Kilatan cahaya dari rudal yang ditembakkan dari jarak yang jauh masih terlihat mewarnai langit yang sedikit berawan itu .
Priandini tak bisa membayangkan bagaimana rupanya bila terkena ledakan rudal itu , bisa dipastikan luluh lantak rata dengan tanah .
Mobil yang dikendarai Guntur melaju dijalan tanah berdebu , mengarah kekota kecil yang nampak kacau .
Truk - truk militer tampak memasuki kota kecil itu dari berbagai arah , juga ada ambulance dengan bendera PBB .
" Apakah banyak korban yang jatuh kapt ?." tanya Priandini mengalihkan pandangannya ke arah Guntur yang tampak fokus menyetir .
" Info yang didapat seperti itu ." Guntur menjawab tampa mengalihkan pandangannya pada jalan berdebu didepannya .
" Tolong untuk tetap berada diposisi aman , jangan melakukan hal yang membahayakan diri sendiri dan tim anda , usahakan untuk tetap berada dibelakang pasukan PBB ." suara bariton Guntur memberi intruksi saat mereka sudah sampai ditujuan .
Guntur mengenakan rompi anti peluru , mengganti baretnya dengan helm perang , mengecek senjatanya dan mengenakan sarung tangannya .
Priandini mengecek kembali peralatan medis didalam tas punggungnya , memisahkan perlengkapan P3K kedalam tas pinggang , lalu mengenakan rompi tim medisnya .
Setelah dirasa lengkap Guntur membawa Priandini mendekati pasukan yang sedang berkumpul .
Guntur mencekal lengan Priandini membuat gadis itu berhenti dan menatap Guntur dengan tatapan bertanya .
" Jangan jauh - jauh dariku , usahakan untuk tetap berada dalam pengawasanku ." Guntur berbicara dengan pelan namun tegas , wajahnya terlihat datar dengan bentuk rahang yang kokoh .
" Bukannya tim medis selalu dikawal ya ." tanya Priandini masih menatap Guntur , Guntur mengangguk dan balas menatap Priandini dengan tatapan yang sulit diartikan .
Guntur tersenyum menyakinkan Dini kalau dirinya akan menjaga gadis itu . Dini mengangguk dan membalas senyum Guntur .
Priandini seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya . Melihat orang terluka dan menangis kehilangan orang terkasih mereka , istri kehilangan suaminya , suami kehilangan istrinya , kakak kehilangan adiknya juga sebaliknya , anak kehilangan orangtuanya dan orangtua kehilangan anaknya .
Mereka kehilangan rumah mereka , kehilangan sekolah dan tempat bekerja . Perang apa pun alasannya hanya meninggalkan duka dan luka .
Dini bersama tim medisnya langsung membantu mengobati korban terluka
Tampak Dini berlari sembari menggendong seorang anak kecil yang terluka dibagian kepalanya , kondisi anak itu sangat memprihatinkan .
" Please bisakah anda segera membawa anak ini ke rumah sakit ." pinta Dini pada seorang prajurit yang berada dekat mobil ambulance , prajurit itu mengangguk lalu meminta Dini untuk menidurkan anak itu kedalam mobil , namun terlebih dahulu Dini menjahit luka anak itu agar tidak mengeluarkan darah semakin banyak .
Setelah memastikan anak itu aman , Dini kembali bergabung dengan tim.medis lainnya .
Sesekali terdengar suara dentuman keras dikejauhan , menimbulkan rasa takut di setiap wajah yang ada disana.
Priandini tampak serius mengobati luka seorang wanita muda berhijab lebar saat tiba-tiba matanya melihat seorang anak kecil dengan memeluk boneka beruang tampak berdiri bingung di depan reruntuhan bangunan sambil menangis , tiba - tiba hatinya ikut menangis saat melihat warna merah darah mengalir dari kening bocah itu .
" Ran, tolong kamu selesaikan memakaikan perban ini , saya mau mengambil anak kecil itu ." ucap Dini pada Rianti yang mendampinginya , Rianti mengangguk lalu menggantikan pekerjaan Dini .
" Nama anak itu Arsy , dia baru menjadi yatim piatu , orangtuanya meninggal saat serangan bom seminggu yang lalu ." tiba-tiba wanita yang sedang dibalut lukanya itu berkata sambil menunjuk anak kecil yang masih menangis .
" Berapa usianya ?." tanya Dini , matanya tak lepas dari sosok kecil itu
" 1,5 tahun ." sahut wanita itu , Dini mengangguk lalu berlalri kearah anak kecil yang masih menangis sambil memengangi boneka kecilnya .
" Hei , gadis cantik jangan menangis , ayo ikut mama ." ucap Dini lembut , dia berjongkok didepan anak kecil yang ternyata berjenis kelamin perempuan
Bocah kecil itu berhenti menangis dengan matanya yang masih berlinang airmata , dengan netra abu-abu terangnya dia berusaha mengidentifikasi Dini , lalu senyuman terlihat dibibir kecilnya.
