Jam menunjukkan pukul 5 sore, Kinan bergegas untuk segera pulang dari tempat kerjanya. Seperti biasa Kinan berjalan lewat tangga karena dia berharap tidak bertemu dengan Aftar.
"Untung saja, kantor sudah sepi." Kata Kinan sambil berjalan, dia setiap langkahnya Kinan merasa sangat bahagia.
Sesampainya di luar kantor, ternyata Aftar sudah menunggunya sambil berdiri di depan mobilnya. Aftar terlihat sangat keren dengan setelan jas warna hitamnya dan kaca mata warna hitamnya.
"Hay gadis jutek." Sapa Aftar dengan begitu manis.
Kinan hanya melengos "Ada apa, pak? Bukannya bapak sudah pulang dari tadi?" Tanya Kinan dengan malas.
"Haruskah, aku pulang bersamanya lagi dia itu menyebalkan sekali." Batin Kinan dalam hatinya.
"Belum, kakek menelpon katanya hari ini mau keluar dari rumah sakit dan minta kita untuk menjemputnya." Jawab Aftar dengan begitu dingin.
"Tapi pak, saya ganti baju dulu ya jadi antar saya ke rumah dulu." Kinan tersenyum simpul.
"Apa aku ini supirmu?" Gerutu Aftar dengan suara pelan, tapi di dengar oleh Kinan.
"Ya sudah, kalau bapak tidak mau antar saya juga tidak mau ikut menjemput kakek ke rumah sakit." Cetus Kinan sambil berlalu dari hadapan Aftar.
Aftar langsung memegang tangan Kinan "Baiklah, aku antar kamu pulang dulu." Aftar agak kesal tapi tetap menurut pada Kinan.
Aftar langsung menarik tangan Kinan dan menyuruh Kinan masuk ke dalam mobilnya, Aftar melajukan mobilnya menuju ke rumah Kinan. Sesampainya di rumah Kinan, buru-buru Kinan berganti baju dan setelah selesai berganti baju mereka langsung menuju ke rumah sakit untuk menjemput Kakek Sanjaya.
"Ingat, di depan kakek kita harus menjadi pasangan yang mesra dan jangan panggil aku Pak Aftar, tapi panggil aku sayang!" Sorot mata Aftar penuh dengan ancaman.
"Jika kamu sampai membuat kesalahan, maka aku akan menyentil jidatmu." Batin Aftar dalam hatinya.
"Iya pak, kita harus menjadi Ratu drama dan Raja drama yang hebat ya pak! Siapa tahu kita bisa jadi pemain flim." Jawab Kinan dengan nada meledek.
"Sekarang coba, panggil aku sayang!" Suruh Aftar dengan jail.
"Haruskah pak? Nanti saja kalau sudah di rumah sakit pak." Tolak Kinan sambil menggelengkan kepalanya.
"Kinan, lakukan apa yang aku suruh!" Aftar me
menatap Kinan dengan tatapan tajam.
"Sayang...." Panggil Kinan dengan nada begitu lembut "Apa seperti itu pak? Rasanya lucu sekali pak, aku sangat ingin tertawa!" Kinan mengeluarkan tawanya sejadi-jadinya.
"Berhentilah bergurau!" Omel Aftar, sambil terus fokus menyetir.
Tiba-tiba ponsel Kinan berdering dan ternyata itu telpon dari Arga.
"Arga, mau apalagi sih? Kenapa sih, dia sudah menikah tapi tetap saja terus mengangguku." Batin Kinan dalam hatinya.
Kinan membiarkan ponselnya terus berbunyi hingga berulang kali, Aftar yang merasa kesal tiba-tiba menghentikan laju mobilnya di tepi jalan.
"Kenapa pak?" Tanya Kinan penuh tanda tanya.
"Siapa yang menelponmu? Kenapa kamu tidak mengangkatnya?" Tanya Aftar matanya penuh dengan amarah.
"Arga yang menelpon." Jawab Kinan jujur.
Tiba-tiba Aftar mengambil ponsel milik Kinan dari tangan Kinan "Biar, aku urus manta s*alan itu. Enak saja dia menganggu calon istriku," Aftar begitu mengebu-gebu, dan langsung menelpon balik ke no ponsel Arga.
Mendengar ponselnya berbunyi, Arga tersenyum bahagia karena itu telpon dari Kinan "Yes, akhirnya Kinan menelponku aku yakin pasti Kinan sangat merindukanku." Arga tertawa dengan bahagia dan langsung menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya lalu menaruh ponselnya tepat di telinganya.
Vira melihat suaminya tersenyum bahagia, dalam hatinya hanya bisa menangis.
"Dia bisa tersenyum bahagia saat menerima telepon, tapi dia tidak bisa bersikap lembut sedikitpun kepadaku." Batin Vira dalam hatinya.
Vira hanya diam dan berlalu keluar dari kamarnya.
"Hallo Kinan sayang." Sapa Arga dengan begitu lembut.
"Jangan harap, Kinan akan menelponmu! Aku Aftar calon suaminya Kinan." Jawab Aftar dengan penuh penegasan.
Kinan hanya diam dan membiarkan Aftar Melakukan apa yang Aftar mau. Lagian Kinan juga tidak mau kalau Arga terus-terusan menganggu dirinya.
"Pak Aftar keren sekali." Puji Kinan dalam hatinya.
"Kenapa, ponsel Kinan ada bersamamu br*ngsek?" Tanya Arga dengan nada marah.
"Tentu saja, kita sedang berdua dasar b*doh. Berhentilah menganggu calon istriku!" Jawab Aftar dengan begitu tegas.
"Kinan masih mencintaiku, jadi dia menikah denganmu hanya karena terpaksa!" Tegas Arga, dia tidak mau tahu.
