Back song : Harusnya Aku
By Armada .
Daun kecil lirih menepi ..
tertiup angin padang hari ...
Bagai debu yang menempel dipeti
Yang mana dia harus pergi...
Cinta tak harus memiliki..
Karena Cinta sejati susah tuk dimiliki..
Pergilah kasih , kuantar kabuu sampai sini , Agar Hatiku tak terluka terlalu perih lagi..
Priandini menutup diary birunya dengan setetes airmata , disimpan kembali Diary itu dalam laci meja riasnya , lalu bersiap untuk menghadiri akad nikah Rendy dan Hesti .
Mengenakan dress terusan sebatas lutut warna biru laut dengan potongan dada sedikit rendah tanpa lengan dengan detail bunga lotus warna putih pada bahu kanan yang tertutup kain tile . Bila dilihat sekilas dress itu tampak seperti model kemben dengan hiasan bunga dibahu.
Lalu ditutup dengan balero warna putih tulang , Priandini sungguh terlihat cantik dengan rambut diurai dan diberi penjepit rambut warna perak disatu sisinya .
Priandini memesan taxi online untuk menuju mension milik papanya tempat acara berlangsung .
Priandini sampai 1 jam sebelum acara dimulai , dia langsung menuju kamar papanya seperti biasa .
" Kamu datang nak ." sapa papanya yang sedang duduk di sofa menghadap kebalkon kamar , Priandini tersenyum dan berjalan kearah papanya , mencium tangan pria tua yang membesarkan dan menjaganya selama ini , lalu ikut duduk di sebelah papanya menikmati cuaca sore yang cerah .
" Dini datang untuk papa , bukan mereka ."
Papa mengangguk -angguk lalu menghela nafas beratnya .
" Papa tau sebenarnya nak Rendy masih sangat mencintaimu dan alangkah bahagianya bila kalian lah yang menikah malam ini ."
Dini tercekat dengan salivanya sendiri , dia tak menyangka papanya akan mengatakan itu .
" Ini sudah jalannya pa , bukannya yang akan dinikahi Rendy nanti juga anak papa ?." sahut Priandini sembari memandang papanya .
" Anak ya ? Papa kok lupa ya kalau Hesti juga anak papa ." jawaban papanya membuat Dini terkekeh .
" Oh ya Danu mana pa ?."
" Dia sudah bilang nggak akan datang malam ini , dia masih kecewa dan marah dengan mama juga Hesti ."
" Apa karena kejadian 2 hari lalu ?."
Papa mengangguk , lalu berkata dengan suara lirihnya ," Papa tak menyalahkan Danu , pada dasarnya mamamu juga Hestilah yang salah , tampa seizinmu merubah kamarmu menjadi kamar pengantin karena menurut mamamu , kamar Hesti terlalu kecil untuk kamar pengantin."
Priandini terkekeh geli , alasan yang sangat ngga masuk akal , bukan karena ukuran kamar yang dpersoalkan tapi sebenarnya mereka melakukan itu agar Dini tidak bisa lagi menginap di rumah papanya , secara tak langsung Dini diusir dari mension megah milik papanya .
Dini melirik 2 koper besar warna hitam dan silver dipojok kamar tidur papanya , dia mengeryitkan keningnya perlahan .
" Mengapa ada dua koper pa ? Warna silver itu koper siapa ?." tanyanya sembari menunjuk kearah koper , Mahesa juga ikut menoleh kearah yang ditunjuk Priandini .
" Punya papa ." jawabnya singkat .
" Papa mau kemana ?."
" Papa mau pulang ke Wonogiri ,papa berpikir lebih baik papa menghabiskan sisa usia ini di tempat dimana papa dan mamamu dilahirkan juga dimakamkan , lagi pula Abangmu Brama kan tinggal di Yogya jadi papa bisa lebih dekat dengan abangmu juga anak-anaknya , papa ingin menghabiskan masa tua papa disana ."
" Kapan ?."
" Besok pagi."
" Berangkat dengan siapa ?."
" Adikmu Danu yang akan menemani papa .,"
" Dini ikut pa ."
" Kamu nggak kerja ."
" Besok Dini libur pa , selama 2 hari ntar dari rumah sakit Dini langsung keBandara kita ketemu disana ya pa, suruh Danu bawain koper Dini itu ya pa ."
Papa mengangguk lalu mengelus lembut rambut putrinya .
