Ketika dia meninggalkanmu, dunia ini tidak pernah berhenti memberikan harapan dan peluang baru untukmu.
Pada akhirnya yang pergi akan tetap pergi , Biarlah berlalu karena melepaskan lebih melegakan daripada memaksakan .
_______________________________________
Akhirnya Dini telah selesai dengan tangisnya , wajahnya memerah ketika tau dia sudah membuat kemeja Guntur basah karena airmatanya .
" Maaf bajumu basah ." kata Dini saat melepaskan diri dari pelukan lengan kekar Guntur , Guntur tertawa pelan sembari menyentil ujung hidung mancung Dini .
" Ngga masalah , masih bisa dipake buat sholat kok ." jawab Guntur santai
" maaf udah bikin baju kamu basah juga bahu kamu pegel ."
" Kamu minta maaf terus kayak lebaran aja ," potong Guntur sambil terkekeh ," kamu boleh kok mau pake bahu aku buat numpahin airmata kapan aja , bahuku slalu ada untukmu , asal jangan saat sedang melakukan tugas dilapangan kamu tiba-tiba nemplok dibahuku , ngga masalah sich buat aku asal kamu ngga keberatan dibilang kekasihku ."
" Ngarep ya ." sela Dini dengan wajah yang memerah
" Kalau boleh ." sahut Guntur membuat Dini diam merasakan detakan jantungnya yang ngga biasa .
Ponsel Guntur berdering menampilkan nama Devan dilayar , Guntur mengeser tombol hijau untuk menjawab panggilan .
" Walaikumsalam , ada apa ?"
"------ ."
"Saya lagi diluar bersama Dokter Priandini , ada urusan sedikit ."
"--------."
" Saya sudah membayar 2 kamar untukmu ."
"---------."
" Oke , sampai ketemu besok , Assalamualaikum ."
Lalu obrolan pun terputus , Guntur memasukkan kembali ponsel disaku jaketnya , lalu kembali fokus memandang wajah Dini yang sudah tampak tenang seperti biasa .
Guntur melihat Dini bersedekap menahan udara dingin, " kenapa dingin ya? "
" Iya, dan aku lupa membawa mantel."
Guntur mengangguk lalu kepalanya menoleh kekiri dan kanan mencari sesuatu.
" Cari apa? " tanya Dini yang rupanya memperhatikan apa yang dilakukan Guntur .
" Pedagang cilok? Tentu saja toko baju. "
" Untuk apa? "
" Membelikanmu mantel. Tapi ternyata tidak ada toko baju disini. "
Dini hanya tertawa lirih dan sedikit memggeleng, " konyol. "
" Mau jalan-jalan ?." tawarnya yang langsung dianggukin Dini , mereka berjalan bersisian menuju mobil lalu meninggalkan kafe menuju pusat keramaian kota Tripoli Lebanon .
" Kalau kamu pengen lihat keindahan sunset khas laut Mediterania , Nanti saat pulang ke kamp , kita mampir ke Beirut dulu , disana ada pantai yang sangat pas untuk menikmati sunset , atau kalau kamu ingin menikmati berjalan dibawah pohon berdaun kuning dan merah seperti didrama korea atau jepang aku akan senang hati mengantar dan menemanimu ." kata Guntur sembari tetap fokus pada pandangannya .
" Kenapa kau mau mengantar dan menemaniku ?."
" Karena aku mau dan suka mengantarmu ."
" Hanya itu ."
" Ada yang lain ."
" Apa ?."
Guntur tak menjawab dia masih fokus dengan laju mobilnya , Guntur memarkir mobilnya didepan bangunan indah seperti masjid , dan ternyata memang Masjid dengan nama Taynal .
" Aku mau sholat isya dulu , takut nanti sampai dihotel langsung tertidur , kamu mau ikut ." tawar Guntur saat keluar dari mobil , Dini mengangguk lalu berjalan mengikuti Guntur memasuki area masjid indah dan terkesan eksotis itu .
Ternyata bagian dalam masjid sangat indah sekali , dan banyak juga umat muslim yang sedang menunaikan sholat isya atau sekedar duduk membaca Al Qur'an .
" Kau mau sendiri atau menjadi makmum ?."
" Aku menjadi makmum jika kau tak keberatan ."
" Baiklah , berdirilah 4 shaf dibelakangku ." Dini mengangguk dan mengikuti intruksi Guntur , saat Guntur memulai takbiratul ikram ada beberapa pria yang mengikuti menjadi makmum dibelakangnya .
" Indah sekali masjidnya ya ." ucap Dini kagum matanya tak lelah menelusuri setiap sudut masjid Taynal ini .
