" Ditinggal pergi seseorang yang dicintai sams seperti kehilangan separuh nyawa yang ada di dalam raga. "
_______________________________________
Devian melihat Guntur tampak bersiap dikamarnya , setelah mendengar cerita dari prajurit dan perawat yang lolos dari sekapan oknum milisi yang juga menyekap kekasihnya dokter Dini bersama lainnya Guntur memutuskan akan mencari dan membebaskan Dini walau harus melanggar prosedur keamanan , dirinya mendadak menjadi gelap dan sulit diajak berkompromi mencari solusi untuk membebaskan tim yang disandera kelompok milisi bersenjata, jujur dia sangat tidak perduli karena nyawa kekasih juga rekannya sedang sangat terancam .
" Kau mau pergi ?." tanya Devian saat dilihatnya Guntur telah mengenakan pakaian hitamnya , pakaian yang selalu mereka pakai saat operasi penyergapan yang bersifat rahasia .
" Apa perlu aku jelaskan ?." jawaban dingin Guntur membuat Devian meringis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal .
" Aku akan ikut bersamamu , dan aku sudah menyiapkan tim kita ." ucap Devian sembari berjalan keluar kamar , Guntur hanya mengangguk .
Rahangnya mengeras menahan amarahnya , kenapa kali ini Dini tidak meminta izinnya ketika melayani pasien diluar markas , dan kenapa dia terlambat mendapat informasi ini .
" Tunggu aku Din , jaga dirimu baik-baik sebelum aku datang menjemputmu ." bisik Guntur sembari mengepalkan tangannya .
20 menit kemudian mereka sudah berada dijalan menuju tempat dimana tim mereka ditawan oleh oknum milisi sesuai petunjuk prajurit dan perawat yang berhasil melarikan diri tadi .
Suasana gelap ditengah malam sedikit menyulitkan mereka yang belum begitu paham dengan daerah yang dituju .
Arah yang ditunjukkan adalah daerah hutan yang sangat rapat dan jalan besar yang mereka lalui hanya sampai di pinggir hutan saja , selanjutnya mereka menyusuri jalan tanah setapak sebenarnya bisa saja mereka menggunakan mobil hanya saja mereka tidak mau kedatangan mereka mengundang perhatian para penculik , dikejauhan mereka melihat sebuah bangunan cukup tua yang dijaga oleh beberapa orang dengan senjata ditangan .
Guntur dan timnya berhenti dibalik batu besar yang mungkin muntahan dari gunung berapi purba .
Guntur mencoba menganalisis keadaan ,lalu dengan suara pelan dia memberi intruksi kepada timnya . Setelah dirasa cukup memahami mereka secara perlahan mendekati bangunan itu tampa suara .
Guntur , Devian dan 4 orang prajurit memasuki gedung sementara 6 prajurit lagi berada diluar gedung untuk berjaga - jaga .
Mereka memasuki gedung dari arah samping yang tidak dijaga , lalu menyusuri lorong yang ada untuk mencari diruangan mana teman-teman mereka disekap .
Sementara di sebuah kamar dengan penerangan yang tidak terlalu terang tampak Dini beserta Ranty dan Wulan sedang membantu seorang wanita yang akan melahirkan , dan berdasarkan apa yang Dini dengar wanita ini adalah istri komandan mereka yang terkenal kejam juga suka main perempuan.
" Bila kamu membuat Nyonya celaka maka kalian bertiga yang menggantikan nyonya menjadi penghangat ranjang komandan ." bentak seorang pria dengan jambang lebat diwajahnya , matanya merah seperti orang yang habis minum alkohol .
Seorang pria bertampang sama mendekati Dini dan mencolek dagu Dini dengan kasar ," tapi sebelum kita serahkan dia kekamar bos bagaimana kalau kita nikmati wanita cantik ini dulu , pasti akan sangat menyenangkan ." seringai diwajah pria itu membuat Dini , Wulan dan Ranty gemetar menahan rasa takut dan jengah mereka , karena tak jarang pria - pria ini berusaha menyentuh tubuh mereka .
