Jam 5.30 pagi Priandini sudah rapi dengan kostum olahraganya , training hitam , kaos jersey club idolanya the blues Chealse dan sepatu sneakers putih .
Menaiki sepedanya Priandini mulai mengayuh memutari komplek perumahan dimana dia tinggal menuju taman olahraga yang berada di depan komplek .
Sejak resmi menyandang gelar dokter 1 tahun yang lalu Priandini memutuskan untuk memilih tinggal sendiri terpisah dari orangtuanya .
Dengan uang tabungan dia selama kuliah dan bekerja paruh waktu di kafe milik teman SMAnya akhirnya Priandini bisa memiliki rumah type 80 bergaya minimalis .
Jauh dari kesan mewah seperti rumah orangtuanya di Pondok Indah .
Walau kecil dan berada dikomplek perumahan biasa namun Priandini sangat betah , selain suasananya yang nyaman , tetangga yang jauh dari kata julid juga dia nga harus mendengar keluhan , umpatan juga juga sindiran yang setiap hari dia dengar selama tinggal di rumah orangtuanya .
Priandini menghentikan sepedanya di gerobak penjual susu kedelai ,setiap minggu pagi dia selalu menyempatkan diri untuk membeli susu kedelai buatan tangan bapak paruh baya yang sangat ramah .
"pagi pak man ." sapa Priandini sembari menyetandartkan sepedanya didekat bangku beton sebelah gerobak susu kedelai .
" pagi nak Priandinj , sudah berapa putaran bersepedanya ?." sahut ramah bapak penjual susu kedelai itu , sembari melayani pembeli .
"cuman 3 putaran aja pak , lumayan dapat keringat dikit ." sahut Priandinj sembari tertawa kecil menampilkan lesung pipinya .
Bapak penjual susu kedelai itu pun ikut tertawa , dia senang dengan kehadiran Priandinj di kiosnya karena dengan begitu dia mendapat teman ngobrol yang asik , asik karena Priandini selalu memberi tips - tips sehat seputar kesehatan diri maupun makanan sehat .
"seperti biasa ya pak ." ujar Priandini lagi sembari membuka ponselnya . Ada puluhan chat di ponselnya baik pribadi maupun grup .
" ini nak , susu kedelai original seperti biasa ." bapak penjual itu menyodorkan segelas besar susu kedelai kearah Priandini, lalu duduk dikursi plastik di depan Priandini.
" nga dinas nak ." tanya bapak itu sembari memperhatikan Priandini meminum susu kedelainya .
" dinas sore pak ." sahut Priandini setelah menghabiskan separuh susu digelasnya .
" nak dini , bapak kok penasaran ya , ponakan bapak yang bekerja di Cikarang sudah kena stroke padahal usianya baru 30 tahun ." bapak penjual yang bernama samsu itu bertanya dengan penuh minat .
Priandini tersenyum mendengar pertanyaan pak samsu , dia senang berkunjung ke gerobak susu kedelai pak Samsu karna selalu ada saja pertanyaan yang membuatnya rajin belajar dan menambah wawasan . Selain itu lapak jualan pak Samsu selalu bisa menjadi tempat sosialisasi tentang kesehatan kepada pengunjung yang ada disekitar situ.
Pukul 8.30 pagi Priandini pamit pulang karena siang nanti dia ada janji ngumpul dengan sahabat cantiknya semasa SMA dulu .
Baru selesai mandi , ponsel yang berada diatas meja kopi berbunyi .
Ada 5 kali panggilan dari pemanggil yang sama .
Dengan malas Priandini menjawab telp itu , diaturnya nada suaranya agar tidak terdengar dingin.
" ya ma ." sahut Priandini menjawab panggilan itu ,suara wanita diseberang nampak kesal karena Priandini baru menjawab panggilannya .
"nanti malam acara adikmu , kamu harus hadir dan jam 10 pagi ini papamu ingin kamu kerumah ." ujar mama setelah mengomel panjang lebar seperti biasa .
" maaf ma , Dini hari ini dinas malam ,tapi jam 10 pagi ini Dini kerumah ." sahut Priandini dengan nada biasa , walau hatinya kembali sakit saat mengingat acara apa yang dimaksute mamanya .