" Mama ." ucap anak kecil itu sembari mengulurkan kedua tangannya kearah Dini , Dini paham maksud anak kecil itu , dia langsung mengangkat tubuh kecil itu kedalam gendongannya , tiba - tiba terdengar teriakan seseorang yang menyuruhnya berlindung , Dini bingung dan hanya terpaku hingga seseorang menabraknya dan membawanya berguling ke salah satu sisi jalan .
Suara desingan mortir terdengar disekitarnya , suara bangunan runtuh terdengar tak jauh dari posisinya saat ini . Dini masih tak bisa berpikir apa yang sedang terjadi , tiba-tiba otak cerdasnya tak berfungsi .
Yang dia rasakan saat ini hanya sesosok tubuh besar memeluknya dalam posisi terbaring dijalan berdebu , tangan kekar itu melindungi kepala bagian belakangnya , sementara tangan satunya memeluk pinggangnya .
" Hampir saja ," suara bariton terdengar ditelinga. Dini , Dini membuka matanya dan pandangannya langsung bertemu dengan tatapan tajam simata elang , mata seorang pria ," kamu tidak apa-apa ?." tanya pria itu lagi .
Dini menggeleng dan hanya berkata lirih ," saya tidak apa-apa hanya sedikit sulit bernafas karena ditindih badan besar anda ."
Perkataan Dini membuat pria itu tersadar lalu segera bangun dan membantu Dini berdiri , segera membawa gadis beserta anak kecil dalam gendongannya kearah sebuah sisi bangunan yang masih utuh .
" Maaf , tadi itu refleks tidak disengaja ." ucap pria tinggi besar yang ternyata Kapten Gintur , pria dengan seragam tentara warna coklat muda berbendera PBB.
" Kenapa kamu sampai di daerah berbahaya ini , bukannya sudah diberitahukan dimana posisi aman untuk tim medis bekerja ." suara bariton itu terdengar lagi , ada nada kesal dan khawatir disuaranya , Dini hanya meringis karena merasa salah dan bingung .
" Saya tidak tau kalau tadi termasuk daerah rawan , saya hanya terfokus pada anak ini saja ." jawab Dini dengan menunduk tak berani menatap wajah pria didepannya yang menatapnya dengan tatapan tajam .
Pria yang tak lain Kapten Guntur Yumajaya itu mendengus kesal lalu menarik tangan Dini untuk berjalan mengikutinya , Dini hanya menurut tanpa berusaha untuk protes .
Bocah perempuan yang berada digendongannya memeluk leher Dini erat seakan takut untuk ditinggalkan , Dan Dini pun memeluk tubuh kecil itu dengan sebelah tangannya , tiba-tiba Guntur menarik tangan Dini hingga membentur tubuh besar itu , dengan cepat Guntur melindungi tubuh Dini dan anak kecil itu kedalam pelukannya dan membawanya berlindung dibalik pohon besar saat terdengar ledakan didekat mereka tadi berdiri ..
Guntur segera melepas pelukannya saat dilihat situasi sudah aman untuk segera melanjutkan perjalanan menuju tempat pasukan PBB berkumpul .
" Tetap berada didekat saya dan jangan lepas dari tangan saya ." ucap Guntur sembari mengambil alih bocah kecil digendongan Dini , Dini hanya diam dan mengikuti intruksi Guntur dengan patuh .
Guntur menghentikan sebuah truk yang melintas yang ternyata milik pasukan PBB dari kontingen Afrika Selatan , Guntur membantu Dini menaiki truk sebelum dirinya sendiri ikut naik kedalamnya .
Dini duduk sambil memangku Arsy yang tampak tertidur , disebelahnya Guntur yang berdiri sembari berbicara dengan sesama prajurit , sementara satu tangannya berada di belakang kepala Dini melindungi kepala gadis itu dari benturan.
Didalam truk itu juga terdapat warga sipil yang ingin mengungsi didaerah aman , wajah takut dan frustasi tergambar jelas diwajah mereka .
Truk berhenti di tempat pengungsian Guntur dan Dini pun ikut turun , sejenak Dini dilanda kebingungan karena dari sekian banyak pengungsi tak satupun keluarga dari bocah kecil yang berada digendongannya .
" Bagaimana apakah ada keluarga anak itu ?." tanya Guntur ketika Dini berjalan menghampirinya , wajah gadis itu tampak bingung .
Priandini POV
Aku bingung karena dari sekian banyaknya pengungsi tak satupun yang mengenali anak yang berada di gendonganku ini , rupanya pengungsi yang berada di tempat ini bukan berasal dari tempat dimana aku menemukan anak kecil tadi .
Aku keluar dari tenda lalu berjalan menghampiri Guntur , sebelumnya aku menghampiri tim medis yang sedang melayani warga sipil untuk meminta obat dan perban guna mengobati luka dikening anak itu .
