Aku akan menjadi alasan kenapa kamu tersenyum, menemanimu ketika tak ada yang mau bersamamu, dan menghapus setiap tetesan air mata yang kau jatuhkan. Karena aku ada untuk menjadi bagian dari sejarah hidupmu.
____________________________________
Bertugas didaerah konflik bukanlah suatu tugas yang mudah , selain berbedaan kulture budaya , bahasa juga dari sisi keamanan sangatlah riskan . Sewaktu waktu serangan dari pihal yang berkonflik akan pacah .
Seperti pagi tadi serangan udara terjadi lagi dan kali ini menghantam desa dekat markas tentara PBB , entah apa yang para pemimpin itu cari ? Mengapa harus mengorbankan rakyat yang tak tau apa-apa .
Serangan misil dari kedua pihak yang berseteru kadang kala menyasar juga ke markas pasukan Keamanan PBB yang notabenenya disiapkan untuk menjaga resolusi perdamaian bukan untuk berperang menegakkan perdamaian , beberapa kali juga pasukan PBB diserang saat sedang bertugas patroli .
" Mengapa bisa terjadi , apakah mereka tak bisa membedakan seragam berbendera PBB dengan bendera lainnya ?." tanya Dini pada Guntur sepulang mereka dari desa yang terkena rudal jarak jauh pagi tadi .
Kerusakan desa tersebut cukup parah dengan korban luka warga sipil yang cukup banyak memenuhi rumah sakit darurat di markas tentara PBB termasuk milik Indonesia
Guntur mengajak Dini duduk dibekas rentuhan bangunan sambil memperhatikan beberapa tenaga medis juga tentara yang melakukan kegiatan Trauma Healing untuk anak-anak korban perang .
" Itulah perang , kadang tampa logika untuk menguraikannya ." jawab Guntur , raut wajah pria itu terlihat murung , kesedihan dan kekesalan masih tampak dimatanya .
Kemarin Guntur baru saja kehilangan teman terbaiknya , dua orang pria warga sipil yang selama dia bertugas selalu membantunya saat mengalami kesulitan komunikasi denfab warga setempat, ditemukan tewas terkena tembakan di daerah perbatasan , sebelumnya kedua temannya itu dikabarkan hilang yang pada akhirnya ditemukan tewas diantara rentuhan bangunan gedung yang terkena bom .
Dini menatap Guntur dengan tatapan lembutnya , dia paham kondisi emosi Guntur saat ini , diulurkan tangannya untuk mengaitkan kejemari tangan Guntur , Guntur menoleh dan mengeratkan genggaman tangan mereka .
" Terima kasih sudah bersedia untuk selalu ada disisiku ." ucap Guntur sembari mencium tangan Dini . Lalu sebelah tangannya menyelipkan rambut Dini kebelakang telinganya .
" Rambut kamu berantakan sekali " ucap Guntur sembari merapikan rambut Dini dengan satu tangannya , Dini tertawa kecil mendengar omelan Guntur .
" Mas seperti almarhumah mama saja selalu ngomel kalau aku mengurai rambut , katanya seperti kuntilanak padahal mama semdiri ngga pernah tuch ketemu sama mba kunti ." Dini terkikik geli saat mengingat almarhumah mamanya , Guntur mengangkat sebelah alisnya .
" Mas setuju dengan omelan almarhumah mama , karena anak gadis itu akan terlihat lebih manis kalau rambutnya rapi terikat ."
" Iya iya , Dini tadi tuch nga sempet ngurusin rambut , mas kan tau sendiri banyaknya tindakan operasi yang Dini tangani hari ini ." sahut Dini dengan bibir manyunnya .
Guntur menyentil kening Dini gemas ,
Membuat sipemilik semakin manyun bibirnya .
Guntur lalu mengambil sesuatu dari saku celananya , ternyata karet gelang berwarna - warni .
" Darimana mas dapat itu ?." tanya Dini saat Guntur meletakkan karet gelang itu ditangan Dini .
" Dari dapur ."
