Saat Bu Sum menepuk bahunya, dan Disa tak sadarkan diri, tak lama ia siuman.
Disa menatap Kanjeng ibu dan Bu Sum dengan pandangan tajam.
"Selamat datang Tuan ... ." ucap Kanjeng Ibu terhadap Disa.
"Amung," ucap Disa melanjutkan perkataan Kanjeng Ibu. Suara serak seorang lelaki yang memperkenalkan dirinya dari dalam tubuh Disa.
"Tuan Amung, baik lah," ucap Kanjeng Ibu sopan terhadap tamunya.
Saat Disa pingsan, tubuhnya di ambil alih oleh pelindungnya yaitu Amung. Bu Sum dan Kanjeng Ibu memang sengaja ingin bertemu dengan penjaga Disa.
"Tuan Amung, maaf jika kami lancang, kami memang ingin berkenalan dengan Anda," ucap Kanjeng Ibu.
"Aku tak suka berbasa-basi, tak baik bagi cucuku jika sukmanya terlalu lama meninggalkan tubuhnya," ucap Amung tegas.
Amung tau pasti keluarga majikan dari Disa akan mengatakan sesuatu yang penting dan dia tak suka bertele-tele.
"Tuan Amung ternyata sedang terburu-buru," jawab Bu Sum sinis.
"Apa Tuan bersedia menjadi sekutu kami? Tuan kami akan sangat senang menerima anda menjadi bagian dari keluarga kami," tawar Bu Sum, sedang kanjeng ibu hanya diam mendengarkan.
Beliau merasa jika mahluk yang menjaga Disa bukan mahluk sembarangan.
Tuan Amung tertawa menggelegar. "Aku tak sudi bergabung dengan kalian, aku tak akan mencampuri urusan kalian, jika—" ucapnya tegas menatap tajam Bu Sum. "Jika kalian tak mengganggu turunanku!"
"Kami tak mengganggu Disa, justru tuan yang datang di acara ritual kami, dan membuat tuan kami murka," balas Kanjeng Ibu.
Amung tertawa sinis. "Aku tak akan muncul, jika kuncen mu tak mengusik turunanku."
Kanjeng ibu pun menatap sekutunya yang duduk di sebelahnya.
Bu Sum mendelik tak suka. "Semua yang bekerja pada keluarga ini memang akan mendapatkan tanda pengikut, lantas kenapa anda marah? itu resiko keturuan anda."
"Disa hanya bekerja di sini, tak usah kau korbankan dia seperti pengikutmu yang lain, aku tak akan biarkan keturunanku menjadi budak Tuan kalian, lebih baik dia kembali ke Gusti Sang Pangeran (Tuhan)," balas Amung.
Kanjeng Ibu yang tak mengerti pembicaraan mereka pun menatap sekutunya bingung.
Bu Sum yang tau jika majikannya itu menuntut penjelasan, masih mengunci mulutnya rapat.
"Anda tak tau? jika kuncen anda itu berlaku semena-mena di belakang anda? dia akan melenyapkan semua orang yang pernah bekerja pada keluarga anda, karena dia menganggap semua orang adalah ancaman," ucap Amung menceritakan fakta yang Bu Sum sembunyikan dari Kanjeng Ibu.
Bu Sum tertawa sinis mendengar aduan Tamunya itu. "Sudah tugasku menjaga kekuarga ini, apa hak anda mengatur kami?"
"Dengan melenyapkan mereka jika sudah tak kau perlukan, bukan kah itu malah membuat orang semakin curiga dengan kalian," balas Amung.
Kanjeng ibu yang sudah paham dengan perdebatan yang terjadi pun lantas berbicara.
"Apa kau menyingkirkan semua orang yang pernah bekerja bersama kita?" tanyanya.
Bu Sum tak menjawab, dia lebih memilih mengunci rapat mulutnya.
"Pantas aku susah mencari pembantu di daerahku, ternyata itu ulahmu," ucap Kanjeng Ibu seraya membuang kasar nafasnya.
Dia merasa Bu Sum tak menghargai dirinya, dengan tak mengatakan apapun padanya.
Kanjeng ibu tau tugas Bu Sum melindungi keluarganya dari gunjingan orang luar tentang dirinya dan keluarganya.
Tapi jika harus selalu melenyapkan mereka, dia merasa itu tindakan terlalu berlebihan, bukankah malah membuat keluarganya semakin di curigai.
"Anda tau tugas saya Kanjeng, jadi saya akan menyingkirkan semua orang yang pernah terlibat dengan kita," akhirnya Bu Sum mengutarakan maksudnya.
"Bagaimana pun mereka pasti berasumsi jika melihat ritual yang selalu kita lakukan," ucapnya.
"Tapi mereka percaya dengan yang kau katakan, jika kita hanya merawat warisan leluhur," bantah Kanjeng Ibu, setidaknya dia masih memiliki sisi manusiawi dalam dirinya.
Memang Tuan mereka membuat mereka serba salah, di satu sisi mereka berusaha menutupi fakta bahwa keluarga mereka menganut pesugihan.
Tapi Tuan mereka mewajibkan kami melakukan ritual tiap malam jum'at di gazebo, yang sama dengan miliknya.
Gazebo itu harus di taruh di tempat yang Tuan mereka suruh, mereka tak boleh memindahkan gazebo itu.
Jika saja ritual itu di lakukan di tempat tertutup itu akan mempermudah mereka menutupi semuanya.
Walaupun tak ada persembahan nyawa di ritual sungkem tiap malam jum'at, tetap saja orang-orang akan menganggap aneh kelakuan mereka.