Nama Dini adalah panggilan bagi Priandini Aprillia Larasati , semua keluarganya memanggil dengan nama itu karena lebih mudah dalam pengucapannya kecuali sepupunya yang seumuran atau lebih muda dari dirinya akan tetap memanggil dengan nama depannya .
Dini hanya ber oh ah ria saja ketika mamanya masih betah bercerita tentang acara nanti malam. Diliriknya jam dinding diatas TV flat udah menunjukkan pukul 9.20 itu berarti sudah 30 menit mamanya mengomel dan bercerita entah apa , sudah saatnya memutus pembicaraan.
" ma sudah jam 9.20 , Dini mau siap-siap kerumah ." Dini mengatakan dengan nada suara datar , dia nga perduli mamanya bicara apa dan langsung menutup telp dan menuju dapur membuat sarapan .
****
Keadaan rumah papanya tampak sepi tidak ada kesibukan sebagaimana halnya orang yang mau ada tamu besar .
Dini memarkir motor meticnya di garasi , dia langsung berjalan kepintu samping yang langsung keruang keluarga . Dini nga perlu memindai keadaan rumah dia cukup menuju kamar dimana papanya berada .
Dibukanya pintu kayu berwarna putih itu perlahan , dilongokkannya kepalanya untuk melihat kondisi didalam kamar , sunyi itu kesan yang didapat .
Dini memasuki kamar tidur yang tidak terlalu besar itu , berjalan perlahan langsung menuju balkon tempat biasa papanya duduk menikmati matahari pagi .
"pa , mataharinya sudah mulai terik , lebih baik papa masuk ." pria berusia awal 60an itu menoleh lalu tersenyum , lalu bangun dari duduknya, Dini membantu papanya dan mendudukkannya diatas kasur .
" bagaimana keadaan papa hari ini ?." tanya Dini sembari mengeluarkan alat tensi dan stateskop dari dalam tas ransel kulit warna hitamnya .
"papa sering mual saat pagi hari , dan kalau malam sering keringat dingin ." sahut pria paruh baya itu sembari pandangannya tak lepas dari wajah putrinya ini .
" tekanan darah papa tinggi pagi ini , dan nafas papa juga sedikit sesak ." Dini membantu papanya bangun dan menyandarkannya kekepala tempat tidur mengganjal punggungnya dengan bantal .
" mual yang papa rasa karena ginjal papa yang memang sudah nga bisa berfungsi dengan baik , papa harus menjalani cuci darah dan untuk keringat dingin itu normal saat kerja jantung papa dipacu lebih cepat , apa yang membuat papa banyak berpikir ? ," tanya Dini lembut sembari memijit kaki papanya yang terlihat bengkak .
" Din , apakah kamu baik - baik saja ?." tanya papa Mahesa sembari memandang putrinya yang tampak menunduk , dia tau itu pertanyaan konyol yang nga perlu ditanyakan .
Siapa yang akan baik-baik saja ketika pria yang dicintai selama 3 tahun akhirnya pergi untuk menikah dengan adik kandungnya . Dan Mahesa merasa gagal sebagai seorang ayah untuk putrinya .
" Dini baik-baik saja pa , dan mulai bulan depan Dini sudah mulai mengambil ujian untuk dokter spesialis neurologi pa , papa nga perlu khawatirin dini , justru papa harus tetap bahagia agar terus bisa sehat hingga akhirnya Dini mendapat pria yang benar-benar jodoh dini ." ketika kalimat itu terucap ada rasa sakit yang teramat dalam dihatinya , tapi dia berusaha untuk bersikap biasa dan tetap tersenyum , agar papanya tidak larut dalam rasa bersalahnya .
Papa Mahesa tersenyum , ada airmata yang jatuh dipipi tuanya , Dini beringsut mendekat kepapanya dengan ibu jarinya dia menghapus airmata itu .
" papa jangan menangis , tidak ada kesalahan yang papa buat , ini semua sudah jalan cerita dari takdir dini , dini hanya minta papa selalu sehat dab doain dini untuk tetap bisa hidup dengam bahagia ." tampa bisa ditahan dada Dini yang sesak akhirnya pecah dengan turunnya airmata dipipinya .
Papa Mahesa memeluk anak gadisnya dengan erat , dia nga perduli dengan pandangan seorang laki-laki tak boleh menangis , ya dia menangis kali ini , tangis yang sudah ditahannya lama .
