Dulu kita pernah saling sayang dan sekarang hanya sebatas saling kenal.
Percuma menyirami tanaman yang sudah mati, ihklaskan, perasaannya kepadamu sudah mati.
---------------------------------------------------------
Kenapa harus ada pertemuan setelah perpisahan , kenapa harus membuka kembali luka yang sudah mulai sembuh , kenapa harus kembali mendatangkan sakit dan airmata disaat hati ini sudah mulai bisa tersenyum dan tertawa lepas dengan rasa penuh bahagia .
Pria tampan yang sempat mengisi hari - harinya dan sempat merangkai rencana hidup bersama dalam ikrar rumah tangga , hubungan manis selama 2 tahun berjalan dengan baik-baik saja hingga sebuah kejadian yang menghasilkan sebuah keputusan membuat semua mimpinya akan cinta masa depan yang manis hancur lebur seperti kota hirosima yang terkena bom atom tentara sekutu.
Pria tampan yang berkarier sebagai Dokter Bedah Orthopedy lulusan Havard skaligus Direktur Rumah Sakit itu tampak gelisah di kursinya , diambilnya sebatang rokok dari dalam saku jasnya .
" Kamu merokok ? ." tanya Dini menatap pria itu dengan tatapan penuh tanya .
" Iya , aku merokok sejak kamu pergi ke Lebanon ." jawab Rendy Wijaya sembari menyalakan rokoknya , namun baru saja ia ingin mengepulkan asapnya Dini sudah merampas rokok itu dan membuangnya begitu saja .
" Aku ngga suka ada yang merokok didepanku , aku ngga mau terkena kanker paru-paru gara menghirup asap rokokmu ." ucap Dini ketus sebelum Randy berpikiran lain atas sikapnya tadi .
" Hampir saja aku berpikir , kau tak ingin aku mati karna kamu masih mencintaiku ." sahut Rendy dengan smirk dibibirnya .
" Ngimpi ." sungut Dini sembari membuang pandangannya keluar menatap langit dikota Tripoli yang sudah mulai gelap .
" Ada acara apa kamu kemari ?." tanya Dini setelah sekian lama mereka hanya diam .
Rendy meletakkan cangkir kopinya , lalu menatap wajah wanita cantik yang masih dicintainya itu .
" Ada pertemuan bisnis dan kebetulan kata Guntur kalian ada acara juga di sini jadi kenapa tidak kumanfaatkan untuk bertemu denganmu ."
" Guntur ? Oh my Good , aku lupa bukannya Guntur itu kakak sepupu Rendy , dan pantas saja pria itu tadi bersikap biasa saat bertemu dengan Rendy , rupanya sebelum ini mereka sudah ada komunikasi , sialan awas loe Guntur ." umpat Dini dalam hati.
" Oh ." hanya kata itu yang keluar dari mulut Dini , dan gadis itu kembali diam .
" Dini , aku sekali lagi minta maaf kekamu , asal kamu tau Din , aku masih sangat mencintaimu dan aku tau kamu juga masih menyimpan rasa itu , matamu tak bisa berbohong Dini ." Rendy berkata dengan pelan namun jelas , dan memang apa yang dikatanya , didalam hati yang terdalam Dini masih menyimpan rasa terhadap Rendy namun hanya sekedar menyimpan saja bukan untuk bisa merasakan kembali .
" Aku ingin kita bisa kembali bersama seperti dulu lagi Din , dan aku pun siap jika kamu memintaku untuk menikahimu ." lanjut Rendy ketika dilihatnya Dini hanya diam .
" Menikah denganmu ? Kau ingin menjadikan aku madumu ? Madu dari adik aku sendiri ? Jangan gila Ren ." akhirnya keluar juga kalimat dari bibir Dini .
" Aku memang sudah gila Din , gila karna mencintaimu , kalau kau tak ingin aku poligami aku bersedia menceraikan Hesti untuk bisa menikahimu ." jawab Rendy sembari menggenggam tangan Dini , Dini berusaha menarik tangannya namun genggaman tangan Rendy sangat erat.
" Kenapa kau memiliki pemikiran seperti ini ? Bukankah kau sudah bahagia hidup bersama Hesti juga anak kalian ? Ingat kalian sudah memiliki anak , apa kamu pengen anakmu menjadi minder karena memiliki orangtua yang berpisah , jangan egois Rendy ."
" Aku tidak egois , aku hanya ingin memperjuangkan cintaku saja pada wanita yang benar-benar aku cintai ."
