"Apa yang mau Pak Aftar lakukan." Batin Kinan.
Vino langsung geleng-geleng kepala, lalu berdehem agar sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi.
"Ehem...ehem, ingat bos belum mukrim," cetus Vino yang diiringi dengan deheman, Namun disambut tatapan kesal oleh Aftar.
"Menyingkirlah Pak Aftar berat sekali!" Keluh Kinan yang berusaha melindungi dua g*n*ng kemb*rnya dengan kedua tangannya, agar tidak tersentuh oleh dada bidang Aftar.
Aftar langsung membenarkan posisinya, Kini Aftar sudah berdiri. Namun Aftar tidak menolong Kinan.
"Aduh pinggangku sakit sekali," rintih Kinan.
Iya gimana pinggang Kinan tidak sakit, Badan Kinan yang mungil tertindih badan Aftar yang begitu kekar, Panteslah Kinan merasa sakit.
"Bangunlah!" Cetus Aftar.
Kinan pelan-pelan bangun dari tempat dirinya terjatuh "Dasar bos tidak ada akhlak bukannya di tolongin, Ini malah dibiarkan saja." Batin Kinan dalam hati.
Vino malah senyam-senyum melihat Aftar dan Kinan, lalu Aftar langsung menatap Vino dengan tatapan tajam.
"Kalian bos dan anak buah benar-benar b*doh, cuma kecoa saja kalian sampai main peluk-pelukkan. Bayangkan saja jika orang lain yang melihatnya pasti mereka akan berpikiran kalian itu jeruk makan jeruk," ucap Kinan yang langsung mengeluarkan tawanya, Aftar hanya berdecak kesal.
"Dasar gadis s*alan, bisa-bisanya dia berkata seperti itu pada bosnya." Batin Aftar.
Setelah selesai mengurus masalah kecoa, Kinan langsung melanjutkan membersihkan ruangan Aftar, dengan cepat Aftar juga mengisyaratkan Vino agar keluar dari ruangannya. Vino yang paham dengan isyarat itu langsung keluar dari ruangan kerja Aftar.
"Hey kamu," panggil Aftar yang tidak mau menyebutkan namanya Kinan.
"Nama saya Kinan Pak," jelas Kinan.
"Aku tidak perduli, cepat buatkan aku teh, Jangan terlalu manis dan jangan terlalu pahit juga!" ucap Aftar dengan nada ketus.
"Baik Pak," jawab Kinan.
"Tidak terlalu manis tidak terlalu pahit, Ingat saja pak kenangan sama mantan!"batin Kinan.
"Kenapa diam saja? Cepat buatkan aku teh!" Cetus Aftar, Kinan langsung pergi meninggalkan ruangan Aftar lalu menuju ke dapur kantor.
Sesampainya di dapur, Kinan langsung membuatkan teh untuk sang bos. Lalu setelah selesai Kinan langsung membawa teh buatannya ke ruangan Aftar.
"Ini Pak tehnya," ucap Kinan yang langsung menaruh segelas cangkir teh yang ada di tangannya, di atas meja kerja Aftar.
"lanjutkan pekerjaanmu!" Ucap Aftar dengan ketus, Membuat Kinan merasa kesal "Dasar bos galak," batin Kinan.
Kinan kembali membersihkan ruangan Aftar, Sedangkan Aftar langsung meminum teh buatan Kinan.
"Kinan, kan saya bilang jangan terlalu pahit dan jangan terlalu manis juga, Kamu buat teh rasanya tidak jelas." Ucap Aftar yang membuat Kinan terkejut.
Kinan berjalan menuju meja kerja sang bos, lalu mengambil cangkir teh yang ada di meja kerjanya Aftar.
Kinan langsung mencicipi teh buatannya" Rasanya sudah pas kok pak," ucap Kinan dengan begitu polos, Membuat Aftar langsung menatapnya dengan tatapan kesal.
Dengan begitu polosnya Kinan mencoba teh buatannya untuk sang bos, membuat Aftar hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Kinan "Menikah kontrak 100 hari dengannya Pasti ke palaku bisa pecah gara-gara tingkahnya." Batin Aftar.
"Sudahlah, Keluar kamu sekarang!" usir Aftar, Kinan langsung membawa semua alat-alat pembersih ruangan lalu langsung pergi dari ruangan Aftar.
"Dasar aneh, mulut dia lagi sariawan kali makanya teh enak gitu dibilang rasanya tidak jelas." Gerutu Kinan sambil berjalan.
Jam menunjukkan pukul 5 sore, Seperti biasa Kinan pulang dari tempat kerjanya.
Kinan berjalan santai menelusuri setiap ruangan kantor yang sudah mulai sepi, Tidak sengaja Kinan bertemu dengan Aftar. Kinan berusaha bersembunyi namun dengan cepat Aftar menarik tangan Kinan, membuat Kinan merasa takut.
Aftar terus memegang tangan Kinan "Kenapa? Kamu mau menghindar dariku?" Tanya Aftar yang belum melepaskan tangan Kinan dari cengkraman tangannya.