"Terserah kamu sajalah, aku mau bersenang-senang dulu dengan calon istriku. Kasian dia sudah menungguku di atas ranjang tempat tidur." Jawab Aftar dengan sengaja.
"Dasar Pak Aftar itu sudah tidak waras, mana ada kita di atas tempat tidur jelas-jelas kita ada di dalam mobil." Gumam Kinan dalam hatinya.
Aftar mematikan saluran teleponnya, lalu memberikan kembali ponsel Kinan pada Kinan "Jika dia menelpon lagi tidak usah di angkat! Kalau perlu kamu blok no ponsel sih br*ngsek itu!" Aftar menatap Kinan dengan tatapan penuh makna.
Kinan hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti. Dan Aftar kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Arga membanting ponselnya hingga hancur, perasaannya begitu marah karena lagi-lagi Aftar membuatnya marah.
"Rasanya aku sudah tidak tahan, aku hanya mencintai Kinan." Arga merasa frustasi dan ingin sekali bertemu dengan Kinan saat ini.
Vira hanya bisa menghela nafasnya, dia berusaha sabar menghadapi suaminya yang memang tidak punya hati dan perasaan itu.
"Kejarlah cinta Kinan!" Cetus Vira tiba-tiba.
"Ini semua gara-gara kamu, coba kalau kamu menolak waktu kita di jodohkan. Pasti aku akan bahagia bersama Kinan." Arga melihat Vira dengan tatapan penuh amarah.
"Dan cobalah kamu menerima pernikahan ini dengan ikhlas, pasti kamu juga akan merasa bahagia dengan apa yang ada saat ini." Tutur Vira, tapi tatapan Arga semakin kesal pada Vira.
"Sudahlah, jangan berceramah! Aku mau pergi dulu, kamu tidak usah menungguku pulang." Arga beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Vira begitu saja.
Vira membiarkan suaminya pergi dan dia hanya duduk tanpa menjawab apa yang suaminya katakan barusan.
____
Aftar dan Kinan sudah sampai di rumah sakit, kini permainan Drama mereka akan di mulai.
Mereka sudah turun dari mobil dan sekarang sedang menuju ke ruangan rawat Sanyaja, Aftar mengandeng tangan Kinan dengan mesra, sengaja biar sang kakek tidak curiga akan hubungannya dengan Kinan yang hanya pura-pura.
Sesampainya di ruangan Sanjaya, betapa bahagianya Sanjaya melihat cucunya dan calon cucu menantunya datang.
"Kinan, kemarilah nak!" Pinta Sanjaya sambil tersenyum.
Kinan melepaskan tangannya dari tangan Aftar, lalu berjalan menghampiri Sanjaya dengan bahagia.
"Kakek, kamu sudah sehat. Kakek tidak boleh sakit lagi ya!" Kinan memeluk Sanjaya seperti kakeknya sendiri.
Sanjaya sangat bahagia, dia mengusap-usap punggung Kinan dengan penuh kasih sayang.
Saat Sanjaya memeluknya, seketika Kinan teringat waktu dulu dia bersama neneknya. Mungkin jika dulu Kinan punya uang banyak pasti neneknya bisa sehat kembali.
"Nenek, aku memeluk Kakek Sanjaya rasanya seperti aku sedang memelukmu nek." Batin Kinan dalam hatinya.
"Iya kakek harus sehat, kan kakek mau meyaksikan pernikahan kalian, kakek mau gendong calon cicit-cicit kakek." Jawab Sanjaya dengan begitu bahagia.
Aftar melihat kakeknya dengan tatapan penuh salah, apalagi dia sudah membuat kebohongan yang begitu besar.
"Kakek, aku tahu kakek sangat berharap punya cicit dariku. Tapi semua itu tidak mungkin kek karena aku dan Kinan hanya menikah dengan kontrak." Batin Aftar dalam hatinya.
"Kakek, yang penting kakek sehat ya! Nanti Aftar akan buatkan cicit-cicit yang lucu untuk menemani kakek bermain." Tutur Aftar sambil tersenyum penuh rasa salah.
Kinan melepaskan dirinya dari pelukan Sanjaya, lalu dia tersenyum pada Sanjaya.
"Kakek akan sehat, Kinan kamu tidak boleh capek-capek biar setelah menikah kamu itu cepat-cepat hamil." Sanjaya terus memancarkan senyum bahagianya.
Kinan dan Aftar saling menatap satu sama lain, tatapan Kinan menujukan kalau Kinan sangat bersalah mengikuti drama pernikahan kontrak yang Aftar buat. Sedangkan tatapan Aftar begitu penuh arti pada Kinan.
"Iya kek, Kinan tidak akan capek-capek." Jawab Kinan sambil tersenyum.
"Aftar, awas saja jika kamu membuat calon cucu menantu kakek kecapean, kakek akan mengomeli seharian." Sanjaya terus melihat ke arah Aftar.
"Iya kek, aku tidak akan membuat Kinan kecapean. Sekarang ayo kita pulang!" Jawab Aftar sambil tersenyum.
Aftar dan Kinan langsung membawa Sanjaya pulang ke rumah.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka sampai di rumah.
BERSAMBUNG 😊
Terimakasih para pembaca setia🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 258 Episodes
Comments
Hartin Marlin ahmad
akankah pernikahan aftar gak kontrak lagi dan mencintai kinan sepenuhnya dan mwnerima dia sebagai istri seutuhnya
2022-02-16
1
Lasmi Kasman
Jgn Kinan jatuh cinta duluan
2022-02-12
0
Yunerty Blessa
pelan² cinta akan bersemi
2022-02-03
1