Amung menatap dengan penuh kemenangan, karena melihat dua sekutu itu saling berdebat.
"Jika kalian sudah selesai denganku, aku akan pergi," ucap Amung melerai perdebatan panas dua orang sekutu itu.
"Silahkan, sepertinya Disa sudah pergi terlalu jauh," ucap Bu Sum menyeringai.
"Kurang ajar!!! kau menipuku, karena bermaksud melenyapkan Disa dengan memanggilku!!" teriak Amung murka.
Dia mengeluarkan kekuatannya untuk melukai Bu Sum, nampak Bu Sum terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
Disa kembali tak sadarkan diri, Amung meninggalkan raga Disa dan mencari Disa di alamnya.
Untungnya dia masih bisa mencium aroma Disa, Amung terus mengikuti wangi itu, dia merasa cemas tidak bisa menjaga turunannya.
Dia berlari hingga dia berhenti di sebuah benteng, yang di jaga oleh mahluk-mahluk buruk rupa.
Ini adalah salah satu istana dari Abdi Tuan mereka. Amung berkelahi dengan mereka, dia dengan mudah mengalahkan para penjaga pintu.
Amung harus bersiap, dia pasti akan menghadapi penjaga lain, harum tubuh Disa semakin tercium, Amung tau Disa sudah tak jauh dari tempatnya sekarang.
Saat akan memasuki pintu terakhir terdapat dua penjaga raksasa di sana, Amung melawannya, mahluk pertama berhasil ia kalahkan dan tumbang hingga menimbulkan getaran di sana, mahluk ke dua pun tak lama ia tumbangkan, setelahnya Amung mendobrak masuk ke tempat itu.
Dia melihat Disa diam mematung melihat mahluk-mahluk berwujud menyeramkan di depannya, Amung pun segera menarik Disa dari sana.
Terdengar geraman marah dari sang empunya istana, karena kedatangan tamu tak di undang seperti dirinya, dan lagi mengambil hidangannya.
Amung pun memberi tahu Disa agar tak menoleh kebelakang apapun yang terjadi.
Sebab jika itu ia lakukan, sukmanya akan terkunci di sana, karena mahluk itu sedang merapal ajian untuk memikat sukma Disa.
Cahaya yang terhubung ke tubuh Disa semakin kecil, jika cahaya itu hilang, maka Disa tak akan bisa kembali ke tubuhnya, dan akan terkunci di alam ini selamanya.
Amung akhirnya melempar Disa agar ia dapat keluar dari alam ini.
.
.
Bu Sum sudah membersihkan dirinya dari luka yang amung berikan, dia tau jika Amung berhasil mengembalikan Disa ke tubuhnya.
Dia pun menepuk bahu Disa memastikan gadis itu sudah kembali.
Disa terjengit karena kaget, dirinya bingung antara sadar dan tak sadar, ia merasa apa yang ia alami tadi seperti kenyataan, tapi ia ingat jika tadi Bu Sum pun menepuk bahunya.
Disa menengadah menatap Bu Sum, dan kembali menundukan wajahnya, karena takut.
Bu Sum kembali duduk di hadapannya. "Anak gadis kok melamun," ucapnya.
"Maaf bu," balas Disa takut-takut, dia merasa aneh dengan dirinya.
"Ada yang sedang kamu pikirin nak Disa?" tanya Kanjeng Ibu sambil menyesap cangkir berisi teh itu.
Disa menelan salivanya kasar, tiba-tiba kerongkongannya terasa kering, ingin sekali dia meminum teh di hadapannya untuk melegakan sedikit tenggorokannya.
Tapi ia tau itu tak sopan, entah kenapa dia merasa haus, dia merasa seperti habis berlari hingga ia merasa lelah.
Kanjeng Ibu yang paham dengan tatapan Disa pun mempersilahkan Disa untuk meminum suguhannya itu.
Disa yang haus tak menolak tawaran majikannya itu, bahkan jika tak tau etika dia akan menghabiskan teh itu dalam sekali teguk, tapi cukuplah seteguk untuk membasahi kerongkongannya itu, Disa tak ingin mempermalukan dirinya.
"Kamu besok berangkat bareng Bapak sama Irwan, ya? Kerja yang baik di sana, dan semoga kamu betah, ya nak Disa?" ucap Kanjeng Ibu lembut.
"Iya Kanjeng Ibu, terima kasih," jawab Disa sopan.
Dia sebenarnya ingin mengatakan apa boleh dia bertemu dengan Nyonya Mariska tapi ia urungkan.
"Kamu sudah boleh kembali Disa," ucap Bu Sumarni, tanda Disa harus meninggalkan ruangan itu.
Disa pun bangkit, dia menutup pintu, setelahnya ia merasa pergelangan tangannya terasa ngilu, ia melihat di pergelangan tangannya ada bekas biru di sana, seperti seseorang telah mencengkram erat pergelangannya itu.
Sebenarnya apa yang tadi terjadi dengan dirinya, kejadian menyeramkan itu ia yakin nyata, tanda seseorang menyelamatkannya juga terasa nyata, terbukti dari bekas di pergelangan tangannya.
Disa pusing memikirkan hal itu, dia bergegas ingin ke dapur, ingin meminum air yang banyak karena kerongkongannya masih kering karena haus.
.
.
.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ali B.U
lanjut
2024-04-24
1
eMakPetiR
doa orang tua termasuk yg menyelamatkan disa
2022-07-02
0
Kiharupat Kawung Hideung
mantap amung... ga mudah bisa mengalahkan bala tentara raja jin di daérah kekuasaan nya...
2022-03-14
0