" Emmm jangan bilang mas abis ngegodain tukang masak ya , Dini ngga suka ." ucap Dini sengaja menggoda Guntur .
Guntur mendengus pelan dan sekali lagi menyentil kening Dini yang entah mulai kapan sudah menjadi hobinya.
" Kalau ngomong tuch diatur jangan asal bunyi , ngapain mas ngodain tukang masak emang mas homo ." sahut Guntur yang langsung disambut tawa oleh Dini .
Ya memang dimarkas pasukan ini yang bertugas menjadi tukang masak adalah parjurit pria. Maka jangan protes kalau menu makan hampir tak pernah berubah, terlalu asin atau bahkan hambar sudah menjadi hal yang biasa mereka dapatkan.
" Cie cie mas kapten ngambek , nggak pantes tau mas , udah kelewat umurnya kalo mau ngambek ." Dini masih tertawa membuat Guntur sedikit kesal , dipandanginya wajah gadis yang selalu menghiasi mimpinya itu dan tiba - tiba
Cup
Guntuk mencium bibir Dini sekilas membuat Dini berhenti tertawa dan berganti dengan ekspresi kaget .
" Itu hukumannya kalau suka ngodain mas ." ucap Guntur dengan senyum miring penuh kemenangan .
Dini hanya menyibirkan bibir dan mengalihkan pandangannya , dia kaget plus malu karena aksi Guntur tadi .
Guntur lalu mengambil sebuah karet gelang , merapikan rambut Dini lalu menyatukan dan mengikatnya kebelakang , setelah itu Guntur tersenyum puas sambil memandangi wajah Dini yang semakin hari terlihat semakin cantik walau tanpa pulasan make up.
" Kok seperti adegan di drakor Decendat Of The Sun ya , saat kapten Yoo mengikat rambut dr Kang ." ucap Dini tersenyum ,ingatannya melayang kedrama yang dibintangi Song Jong Ki dan Song Hye Kyo itu .
" Aishhh , pantes baperan yang ditonton drakor mulu sich ." ucap Guntur membuat Dini terkikik geli .
" Lah dicariin kemana - mana ternyata lagi pacaran disini ." tiba - tiba sebuah suara membuat moment romantis itu terputus , Devian muncul dari arah belakang mereka sambil cengegesan sepertti anak abg yang ketahuan mau nyolong mangga .
" Memangnya kamu nyari saya dimana ?." tanya Guntur sinis .
" Ya Ditempat Biasanya dibawah kolong tempat tidur , kolong meja , tumpukan kardus ." sahut Devian yang langsung mendapat tatapan tajam dari Guntur sementara Dini berusaha menahan tawanya .
" Kampret emangnya saya curut ." teriak Guntur tidak terima dijelekin apalagi didepan Dini gadis pujaan hatinya ( dah kayak lagunya Kangen Band aja ya " Hei pujaan Hati Apa kabarmu ...??? wkwkwkwk )
Tawa Devian terdengar cukup keras sementara Dini berusaha menahan tawanya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya , tidak lucu aja kalau tiba - tiba Guntur menciumnya lagi didepan Devian gara-gara dirinya menertawakan sang Kalten Tampan .
" Kita dipanggil kemarkas sekarang ." ucap Devian setelah selesai tertawa .
" Ada apa ?." .
" Entahlah "
Guntur lalu berdiri diikuti Dini disampingnya .
" Mas kemarkas dulu , jangan pergi terlalu jauh dari kamp ." pamit Guntur sembari mencium kening Dini lembut , Dini mengangguk .
" Aishh kenapa aku jadi terjebak disini dan harus melihat live drama romance seperti ini sich ."keluh Devian sembari berjalan lebih dulu.
" Hati-hati dijalan mas ." ucap Dini pelan dan dianggukin oleh Guntur.
" oke baby girl ." sahut Guntur sembari berbalik berjalan menyusul Devian yang sudah pergi duluan alasannya tidak mau melihat adegan drakor didepan matanya
****
"Kenapa hatiku tidak tenang gini ya ." gumam Guntur , dia bangun dari tidurnya melangkah kekamar mandi mengambil wudhu untuk melakukan sholat malam .