Terdengar suara pintu dibuka muncullah Mama Hanna dengan wajah angkuhnya .
" Sebentar lagi tamu akan datang mas , dan buat mu Dini jangan pernah bermimpi mengagalkan pernikahan adikmu ini , mereka saling mencintai dan mereka pun akan segera memiliki anak ." Nada ancaman dikeluarkan oleh wanita yang Dini panggil mama itu , Dini hanya tersenyum sinis .
" Bukan Dini ma yang akan menghancurkan pernikahan mereka tapi mereka sendiri terutama Hesti yang telah melakukan tipu muslihat untuk bisa mengikat Rendy , dan soal anak yang diperut Hesti kita akan lihat apakah dia benar anak hasil hubungan dengan Rendy atau bukan ." sahut Dini tak kalah tajam .
" Kau akan menerima akibatnya jika pernikahan Hesti sampai hancur , biar bagaimana Hesti jauh lebih baik darimu ." ucap Hanna lalu keluar dari kamar dengan wajah marah .
Papa menepuk - nepuk punggung tangan Dini pelan , tatapan matanya mengatakan untuk tetap tenang .
" Semua itu dibawah kuasa Allah , jika nanti Allah akan menampakkan hal yang buruk maka tampaklah ." suara berat papa membuat Dini sedikit mulai merasa tenang .
Dengan dibantu Dini , Pak Mahesa Subrata berjalan menuju ruang tamu yang sudah disulap menjadi tempat pernikahan yang indah , Dini sempat melihat Rendy yang tampak gagah dengan setelan jas Abu-abunya .
Mata mereka sempat bertemu , dan seolah Rendy meminta Dini sekali lagi memaafkannya .
Tekanan keluarganya dan hasutan Hesti juga mama Hanna membuat dia tak berdaya untuk menolak pernikahan ini.
Setelah mengantar papanya duduk dikursi berhadapan dengan Rendy , Priandini memilih untuk menjauh dia memilih duduk di ayunan kayu disudut teras depan .
Berbaur dengan tamu dari pihak Rendy yang sama sekali tidak dikenalnya .
Duduk sambil menikmati senja yang berganti malam dalam diam lebih baik daripada dia berada didalam dengan menahan sakit hati .
****
" Boleh ikut duduk disini ." suara berat seorang pria menyadarkan Dini dari lamunannya , Dini menoleh dan matanya mendapati seorang pria bertubuh tinggi dan tegap sedang berdiri dihadapannya .
Pria tersebut tersenyum kearah Dini , dan senyumnya itu manis banget .
Seakan tau apa yang dipikirkan Dini pria itu berkata lagi , " semua kursi sudah penuh sementara didalam terlalu sesak ."
Setelah berpikir sejenak Dini lalu mengangguk dan menggeser tubuhnya untuk memberi ruang kepada pria itu untuk bisa ikut duduk
" Kenapa duduk diluar ? Tempat ini sedikit gelap dan banyak nyamuk ." pria itu membuka percakapan .
" Sama seperti alasanmu tadi ,itu jawabannya ." sahut Dini , pria disampingnya tertawa mendengar jawaban Dini , lalu pria itu memgulurkan tangan kanannya yang kekar , " kenalkan aku Guntur ."
Dini tersenyum dan menjabat tangan Guntur sesaat ," Saya Priandini , panggil saja saya Dini ." Dini seolah sedang mengingat sesuatu , sepertinya dia pernah bertemu dengan Guntur tapi dimana dia lupa.
" Ada apa ? Ada yang aneh diwajah saya ?." tanya Guntur tiba -tiba membuat Priandini tergagap kaget dan merona malu karena ketangkep basah lagi memperhatikan wajah pria itu .
" Ehh ngga .. Ngga apa-apa kok , ngga ada yang aneh ." sahut Dini sembari mengalihkan wajahnya melihat kearah kolam ikan .
Guntur melirik jam dilengan kirinya lalu kembali diam .
Pukul 9.30 malam seperti tertera dilayar ponselnya ,Dini beranjak berdiri dari ayunan kayu yang didudukinya .
" Mau kemana ?." tanya Guntur , diperhatikannya wanita didepannya , wajahnya pernah dia lihat namun dalam tampilan yang berbeda .
Cantik itu kata pertama yang terucap ketika melihat Dini , sangat cantik kata yang harus diucapkan saat melihat penampilan Dini malam ini .
