Senyum itu tulus membuat aku semakin mencintainya."
_______________________________________
Akhirnya mobil yang membawa Guntur dan Dini sampai dimarkas pasukan berbendera biru .
Setelah mengantar Dini ke tenda tim medis , dia lalu beranjak menuju baraknya .
" Ya ampun Dok , akhirnya aku bisa melihatmu lagi , aku sudah sangat bersedih saat kehilangan dirimu tadi ." seorang gadis cantik mengenakan rompi berlambang bulan sabit dan bendera merah putih didada kanannya memeluk Dini yang baru masuk ketenda .
" Iss apaaan sih kamu Ran , lebay tau ." ucap Camelia gadis berseragam sama dengan Ranti , Ranti hanya memberinya cibiran lalu melepaskan pelukannya .
" Selama Dokter Dini berada didekat Kapten Guntur bisa dipastikan aman kok ." goda Irvan seorang dokter muda yang sedang mengecek laporan.
Dini mendelik mendengar ucapan Dokter muda itu sementara Irvan hanya terkekeh melihat ekpresi wajah Dini .
" Saya masih hidup suster Ranti , nggak perlu dirimu menangis bombay untukku ." sahut Dini sembari menyentil kening Ranti .
Ranti hanya meringis sambil.mengelus keningnya , lalu pandangannya tertuju pada bocah digendongan Dini .
" Ini siapa ? Dokter Dini dan kapten Guntur baru menghilang selama 6 jam begitu pulang sudah membawa seorang anak , wow amazing ." Ranti berbicara sambil menggelengkan kepalanya , matanya menatap gemas kearah bocah cantik digendongan Dini yang memeluk leher Dini dengan posesif .
" Ternyata nggak cuman mulutmu yang geser ya tapi otakmu juga ikutan geser , dampak perang memang luar biasa ." celetuk Camelia sembari menonyor kening Ranti yang semakin sengklek otaknya .
Dini menurunkan Arsy dan mendudukkan bocah itu diatas kursi , Arsy hanya diam , pipi apel dengan mata indah bernetra abu-abu terang itu mengamati setiap orang yang ada di tenda dan sesekali tertawa saat para perawat juga dokter yang ada disitu menggodanya .
" Dok , kalau nich bocah nggak ada keluarganya gimana kalo kita bawa pulang aja ." ucap Camelia yang tampak senang menggoda bocah cantik dan imut itu , tangannya tak berhenti menoel noel pipinya yang gembil .
" Emang boleh ." tanya Dini sembari mengangkat alis nya , Camelia hanya mengangkat bahunya .
" Coba aja tanya ke kapten Guntur Din , sapa tau aja bisa ." usul Irvan sambil berlalu keluar tenda , Dini hanya mengangkat bahunya saja .
" Kenapa nanya ke Kapten Guntur ?." tanya Dini ngga paham akan godaan dokter Irvan ,sementara dokter muda itu hanya terkekeh sebelum menghilang diluar pintu .
Dini lalu beranjak menuju dapur umum mencari bahan makanan untuk membuat bubur atau nasi tim untuk Arsy .
Seorang petugas dapur umum membantunya membuat nasi tim juga buah potong setelah selesai Dini membawa mangkuk dan sebotol air mineral lalu menggendong Arsy dan membawa bocah itu duduk dibawah pohon .
" Saya belum menemukan keluarga anak ini ." tiba - tiba suara bariton terdengar dari belakang kepalanya , Dini menoleh ternyata Guntur sudah berdiri dibelakangnya , pria itu lalu ikut duduk dibangku sebelah Dini duduk .
" Lalu bagaimana nasib anak ini ." jawab Dini sembari menyuapkan nasi lembek kemulut gadis kecil itu dengan telaten , sesekali membersihkan mulut gadis kecil itu dengan tissu sementara Arsy asik memainkan boneka tangan hadiah dari salah seorang perawat.
" Mungkin hari ini saya belum mendapat hasilnya ,besok saya tetap usahakan untuk mencari keluarga bocah ini ." jawab Guntur sembari membantu Arsy yang ingim minum , tangan Guntur sesekali mengelus kepala Arsy dengan lembut .
Interaksi yang mereka lakukan tak lepas dari tatapan mata-mata kagum dan sedikit usil , yang mengklaim mereka seperti keluarga kecil yang bahagia .
Bahkan Ranty dan Camelia mengabadikan moment manis itu lewat kamera ponselnya.
" Untuk kenang-kenangan bagian cerita manis selama tugas kemanusiaan. " kilah Camelia sembari menatap puas ke layar ponselnya.
" Aku berharap mereka berjodoh. " ucap Ranty yang diaaminkan oleh yang lainnya.
**********
Karena ada intruksi dari markas pusat untuk mundur maka pasukan keamanan beserta tim medis yang berada diwilayah berbahaya untuk kembali kebarak mereka.
Iring - iringan mobil milik pasukan PBB meninggalkan daerah garis depan itu , bersama iringan itu ada juga truk membawa warga sipil untuk ditempatkan diwilayah aman .