" Ini merupakan bangunan peninggalan sejarah , masjid ini menampilkan design khas arsitektur Mamluk dibangun oleh Gubernur Tripoli Taynal Al Asraaf pada tahun 1336 ." sahut Guntur yang sudah selesai memakai sepatunya dan kini sedang membantu Dini mengikat tali sepatu gadis itu .
" Selain Masjid ini , bangunan bersejarah apalagi yang kamu ketahui kapten ?." tanya Dini sembari berjalan disisi Guntur .
" Disini ada menara jam , bangunan benteng , gereja , pasar kuno , bangunan peninggalan tentara Romawi juga Yunani , jika ada waktu aku akan membawamu berkeliling Lebanon ."
" Kenapa kau sangat paham dengan negara ini ."
" Hei Nona , aku sudah dua kali dikirim bertugas diLebanon dan 1 kali di Kongo Afrika Selatan , jadi sangat wajar kalau aku bisa bercerita tentang negara ini ."
" Apa kamu ngga lelah ? Bagaimana dengan kekasihmu ? Apa dia tidak keberatan dengan tugas jauhmu ini ?." pertanyaan Dini bagaikan petasan rentet .
" Tidak ada yang akan merasa keberatan , karena aku ngga punya kekasih ."
" Oh ya ? Pria setampan dan sesukses dirimu ngga punya kekasih ? Aisshh kebohongan macam apa yang sedang kau karang ini, kapten ." ucap Dini tak percaya dengan perkataan Guntur .
" Aku ngga bohong , kalau aku punya kekasih mana berani aku menawarkan bahuku untukmu menangis dan mana berani aku memeluk dan mengenggam tanganmu seperti tadi ."
" Oh ya kenapa ? Apa kekasihmu memasang GPS ditubuhmu ?."
" Tidak , karena aku memiliki komitmen ketika aku mencintai seorang wanita aku akan berusaha setia dan menjaga pandangan , ucapan juga sikapku didepan wanita lain ."
" Wow luar biasa , bahagia banget wanita yang kau cintai ."
" Seharusnya , tapi tidak pada kenyataannya ."
" Oh ya ? Kenapa ?."
" Aishhh ternyata selain cengeng kamu juga kepo ya ." ucap Guntur membuat Dini mencibirkan bibirnya
" Aku kan cuman bertanya karena penasaran aja ."
" Ada saatnya nanti , aku akan menceritakan semuanya ."
" Kapan ?."
" Nanti , saat kamu menerimaku menjadi pasanganmu ."
Jawaban serius Guntur sukses membuat Dinu tersipu , dia menundukkan kepalanya berusaha menetralkan debaran jantungnya yang seperti sedang lari marathon .
" Hei kenapa pipimu memerah , apakah tadi kamu memakai blus on ?." goda Guntur saat menyadari kedua pipi putih Dini merona merah sepertti warna apel .
" Melihatmu seperti ini aku jadi ingin memanggilmu Humairoh pipi yang kemerah -merahan sama seperti Rasullulloh saat memanggil istrinya Siti Aisyah ." Guntur semakin semangat menggoda Dini , sementara yang digoda semakin salah tingkah.
" Kamu bisa berhenti ngga ngodain aku ? Jantungku mau copot nich ." ucap Dini kesal sembari memukul lengan kekar Guntur .
" Oke oke aku akan berhenti menggodamu tapi aku tak akan berhenti mengenggam tanganmu ." akhirnya Guntur berhenti menggodanya namun berganti mengenggam tangan gadis itu erat dan membawa gadis itu berjalan kaki menikmati suasana ramai taman dekat Masjid Taynal .
****
Akhirnya mereka kembali kehotel tepat pukul 11 malam .
Saat mereka baru keluar dari lift dimana letak kamar mereka berada dari ujung lorong mereka melihat seorang pria bertubuh proporsional sedang berdiri didepan pintu kamar Dini , seketika Dini mengapit lengan Guntur erat dan menariknya menjauh .
" Kenapa Rendy ada didepan pintu kamarku ?." tanya Dini ketakutan .
Guntur mengendikkan bahunya , " entahlah , mungkin saja dia rindu tidur dalam dekapanmu ." ucap Guntur asal yang langsung mendapat pukulan cukup keras dari Dini dilengannya .
" Jaga mulut kalau bicara , apa mau aku tabok pake sandal jepit tuch bibir ."bentak Dini kesal .
Guntur hanya terkekeh saat tangannya ditarik Dini kembali memasuki lift lalu menekan angka 1 yang merupakan lantai Lobby hotel .