" Mau pamitan , karna mau masuk kerja ." sahut Dini lalu beranjak masuk.kedalam rumah dari pintu samping , hanya butuh waktu 15 menit Dini sudah berada kembali di teras mension mewah milik Mahendra Dinata pemilik MD Corp .
Guntur yang berdiri dekat pilar dapat melihat wajah Dini yang sendu dan matanya yang berair ," apakah gadis ini habis menangis ?." bathinnya .
Lalu Guntur dikejutkan dengan kedatangan pria muda yang langsung memeluk Dini , Guntur menatap mereka dengan tatapan tak suka .
" mbak mau pulang ." tanya pria muda itu , sambil melepas pelukannya .
" Mbak mau pulang terus masuk kerja , kenapa kamu baru datang Dan ." sahut Dini menatap adiknya intens , pria muda itu menghembuskan nafas kasar terlihat sekali kalau dia sangat kesal .
" Sebenarnya aku malas datang mbak , tapi mama membuat telingaku budeg karena terus-terusan menelphone ." sahut Danu sembari bersandar dimobil sedan Mercedes E Class milik papanya .
" Mbak kenapa sih ? Danu kesal karena mbak Dini hanya diam saja diperlakukan seperti ini , sudah sangat jelas Rendy adalah pacar mbak Dini selama 3 tahun kenapa mbak hanya diam saat Hesti merebutnya ."
Pramudanu menatap Dini dengan mata kesal namun iba , dia sangat sayang pada kakaknya ini , karena selain papa , kak Brama ada Dini yang selalu setia mendengar cerita juga impiannya , mereka selalu mendukung apa yang dilakukan Danu , mereka selalu memarahi Danu kala Danu melakukan kesalahan .
" Untuk apa dipertahankan jika memang sudah tak bisa lagi dipertahankan , jika Rendy memang mencintai mbak , tentu dia akan menolak pernikahan ini bagaimana pun caranya , tapi kenyataannya tidak begitu kan ." sahut Dini membuat Danu menunduk diam , begitu juga dengan Guntur yang berdiri didekat mereka berdiri .
Pria itu tak ingin beranjak dari posisinya, kakinya seperti terikat agar menjadi pendengar dari pembicaraan dua orang didepannya.
" Apa dia, dokter Dini kekasih Rendy selama 3 tahun ? Wanita yang dipuja siang dan malam oleh Rendy yang katanya dia ngga akan menikah dengan wanita selain dengan Dini , what the heell ." Guntur berbicara sendiri dalam hati , matanya masih menatap wajah Dini .
" Kita doakan saja , mereka bahagia , begitu juga dengan kita ." ucap Dini sambil menepuk pundak Danu , Danu mengangguk dengan malas .
" Besok aku mau nemenin papa ke Wonogiri mbak , dan mampir kerumah mas Brama , mbak Dini mau ikut ?."
" Iya aku ikut , kita ketemu di bandara saja ya , sekalian bawakan koper mbak yang ada dikamar papa ."
Danu mengangguk wajahnya terlihat senang .
" Sudah kamu masuk kedalam , papa kangen sama kamu , walau kau benci mama juga Hesti tapi paling tidak berikan restumu untuknya dan temui papa. " Dini mengelus rambut adiknya , Danu mengangguk .
" Mbak jangan pulang dulu ,biar Danu antar ."
" Ngga usah mbak sudah pesan taxi kok ."
" Cancel mbak , ini udah malam jarak dari sini kerumah sakit jauh mbak ."
" Ngga apa ,mbak udah biasa , kalau nunggu kamu mbak takut terlambat sampai rumah sakit ."
Dengan berat hati akhirnya Danu menuruti perkataaan Dini , pemuda itu berjalan masuk kedalam rumah .
" Mau bareng saya ? ." tawar Guntur yang sudah berada disamping Dini , Dini menoleh .
" Memang kamu tau arah yang mau saya tuju ? ." tanya Dini .
Guntur tersenyum lalu berkata ," tentu saja tau ,kau bekerja dirumah sakit yang sama dengan pengantin pria didalam itu kan ?."
Dini mengangguk ,dia masih bingung.
" Ayo katamu tadi kamu ngga mau terlambat ." ucap Guntur sembari memberi intruksi dengan anggukan.