" Kau masih membawa anak ini ?." tanya Guntur saat melihat Dini yang masuk kemobil dengan menggendong anak kecil itu , Dini mengangguk lalu menempatkan bokongnya di kursi penumpang bersama Ranti , Guntur masih sempat memakaikan safety belt ditubuh Dini dan menyelimuti Arsy dengan jaketnya, lalu masuk kemobil dan duduk didepan kemudi, sementara disebelahnya duduk dengan tenang sambil tetap fokus dengan ponselnya adalah Lettu Devian Aristhoteles .
" Letnan Devan , ada larangan nggak kalau kita mau mengadopsi seorang anak korban perang ?." tanya Ranti tiba-tiba yang ditanya langsung mengangkat kepalanya dan menoleh kebelakang ," maksud kamu ?."
" Maksud aku , bila ada anak korban perang yang sudah tidak memiliki keluarga untuk kita angkat anak apakah itu diperbolehkan ?." Ranti mempertegas pertanyaannya , Devian berpikir sejenak .
" Mungkin saja bisa , emang kamu mau mengadposi balita ini ? ." Devian malah bertanya , Ranti tersenyum lebar sambil kepalanya menoleh ke arah Dini yang sedang menepuk-nepuk punggung Arsyi yang mengantuk .
" Bukan saya tapi sepertinya dokter Dini sangat ingin membawa pulang Arsy ." ucapnya yang dibalas dengan tatatapan tajam Dini .
" Oh ya , wah baik hati sekali dirimu dok ," puji Devian setengah menggoda , Dini hanya diam sambil pandangannya dialihkan keluar.
" Bagaimana Kapt aturannya , bisakah itu dilakukan ." Devian malah balik bertanya pada Guntur yang sedang fokus menyetir .
" Setau saya harus mengurus surat-suratnya secara legal dan ada syarat utama dalam hal mengadopsi seorang anak bagi calon orangtua angkat harus berstatus menikah dan memiliki finasial yang baik agar dapat membiayai dan bertanggung jawab terhadap pertumbuhan fisik dan psikis sianak ." jawab Guntur dengan pandangan masih mengarah kedepan .
" Kalau gitu kalian menikah saja , biar bisa membawa pulang Arsy ." celetuk ngawur Ranti kumat lagi .
" Siapa ?." pertanyaan kompak dari 3 orang didepannya secara refleks , membuat Ranti tertawa mendengar kekompakan mereka .
" Ya siapa lagi kalau bukan Dokter Dini dan Kapten Guntur , kalian tuch cocok banget udah seperti keluarga kecil tau ." jawab Ranti membuat wajah Dini memerah karna malu sementara Guntur hanya menggeleng kecil mendengar jawaban Ranti .
Memang sejak dimarkas tadi baik Ranti , Camelia dan Dr Irvan tak henti - hentinya menggoda Dini saat mereka melihat Dini yang duduk dikursi dibawah pohon sedang menyuapi Arsyi bubur sementara disebelahnya Guntur duduk dengan sesekali mengelus kepala Arsy dan memberi minum bocah itu .
" Lah kok aku sich , kenapa nggak kamu aja yang mengurus legalnya ntar aku yang bantu ngurusin Arsy ." elak Dini sambil menetralisir rasa panas dipipinya saat Guntur melihatnya dari kaca spion .
" Saya kan masih jomblo dok , ngga ada pasangan ." sahut Ranti cuek sambil mencolek pipi Arsy yang sudah tertidur .
" Trus saya apa , kita kan senasib Ranti , sama - sama jones ." jawab Dini ketus sambil menepis tangan Ranti yang masih mengusilin Arsy ,Ranti hanya terkekeh geli .
" Anda aja yang Jones dok , saya mah hanya Jomblo doang nggak pake ngenes ."
" Nggak gitu juga keles. "
" Makanya dok, jangan kebanyakan kencan sama pisau bedah dan obat bius, tunangan ditikung orang sampe nggak tau. "
" Emang aku pikirin. "
Devian dan Guntur yang mendengar 2 gadis dibelakang saling berdebat hanya tersenyum penuh arti .
" Berarti kita berempat senasib donk , sama- sama jomblo ." celetuk Devian sambil menaikkan alisnya dan tersenyum miring , " bagaimana jika suster Ranti menjadi pasangan saya aja , dijamin nggak bakalan ngenes kok."
" Nggak ." sahut Ranti namun tak urung wajahnya merona juga .
" Hati-hati loh Ran , kata Ngak bisa berubah jadi iya ." kali ini Dini memperoleh kesempatan untuk menggoda Ranti , Ranti hanya mendelik sebel , sementara Dini tertawa menang melihat wajah cantik Ranti yang cemberut dengan wajah yang merona merah .
Akhirnya mereka sampai ke kamp pengungsi , Guntur meminta Dini untuk menitipkan Arsy pada petugas UNHCR yang bertugas menangani pengungsi .