Kinan membalikkan badannya lalu berkata pada Aftar "Lepaskan saya Pak! Saya mau pulang." Pinta Kinan dengan wajah melas.
Aftar tidak memperdulikan ucapan Kinan, Kini Aftar langsung menarik tangan Kinan dengan kasar "Sebenarnya dia mau membawaku kemana?" Batin Kinan.
Aftar memecet tombol lift, Lalu setelah life terbuka Aftar langsung mengajak Kinan masuk kedalam lift.
"Pak saya bisa lewat tangga," ucap Kinan dengan suara pelan.
Iya Aftar lewat lift khusus dan itu hanya dipake oleh dirinya dan sekertarisnya saja, Sedangkan pegawai lain biasa lewat tangga dan ada life khusus karyawan juga.
"Jangan membantah, Cepat masuk atau aku akan menyeretmu dengan kasar." ucap Aftar yang penuh dengan ancaman.
Kinan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift dengan begitu hati-hati.
"Haruskah aku menikah dengan orang seperti ini?" Tanya Kinan dalam hatinya.
Kinan dan Aftar sudah berada di dalam lift, Namun Kinan hanya diam saja. Aftar tiba-tiba menoleh kearah Kinan membuat Kinan langsung membalikkan wajahnya.
"Kenapa? Kamu takut aku akan memakanmu?"Tanya Aftar yang terus menatap wajah cantik, membuat Kinan jadi salah tingkah.
"Maaf Pak, Bisa jaga mata bapak!" ucap Kinan, Karena merasa risih dengan tatapan mata Aftar.
Aftar langsung mengembangkan senyumnya, Lalu geleng-geleng kepala.
"Aku juga tidak mau menatapmu terlalu lama, takut mataku belekan nanti." jawab Aftar, Yang membuat Kinan langsung menatapnya dengan kesal "Rasanya pingin cepat-cepat pulang," batin Kinan.
Sesampainya diluar kantor, Kinan hendak jalan pulang namun dengan cepat Aftar menarik tangan tangan, membuat Kinan langsung menolehnya.
"Kenapa Pak?" Tanya Kinan pelan.
"Biar aku antar kamu pulang," jawab Aftar dengan tatapan datar. Kinan langsung memasang wajah terkejutnya "Mengantar pulang." batin Kinan tidak percaya.
"Saya pulang sendiri saja pak, rumah saya dekat dari sini kok." Tolak Kinan yang langsung di tatap tajam oleh Aftar "Apa aku menyuruhmu menolakku, Sudah cepat biar aku antar!" Ajak Aftar memaksa.
Akhirnya Kinan mau tidak mau menurut pada Aftar "Dasar tukang maksa," gerutu Kinan pelan yang ternyata di dengar oleh Aftar "Kamu bilang apa? Aku tukang maksa?" Cetus Aftar dengan tatapan kesal.
"Terus apa kalau bukan maksa?" Jawab Kinan yang tidak mau kalah, Aftar hanya geleng-geleng kepala lalu langsung menyalakan mesin mobilnya "Dasar gadis jutek, untung aku butuh kamu jika tidak aku sudah memecatmu." Batin Aftar kesal.
Setelah beberapa menit, sampailah di depan rumah Kinan. Kinan langsung turun dari mobil Aftar, Lalu Kinan mengucapkan terimakasih pada Aftar "Pak Aftra, Terimakasih." Ucap Kinan, yang di jawab dengan anggukan oleh Aftar.
Dalam hati Kinan, dasar bisa-bisanya dia hanya menjawab ucapan terimakasihku hanya dengan anggukan saja.
Kinan langsung masuk ke rumahnya, Namun Kinan memberhentikan langkah kakinya karena melihat Arga duduk di depan teras depan rumahnya. Aftar berniat meninggalkan rumah Kinan namun Aftar mengurungkan niatnya, Aftar melihat laki-laki yang duduk samping Kinan "Sepertinya kenal," batin Aftar yang terus menatap laki-laki yang duduk disebelah Kinan.
"Arga ada apa?" Tanya Kinan pelan, Arga menatap Kinan penuh arti membuat Kinan menghembuskan nafasnya dengan kesal "Katakan ada apa?" Tanya Kinan lagi.
"Kinan, Aku tidak bisa menikahi Vira gadis yang aku cintai adalah kamu." Ucap Arga yang lagi-lagi membuat Kinan begitu tersentak "Andai kamu tahu, Aku juga masih mencintaimu tapi sudahlah berpisah memang yang terbaik buat hubungan kita." Batin Kinan sedih.
"Dengarkan aku baik-baik, Kamu akan menikah 2 hari lagi aku mohon berhentilah mengangguku." Pinta Kinan dengan nada memohon.