Hampir setahun mereka bertugas di medan konflik membuat Dini dan rekan-rekannya sedikit bisa memahami bahasa yang mereka gunakan.
" Tidakkah kalian lihat saya mau melahirkan , buang pikiran bejatmu itu sebelum saya adukan ke komndan dan kalian sudah tau apa yang akan terjadi pada kalian ." bentak wanita yang mau melahirkan itu sambil meringis menahan sakitnya .
" Kalian keluar dan biarkan dokter ini membantu nyonya melahirkan ." ucap seorang wanita sambil mendorong tubuh salah satu dari mereka .
" Tapi komandan memerintahkan kami berjaga disini ." tolak pria berjambang lebat .
" Berjaga diluarkan sama saja , dan jika terjadi sesuatu saya akan memanggil anda ." wanita mengenakan gamis dan hijab lebar itu kembali mendorong pria berjambang itu .
Akhirnya 4 orang pria berwajah sangar dan bertubuh besar itu keluar dari ruangan .
Namun tak lama dua orang pria tadi masuk kembali dan berjaga di pintu sambil.memperhatikan Dini dan kedua rekannya bekerja .
****
Setelah selesai menolong wanita itu Dini dan kedua rekannya kembali diseret ke sebuah kamar yang pengap dan sedikit gelap, hanya sebuah lubang angin kecil berada tinggi ditembok kusam itu .
Dini terduduk dan menyandarkan diri di dinding yang dingin, disebelahnya Wulan terduduk sembari memeluk kedua lututnya sementara Ranty merebahkan diri diatas matras tipis tempat mereka beristirahat ,
Mereka benar-benar lelah, karena harus menangani anggota milisi yang terluka dan terakhir membantu persalinan di bawah todongan senjata api yang siap meledakkan kepala mereka kapan saja.
Sementara rekan pria termasuk prajurit yang bersama mereka nasibnya lebih tragis lagi, karena kerab disiksa saat tidak ingin melakukan hal yang mereka perintahkan.
Sayup sayup terdengar suara tembakan dari luar gedung dan langkah kaki berlarian .
Suara gaduh itu membuat Dini dan kedua rekannya bersikap waspada .
Dua orang pria masuk kekamar dimana Dini , Wulan dan Ranty disekap lalu menarik ketiganya menuju lorong gelap . Saat sampai di lorong yang memiliki tiga arah mereka berpisah disalah satu lorong dimana Ranty dan Wulan ditarik keluar oleh pria besar lainnya .
" Berhenti disitu , atau saya tembak ." suara bariton menghentikan langkah mereka . Dua orang pria bertubuh besar yang menarik Dini berhenti lalu berbalik menghadap suara tadi .
" Jangam bermain dengan kami , kamu hanya orang asing disini ." bentak pria bertubuh besar dengan rambut panjangnya .
" Saya tidak ingin bermain tapi saya hanya ingin mengambil milik saya , wanita itu adalah milik saya ." suara bariton itu terdengar lagi dan samar - samar Dini dapat mengingat siapa pemilik suara itu .
" Guntur ." gumam Dini sembari memicingkan matanya , karena kondisi yang minim penerangan membuat Dini tak dapat melihat jelas pria didepannya yang mengenakan masker hitam.
" Oh kamu mau wanita ini , apa anda tidak takut dengan komandan kami ?." ancam pria satunya lagi sembari meletakkan sebuah belati dileher Dini dan mencengkeram tangan Dini erat sementara seutas kain menutup mulut wanita cantik itu.
Dini merasa takjub, ternyata selain fasih berbahasa Inggris sang kapten tampan ini juga fasih berbahasa Italia dan Arab.