" Selamat malam tuan , saya mau pindah kamar bisa ?." tanya Dini pada petugas dimeja receptionis .
" Kenapa dengan kamar anda yang sekarang nona ?." tanya petugas itu sopan .
" Ngga ada masalah saya hanya ingin kamar dengan View pemandangan kota Tripoli saja ."
" Baiklah , saya lihat dulu ketersediaan Kamarnya , mohon untuk menunggu ."
Dini mengangguk , sementara Guntur hanya diam melihat apa yang dilakukan gadis itu .
Dalam hatinya dia meruntuki kelakuan Rendy yang sangat nekad itu , membuat Dini ketakutan .
" Nona , kamar yang sama typenya dengan kamar anda sekarang sudah habis , jika berkenan kami bisa mengupgrade kamar anda ke type yang lebih tinggi ."
" Baiklah , lakukan ." jawab Dini dengan cepat , jujur dia sangat takut sekali , takut jika tetap dikamar awal Rendy akan nekad memaksa masuk dan berbuat atau mengancam dirinya untuk kembali menerima dirinya .
" Maaf Nona untuk kamar yang baru anda harus menambah 62 ribu pound ." kata Petugas itu sembari memperlihatkan kondisi kamar kepada Dini . ( sekitar 700 rb rupiah )
" Baiklah tak masalah ." jawab Dini sembari mengeluarkan dompetnya mencari kartu debet miliknya namun belum sempat Dini menemukan dompetnya Guntur sudah menyerahkan kartu kredit miliknya kepetugas itu .
"Pakai ini saja ."
" Kenapa , ini kan kamar aku ."Dini berusaha menolak , namun Guntur menatapnya dengan tajam .
" Ngga perlu tanya kenaoa , Saya ngga menerima penolakan juga pengembalian ! Oh ya tolong nama yang dicantumkan atas nama Ny Yumajaya dan tolong juga untuk diprivasi ," ujar Guntur dan petugas itupun paham dengan maksud Guntur .
Awalnya Dini sempat kaget dan berusaha untuk protes namun Akhirnya Dini hanya menurut dan menerima kunci dari petugas .
" Ayo cepatlah , Saya sudah ngantuk ." Guntur berkata sembari berjalan menuju lift diikuti Dini dibelakangnya .
" Kamu naiklah dulu , saya akan kekamarku mengambil tasmu ." ucap Guntur , Dini hanya diam terlihat ada keraguan diwajahnya .
Guntur menghela nafasnya , lalu menyentuh tangan Dini ,
" Oke , Saya ngalah ! Saya antar kamu dulu setelah itu balik kekamarku ." Akhirnya Guntur benar - benar mengalah , Dini mengangguk walau masih dalam diam , tangannya mengapit lengan Guntur erat dan Guntur membiarkannya saja .
Lift berhenti dilantai 12 , Guntur menarik Dini keluar dan berjalan cepat menyusuri lorong dan berhenti didepan kamar 1206 , Guntur menempelkan kunci pada alat sensor lalu masuk untuk memastikan kamar dalam kondisi kosong .
" Masuklah dan kunci , jangan membuka pintu sembarangan sebelum kamu cek lewat lubang dipintu ." Guntur mendorong tubuh Dini untuk masuk kedalam kamar .
" Janji jangan lama ya ." pinta Dini dari balik pintu , wajahnya benar-benar pucat sepertti kertas HVS karena rasa takutnya .
" Iya , saya akan cepat kembali , sekarang masuklah dan tutup pintunya ." Guntur mengelus puncak kepala Dini lalu menarik pintu hingga tertutup . Segera dia kembali menyusuri lorong dan masuk kedalam lift untuk kekamarnya mengambil tas travel milik Dini .
Saat berada dilantai 5 , dia tak melihat Rendy yang tadi berdiri didepan kamar Dini , dia tak ambil pusing langsung menuju kamarnya untuk mengambil tas milik Dini dan segera keluar untuk kembali kekamar Dini dilantai 12 .
Saat dirinya sedang menunggu lift tiba-tiba langkahnya terhenti karena seseorang memanggil namanya .
Dia menoleh dan mendapati Rendy muncul dari lorong sebelah kanan dari lorong kamarnya disebelah kiri .
" Mana Dini ?." tanyanya Dingin dan to the point .
" Tentu saja sudah dikamar ,memang kenapa ?." jawab Guntur tak kalah dingin .
" Lalu kamu mau kemana dengan tas itu ." tanyanya sembari matanya mengarah ketas ditangan Guntur .
" Oh ini , ini tas milik Dini tadi terikut temannya jadi aku baru mengambilnya ." jawab Guntur santai .
