Pintu kamar dibuka, Disa di sambut oleh seorang perempuan yang sepertinya lebih tua darinya, perempuan itu pun sama, menundukkan kepalanya tanda ia juga menghormati Bu Sumarni.
"Iya Bu ... mari masuk." Gadis itu berdiri merapat ke pintu mempersilahkan Bu Sumarni dan Disa untuk masuk.
"Disa ... ini Yanti. Kalian akan tinggal satu kamar untuk sementara. Langsung istirahat, mengobrolnya besok saja, ini sudah larut malam, mengerti?" perintah Bu Sumarni yang langsung dijawab Disa dan Yanti bersamaan.
Disa pun masuk, kamar yang tak terlalu luas, jika di lihat dari bentuk rumah majikannya, mungkin karena kamar pembantu, batin Disa.
Disa lantas memperkenalkan dirinya dengan menyalami perempuan di depannya ini. "Saya Disa mbak."
"Saya Yanti, alah jangan panggil mbak, kayaknya kita seumuran," tukas Yanti.
"Umurmu berapa Dis?" tanya Yanti kemudian.
"23 Mbak, eh Yan."
"Oalah kan kita cuma beda setaun, saya 24 Dis, panggil Yanti saja, ya?" pintanya.
"Iya Mbak, eh Yan." Mereka tergelak karena kekakuan Disa.
Tiba-tiba pintu di ketuk dan seseorang langsung berbicara, "Ibu sudah bilang, kan. Langsung istirahat, ngobrolnya besok saja!" Suara Bu Sumarni memperingati.
Disa dan Yanti lantas meminta maaf bersamaan, keduanya pun berbisik-bisik agar suara mereka tak terdengar sampai keluar.
.
.
.
Keesokan paginya, semua sudah bangun, Disa dikenalkan oleh Yanti dengan dua orang pembantu lainnya.
Mita ini lah yang paling muda di antara mereka, dia baru berusia 20 tahun, dan ada Fatmah yang lebih tua dari mereka semua, dia berusia 30 tahun dan dia seorang janda dengan dua orang anak.
Saat Disa memperkenalkan diri, hanya Fatmah yang sepertinya menerima baik dirinya, sedangkan Mita, dia bersikap sangat angkuh terhadapnya.
Fatmah yang paling lama bekerja di sini di antara mereka, dia sudah di sini selama 2th, setelah itu Mita, semenjak lulus sekolah Mita langsung merantau ke kota untuk menjadi pembantu di rumah ini. Sedang Yanti, dia baru 3 bulan bekerja di rumah Kanjeng Ibu.
Menurut Yanti, tadinya Mita yang tidur di kamar sendirian, tapi saat mendengar akan ada seseorang yang datang, dan tinggal bersama mereka, Mita memutuskan untuk tidur dengan Fatmah, Mita enggan tidur dengan orang baru.
.
.
Terlihat Fatmah sedang membantu Bu Sumarni menyiapkan sarapan untuk majikan mereka.
Dapur terdiri dari 2 ruang, di mana dapur utama di khususkan untuk menyimpan bahan makanan untuk majikan, dengan ukuran yang besar dan perabot yang komplit, para pembantu tak boleh mengambil bahan makanan dari sana, atau pun memakan makanan menggunakan perabot dari dapur utama.
Sedang dapur ke dua adalah dapur untuk memasak, dan menyimpan makanan untuk para pembantu atau pengurus rumah lainnya.
Memang di dapur utama ada kompor, tapi tidak di gunakan untuk masak, kompor di gunakan hanya untuk memasak air atau jika majikan mereka ingin memasak sendiri makanannya.
Masakan untuk majikan di masak di dapur kedua, setelah menghidangkan makanan untuk para majikan, barulah salah satu dari para pembantu memasak hidangan untuk mereka sendiri.
Walaupun di bedakan, bukan berarti majikan mereka tak memberi para pekerjanya makanan tak layak, mereka pun di sediakan bahan makanan yang sehat dan bergizi, hanya di bedakan tempat penyimpanannya saja.
Mereka juga di sediakan daging-dagingan dan buah-buahan, bahkan makanan ringan.
Di sini mereka akan bergantian memasak, jika masakan untuk majikan khusus di masak oleh Bu Sum.
Di rumah ini, majikan mereka ada lima orang, terdiri dari Pak Hanubi kepala keluarga, Kanjeng Ibu, Tuan Irwan dan istrinya Nyonya Mariska, dan anak mereka Ndoro Putra yang berusia 4th.
Ada satu lagi anak Kanjeng Ibu yang perempuan bernama Nona Wulan dia sedang menempuh pendidikan kuliahnya di Negara tetangga, dan akan segera wisuda, dia seumuran dengan Disa.
Disa mengenal Nyonya Mariska, walau pun begitu, di sini dia hanyalah seorang pembantu, jadi dia tetap harus menghormati beliau.
Mariska menikah saat berusia 20th, saat ini usianya 25 tahun, dia adalah kakak kelas Disa saat di Sekolah Menengah Atas.