" Saya tak perduli siapa komandanmu saya hanya perduli dengam wanita ini , lagi pula kalian akan mendapat hukumam bila berani menyakiti pasukan keamanan dunia juga tim medis yang sedang bertugas ." Guntur tidak menurunkan suara juga pistol ditangan , matanya menatap Dini tajam , ada luka disana saat menyaksikan wanita yang dicintainya menahan sakit .
Dan Dini hanya bisa menatap Guntur dengan tatapan takutnya membuat hati Guntur mencelos saat melihat linangan airmata dikedua mata indah kekasihnya.
" Hei cepatlah , komandan menunggu kalian , bawa wanita itu ." teriak seseorang dari arah belakang , membuat dua pria yang membawa Dini ikut berbalik kearah pria yang baru datang itu .
" Tinggalkan wanita itu ."teriak Guntur nyaring , dan dibalas dengan tembakan pistol kearahnya .
Guntur mengejar dua pria itu dan menyerangnya dengan pukulan dan tendangannya , perkelahian tak imbang .
Saat kedua pria itu lengah , Guntur berlari dan menarik Dini hingga terjatuh , lalu dengan cepat Guntur menarik Dini berlari kearah celah sempit yang ada disisi lorong itu .
Tembakan membabi buta menghujani mereka , Guntur melindungi tubuh Dini yang menempel didinding .
Posisi mereka sangat dekat hingga mereka bisa mendengar detak jantung mereka dengan sangat jelas .
Bahkan Dini dapat mencium aroma maskulin yang biasa digunakan Guntur .
Dikesempatan tersebut digunakan Guntur untuk melepas ikatan pada mulut juga kedua tangan kekasihnya lalu berkata setengah berbisik, " untunglah aku masih bisa melihatmu, jangan sayang, aku datang untuk membawamu juga lainnya pulang ."
Dini mengangguk dan memeluk Guntur dengan erat.
Setelah dirasa sedikit aman , Guntur kembali berkata pada Dini, " kamu siap sayang? Kita keluar sekarang ! Jangan lepas tanganmu dariku. "
Dini mengangguk dan membalas genggaman tangan Guntur erat.
Guntur mengandeng tangan Dini sambil membawanya terus berjalan menyusuri lorong sempit itu , sementara tangan yang satunya lagi berusaha membalas tembakan dari lawan yang semakin banyak .
" Kapten monitor ." terdengar suara Devian di alat komunikasi yang menempel ditelingan Guntur .
" Ya ada apa ? ."
" Semua sandera sudah bisa kami bawa keluar dari gedung , kami dapat bantuan dari milisi yang memihak pemerintah ."
" Baiklah pastikan semua sandera aman , pergilah dulu temui saya dipinggir hutan sebelah barat ."
" Bagaimana dengan Dokter Dini apa anda menemukannya ?."
" Ya ! saat ini Dokter Dini bersama saya ."
" Baik Kapten , dipahami ."
Lalu Guntur kembali menggandeng Dini untuk menyusuri lorong yang ada didepannya , suara tembakan yang sedari tadi ditujukan kepadanya dan Dini sudah tidak terdengar lagi.
Mereka tiba didepan pintu kayu yang tampak lama tidak pernah dibuka , Guntur berusaha membukanya dengan cara mendobraknya sekuat tenaga .
Sementara Dini berdiri di belakangnya masih dengan wajah takut dan khawatir ditambah rasa nyeri dipergelangan kaki kirinya yang terkilir saat dia diseret oleh gerombolan milisi sehari yang lalu .
Membutuhkan cukup tenaga dan waktu untuk bisa membuka pintu kayu itu hingga akhirnya pintu itu pun terbuka menampilkan pemandangan pohon pohon besar yang sangat rapat hingga menampilkan bayangan yang menyeramkan .
" Ayo kita harus melewati hutan ini sampai menemukan jalan tanah ." ajak Guntur sembari menarik tangan Dini untuk mengikutinya .
Baru 100 m, mereka berjalan sembari sesekali berlari dan merunduk menghindari ranting pohon yang menghalangi jalan
Tiba-tiba terdengar suara tenbakan ditengah langkah kaki orang berlari.
