Priandini duduk menangkup wajahnya diatas meja ruang istirahat dokter , lelah tentu saja . Tapi lelah yang amat sangat dirasakannya dihati . Hatinya lelah , hatinya sakit namun juga bahagia .
Lelah karena menjalani hubungan cinta berakhir diluar impian , sakit harus menerima kenyataan hanya sebagai penjaga jodoh orang selama 3 tahun dan bahagia melihat adik dan mantan pacarnya menikah .
Flasback On
Sore yang teduh di awal musim hujan mengantar Priandini untuk ikut duduk santai disebuah kafe , kakinya pegal karena hampir 2 jam berdiri dan berkeliling diantara rak buku di toko buku sebuah Mall .
Sebenarnya dia sudah janjian akan mencari bahan tesis bersama kekasihnya dokter Rendy , namun tiba-tiba Rendy batal menjemput apalagi menemaninya karena suatu hal . Ya Priandini sangat paham kesibukan kekasihnya itu selain berstatus Dokter Spesialis Othopedi dia juga direktur Rumah Sakit dimana dia kerja yang merupakan Rumah Sakit Swasta milik Ayahnya Rendy .
Priandini menyipitkan matanya saat melihat siluet tubuh seseorang yang sangat dikenalnya duduk 1 meja didepannya dengan posisi membelakanginya .
Dan mata Priandini membola saat dia melihat siapa yang duduk didepan pria itu dan memegang tangannya dengan mesra , pasangan yang sangat romantis .
Priandini memgeluarkan ponselnya dan mencoba menelphone Rendy , dia dapat melihat Rendy menatap ponselnya yang kemudian merijeknya itu terulang sampai 5 kali panggilan , akhirnya Priandini memutuskan mengirim chat ke Rendy .
Priandini
" Kamu dimana ? Apa masih sibuk ?
Rendy
" Iya aku masih sibuk ."
Priandimi
" Dikantor ."
Rendy
" Iya ."
Priandini
" Menolehlah kebelakang ."
Rendy membaca pesan itu ,lalu segera menoleh kebelakang , dan ekpresi terkejut mewarnai wajah tampannya.
Priandini hanya tersenyum menanggapi raut terkejut Rendy , lalu menunjuk keponselnya .
Priandini
"Jelaskan apa ini dan temui aku di tempat biasa kita menghabiskan sore ."
Rendy
" Kau duluan , aku segera menyusul ."
Priandini hanya tersenyum masam lalu segera berdiri dan meninggalkan kafe itu dengan seribu pertanyaan dan gelisah .
Langkahnya menuju tempat parkir , tiba - tiba langkahnya terhenti .
Ditepuknya keningnya sambil tertawa kecil .
" Astaga , aku kan nga bawa motor ."
Priandini kembali berjalan keluar dari tempat parkir dan menuju kelobby untuk nunggu Taxi .
Suasana pinggir pantai tempat biasa Priandini menikmati Sunset bersama Rendy saat ada waktu luang tampak tidak terlalu ramai , gerobak pedagang makanan sudah rapi berjajaran , Priandini menuju meja yang dekat dengan pantai , karena pemandangan matahari senja dapat terlihat sempurna .
Dibukanya ponsel untuk membaca artikel kesehatan atau berita gosip selebriti sebagai selingan .
" Maaf menunggu lama ." ucap Rendy yang baru datang dan langsung duduk di hadapan Priandini .
" no problem ! Aku juga baru sampai kok ." sahut Priandini lalu menutup ponselnya dan memnggil pelayan .
" Seleramu belum berubah kan ?." tanya Priandini sambil menuliskan pesanannya .
" Tidak , kamu masih mengingatnya dengan baik din ." sahut Rendy tatapan matanya menatap sendu kearah dini .
" Untuk saat ini aku masih mengingatnya tapi sebentar lagi harus aku lupakan ." jawab Priandini sembari tersenyum tipis , dia melihat Rendy menghela nafasnya kasar .
Setelah pelayan pergi ,Mereka saling diam , sibuk dengan pikiran masing -masing , sampai akhirnya Rendy membuka mulutnya .
" Din , mungkin kamu nga akan memaafkan aku , aku memang salah dan tak pantas meminta maaf darimu ."
Priandini hanya menatap Rendy dengan tatapan penuh tanya .
" Langsung saja keintinya ." suara Priandini datar .
Rendy terlihat gelisah , diusapnya keringat dikeningnya , memgatur nafasnya agar terdengar normal .