" Tidak apa-apa , Arsy akan baik-baik saja disini , lagi pula disini banyak anak seusianya sehingga Arsy tidak akan sendirian ." ucap Guntur saat dilihatnya Dini ragu melepas Arsy.
" Apakah aku masih bisa menemuinya ?."tanya Dini sembari menatap wajah Arsy , dia sungguh merasa berat berpisah dengsn bocah kecil ini .
" Tentu saja kamu masih bisa bertemu dengannya , aku akan mengantarmu ."
" Benar nona, kami akan merawat anak ini sama seperti anak lainnya. Disini mereka akan mendapat pelayanan Kesehatan , pendidikan yang sesuai dengan usia mereka. Dan anda bisa mengambilnya kembali jika surat-surat anda lengkap dan disetujui ." ucap petugas yang bernama Katrine itu dengan sopan.
Akhirnya Dini pun mengangguk dan menyerahkan Arsy pada seorang wanita berkebangsaan Swedia itu yang merupakan salah satu relawan UNHCR . Katrine langsung membawa Arsy yang menangis memanggil Dini sembari berusaha melepaskan diri dari gendongan Katrine keruangan yang berisi anak-anak yang sedang bermain .
Dini menghapus airmata yang membasahi kedua mata dan pipinya, baru kali ini dia merasa berat dan sakit saat berpisah pada seseorang yang baru dikenalnya sehari .
" Sudah, Arsy baik-baik saja disini. Jika kamu ingin menjenguknya besok kita kesini lagi, sekarang kita harus segera kembali ke barak, ayok. " ajak Guntur pelan, Dini hanya mengangguk dan sesekali dia menoleh kebelakang kearah dimana Arsy dibawa masuk tadi.
Guntur meraih pundak Dini dan membawanya menuju mobil karena mereka harus segera tiba di kamp sebelum malam tiba .
*********
" Jangan dibawa melamun dok, Arsy kita akan baik-baik saja disini." tegur Dokter Irvandi saat melihat Dini termangu di depan tenda.
Wanita cantik yang memang dasarnya pendiam itu semakin diam sejak datang sore tadi.
" Ntar saat tugas selesai kita pergi liburan aja kesini sambil jenguk Arsy, sapa tau aturan sudah berubah sehingga kita bisa bawa Arsy pulang." Ranti menepuk bahu Dini pelan lalu ikut duduk di sebelah dokter cantik itu.
" Kalau mau liburan, ya tunggu suasana aman dulu Ran, mana ada orang liburan di wilayah konflik, emang mau setor nyawa. Jadi turis enggak jadi pengunsi iya. " Camelia menambahkan.
" Aku nggak bisa ngelupain begitu aja wajah Arsy, anak itu terlalu istimewa buatku. Biasanya tidak ada anak kecil yang betah aku gendong, tapi tidak buat Arsy, dia malah tidak mau jauh dari aku. "
" Iya, Arsy memang anak pintar, walau masih balita , dia tahu orang yang mencintainya dengan tulus, aku juga jatuh cinta pada gadis kecil lucu itu . " Irvandi akhirnya ikut mendudukkan diri didepan Dini.
" Hei, daripada malam ini dilewatkan dengan lamunan gimana kalau kita bermain balok Uno saja, yang kalah harus nyanyi atau joget gimana ." usul dokter Farhan dengan kotak balok Uno di tangannya.
" Dokter bawa mainan ini. " tanya Camelia dan Wulan tak perrcaya, seorang dokter ahli jantung membawa mainan dalam tas kerjanya.
" Ini obat stres dan bosan, ayo kita main. "
Dan akhirnya mereka pun bermain balok Uno, tak hanya mereka namun ada beberapa prajurit yang tidak bertugas ikut bergabung dengan mereka.
" Nggak ikut gabung kapt? "
Guntur menoleh kearah Devian yang berdiri disebelahnya.
" Cukup menikmati dari sini saja. " jawab Guntur dengan mata yang terus menatap kearah Dini yang posisi duduknya memang menghadap kearahnya.
" Kalau gitu gue mau gabung ama mereka ya Kapt. Selamat menikmati dari jauh. " Devian tertawa lalu berlari kearah tenda tim medis untuk bergabung bermain balok Uno.
" Sorry Ren, aku tak bisa menjaga Dini untukmu. Karena hatiku menginginkan dia jadi milikku. " ucap Guntur pelan sembari terus mengawasi Dini, wanita itu memang tidak ikut bermain namun sesekali Guntur bisa melihat senyum lebarnya atau tawanya saat ada yang bertingkah konyol didepannya .
Tanpa sengaja Dini menoleh kearahnya dan tak terelakkan mata mereka bertemu, sesaat mereka saling tersenyum tipis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Fatimah Alfian
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
2021-06-13
3
Ami Usrekk
ehem ehem ehemm 🙊🙈
2021-06-07
1
Noorhied
'Ga ikut gabung, kapten?, tanya letnan devian
'ga, aku mau main ludo saja dg dr Dini ....'..henhe Kapten Guntur nyengir...😂😂😂😂😂
2021-04-22
1