Disaat hatinya tak tenang seperti ini dia akan menenggelamkannya dalam sujud panjang diseperiga malam .
Pikirannya berkelana ke markas pasukannya dan tim medis , baru 2 hari dia berada dimarkas pusat hatinya sudah gelisah tak menentu .
Karena ada pertemuan yang mendesak terkait keamanan mengharuskan Guntur juga beberapa rekan lainnya diharuskan untuk menginap dimarkas pusat.
Hati dan pikiran selaku kompak menampilkan 1 nama dan 1 wajah yang membuat hatinya gelisah bila jauh dan berdebar kencang saat dekat
" Ahhh semoga semua baik-baik saja , toch besok sore aku sudah kembali kesana ." gumam hati Guntur sebelum memaksa matanya untuk segera tidir kembali .
Rasanya baru saja terlelap , tiba - tiba dia merasa tubuhnya terguncang dengan kencangnya .
Perlahan Guntur membuka matanya dan mendapati Ikhsan berdiri didekat ranjangnya .
" Bangun kapt , hari ini giliran anda menjadi imam sholat subuh ." ucap Ikhsan sebelum Guntur memarahinya
Guntur akhirnya mengangguk setelah dia berhasil mengumpulkan kesadarannya kembali .
Saat sedang berada di ruang rapat Guntur mendapat kabar mengenai dugaan penculikan warga sipil, prajurit juga tenaga medis yang dilakukan oleh kelompok sparatis penentang pemerintah.
Karena berita tersebut Guntur meminta izin untuk bisa kembali ke markas pasukannya dan perjalanan dari markas besar ke markas pasukannya berada kali ini terasa seperti terbang bahkan Guntur sempat berharap dia jadi superman atau profesor Saverus yang bisa menghilang dengan cepat begitu mendengar Priandini menghilang bersama beberapa tenaga medis , prajurit dan warga sipil .
" Bagaimana sudah ada kabar terbaru ?." tanya Guntur begitu kakinya menginjak barak pasukannya
Davian menggeleng dengan wajah sedih , dia semalaman bersama prajurit lainnya berupa mencari informasi dengan mendatangi tempat terakhir tim dr Priandini kunjungi bahkan tidak hanya 1 tempat saja ada 4 desa yang didatangi untuk mengumpulkan informasi .
" Bagaimana ini bisa terjadi ? Siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini ." suara Guntur datar sedatar wajahnya , rahangnya mengeras menahan marah juga khawatir akan keselamatan timnya termasuk kekhawatiran terbesarnya akan keselamatan gadis yang sudah menguasai hatinya .
" Saya yang bertanggung jawab atas kejadian ini Kapt , karena saya yang mengizinkan tim medis untuk pergi melakukan tugas kemanusiaannya ." jawab Davian tegas sembari berdiri dengan posisi sempurna , dia pun menyiapkan diri seandainya Guntur melayangkan tinjunya karena keteledorannya .
Namun yang dipikirkan tidak terjadi Guntur malah melayangkan tinjunya ke meja dihadapannya .
Guntur melangkah keluar barak menuju rumah sakit mobile yang tak jauh dari barak dimana dirinya kini berdiri .
Dilihatnya beberapa tim medis sedang melayani warga sipil , Guntur memasuki ruang perawatan dimana biasa dia bisa menemui gadisnya .
Kosong dan terasa hampa , Guntur mengusap wajahnya dengan gusar , ingin rasanya dia berteriak dan menghancurkan apa yang dilihatnya tapi untung saja dia masih waras untuk tidak melakukan hal itu .
dr Irvandi yang sedang memeriksa pasien inap melihat Guntur sedang berdiri didepan pintu ruang perawatan lamgsung berjalan menghampiri
" Pagi Kapten ." sapanya tenang atau lebih tepatnya berusaha untuk tenang
" Pagi dok ," balas Guntur Dingin , dia menatap Dokter Irvandi tajam seakan sedang menguliti sang dokter .