" Aku ketemu Prahesti di pesta ulang tahun pernikahan orangtuaku , ternyata dia teman kuliah adikku , dan apakah kamu ingat 4 bulan lalu aku pernah ingin mengenalkanmu pada seluruh keluargaku namun kamu saat itu sedang ujian akhir spesialis bedahmu sehingga keinginan itu kubatalkan dan berniat akan membawamu saat acara orangtuaku ." Rendy menceritakan dengan suara pelan dan tertata dengan baik .
" Tapi aku datang kepesta itu walau disaat akhir acara dan aku tak menemukan dirimu , kau juga tak menjemputku padahal kamu sudah janji ." Priandini menyela cerita Rendy dan membuat Rendy mengeryitkan keningnya .
" Kau datang ? Kenapa tak menelphoneku ?." tanya Rendy wajahnya jelas tergambar raut bingung .
" Aku sudah menelphonemu tapi telphonemu terlalu sibuk dan selalu dialihkan ."
" Bukannya kau sedang keluar kota bersama papamu ?." Tanya Rendy , kini ganti Priandini yang bingung.
Rendy menyadari kebingungan Priandini , dia langsung menjelaskan maksudnya ," kata hesti dan mamamu sewaktu aku datang menjemputmu , kamu sedang mengantar papamu kebogor ."
" Ke Bogor ? Aku tidak kemana-mana aku ada dikamar papa ." ucap Priandini dan perlahan dia paham skenario cerita yang disusun Hesti juga mamanya ," Dan kau percaya begitu saja ucapan mereka ?."
Rendy mengangguk dengan berat , penyesalan muncul dihatinya .
" Lalu apa yang terjadi setelah itu ?."
Tanya Priandini setelah memahani kemana cerita ini berlanjut .
" Akhirnya aku pergi bersama Hesti dan orangtuaku mengenalnya sebagai teman Resa adikku , entah apa yang terjadi tiba-tiba mamaku menemukan aku tidur dengan Hesti dalam keadaan setengah telanjang , yang kuingat aku memang minum wine saat itu dan aku yakin aku tak akan mabuk hanya meminum 3 gelas wine karna toleransi alkoholku tinggi , tapi itulah kejadiannya , 1 bulan kemudian Hesti mengatakan kalau dia hamil , akhirnya oramgtuaku meminta aku segera menikahi Hesti sebelum perutnya membesar ."
" Apakah kau yakin Hesti hamil anakmu ?." tanya Priandini pelan sambil meminum jus alvokatnya pelan , Rendy tertegun sejenak lalu ikut meminum teh tariknya .
" Sebenarnya aku nga yakin , tapi demi memikirkan orantuaku akhirnya aku ngalah , maafkan aku din , aku terlalu lemah dalam.hal ini ." Rendy menunduk dalam , dia malu hanya untuk menatap wajah kekasihnya ini , ya mereka masih sepasang kekasih mereka belum putus .
Priandini mengalihkan pandangannya ke arah senja yang perlahan mulai menghilang , hatinya sakit dan impiannya pun hancur .
" Priandini , walau aku akan menikah dengan Hesti tapi rasa cintaku kekamu nga bisa aku hilangkan begitu saja , kalau kamu bersedia aku ingin tetap mencintaimu dan menikahimu , kita bisa pindah kelain kota untuk bisa hidup bersama , aku mohon din ." pinta Rendy tampa terduga , Priandini tersenyum sinis .
" Kamu gila Ren, Kau ingin menikahi kakak beradik ? Walau aku dan Hesti bukan saudara kandung tapi tetap saja kami terikat keluarga karna pernikahan papaku dan mamanya ." sahut Priandini sembari menahan tangisnya , lalu kembali berkata dengan suara serak ," Aku tak mau menyakiti hati siapa pun Ren, walau aku yang tersakiti ."
" Din ." Rendy mengenggam tangan Priandini erat . Mereka mencoba menahan tangisnya .
" Lebih baik kita pulang Ren , aku harus masuk kerja malam ini ." ajak Priandini sembari berdiri , Rendy yang melihat itu ikutan berdiri .
" Kau naik apa din ?."
" Taxi , karna tadi siangkan kamu janji mau menjemputku kan ." sahut Priandini sembari berjalan mendahului Rendy .
" Biar aku antar kamu pulang ." Rendy berkata sembari menggandeng tangan Dini dan berjalan kearah mobil HRVnya , Dini hanya menurut tampa protes .
Mereka hanya diam dalam.perjalanan Priandini lebih banyak mengalihkan pandangannya keluar jendela , sesekali dia memghapus airmata diujung matanya dengan punggung tangannya , Rendy yang melihat itu tak bisa berbuat apa - apa , hingga sampailah mereka didepan rumah Dini . Priandini langsung keluar dari mobil tampa menoleh ke arah Rendy .