Guntur segera menarik tubuh Dini untuk berlindung di balik tanaman perdu, berjongkok sembari memeluk Dini yang ketakutan sementara matanya waspada mengawasi sekeliling dan orang-orang yang akan melewati mereka.
" Saya yakin dokter itu belum jauh. Cepat kejar. "
" Bagaimana dengan ketua. "
" Ketua sudah berhasil menyelamatkan diri ."
" Biarkan saja diurus sama tentara asing itu, ketua masih punya banyak wanita untuk melayaninya, dan salah satunya dokter cantik itu. "
Guntur hampir saja berdiri untuk menyerang orang-orang yang menyebut kekasihnya dengan sangat rendah itu, kalau saja tidak ada Dini yang memeluknya erat .
Guntur hanya bisa menghela nafasnya kasar, lalu semakin merapatkan dirinya dan Dini ke pepohonan rimbun itu.
Pakaian berwarna hitam yang dikenakan Guntur dan tubuhnya yang kekar dapat menutupi dengan sempurna sosok Dini yang berada dalam dekapannya.
Beberapa saat mereka hatus bertahan dalam posisi berlutut ditanah hingga suasana kembali sunyi, baru Guntur bangun dan mengajak Dini untuk kembali berlari.
Namun baru beberapa meter Dini merasa dirinya sudah tak kuat lagi berlari dan menahan sakit dipergelangan kakinya , dia berhenti dan terduduk diatas tanah berumput tebal , Guntur yang merasa genggaman tangan Dini terlepas langsung berhenti dan menoleh kebelakang .
" Ada apa ? ." tanyanya dengan wajah khawatir , ditelitinya wajah Dini setiap inchinya , dia bisa melihat Dini menahan sakit dengan peluh yang membasahi wajah pucatnya .
" Apa ada yang terluka ?."
Dini mengangguk , lalu menunjuk kekaki kirinya .
" Sepertinya aku terkilir ."
Guntur lebih mendekat kearah Dini , lalu mengangkat kaki Dini dan meletakkan di pangkuannya , membuka sepatu converse gadis itu , melalui cahaya dari senter kecil di tangannya Guntur dapat melihat pergelangan kaki kiri Dini bengkak .
" Pegang lenganku kuat dan usahakan suaramu tidak terdengar. "
Dini mengangguk lalu memeluk lengan kekar Guntur dan menempelkan wajahnya ke bahu kokoh pria itu.
Guntur memijat kaki Dini perlahan lalu tiba- tiba menariknya kuat membuat Dini berteriak kesakitan sampai mengeluarkan airmata .
" Maaf menyakitimu , tapi setelah ini tidak akan sakit lagi ." ucap Guntur dengan wajah menyesal , dia mengelus kepala Dini lembut lalu menghapus airmata dipipi gadis itu.
" Ngga apa mas , tapi sepertinya mas harus memapah aku , karena aku ngga kuat berjalan sendiri ."
" Tak masalah ." sahut Guntur tersenyum lalu melepas sepatu dikaki kanan Dini , dan memijat kaki gadis itu sebentar .
" Ayo kita harus kembali kemarkas , pasukam sudah menunggu kita ." Guntur memposisikan tubuhnya berjongkok didepan Dini , Dini yang melihat itu merasa heran , pria ini mengajaknya pergi tapi kenapa malah berjongkok .
" Ayo , naiklah kepunggungku ." suara bariton itu terdengar dengan nada memerintah .
Dini tampak ragu menuruti permintaan Guntur , jujur dia sangat malu .
" Naiklah , hari semakin malam , atau kamu mau aku gendong didepan ala bridal style ?." goda Guntur membuat Dini semakin merasa malu , " kalau itu maumu baiklah ."
Lalu membalikkan badannya dan memposisikan kedua tangannya untuk mengangkat Dini , namun Dini segera menghindar .
