Saat aku sedang asyik berbincang dengan perawat sekaligus temanku Disa, wanita yang tak pernah kuharapkan kehadirannya datang. Ya dia adalah Bu Sumarni.
Aku memang tak menyukai wanita tua itu, dia adalah seorang kuncen, yang menjaga keluarga kami.
Tak ada yang tau berapa usiannya, bahkan suamiku mas Irwan tak mengetahuinya, yang ia tahu saat dia masih anak-anak beliau sudah mengikuti keluarganya.
Bu Sumarni adalah keturunan juru kunci untuk para pengabdi 'Tuan' kami. Apa pekerjaan beliau di rumah kami? dia adalah seseorang yang memastikan keluarga kami tak melupakan kewajiban kami sebagai seorang abdi 'Tuan' kami.
Dia orang yang mengawasi kami, dan memastikan kami tak membelot pada Tuan, itu benar-benar membatasi kebebasan kami.
Sebenarnya, tanpa di awasi pun kami tau resiko jika perjanjian itu di langgar, kami akan lenyap tanpa sisa, dan tak akan ada yang mengetahui apa penyebabnya kami menghilang.
Untuk Bu Sumarni sendiri, jika dia sampai terkecoh oleh kami, nyawanya yang menjadi taruhan. Karena dia di anggap lalai menjaga pengabdinya.
.
.
Dia berjalan dan berhenti di hadapan Disa, tetapi memandang tajam ke arahku.
Di benak ku, apa dia mendengar pembicaraanku dengan Disa? karena hampir tak ada yang mustahil baginya.
Dia menyuruh Disa meninggalkan kami berdua, dan berkata untuk membantu yang lainnya.
"Nyonya ... ," panggilnya, suaranya halus selembut beledu, tapi itu terdengar seperti ancaman bagiku.
Dia mengambil baju kebayaku untuk acara sungkem nanti malam. Lalu meletakannya kembali ke dalam kotak.
"Anda sepertinya harus berhati-hati jika ingin mengatakan sesuatu terhadap pembantu di rumah ini," ucapnya, masih dengan suara halusnya, tak ada bentakan atau pun kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya, tapi itu lah yang mengerikan dari beliau, pasti terselip nada ancaman di setiap ucapannya.
"Apa maksudmu?" tanyaku mencoba mengelak dari tuduhannya.
Beliau pun bangkit, dia berjalan menuju jendela dan berdiri di sana, aku memperhatikan semua gerak-geriknya.
Gerakan yang sangat elegant, seseorang sepertinya memang nampak seperti seorang manusia normal, tak ada yang tahu bahwa dia lah wanita berhati iblis, dia orang yang tak segan-segan melenyapkan seseorang, yang berusaha mengusik Tuan kami.
Jika ada seseorang yang memiliki kelebihan, Bu Sum itu beraroma sedikit anyir bercampur bunga melati, itu menurut suamiku, hanya Kanjeng Ibu yang bisa menciumnya, sedang keluargaku yang lain tak ada yang bisa menciumnya.
Syukurlah ... batinku, bisa-bisa aku tak bisa makan, jika harus selalu mencium aromanya.
Aku pun heran, bagaimana Kanjeng Ibu bisa tahan selalu berduaan dengannya. Menurut suamiku mungkin itu faktor kebiasaan.
"Ndoro Putra adalah keturuan keluarga ini, bagaimana mungkin anda memohon pada orang lain untuk merawatnya, sudah pasti Tuan akan marah jika kehilangan penerus pengikutnya," ucapnya tenang sambil menatapku, aku sudah menduga dia mendengar pembicaraanku dan Disa.
"Apa nyonya berfikir Disa bisa menolong anda?" tanyanya kemudian.
Jantungku berdegup kencang, apa dia juga akan melenyapkan Disa? aku bahkan belum tau apa Disa bisa menolongku.