Rendy yang melihat itu mengejar Priandini yang sudah memasuki halaman rumahnya .
" Din , tak adakah kata-kata yang kau ucapkan untukku ?." pinta Rendy sembari mencekal lengan Priandini yang akan masuk kedalam rumah .
Priandini hanya diam , merasa Dini tak merespon pertanyaannya , Rendy memajukan tubuhnya mendekati Dini sembati tangannya menutup pintu lalu Dibaliknya tubuh Dini hingga menghadap kedirinya .
" Katakan sesuatu din , makilah aku atau pukul aku din, karna aku pantas mendapatkan itu darimu ." ucap Rendy , diangkatnya wajah Dini yang basah dengan airmata , direngkuhnya tubuh mungil itu kedalam pelukannya , dia merasakan tangisan Dini semakin kencang dan tampa dirasa dia pun ikut menangis ,
diciumnya puncak kepala Dini .
Akhirnya Dini melepaskan diri dari pelukan Rendy , dipandangnya wajah Rendy yang tampak kacau .
" Kenapa kau tidak mengatakan ini sejak awal Ren ?."
" Aku belum siap mengatakannya Din, aku berencana akan jujur padamu setelah kau selesai dengan ujianmu , walau kutau itu salah ."
Priandini memgumpulkan kekuatannya untuk tersenyum ,ya senyum diatas luka .
" Yang sudah terjadi biarlah ,aku harap kamu bahagia dengan pernikahan mu dan jangan jadikan aku sebagai alasan untuk tidak bahagia ."
Priandini melepas tangan Rendy pada bahunya , dan menepuk pundak Rendy pelan ," Pulang dan istirahatlah kau akan menikah dan kau juga harus tetap berpikir tenang untuk pekerjaanmu , ingat pasien - pasienmu menunggu ."
" Terima kasih Din , tapi tolong jangan salahkan aku jika aku tetap mencintaimu , karena aku tak bisa melepas cinta ini , kamu adalah wanita pertama yang aku cintai dan aku ingin tetap kau yang aku cintai ."
Ucap Rendy mengecup kening Priandini dengan penuh rasa sayang .
Priandini mendorong tubub Rendy keluar dari rumahnya , menatap Rendy sesaat sebelum menutup pintu . Tangis kembali pecah saat punggung kokoh itu hilang bersama mobilnya . Punggung dan Bahu yang kokoh tempatnya bermanja dan beristirahat dari rasa lelah , tapi kini bahu itu bukan lagi miliknya ,ya dia harus benar-benar ikhlas melepas Rendy ,melepas cinta pria itu yang merupakan cinta pertamanya .
Hubungan cinta selama 3 tahun berakhir tak seindah mimpi mereka .
Biarlah sang waktu yang akan menyembuhkan luka ini .
Falsback off
Priandini tersadar dari lamunannya saat tangan lembut menepuk bahunya pelan .
" Kenapa tidak tidur di ranjang ?." suara lembut Dr Monika Wang memyadarkannya , Priandini menoleh lalu tersenyum pada dokter cantik itu .
" Ngga apa dok , tadinya hanya sekedar mau duduk santai ehh ternyata malah ketiduran " sahut Priandini sambil terkekeh , Dr Monika Wang pun ikut terkekeh
" Kalau gitu saya pulang sekarang dok ." pamit Dini sembari mengambil tasnya dan meletakkan Snellinya kedalam tas .
" Baiklah , hati -hati dijalan , sampai ketemu besok lagi ." sahut Dr Monika Wang , Priandini lalu melangkah keluar dari ruang operasi bergegas kearah parkiran untuk mengambil motor birunya dan memacunya pulang kerumah mungilnya .
Setelah membersihkan diri, Dini berupaya untuk tidur sejenak sebelum nanti terbangun saat sepertiga malam untuk bermunajat dan berkeluh kesah pada yang maha pemberi kehidupan.
Ya , selain kepadaNya, Dini tidak memiliki tempat lain untuk mengadu. Dia pribadi tidak ingin menjadi beban bagi orang lain saat dia menceritakan duka hatinya.
Cukup dia dan Tuhan saja yang tau kalau dirinya saat ini sedang terluka sangat parah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Aku gak percaya itu anaknya Rendy,Pasti Hesti udah hamil duluan dan ngejebak Rendy utk dijadikan kambing hitam nya..ckk Hesti Jalang ternyata,Semoga Rendy gak nyesel..
2025-02-08
0
Ristya
Ku kira ibu tirinya Dini baik, ternyata seperti kebanyakan ibu tiri lainnya
2023-01-04
0
Salminah Burhanuddin
Rendy egois bgt kamu
2022-03-07
0