"maafkan papa nak , kalau saja papa lebih tegas dan berani tentu kamu nga akan mengalah untuk yang kedua kalinya ." Papa Mahesa menangis dipundak Dini , gadis itu menepuk - nepuk pundak papanya lembut .
Setelah saling melepas tangis , Priandini berusaha mengajak papanya bercerita apa saja agar papanya sedikit bisa teralihkan dari rasa bersalahnya .
" Danu mana pa ?." tanya Priamdini basa basi walau sebenarnya dia sudah hafal jadwal setiap minggu adiknya klo hari minggu pasti ngumpul dengan teman organisasinya dikampus .
"Danu , dia pasti ada dikampus , entahlah anak itu sejak kamu keluar dari rumah , dia juga jadi jarang dirumah lebih banyak ngumpul dengan teman2 kampusnya." sahut papa sedikit murung .
Ya diusianya yang hampir senja Mahesa harus merasakan hidup kesepian ,istrinya sibuk dengan kegiatan sosialitanya , anak sulungnya Brama sudah menikah dan tinggal di kota lain karena usahanya disana , anak keduanya Priandini memilih tinggal terpisah dengan alasan ingin mandiri , Prahesti anak ketiganya sibuk dengan urusannya sendiri , sementara Danu sibungsu pun lebih nyaman berada dikampus daripada di rumah sendiri .
Suara pintu kamar terbuka ,masuklah seorang wanita paruh baya ,dia adalah tante Miranti adik bungsu pak Mahesa yang rumahnya hanya beda 1 blok dari rumahnya .
" ehh ada dini , sudah lama ?." sapa wanita usia 40an itu dengan senyum manisnya .
" Lumayan tante ," Priandini menjawab sembari berdiri menyalami tante Miranti , lalu duduk kembali di sofa bersama Papanya .
" Acara nanti malam hadirkan din ?." tanya Tante Miranti sembari meletakkan teh hangat untuk papa keatas meja kopi .
" Nggak tan , Dini tugas sore ." sahut Dini singkat , dia tersenyum dalam hati memgingat bagaimana dia harus merayu Devina teman sekerjanya untuk bersedia tukar shif , Devina yang keukeuh tidak mau tukar karna dia satu shif dengan Ryan dokter muda tampan bertubuh jangkung incaran Devina . Dini meluluhkan Devina dengan makan siang di kafe tempat biasa mereka ngumpul .
" Bukan karna menghindar kan ?." selidik tantenya langsung kematanya .
Priandini sejenak kaget namun dia berusaha untuk tetap bersikap wajar.
" Ngga lah tan , buat apa menghindar toh sudah terjadi ." sahut Dini dengan senyum manisnya .
" Kamu selalu bisa membodohi kami dengan senyum dan sikap wajarmu , tante paham kok ." Miranti menghela nafas sembari menepuk pundak Priandini pelan .
Dia sangat hafal dengan sifat ponakannya ini yang keras kepala namun humble dan tegar , jarang sekali Miranti melihat ponakannya ini menangis mulai dia kecil dulu hingga sekarang .
" Pa , tante maaf Dini mau pulang , ada janji dengan teman jam 1 siang ini ." Priandini berkata sembari berdiri ,sebelumnya mengeluarkan
Tas plastik putih kecil bertuliskan nama apotik ternama dari dalam tasnya .
" ini obat rutin papa ,tolong tante bisa kasih tau sama mang asep untuk tidak telat mengingatkan papa minum obat ."
" baiklah , nanti tante sampaikan ." sahut Miranti sembari menerima plastik obat itu dati tangan Priandini .
Priandini lalu berpamitan pulang karena dia ada janji dengan sahabatnya .
Sepulang dari rumah papanya Priandini langsung melajukan motornya menuju kafe tempat biasa dia berkumpul dengan kedua sahabatnya .
Tampak Rianti dan Syafa sudah duduk manis dikursi yang biasa mereka duduki .
" Kok lama kemana aja ?." tanya Rianti saat Dini baru meletakkan pantatnya dikursi , dia menatap Rianti dengan cuek.
" Tadi mampir kerumah papa , biasa cek up rutin ." sahut Dini sembari memanggil pelayan untuk memesan makanannya .