"Kau tau, Disa adalah teman sekampungku, aku hanya sedikit berkeluh kesah padanya, tak pernah sekalipun aku mengatakan sesuatu tentang keluarga ini," ucapku tegas, memang aku tak pernah mengatakan hal mengerikan tentang keluargaku penganut pesugihan.
Dia berjalan lalu duduk di ujung kasurku, "Saya akui penjaga Disa lumayan kuat, tapi tentu dia bukan tandingan Tuan kita, sepertinya, Disa bahkan tak sadar jika dia memiliki seorang pelindung, dan mahluk itu tak berniat mencampuri urusan kita, dia mungkin hanya melindungi gadis itu," ucapnya, seperti tak suka dengan kenyataan itu.
Deg!
Lidahku kelu, Disa memiliki pelindung? apa itu turunan dari keluarganya?
Sebenarnya tak aneh jika Disa bisa memiliki mahluk pengikut seperti itu, di kampung kami, masyarakat masih mempercayai hal magis seperti ini, menyimpan benda peninggalan nenek moyang kami juga masih banyak yang orang tua kami lakukan.
Tentu benda-benda keramat seperti keris dan sebagainya bahkan memiliki 'isi' masing-masing mahluk.
Ada mahluk yang menjaga keluarga pemiliknya, seperti yang mungkin Disa miliki, ada pula mahluk yang malah membuat sial pemiliknya.
Konon ada yang justru membuat keluarga itu selalu hidup dalam kesusahan, atau selalu tertimpa kesialan.
Entahlah, itu hanya kabar yang masih sebagian masyarakat kampung percayai.
Dan aku salah satu orang yang tau bahwa mahluk seperti mereka ada.
"Oleh sebab itu anda meminta bantuan Disa?" tanyanya kemudian menatap tajam ke arahku.
Apa itu yang membuatnya mengawasiku, karena dia tau bahwa Disa memiliki penjaga, dan membaca maksud tujuanku untuk melepaskan Putra dari jerat Iblis ini.
"Apa kau mencurigaiku membelot?" tanyaku menohok.
"Nyonyaa ... nyonya ... anda tau tugas saya mengawasi keluarga ini," ucapnya menyeringai.
"Jangan ganggu Disa, aku tak akan mengatakan hal-hal yang kau khawatirkan di otakmu!" ucapku ketus.
"Anda tau? Disa bukan gadis bodoh yang tak memiliki keingin tahuan yang amat sangat di kepalanya," ucapnya, mencoba menebak karakter Disa.
Aku akui Disa gadis yang pandai, dia pasti memiliki indera yang tajam untuk menilai hal janggal yang terjadi pada diriku, dan dia juga gadis yang pandai mengolah ekspresi, dari cara ia terkejut, lalu bisa sekejap merubah ekspresinya nampak biasa saja.
Aku akui dia pasti memiliki banyak hal yang ingin di tanyakan padaku, tapi dia tak pernah lancang mengatakan apapun yang ada di pikirannya.
"Hanya sebatas di fikirannya, tak pernah sekalipun dia mengulik kejanggalan aneh yang mungkin ia fikirkan," jawabku tegas.
"Hemmmm ...." ucapnya menarik nafas. "Semoga saja seperti itu— tapi, saya tetap akan mengawasinya."
Dia duduk dengan anggun, seperti seseorang yang biasa hidup di lingkungan keraton, duduk dengan punggung tegak dan tangan saling bertumpuk di pangkuan.
Dia memang terkadang seperti sosok yang lain, jika berbicara dengan kami.
Tiba-tiba dia tersenyum menyeringai dan itu malah membuat bulu kudukku merinding, apa yang sedang wanita iblis ini rencanakan.
"Dan ... apa anda setuju, jika kita menjadikan Disa sekutu kita?" tanyanya.
Aku terpaku, belum bisa mencerna makna dari kata-katanya barusan, menjadikan Disa sekutu? apa maksudnya.
Dia bangkit berjalan ke arah pintu, saat pintu sudah terbuka secelah, dia masih memegang handle pintu dan sedikit menoleh ke arahku.