" Dengan mengorbankan perasaan wanita lain juga keluarganya ."
" Jika itu harus kenapa tidak ."
" Kamu kejam Rendy ,kamu lupa apa hubungan aku dengan Hesti istrimu , kami kakak beradik walau ibu yang melahirkan kami berbeda tapi kami memiliki ayah yang sama , bagaimana aku bisa menghadapi mereka jika aku menuruti keinginanmu , sama saja kamu menebar garam diatas luka yang mulai kering ." Dini sudah mulai terisak , airmatanya sudah jatuh mengalir dipipinya yang mulus .
" Kalau kamu ngga ingin bertemu mereka , aku bisa membawamu tinggal.jauh dari mereka , kita bisa memulai hidup kita ditempat yang baru ."
Dini menghela nafasnya berat , dia menatap nanar pria tampan didepannya , kadang pikiran julidnya akan mendoktrinnya untuk mempertahankan cintanya pada pria didepannya ini , merebut kembali miliknya tentu ngga salahkan , toch cara Hesti mendapatkan Rendy dengan cara menyakitinya dibantu oleh wanita licik yang dia panggil mama .
Namun ketika dia kembali kealam nyata dia harus mensinkronkan antara keinginan dari mimpi indah namun buruknya dengan etika dan hubungan sosial masyarakat maka dia akan memilih mengubur mimpi itu kedalam lubang tampa dasar .
" Bagaimana kabar baby kamu , apa dia seorang pangeran tampan atau putri cantik ." Dini berusaha mengalihkan pemikiran Rendy yang sudah berbau horor .
" Baik ."
Dini terkejut melihat reaksi Rendy yang hanya menjawab Singkat .
" Gile nich orang , dimana-mana orang tuch seneng ketika pernikahannya menghasilkan keturunan , mereka akan antusias menceritakan buah hatinya dengan penuh bahagia , tapi kenapa berbeda banget dengan pria satu ini ." gerutu Dini dalam hati.
" Cewek apa cowok ?." Dini masih berusaha bertanya , namun Rendy masih tetap dalam mode ngga minat.
" Cewek , dan kondisinya sehat juga cantik ."
" Wihhh senengnya ya , sudah punya baby cantik , istri cantik ,karier bagus apalagi yang tidak kau syukuri , seharusnya kamu bahagia , nikmati setiap detik hidupmu dengan senyum , bukannya membuang waktu untuk memikirkan wanita lain ." Ucapan Dini yang keluar begitu saja membuat Rendy menatapnya tajam .
"Jangan menyindirku ! Kamu tuch cewe cantik dan cerdas tapi kenapa ngga peka ya , sudah jelas sumber bahagiaku itu kamu bukan yang lainnya , kau masih saja berusaha menghindar ." balas Rendy sewot ,Dini hanya tersenyum masam .
Tiba - tiba ponselnya berbunyi , sebuah pesan masuk .
Dini langsung membukanya tanpa menghiraukan Rendy yang menatapnya ngga suka .
Kapten Cool
Dimana
Dokter Cantikku
Dikafe hotel lantai 3
Kapten Cool
Ok
" Bagaimana aku tak menghindar jika yang mengejarku pria beristri dan memiliki anak , oh Tuhan aku lebih ikhlas disebut jomblo ngenes daripada pelakor ." ucap Dini acuh .
" Kamu bukan pelakor Dini , kita hanya mewujudkan mimpi kita yang sesungguhnya ." Rendy tetap keukeuh pada pendiriannya .
" Sama aja dodol , apapun alasannya berada di antara pasangan yang sah dan membuat sang suami berpaling itu tetap namanya pelakor , Dr Rendy Wijaya Sp.BO, Phd ." Dini akhirnya benar - benar dibuat kesal oleh pria tampan dan mapan didepannya ini .
Baru saja dia akan berdiri , tiba - tiba sosok pria tegap duduk dikursi sebelahnya ,langsung mencomot chesses Cake dihadapan Dini dengan cueknya , Dini menatapnya dengan kaget sementara pria tadi hanya nyengir .
" Serius banget bicaranya sampe hidangan enak gini ngga dimakan ." ucap Guntur sembari menghabiskan cheese cake itu .
" Kamu belum makan ." tanya Dini takjub saat melihat dengan cueknya Guntur menghabiskan kue juga pasta milik Dini yang baru dimakan sedikit.