" Trus ntar malam kamu hadir diacara adekmu ." Shafa simata segaris mencondongkan wajahnya kearah Dini , Dini mengangguk .
" Gila loe , berarti loe kudu melindungi hati loe dengan baju besi biar nga hancur berantakan ." sahut Rianti dengan wajah seriusnya .
" Emang hati gue tentara Mongol yang kudu pake baju jirah ." sahut Dini sembari menonyor kening Rianti .
" Lagian buat apa aku nangisi laki-laki tak punya hati macam itu , stock cowok ganteng dan baik masih banyak diluar ." ucapan Dini di iyakan kedua sahabatnya .
" Sebenernya yang nggak punya hati itu adek loe si Hesti, udah tau Rendy kekasih kakaknya ehh masih diembat juga ." sungut Rianti kesal .
" Kalau menurut gue dua-duanya sama aja gebluknya , walau digoda ama Hesti semestinya si Rendy kan bisa menghindar dan bilang secara tegas kalau dia pacarnya kakaknya , udah beres ." Syafa tak kalah sengitnya .
" Udah - udah kenapa malah bahas itu sich , bikin nggak mood makan aja ." lerai Dini sembari menyendok nasi rawon kemulutnya .
" Eh din , bang Ronald punya temen cogan loh , aku pengen ngenalin kamu kedia ." ujar Rianti disela aksi makan steaknya .
" Emang itu perlu ?." sahut Dini tampa minat .
" Ya bagiku perlu , sapa tau kamu bisa cepet move on dari sibrengsek Rendy ."
" Ntar aja dech klo aku udah perlu , saat ini aku cuman mau fokus ama karier dan kerjaan aku aja ."
" Kamu jadi ngambil Spesialis neurologi Din ?." tanya Shafa , Dini mengangguk dia sudah menghabiskan semangkuk besar rawon .
" Emang kamu nggak cape apa belajar terus Din ?."
" Nggalah Fa , belajar itu wajib bahkan sampai kita menjelang ajal , kan ada kalimat Tuntutlah ilmu sampai kenegeri cina , Belajarlah mulai dalam buaian hingga mendekati ajal ." sahut Dini enteng membuat kedua sahabatnya meringis mendengar jawabannya .
" Belajar terus lalu cari jodohnya kapan ." sela Rianti sedikit kesal , menghadapi gadis maniak belajar dan kerja seperti Priandini memang butuh kesabaran ekstra kalau tak mau nerima kuliah umum darinya .
" Jodoh akan datang dengan sendirinya asal kita yakin pada keputusan Allah ." sahut Dini membuat Rianti menarik nafas frustasi .
Drrrrtt drrrtt
Ponsel Dini berbunyi sebuah notif masuk keponselnya .
Dr Eza , SpB
Din bisa segera kerumah sakit segera
Ada kondisi urgent .
Bunyi pesan dari rekan sejawatnya cukup membuat Dini segera berdiri dari duduknya .
" Sorry my ladies , ada panggilan darurat dari Rumah Sakit , aku pergi dulu ya ." ucap Dini terburu-buru dikeluarkannya 3 lembar uang seratus ribu dan diletakkan ditangan Shafa .
" Oke hati-hati Din ." sahut Rianti dan Shafa bersamaan .
Karena terburu - buru Dini sampai tak melihat arah didepannya , alhasil dia menabrak seorang pria yang memegang gelas berisi capuccino ditangannya .
" Asthafirullah , maaf mas ! Saya nggak sengaja ." seru Dini kaget , dadanya terasa hangat dan basah ditundukkannya kepalanya dan dia melihat kemeja biru yang dipakainya kotor karena kena tumpahan capuccino .
" Ngga apa nona , saya juga minta maaf ." sahut pria bertubuh tegap itu .
" Bajumu kotor nona ."
" oh ngga apa. Saya pake jaket kok , maaf saya buru-buru ." sahut Dini sembari menundukkan kepala , pria itu membalasnya dengan sopan dan menatap Dini yang sedikit berlari menuju parkiran .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Nurhayati Nia
pasti pa tentara kann
2025-03-30
0
Nabil abshor
pak loreng tuuh,,,,
2023-01-28
0
vidyaEng
dasar jodoh y pasti ad aj jln buat bertemu lg😃
2022-11-19
0