"Mungkin kita bisa menikahkan Disa dengan tuan Irwan," ucapnya, lantas melesat meninggalkan kamarku.
Belum sempat kesadaranku kembali akan pertanyaannya, sekarang dia mengejutkanku dengan pernyataan yang begitu menohok.
.
.
Malam ini sesuai perkatannya, jika dia yang akan mengurus diriku, aku merindukan Disa temanku, tapi pasti aku tak akan bisa melihatnya malam ini, mungkin ini hukuman Bu Sum untukku.
Saat malam menjelang, waktunya keluargaku bertemu 'Tuan' aku pun di dorong menggunakan kursi roda oleh Bu Sum.
Setelah sampai di depan gazebo itu, beliau kembali ke adalam rumah untuk mengambil semua keperluan sungkem kami.
Ayah mertuaku memegang seikat bunga mawar, sedang aku yang bertugas memegang sesajen yang berisi sesembahan 'Tuan' kami.
Saat acara sedang berlangsung, Bu Sum melesat meninggalkan kami dan mendekat kearah jendela, ternyata beliau melihat jika Disa memperhatikan kegiatan kami, mungkin dia sedang menegurnya.
Menurutku itu juga percuma, ke anehan keluarga kami pasti sudah tercium oleh mereka, dan mereka hanya berani berasumsi, tanpa mau ikut campur.
Tak lama beliau kembali, dan lampu di kamar Disa sudah padam, kami melanjutkan acara malam ini.
Aku akan melihat mahluk yang menurutku masih sangat menyeramkan itu, walaupun aku sudah sering melihatnya, dia memang terkadang mengambil wujud seorang manusia biasa, tapi dengan perawakan besar, bagaimanapun itu tak terlihat seperti manusia normal kan.
Tak lama pintu dimensi terbuka, seperti cermin, arah pandang kami ke gazebo menembus alam Tuan kami, di sana ia sedang duduk di singgasananya.
Di temani para dayang dan pengikutnya, mereka mengenakan rantai di lehernya yang terhubung satu sama lain.
Ini lah nasibku dan keluargaku suatu saat nanti, jadi pengikut abadi di kerajaannya.
Aku tak habis fikir dengan keluarga mertuaku ini, kenapa mereka mau saja menjadi budak mahluk laknat seperti ini, dan suamiku bahkan tega menarikku dan anak kami untuk ikut terjerumus di dalamnya.
Dia bangkit dan duduk di gazebo kami, Kanjeng ibu mengambil nampan sesajen dari tanganku, seekor ayam cemani panggang, dan bebagai jenis jajanan pasar tersusun rapi di sana, jika kami yang melihat itu memang Dia memakannya, tapi untuk manusia awam sesembahan itu masih berbentuk utuh tak tersentuh, dan hanya berubah menjadi busuk keesokan harinya. Karena sari patinya yang sebenarnya Tuan kami makan.
Tiba-tiba pandangangan teralihkan, dia menoleh ke arah samping, tepat ke kamar Disa yang sedang mengintip di celah hordengnya.
Dan sekilas aku melihat siapa penjaganya, sesosok lelaki tua dengan janggut putihnya menutupi mata Disa.
Tuan kami marah, dia mengacak-acak bunga mawar disana, seperti tak terima dengan tamu tak di undangnya, ia pun segera kembali ke alamnya, dan pintu gerbang itu menutup.
Kami semua hanya bisa menghela nafas, dan kembali ke kamar kami masing-masing, aku tau tuan kami tak menyukai pelindung Disa.
Apa aku masih bisa berharap? gumamku ....
.
.
.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ali B.U
lanjut
2024-04-24
1
Miftachul Janah
ceritanya bagus,,, gak sengaja scroll di noveltoon ada judul ini, baca eps 1langsung syuka,,, selalu like di setiap eps Thor
2022-07-02
1
eMakPetiR
nampaknya 2kubu berseberangan..
2022-07-02
0