.
.
.
Mereka semua sedang sarapan setelah membersihkan rumah, saling bertanya satu sama lain, hanya Mita yang masih tampak sinis dengan Disa, entah karena apa.
Bu Sumarni adalah kepala pelayan yang makan bersama dengan para majikan, karena beliau yang melayani para majikan di meja makan, jadi sekalian dia makan di sana dan hanya dia yang di perbolehkan.
Disa ingin sekali bertemu dengan Nyonya Mariska, saat dia memandang ke meja makan tak ada sosoknya di sana, Disa pun heran tapi tak berani bertanya.
Setelah itu Bu Sumarni menghampiri mereka "Nanti bereskan meja makan, dan kamu Disa ayo ikut saya, kanjeng Ibu ingin bertemu denganmu" ucapnya ke arah Disa.
Mereka pun melakukan apa yang Bu Sumarni suruh, dan Disa pun kembali berjalan mengikuti Bu Sum, menghadap kanjeng ibu, majikan utamanya.
Disa seperti di ajak ke sebuah ruang baca, di sana ada satu set sofa dan banyak buku di pajang di sepanjang rak yang menempel di dinding.
Ada satu lukisan besar yang membuat Disa terpana, Di lukisan itu ada seorang wanita dengan sanggul dan baju adat jawa, tengah duduk, di belakang lukisan wanita itu ada kaca besar, Disa tak mengerti maknanya, tapi lukisan itu membuatnya merinding.
Wajahnya tampak tak asing, tapi Disa tak bisa memandangnya lebih lama karena Bu Sumarni sudah menyikut dirinya, Disa terkejut dan malu, dia tak mendengar panggilan Bu Sumarni, segera ia menundukkan pandangannya. Berharap itu tak menjadi masalah di hari pertamanya bekerja.
Bu Sumarni duduk di kursi satu dudukan, bersebelahan dengan Kanjeng Ibu yang duduk di sofa panjang, sedang Disa dia duduk bersimpuh di bawah.
"Kenapa dengan lukisan itu? Apa sangat indah? Sampai kau tak mendengar panggilan Sumarni," ucap Kanjeng Ibu.
Suaranya begitu halus, dan berwibawa, membuat Disa merasa kecil.
"Siap namamu Nduk?" ucap Kanjeng ibu.
"Saya Disa, Bu."
"Sebenarnya kamu akan saya tempatkan untuk membantu di toko sembako di kota, tapi saya kekurangan tenaga di rumah ini. Jadi, untuk sementara kamu bekerja di sini, ya? Merawat dan menjaga anak mantu saya," ucap Kanjeng Ibu.
Disa pun kaget. "Anak mantu? Apa mbak Mariska sakit? Pantas dia tak terlihat tadi, sakit apa, ya?'' gumam Disa.
"Baik Kanjeng Ibu," jawab Disa.
Disa sudah di beri tahu, panggilan masing-masing majikan, dan yang paling penting Disa tak boleh menyela atau pun bertanya tentang apa pun yang majikannya itu suruh, dia hanya boleh menjawab BAIK.
Biasanya Bu Sumarni lah yang menjelaskan, atau pun jika ingin bertanya hanya boleh kepada Bu Sum, agar beliau yang menyampaikan kepada kanjeng ibu.
.
.
.
Disa keluar bersama Bu Sumarni, mereka menuju dapur utama. Di sana Disa melihat Bu Sumarni menyajikan bubur di mangkuk dan menaruhnya di nampan bersama air putih dan kotak obat.
"Ayo bawa, kamu akan saya ajak ke kamar Nyonya Mariska, ingat ... saya tahu jika Nyonya Mariska adalah teman kamu di kampung, tapi di sini beliau adalah majikan kamu, jangan sampai kamu sembarangan melayaninya, mengerti!" peringatan Bu Sumarni.
Disa heran apa Bu Sumarni tau semua tentang dirinya, atau beliau mengenal bibinya? Entahlah, lagi pula Disa tau diri siapa dirinya dan Nyonya Mariska pikirnya, tak mungkin dia akan bersikap seenaknya.
Disa lagi-lagi membuntuti Bu Sumarni, saat sampai di depan pintu kamar Nyonya Mariska, Bu Sumarni pun mengetuknya.
Pintu-pintu kamar utama Mempunyai 2 daun pintu, dengan ukiran-ukiran yang megah, dan di atas ujung kusen pasti terdapat ukiran wayang, menurut Disa sangat menyeramkan.
Entahlah memang rumah ini sangat mencekam menurut Disa.
.
.
.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Berdo'a saja
waaah biasa lah teman baru begitu ada yang sok juga
2023-01-09
0
eMakPetiR
masih ngikutin alur...
sebelumnya Disa sudah diberi pertanda.. mungkin fokusnya saat ini yg terpenting bisa bekerja utk membantu ortunya
2022-07-02
0
Nanda Afriany
😱😱😱
2022-06-26
0