Seorang perawat memberiku susu cair kemasan dan biscuit untuk anak yang masih berada di dalam pelukanku, setelah mengobati lukanya aku membawanya kembali ke Guntur yang sedang berbicara dengan beberapa prajurit .
" Bagaimana ? Apakah kau menemukan keluarganya ?." tanya Guntur begitu aku berada dihadapannya , aku hanya menggeleng dan tersenyum masam .
Guntur mengelus kepala bocah digendonganku lalu kembali berbicara dengan rekannya , tak lama Guntur mengajakku untuk masuk kedalam mobil militer .
" Kita ketempat pengungsian dimana warga desa asal anak ini berada , siapa tau kita menemukan keluarganya ." ucap Guntur saat kami sudah berada didalam mobil , aku hanya mengangguk , darahku tiba-tiba berdesir saat tangan Guntur mengelus kepalaku lembut .
Entah sudah berapa kali jantungku berpacu melebihi detakan yang tidak seharusnya saat berada sangat dekat dengan Guntur si kapten tampan itu.
Aku gelengkan kepala ku untuk menepis pikiran sok romantis dan sedikit lebay itu , berusaha mendoktri. Otakku yang mulai geser karena sikap manisnya hanya sebagai bentuk perlindungan yang merupakan bagian dari tugasnya .
*******
Guntur dan Dini bersama dua orang prajurit lainnya akhirnya menuju ke tenda-tenda pengungsi untuk mencari keluarga dari gadis kecil yang sejak ditemukan tidak pernah lepas dari Dini maupun Guntur.
Anak itu terlihat nyaman berada didalam pelukan kedua orang yang baru dikenalnya itu.
" Kenapa tidak anda bawa pulang saja Kapt? " ucap seorang prajurit yang duduk di sebelah sopir dalam bahasa inggris.
Sementara Guntur dan Dini duduk di kursi tengah dengan Dini memangku gadis kecil yang kembali tertidur dengan memeluk boneka beruang dan kotak susu cairnya.
" Kalau di izinkan, anak ini akan kami bawa pulang. " jawab Guntur dengan senyumnya.
" Istri anda cantik sekali kapten. Seandainya istri saya juga seorang tenaga medis pasti akan saya suruh untuk ikut mendampingi saya di sini."
" Iya istri saya ini memang sangat cantik."
Dini menoleh cepat kearah Guntur saat pria itu melingkarkan tangannya di bahunya dan pelan mencubit paha pria itu.
Guntur malah tersenyum lebar dan mengabaikan protes Dini lewat matanya yang indah.
" Ini kebetulan saja kami bertemu, saya sendiri tidak tau kalau pihak rumah sakit mengirim dia kesini. "
" Ya bersyukur ya Kapt, bisa bertugas dengan orang tercinta, tapi apa tidak malah merepotkan kapt? "
" Repot tidak, karena saya tidak menggendongnya kemana-mana, hanya sedikit ekstra mengamankan dia dari tatapan pria lapar seperti kalian. "
" Kapten masih bisa bercanda, itulah kenapa saya suka dengan pasukan Indonesia, dalam kondisi mencekam saja mereka masih bisa melempar candaan, sungguh luar biasa. "
Akhirnya mereka sampai ditenda pengungsi terakhir di wilayah pengamanan mereka dan hasilnya tetap nihil keluarga gadis kecil itu tetap tidak ditemukan.
Dini menatap wajah gadis kecil dipelukannya dengan sedih.
" Mommy , it's okey. "
" Yes, i am fine , baby. " Dini memberikan senyumannya saat anak itu menatapnya dengan khawatir .
Guntur beralih mengelus kepala gadis kecil itu dan mencium kepalanya dan berkata sangat lembut, " Don't Cry baby , you know we love you. "
Arsy menatap Guntur dan mengangguk lalu kembali menyembunyikan wajahnya diceruk leher Dini.
" Biasanya untuk anak yang kehilangan keluarganya dalam perang akan di asuh oleh relawan dari Unicep dan UNHCR , Kapt. "
" Baiklah, kalau begitu antarkan saja kami kembali ke markas UNFIL, biar besok saya menemui ketua Relawan untuk anak ini. "
Kedua Prajurit berkebangsaan Prancis itu mengangguk lalu mengantar Guntur dan Dini ke markas dimana mereka tinggal selama bertugas.
" Bolehkan dia kubawa pulang. " bisik Dini pada Guntur.
" Ada prosedur khusus bagi anak korban perang, tapi pada intinya bisa saja, nanti saya akan tanyakan pada rekan saya ketua Tim Relawan Unicep disini. "
Dini mengangguk dan menepuk pelan punggung Arsy pelan, membuat anak itu semakin merasa nyaman dalam tidurnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Salminah Burhanuddin
boleh Din..tp pengadopsi hrs sdh menikah..
2022-03-07
0
Salminah Burhanuddin
author tulisannya kereeen...varabel bahasanya mantabb...
2022-03-04
0
Sita Aryanti
pulang2 dpt calon suami ma anak..heheheh
2021-08-09
3