" Bagaimana kronologi kejadiannya ."
" Kemarin sore ada 2 orang warga sipil datang meminta bantuan medis dikatakan bahwa banyak warga desa mengalami pusing dan muntah , atas persetujuan Lettu Davian sebagai penanggung jawab , dokter Dini selaku ketua tim medis juga menyetujui sehingga pukul 3 sore mereka pergi kedesa yang dimaksud ."
Dr Irvandi mencoba mengingat ingat lagi kejadian lainnya yang kemungkinan bisa dijadikan petunjuk .
Tiba - tiba terdengar keributan diluar ruang perawatan memancing Guntur dan dr Irvandi keluar dari rumah sakit mobile itu .
Tampak diluar 2 orang wanita berhijab lebar sedang memapah seorang gadis mengenakan rompi medis , penampilan gadis itu tampak berantakan , dibelakang wanita itu seorang pria juga tampak memapah seorang prajurit yang keadaannya sama kacaunya dengan gadis yang dipapah sebelumnya .
Dr Irvandi bersama tim medis lainnya segera menolong kedua oramg tersebut , prajurit yang terluka itu berusaha tetap bersikap hormat saat melihat Kapten Guntur didepannya .
" Siap kapt. Saya Lettu Miko, bersedia menerima sanksi karena saya tidak bisa melindungi tim yang saya bawa."
" Bagaimana kronologi kejadian saat di tempat. "
" Berdasarkan laporan dari warga yang kami dapat, saya segera mengawal tim medis menuju desa Sera, memang disana ada beberapa warga yang mengalami muntah dan diare cukup. Parah. Saat tim medis memberi pertolongan tiba kami di sergap oleh kelompok tidak dikenal.
Kami kalah dalam jumlah, mereka terlalu banyak kapt, dan penyergapan itu terjadi secara tiba-tiba, saya siap menerima hukuman atas keteledoran saya ." ucap prajurit itu dengan suara tegas .
Guntur mengangguk tapi matanya menyiratkan kemarahan dan kekecewaan, terlihat dari tangannya yang mengepal hingga buku-buku jarinya tampak memutih .
" Bagaimana dengan Dokter Priandini juga yang lain ." Guntur berusaha bersikap tenang , biar bagaimana pun dia tak boleh menampakkan emosi juga kekhawatiran didepan bawahannya .
" Maaf Kapten kami gagal melindungi Dokter Dini bersama yang lainnya , mereka dibawa pergi oleh anggota milisi entah kemana." perkataan prajurit itu mampu meruntuhkan pertahanan Guntur , tangannya mengepal , wajahnya semakin memerah menahan amarah .
" Terima kasih atas informasinya , istirahatlah dan terima kasih sudah kembali kepasukan ." ucap Guntur akhirnya sambil menepuk pundak prajurit itu lalu segera beranjak pergi .
Guntur tampak terduduk dibeton bekas reruntuhan bangunan tempat biasa dia ngobrol dan menghabiskan waktu senja bersama Dini disela-sela kesibukan mereka .
" Kamu dimana Din , apakah kamu baik-baik saja , tunggu mas akan jemput kamu apapun rintangannya ." gumam Guntur dalam hati , dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya .
Davian yang melihat itu hanya bisa diam dan tertunduk karena bukan saja Guntur yang merasa terhempas namun dirinya pun merasakan hal yang sama karena gadis yang disukainya ikut pergi dalam tim kemanusiaan itu dan termasuk bagian dari tim yang hilang bersama dr Priandini dan delapan rekan lainnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Davian suka siapa? kok diam2 menghanyutkan..😂
Semoga DR.Dini dan yg lain baik2 aja ya thor..🤲🤲
2025-02-08
0
Sri Lestari
iket donk kapten kayak kapten Yo di drakor descendets of the sun. biar makin so sweet 😍😍😍
2022-09-18
0
Salminah Burhanuddin
thor jago deh bikin konfliknya...bikin deg2an...
2022-03-07
1