" Hmmm gedong belakang saja ." ucap Dini akhirnya , Guntur tersenyum lalu kembali berjongkok , dengan perlahan Dini naik kepunggung lebar dan kokoh milik Guntur .
" Satu keputusan yang tepat ." ucap Guntur setelah Dini berada dipunggungnya .
" Maksud mas apa ?." tanya Dini tidak mengerti , lengannya memeluk bahu Guntur erat , takut jatuh tentu saja .
" Iya begitulah , coba tadi kau memilih kugendong didepan , aku ngga tau apakah aku mampu menahan keinginanku untuk tidak menciummu ." jawaban Guntur sukses membuat Dini merasakan panas diwajahnya mulai menjalar bisa dipastikan wajahnya saat ini pasti sudah memerah karena malu .
" Modusmu luar biasa kapten ." sahut Dini , Guntur hanya tertawa .
Guntur membawa Dini dalam gendongannya menyusuri jalan tanah yang hampir tertutup semak .
Sesekali pria itu harus melompati genangan air dan dahan pohon yang menghalangi jalan mereka.
" Apa aku tidak berat ?." tanya Dini saat dilihatnya Guntur sudah berjalan kurang lebih sepanjang 500 m namun belum ada berhenti , seakan dia tidak membawa apa-apa ditubuhnya.
" Berat dari mana , tubuhmu sangat ringan nona ! Atau karena aku menggendongnya dengan cinta ya jadi terasa ringan ."
" Gombal receh mulai lagi ." Dini tak dapat menahan senyumnya di tariknya telinga Guntur gemes .
" Ya kuping mas kok dijewer sich kayak bocah aja ."
" Biarin abis mas resek , dalam kondisi gini masih juga ngegombal ."
" Gombalin pacar sendiri siapa yang melarang , sayang . Apalagi disini hanya kita berdua. Kalau pun mas menciumimu tidak salah kan. "
Dini kembali menarik telinga Guntur membuat pria itu mengaduh kesakitan, namun hanya sesaat karena setelah itu senyum menghiasi bibirnya karena Dini kembali memeluk dan meletakkan kepala di bahunya .
" Kau berhutang penjelasan padaku kenapa hal ini sampai terjadi ."
" Iya ."
" Dan asal kamu tau sayang , aku sangat khawatir dan marah hanya karena memikirkanmu ."
" Iya aku salah , maafin aku ya mas ."
Guntur mengangguk dan kembali terdengar Dini yang berkata dengan suara sedikit bergetar.
" Aku juga takut sekali mas , sempat terpikir olehku aku ngga bakalan bisa kembali bertemu denganmu , dua hari disekap dalam kamar yang pengap dan gelap hampir membuatku frustasi, belum perlakuan tak pantas mereka yang berusaha menganggu kami dan perlakuan kasar mereka kepada teman-teman prajurit dan medis lainnya ."
" Aku paham , tolong jadikan ini satu pelajaran , jangan sampai terulang lagi ."
" Iya , aku janji mas, dan minta maaf soal ini, jujur aku takut sekali mas ."
" Aku juga takut, takut kehilangan kamu, tapi sekarang kamu jangan takut baby , ada aku disampingmu, dan jangan lagi pergi tanpa aku atau atas seizinku ." sahut Guntur sembari menoleh kearah belakang dan kebetulan Dini pun sedang melihat kearahnya .
Senyum merekah dibibir keduanya dan tak terasa mereka sudah sampai dipinggir hutan , Guntur segera melangkahkan kakinya semakin cepat kearah mobil yang sudah menunggu mereka .
" Bagaimana, semua sudah bisa diselamatkan? " tanya Guntur begitu sampai di depan anak buahnya yang bersiaga.
Devian langsung menjawab pertanyaan Guntur dengan tegas, " Sudah Kapt, dan kami siap kembali kemarkas. "
" Baik, tetap waspada. Karena kemungkinan besar mereka tidak melepas kita dengan mudah. "
" Baik kapt. "
" Usahakan korban penyanderaaan tidak berkumpul dalam satu mobil yang sama. "
" Siap. Kapt. "
Guntur mengangguk, lalu mendudukkan Dini di kursi tengah dan membungkus tubuh gadis itu dengan selimut sebelum dirinya duduk disebelahnya.