" Gimana saya mau makan kalau pasangannya sedang menemani pria lain disini ." sahut Guntur dengan cuek membuat Rendy menatapnya tak suka . Sementara Dini hanya menahan senyumnya saja .
" Jangan main sinteron didepanku Gun ," ucap Rendy dengan nada sinis.
" Bukannya kamu yang lagi syuting FTV , mengejar sang mantan bagus juga judulnya ." sahut Guntur yang sudah menyelesaikan makannya , Dini mengulurkan segelas air putih yang langsung diteguk habis oleh pria tampan nan dingin itu .
" Itu bukan urusanmu , aku hanya ingin menyakinkan wanitaku untuk kembali ." nada sinis Rendy sangat jelas terdengar dan amarah sudah terlihat dimatanya .
" Wanitamu yang mana ? Jangan bilang kau memiliki banyak selingkuhan diluar rumah , ingat kau sudah memiliki seorang istri ."
" Apa perdulimu , itu urusanku bukan urusanmu , jika kau mau kita bisa barter ." ucapan Rendy membuat wajah Guntur menengang .
" Apa maksudmu dengan barter ." nada bicara Guntur datar namun tatapan matanya sangat tajam dan dingin menusuk , Dini menyentuh tangan kanan Guntur berusaha untuk menenangkannya , Tidak lucu rasanya jika kedua pria tampan ini adu jotos hanya karena wanita , bikin malu negara indonesia saja , tidak keren banget dech .
" Aku bisa menyerahkan seluruh sahamku di Rumah Sakit untukmu juga perusahaanku yang lain dan kau bisa melepaskan Dini untuk kembali padaku ."
Kali ini ganti Dini yang meradang karena emosi mendengar semudah itu Rendy menjadikan dirinya sebagai barang bertransaksi .
Guntur mencibir mendengar tawaran yang Rendy sampaikan , lalu berkata dengan nada mengejek.
" Kalau kamu memberiku seluruh saham juga dua bisnismu ke aku trus bagaimana kamu bisa menghidupi dua istri sementara kamu sendiri pengangguran ,mau buka praktek pribadi atau jadi pekerja di rumah sakit, emang cukup untuk membiayain rumah tanggamu. "
" Aku pasti bisa. "
Guntur tersenyum sinis lalu dia membalas genggaman tangan Dini dan menciumnya didepan Rendy yang tentu saja membuat Dini terkejut dan membuat pipinya memerah , sementara Rendy semakin terbakar cemburu melihat sikap Guntur .
" Maaf saya tidak tertarik dengan penawaran anda , katena wanita yang kugenggam tangannya ini tidak bisa dinilai dengan kurs mata uang negara manapun dia terlalu berharga untuk dijadikan alat pertukaran ekonomi ." suara bariton itu semakin terdengar berat dan penuh penekanan , jelas sekali Guntur sedang dalam mode marah juga kesal .
Dia lalu berdiri sembari menarik Dini untuk ikut berdiri dari duduknya , tangan yang satu digunakan untuk mengambil tas Dini yang berada di kursi yang tadi dia duduki .
" Sekali lagi aku minta maaf sebagai seorang pria juga sebagai kakak sepupumu , aku minta jangan kau ganggu Priandini , biarkan dia menikmati kebahagiaannya sendiri , lebih baik kau fokus memberi dan membuat istri dan anakmu bahagia karena merekalah cahaya surgamu sekarang ." ucapan Guntur memang pelan namun masih bisa didengar dengan sangat jelas oleh Rendy yang masih duduk dikursinya .
Guntur merangkul pundak Dini lalu membawanya pergi dari hadapan Rendy ,
Sementara Rendy hanya bisa terduduk memandangi punggung mereka dengan amarah .
*****
" Kalau mau nangis , nangis aja , mau pinjem bahu aku juga ngga apa kok , gratis ngga usah bayar ." ucap Guntur saat mereka berada didalam lift , Dini hanya membalasnya dengan pukulan di lengan kekarnya .
Guntur terkekeh sementara tangannya masih mengenggam tangan Dini erat hingga mereka berada di parkiran .
Guntur membukakan pintu untuk Dini dan menyuruh gadis itu untuk masuk , setelah itu dia berjalan mengitari mobil lalu masuk dan duduk dikursi pengemudi .
Mereka berkendara tampa suara , akhirnya Guntur memarkir mobilnya di sebuah kafe outdoor .
Guntur kembali menggandeng tangan Dini erat , Guntur membawa Dini duduk disofa panjang yang menghadap ke teluk . Kesan santai dan tenang langsung terasa .