Dini akhirnya mengikuti langkah Guntur menuju kemobil suv hitamnya , lalu membukakan pintu untuk Dini dan melangkah kesisi kanan mobil untuk membuka mobil untuk dirinya sendiri .
Perlahan mobil Guntur meninggalkan Mansion milik Mahesa Subrata yang masih ramai dengan tamu .
" Maaf sebenarnya kamu siapa , keluarga dari pengantin pria ?." tanya Dini setelah sekian lama mereka diam
Guntur menoleh sesaat sebelum menjawab pertanyaan Dini .
" Aku kakak sepupu Rendy dari garis ayah ."
" Oh ." hanya dua huruf itu yang diucapkan Priandini membuat Guntur kembali menoleh kearah gadis disampingnya , gadis yang bagai dewi yunani .
" Kamu sendiri ?." Guntur balik bertanya , yang sebenarnya dia sudah tau jawaban dari hasil menguping pembicaraan Dini dengan adiknya dan dari cerita Rendy .
" Aku kakak perempuan dari pengantin wanita dan rekan kerja pengantin pria ." jawab Dini berusaha bersikap biasa , walau sejujurnya dia sedang berusaha kuat menahan tangisnya .
" Menangis saja ngga apa , agar esok hari kamu tak perlu menangisi ini lagi ." ucapan Guntur membuat Dini menoleh dan menatapnya intens , Guntur pun menatap Dini , ada genangan airmata di mata indah gadis itu .
" Aku tau cerita kalian. Maaf kalau tadi aku pura - pura tak tau , aku hanya menjaga privasimu saja ." Guntur berkata sembari tersenyum , tangan kirinya menepuk punggung tangan kanan Dini lembut .
" Menangis lah ngga perlu ditahan dan tenang saja aku ngga akan menertawakanmu kok ."
Priandini tersenyum tipis ,dia lalu mengalihkan pandangannya keluar kaca jendela , dan perlahan airmatanya pun jatuh .
Seperti yang dikatakan Guntur , Menangislah sekarang hingga tak perlu lagi menangis esok hari , dan Dini pun menangis melepas semua rasa sakit hatinya , Guntur hanya bisa melihat dan mencoba menguatkan gadis itu dengan menepuk punggung tangannya lembut .
Guntur menghentikan mobilnya disebuah kafe tenda , lalu memesan dua gelas copuchino dan kembali ke mobil .
Dini menerima gelas berisi es copuchino dari tangan Guntur , dia sedikit heran malam begini pria disebelahnya malah memberinya es.
"Kata temanku yang seorang psikolog minum es capuchino saat hati sedang kacau bisa mengembalikan semangat walau tak sepenuhnya ." ucap Guntur seakan tau apa yang sedang dipikirkan Dini , Dini hanya tersenyum lalu perlahan meminum minumannya dan benar kata Guntur rasa dingin yang masuk melalui ketenggorokan sedikit memgendorkn syaraf dikepalanya membuat dirinya merasa sedikit rileks .
Tak terasa mobil sudah memasuki halaman Rumah Sakit , Guntur menghentikan mobilnya didekat pintu lobby UGD .
" Terima kasih atas tumpangannya , juga sudah mengizinkan saya menangis didepanmu dan terima kasih atas copuchino dinginnya walau saya sebenarnya tidak suka es batu ." ucap Priandini sembari melepas safetubealtnya , Guntur tertawa mendengar perkataan Dini .
" Aku harap kita bisa ketemu lagi ." ucap Guntur saat Dini sudah keluar dari mobil , Dini tersenyum lalu sedikit menunduk kejendela yang terbuka , " baiklah jika kau tak keberatan , next time ."
Lalu Dini berdiri dan membalas lambaian tangan Guntur menatap pria itu pergi dengan mobilnya , setelah itu dirinya masuk kelobby UGD untuk bekerja shif malam .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
V-hans🌺
,thor revisi dong untuk penggunaan jam waktu malam nya biar gk di kira waktu pagi hari
2024-12-15
0
Nabil abshor
pintu ajaibnya doraemon ada yg jual g ce,aku mau beli satu, mau masuk sini. kruwek mulut comberan emak tiri ni loh,,,,,
2023-01-28
1
Ristya
Maaf kak, mau tanya....
Dini sama Hesti itu beda ibu aja, atau beda ayah ibu?
2023-01-04
0