" Perintahkan mobil yang dikendarain Devian untuk memimpin jalan , kita berada dibelakang mereka."
" Siap Kapt.' jawab anak buahnya yang bertugas mengendarai mobil.
Selanjutnya iring - iringan empat mobil double cabin itu pun meninggalkan kawasan hutan lebat itu dengan cepat.
Guntur masih memeluk Dini hingga gadis itu tertidur karena lelah dan rasa takutnya.
Hingga akhirnya mereka sampai dibarak dan disambut dengan suka cita oleh semua rekan medis juga prajurit disana.
Guntur mengendong Dini dan mendudukkan gadis itu di brankar walau gadis itu sempat menolak, namun Guntur tetap memaksa menggendong kekasihnya itu.
Dan dia sendiri yang mengobati dan membungkus pergelangan kaki dan pelipis Dini yang terluka walau tenaga medis lainnya siap menangani Dini.
" Biar aku menyelesaikan sisanya mas. " pinta Dini pada Guntur yang tampak serius mengobati luka ditubuhnya.
" Aku tidak mengizinkan ," jawab pria itu datar , setelah membungkus kaki Dini dengan kain elastis, Guntur menegakkan tubuhnya dan menatap kewajah cantik kekasihnya yang sudah tidak terlalu pucat lagi.
" Bagian mana lagi yang terasa nyeri?"
Dini tidak menjawab, gadis itu hanya terrunduk dan berkata lirih, " biar aku saja yang menanganinya mas. "
" Katakan dimana? "
Dini akhirnya mengalah, dengan ragu ditunjuknya punggung kanannya yang memang terasa nyeri."Disini mas, terasa nyeri. "
Guntur memperhatikan sejenak lalu membuka tirai untuk memanggil seorang perawat wanita untuk membantunya.
" Turunkan sedikit kerah bajumu . " perintah Guntur pada Dini.
Dan ekspresi wajah Guntur mengeras saat melihat luka lebam di punggung atas sebelah kanan Dini .
Hatinya terasa sakit melihat luka ditubuh kekasihnya, dengan perlahan dioleskannya obat untuk mengurangi nyeri.
"Maafkan aku, aku lalai dalam hal menjagamu. " ucap Guntur dengan suara pelan namun masih bisa di dengar Dini.
" Tidak mas , ini bukan salahnya mas . " jawab Dini sama pelannya sementara perawat yang membantunya hanya diam dan memerhatikan keduanya karena perawat itu tidak terlalu paham dengan bahasa Indonesia.
" Aku janji , hal ini tidak akan terjadi lagi. "
Dini mengangguk lalu kembali merapikan pakaiannya setelah Guntur selesai mengobati luka di punggungnya.
" Istirahatlah. Setelah segar kembali aku tunggu di kantor untuk menerima laporan kronologis kejadian. " ucap Guntur setelah mengantar Dini ketendanya.
Dini hanya mengangguk, sepeninggalan Guntur teman-teman medis langsung memeluknya dengan rasa senang.
" Alhamdulillah, akhirnya anda kembali dok. " ucap Icha dan Camelia sembari terisak.
" Sudah saya bilang, selama pak Kapten ada disisi bu dokter, maka dokter cantik kita ini akan baik-baik saja. " ucap dokter Irvandi sembari memeluk Dini, " Selamat datang kembali teman."
" Terima kasih. " jawab Dini merasa terharu atas perhatian rekan sejawatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Salminah Burhanuddin
bagaimana kl Dini disandranya lm...pak Kapt bisa jd...
2022-03-07
1
Rienandha Fuji
pen cepet halal😁
2021-08-08
0
Retno Udi Lestari
sesuatu thorr...
2021-07-30
1