" Kalian benar menginap 1 kamar ?."
" Iya ."
" Kalian sadar ngga klo kalian bukan pasangan halal ." nada bicara Rendy meninggi menandakan kalau dia sedang kesal karena cemburu .
" Memang kenapa , toch papanya Dini mengizinkan , lagi pula kami sebentar lagi akan menikah dan semua akan menjadi halal untuk dilakukan ."
Jawaban santai Guntur menyulut api cemburu didada Rendy semakin berkobar , dikepalkannya kedua tangannya .
" Aku tak setuju dan aku tak akan melepaskan Dini , apalagi untukmu ."
" Kamu siapa Rendy , kamu sadar tidak ? Dini sudah melupakanmu dan dia menerima cinta lain dihatinya , biarkan dia menikmati kebahagiaannya sama seperti kamu yang sudah bahagia dengan istrimu ."
" Bullshit , Dini hanya bisa bahagia bila bersamaku ." Rendy masih bertahan dengan argumen konyolnya kebanyakan bergaul dengan pisau bedah dan obat bius ternyata bisa bikin otak seseorang geser ya .
" Kalau kamu merasa begitu kenapa kamu justru meninggalkannya untuk menikahi wanita lain , kalau menurutmu Dini hanya bisa bahagia bila bersamamu kenapa justru kamu menyakitinya , jangan egois Rendy ."
" Pernikahan itu bukan keinginanku ."
"Tapi kamu kan bisa menolaknya !." balas Guntur kesal , dia benar - benar lelah menghadapi sepupu gilanya ini.
" Kamu mau kemana , kita belum selesai bicara !." seru Rendy yang melihat Guntur masuk.kedalam lift .
" Tentu saja kembali kekamar , aku meninggalkan Dini sendiri , dia membutuhkan pakaian gantinya , kalau kamu masih ingin bicara tulis disurat aja biar lebih jelas ." sahut Guntur santai , " Kamu mau kemana ?." Tanya Guntur sambil mengeryitkan kening saat melihat Rendy juga ikut masuk kedalam lift .
" Aku ingin menemui Dini ."
Jawaban Rendy membuat kesabaran Guntur serasa menipis , dengan tatapan tajam , dia kembali menekan tombol buka untuk membuka pintu lift , lalu menarik Rendy keluar dari lift , dengan cepat Guntur menekan tombol tutup dan menekan tombol lantai 10 untuk mengelabui Rendy .
*****
Dini masih terlihat pucat saat membukakan pintu untuk Guntur, tanpa sadar dia langsung memeluk pria itu dengan wajah yang ketakutan.
" Tenanglah, dia tidak akan menganggumu ."
" Rendy orangnya nekad mas , dia akan melakukan apa yang dia inginkan sampai dapat. "
" Tapi itu tidak berlaku jika kamu bersamaku. Sekarang lebih baik kamu mandi, air hangat bisa merilekskan syaraf-syaraf ditubuhmu. "
" Kenapa mas malah mencuri ilmuku"
" Aku tidak mencuri hanya saja kamu terlalu lengah. " Guntur menyentil ujung hidung Dini," mandilah, aku akan menunggu kamu disini. "
Dini mengangguk lalu menuruti saran Guntur. Dan benar setelah mandi tubuh dan perasaannya terasa lebih ringan dari sebelumnya.
" Mana ponselmu. " pinta Guntur saat Dini baru keluar dari kamar mandi.
Tanpa protes Dini memberikan ponselnya pada Guntur.
" Kalau ada apa-apa kamu bisa langsung menelphoneku dengan menekan angka satu ."
Dini mengangguk lalu meletakkan ponsel tersebut di atas meja nakas samping tempat tidur.
" Keringkan rambutmu dengan benar kalau tak mau menderita sakit kepala esok hari ."
Dini hanya menyebik mendengar perkataan Guntur.
" Kalau begitu aku balik kekamar. Dan ingat pesanku. Jangan membuka pintu sembarangan. "
" Iya kapten. "
" Pintar. " Guntur tersenyum sembari menepuk kepala Dini lembut.
Lalu pria itu bergegas meninggalkan kamar gadis yang sudah membuat hatinya jumpalitan karena senang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Yesi Triyanto
kenapa kapten gak dikamar dini aja sih. aku deg2an tkt rendy nemuin dini. st kmr jg kan gak ngapa2
2021-06-05
2
Misbahiah channel
penulisx hebat yaa..tau betul ttg t4 yg ada di lebanon...syukaa bnget dgn tokoh guntur..😍
2021-04-13
5