Guntur memesan secangkir Qishr dan secangkir Sahlab lalu seporsi Sish Kebab dan Shawarma ( semacam taco berupa roti yang berisikan daging kambing dan rempah - rempah ) .
Dini masih diam memandang laut didepannya .
" ini salah satu tempat yang paling pas untuk merenung atau pengen sendiri , jika siang hari kamu bisa melihat pemandangan indah teluk laut mediterania yang biru , jika malam hari kamu akan mendengar deburan suara ombak yang menenangkan , rasakan dan resapilah ." suara bariton Guntur memecah kebekuan diantara mereka , Dini menoleh sesaat dan tersenyum simpul saat melihat pria tampan disebelahnya memejamkan matanya menikmati suasana malam diteluk laut Mediterania .
Dini memandang heran hidangan yang tersaji dihadapan mereka , dia meraih air mineral dan meminumnya .
" Makanlah aku tau kamu belum makan , dan kalau kamu ngga makan kamu ngga akan bisa untuk menangis karena menangisi masa lalu itu butuh tenaga ." ucap Guntur sembari menyodorkan piring berisi Shawarma kedepan gadis itu ,dan dia menjadi gemas saat gadis disebelahnya masih juga diam , diraihnya pisau dan sendok garpu lalu menyuapkam potongan Shawarma kedepan mulut Dini .
" Ayo makan , aku ngga mau menggendongmu yang pingsan karena kelaparan ." ucap Guntur dengan nada memaksa , dengan malas Dini membuka mulutnya dan memakan potongan Shawarma lalu merebut garpu dan pisau dari tangan Guntur .
" Aku bisa makan sendiri ." ucapnya , jujur sebenarnya dia malu diperlakukan dengan manis seperti itu tapi memang benar saat ini dia kehilangan selera makan gara-gara pria masa lalunya tadi .
Guntur hanya tersenyum melihat tingkah Dini , dan dia pun mulai memakan kebabnya dengan tenang .
Akhirnya mereka bisa menyelesaikan makan malam yang tertunda .
Guntur menyandarkan punggungnya kesofa dengan santai lalu menoleh kearah Dini yang masih terlihat galau.
" Kalau Masih pengen nangis. Menangislah disini biar kalau kamu ingin bunuh diri ada yang tau ." ucap Guntur datar namun ada senyum tipis diujung bibirnya .
" Apaan sich, konyol aja lagi kalau bunuh diri ." balas Dini sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya .
Sesaat kemudian terdengar isak halus dari gadis itu , Guntur dapat melihat bahu gadis itu bergetar menahan suara tangisnya .
Dengan memberanikan diri Guntur menarik bahu Dini untuk bersandar di bahunya , di elusnya kepala gadis itu lembut.
" Menangislah , keluarkan semua rasa sakit dan kecewamu , aku akan meminjamkan bahuku untukmu ." ucapan lembut Guntur mampu membuat Dini tenang dan bisa menangis lepas ,
Dini menenggelamkan wajahnya didada bidang Guntur membasahi kemeja navi milik Guntur dengan airmatanya .
Guntur hanya diam sembari mengelus rambut sebahu milik Dini menunggu hingga gadis itu tenang dan selesai dengan tangisnya .
Suasana malam diteluk Mediterania membawa dua hati kedalam alunan indah merasuk jiwa .
" Kalau kamu mengantuk tidurlah. Aku akan menggendongmu kembali kehotel ." goda Guntur yang langsung mendapat balasan cubitan kecil diperutnya .
Guntur hanya mengaduh kecil lalu mengeratkan pelukannya , dia ngga perduli jika nanti Dini marah karna pelukannya , karena dia sungguh menikmati hal ini.
Dan Dini pun tak menolak pelukan hangat Guntur, justru dirinya merasa sangat nyaman dan terlindungi setiap kali bersama pria ini, dan dia menikmati pelukan pria itu dengan melingkarkan satu tangannya di perut datar Guntur.
Jangan ditanya alasannya kenapa karena baik dirinya juga Dini tak bisa menjabarkan rasa apa yang membuat mereka nyaman kali ini .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Nabil abshor
Hasyekkkk,,,,,,,
2023-01-28
1
Nabil abshor
fix itu anaknya.rendy ya,,,
2023-01-28
0
Ristya
Ternyata Dini dan Hesti, beda ibu tapi satu ayah!!
2023-01-05
0