"Arga yang namanya cinta itu tidak harus memiliki, asalkan kita bisa melihat orang yang kita sayangi bahagia mungkin itulah cinta sesungguhnya." Ucap Kinan yang sebenarnya tidak mau mengucapkan kata-kata itu, Arga menatap Kinan dengan tatapan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kamu tidak perlu menangisi semuanya, Aku yakin kamu akan bahagia dengan Vira." Kinan berusaha menyakinkan Arga.
Vira adalah gadis pilihan Rosa Dharmawan yang tidak lain adalah Mamanya Arga.
"Kinan ayo kita kawin lari saja!" Ajak Arga dengan nada memohon, Kinan hanya geleng-geleng kepala lalu tertawa.
Biarpun Kinan masih mencintai Arga, Kinan juga tidak mau sampai kawin lari dengan Arga. Karena menurut Kinan pernikahan tanpa restu orangtua itu tidak akan bahagia.
"Arga berhentilah bercanda, kita sudah putus dan mari kita jalanin hidup kita masing-masing, pulanglah ini sudah larut Aku juga capek mau istirahat." Ucap Kinan yang langsung pergi meninggalkan Arga masuk ke dalam rumah.
Kinan langsung menjatuhkan tubuhnya dibelakang pintu. Dengan perasaan sesak dihatinya Kinan berusaha kuat.
"Arga, aku minta maaf," batin Kinan.
Arga berjalan gontai menuju mobilnya, Aftar terus melihat dengan tatapan serius "Bukankah itu Arga, Untuk apa dia menemui Kinan." Gumam Aftar.
Agra langsung melajukan mobilnya, Lalu segera pergi meninggalkan rumah Kinan.
"Kinan sebenernya apa yang terjadi, kenapa kamu memutuskanku begitu saja?" Gumam Arga sambil menyetir.
Mungkin jika Arga tahu alasan yang sebenarnya, Pasti Arga akan mengerti dan berhenti menyalahkan Kinan.
Aftar langsung mengubungi Vino atau Sekretarisnya sekaligus orang kepercayaannya selama ini.
"Vino, Tolong cari tahu sebenarnya Kinan dan Arga ada hubungan apa?" Suruh Aftar lalu langsung langsung mematikan saluran teleponnya.
Vino yang sudah paham perintah sang bos, Langsung menjalankan perintahnya.
"Pak Arga, Mba Kinan, Aku akan mencari tahunya." Ucap Vino dengan semangat.
Aftar langsung menyalakan mesin mobilnya, lalu segera menuju ke rumah sakit tempat kakeknya dirawat.
Iya jantung Kakek Sanjaya kambuh beberapa hari yang lalu dan harus menjalanin perawatan dirumah sakit sampai benar-benar pulih. Setiap pulang dari kantor Aftar pasti menjenguk sang kakek dirumah sakit.
Sebenarnya Aftar tidak perlu kawatir sih, Karena sang kakek dirawat dirumah sakit miliknya sendiri dan ditangani langsung oleh Dokter Sepesialis jantung terbaik dari luar negeri, Aftar juga sudah menyiapkan seorang perawat untuk menjaga sang kakek dirumah sakit.
Tapi sebagai cucu satu-satunya Aftar sangat menyayangi sang kakek, Aftar juga rela melakukan apapun demi kesembuhan kakeknya. Biarpun Aftar harus terpaksa menikah gadis yang dicintainya sama sekali, Iya gadis itu adalah Kinan. Gadis yang dirinya paksa menikah kontrak dengan dirinya.
Sesampainya dirumah sakit, Aftar langsung menuju ke ruangan kakeknya dirawat.
Sesampainya diruang rawat sang kakek, Aftar langsung mendekati kakeknya lalu tersenyum pada kakeknya.
"Mba Ijah, Kakek sudah makan belum?" Tanya Aftar pada Ijah, Ijah adalah wanita yang kira-kira berusia 35 tahun yang merawat kakeknya selama ini.
"Sudah Pak, tadi juga baru saja makan bubur terus minum obat." Jawab Ijah yang membuat Aftar tersenyum.
"Aftar, Kapan kamu menikah?" Tanya sang kakek, Aftar mengegam tangan kakeknya "Aftar akan segera menikah kek, minggu depan tapi kakek harus cepat sembuh ya!" Pinta Aftar dengan penuh harapan.
Kakek Sanjaya tersenyum bahagia, lalu langsung memeluk Aftar "Bagus cucuku, Akhirnya kamu akan segera menikah." Ucap Kakek Sanjaya dengan begitu bahagia.
Aftar membalas pelukan sang kakek, Melihat kakeknya tersenyum itu membuat Aftar sangat bahagia. "Demi kakek aku akan lakukan apapun." Batin Aftar.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
Ini hanya visual sesuai pemikiran Author, buat kakak-kakak bisa juga membayangkan visual yang menunurut kalian cocok ya 🙏
Visual Aftar Sanjaya
Visual Kinan Alisya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 258 Episodes
Comments
bunda nYunyun🍭🍭
siip visualnya
2024-01-28
0
Devan Rafandra
##
2022-06-25
0
Lyaaa
aftar mulai kepo ama kinan😆
2022-06-11
0