Kinan mendengus kesal "Bukannya, tadi bapak yang menyuruh saya diam?" Jawab Kinan.
"Dasar manusia es, seenaknya saja memanggilku dengan sebutan gadis jutek." Batin Kinan dalam hatinya.
"Sekarang bicaralah!" Cetus Aftar, membuat Kinan semakin tidak mengerti apa maunya bos nya ini?
"Kenapa bapak mengajak saya menikah kontrak?" Tanya Kinan dengan serius.
"Demi kakek, aku sebenarnya belum mau menikah. Karena ada seseorang yang sedang aku tunggu selama ini." Jawab Aftar.
"Kenapa, bapak tidak mengajak wanita yang bapak tunggu itu menikah dengan bapak?" Tanya Kinan lagi, dia semakin kepo.
Aftar agak kesal, dia tidak suka jika orang lain ingin tahu masalah pribadinya.
"Tugasmu hanya menikah kontrak 100 hari denganku, bukan mencari tahu tentang kehidupanku!" Jawab Aftar dengan jutek.
Seketika Kinan kembali diam, dia merasa bersalah terlalu banyak bertanya pada Aftar tentang masalah pribadi Aftar.
"Maaf pak." Kinan memasang raut wajah bersalah.
"Sudahlah, kita sudah sampai!" Aftar memarkirkan mobilnya. Kini mereka berdua sudah turun dari mobil.
Kinan agak terkejut, Aftar tahu Kinan pasti terkejut tapi Aftar harus membawa Kinan kesini.
"Pak...." Kata-kata Kinan terpotong.
"Sebenarnya untuk apa? Manusia es membawaku kesini?" Tanya Kinan dalam hatinya.
"Jangan banyak bertanya, ikut saja!" Sambung Aftar dan Kinan hanya mengikuti langkah kaki Aftar di belakang Aftar, karena dia tidak berani berjalan di samping Aftar Takut salah.
BERSAMBUNG 😊
Terimakasih para pembaca setia 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 258 Episodes
Comments
Mona
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
2022-03-02
0
Hartin Marlin ahmad
seru juga
2022-02-12
0
Erni Andi Arifuddin
kayak pernah aku baca novel mirip dgn alur novel ini.tp lupa di mana dan judulnya apa?😇
2022-02-01
0