Bu Sumarni segera membuka pintunya. Jadi, beliau mengetuk hanya untuk memberi tahu akan kedatangan mereka.
Tampak seorang perempuan dengan baju tidur putihnya tengah terlelap. Wajahnya sangat pucat dan kurus. Disa sampai ingin menangis melihatnya.
Ada apa dengan Mbak Mariska? Perempuan yang dulu ia kenal; berwajah cantik, ceria dan dengan badan sintalnya, telah hilang.
Mariska adalah seorang kembang desa. Banyak pemuda jatuh hati dengannya, tetapi dia lebih memilih menikah dengan laki-laki dari luar desa yang berasal dari keluarga berada. Jadi, wajarlah jika dia menerima pinangan itu. Ya, dialah Irwan.
Setelah menikah, Mariska diboyong oleh suami dan mertuanya ke kota. Mariska dulunya dari keluarga sederhana, sekarang kehidupan keluarganya pun sangat kaya di kampung sana.
Benar-benar pernikahan Mariska bisa menaikkan derajat keluarganya.
.
.
Tetapi sekarang apa yang Disa lihat. Seorang perempuan yang cantik dan ceria itu nempak berbeda, wajahnya sangat pucat, bahkan bernapas pun sepertinya sangat sulit, tulang-tulangnya sangat menonjol di permukaan kulitnya.
"Ada apa dengannya?" gumam Disa. "Kenapa tak di bawa ke rumah sakit saja jika memang Mbak Mariska sakit."
Disa benar-benar tak mengerti ada apa dengan keluarga majikannya ini.
"Nyonya—sarapan dulu, ya? Lalu minum obatnya," ucap Sumarni
Tak lama bola mata itu pun membuka, dan menatap ke arah mereka. Mariska hanya mengangguk menjawab perkataan ketua asistennya.
"Kamu layani Nyonya dengan baik dan telaten," perintah Sumarni, ia lantas keluar dan menutup pintu.
Disa pun menaruh nampan di nakas, dan membantu Nyonya Mariska duduk dengan menumpuk bantal agar tak tersedak saat menyuapinya nanti.
Disa mendekatkan gelas berisi air putih ke arah majikannya, agar majikannya itu bisa menyegarkan tenggorokannya terlebih dahulu.
Saat Disa akan menyuapinya, Mariska pun berkata, "Kamu Disa?"
Disa pun tersenyum, ternyata Nyonya Mariska masih mengenalinya walau sudah 5 tahun tidak bertemu. Ya, semenjak Nyonya Mariska mengikuti suami dan mertuanya, Disa tak pernah melihatnya lagi.
Mariska memang beberapa kali pulang ke rumahnya di kampung, tetapi hanya beberapa hari. Sudah lebih dari 2 tahun, Mariska tak pernah pulang, dan Disa tak pernah bisa bertemu dengannya saat di kampung.
.
.
.
"Iya Nyonya," jawab Disa sopan.
Dan Mariska pun tersenyum, walaupun Disa melihat dengan getir senyuman majikannya. Bagaimana tidak, saat tersenyum seperti itu, tulang pipinya seperti akan merobek kulitnya.
"Kamu ini, pake manggil Nyonya segala, Mbak saja seperti biasa." Mariska enggan dengan panggilan teman sekampungnya itu.
"Nyonya makan dulu, ya? Kalo tidak, nanti saya di marahi bu Sum." Disa lantas segera menyuapi majikannya itu, Disa tau Mariska adalah perempuan baik.
Disa dengan telaten menyuapi majikannya itu, terlihat jika majikannya ini sangat senang dengan kehadiran Disa.
"Kok tiba-tiba kamu bisa kerja di sini, Dis?"
"Iya Nyonya saya di beri tahu bibi jika, Kanjeng Ibu memerlukan karyawan untuk tokonya," jawab Disa jujur.
"Ngga perlu panggil Nyonya Dis, kamu panggil Mbak saja," pintanya kembali, sambil menghela napas.
"Jangan begitu Nyonya, di sini sudah aturannya begitu, nanti saya terkena masalah," ungkap Disa yang minta pengertian dari majikannya itu.
"Hemmm ... iya sih, tapi, agak aneh kalo kamu yang manggil, Dis." Lagi dan lagi Nyonya Mariska berusaha tertawa dengan tenaga yang tersisa.
"Nyonya minum obat dulu, ya? Lalu istirahat lagi," pinta Disa yang berpikir jika sepertinya Nyonya Mariska memang sakit keras.
Disa berpikir, apa keluarga Nyonya Mariska di kampung tahu dengan keadaannya? Tetapi dia merasa tidak berhak ikut campur dengan urusan keluarga majikannya itu.
"Tapi, kamu temani aku sampai aku tidur, ya Dis? Aku senang banget bisa ketemu kamu," pintanya dengan mata berseri-seri.
"Baik Nyonya," ucap Disa lantas membantu majikannya itu untuk meminum obatnya dan kembali membaringkan tubuhnya.
.
.
"Kalo kamu melamar menjadi karyawan toko, kenapa masih di sini, Dis?" ujar Mariska heran.
"Sementara, saya di suruh untuk menjaga Nyonya."
"Maafin aku ya Dis," ucap Mariska dengan air mata mengalir di sudut matanya.
Disa melihat kesedihan di mata majikannya itu lantas menjawab, "Ngga papa Nyonya. Saya malah seneng bisa merawat Nyonya."
"Kalo kerja di toko kan di panggil karyawan, tapi kalo ngurus aku kamu akan di panggil pembantu," tukasnya.
"Saya tak peduli omongan orang Nyonya, toh sama-sama bekerja. Lagi pula saya senang bisa dekat dengan Nyonya," jawab Disa jujur, dan memang dia sangat senang bisa merawat majikan sekaligus teman masa kecilnya itu.
"Terima kasih, ya Dis?" setelah mengucapkan kata itu mata Mariska pun terpejam, dengan nafas yang teratur. Sekarang, ada semburat merah di pipinya, tak sepucat tadi.
Setelah Majikannya itu tertidur, Disa lantas menyelimutinya dan berjalan keluar kamar.
.
.
.
Saat sedang berjalan Disa ditabrak oleh anak kecil. Disa tau itu adalah Anak Mariska, Ndoro Putra.
"Hati-hati Ndoro Putra," sapa Disa sopan. Tapi majikan kecilnya itu langsung berlari dan bersembunyi di belakang Mita sambil mengintip.
"Itu Mbak Disa. Jangan takut Ndoro," ucap Mita menjelaskan siapa Disa.
Lalu anak majikannya itu berdiri di samping Mita, menggenggam tangannya.
Mita lantas berjongkok mensejajarkan tingginya dengan anak yang di asuhnya itu. "Ndoro main sama Mbak Disa dulu, ya? Mbak Mita mau ke toilet."
Mita lalu berjalan mendekati Disa, dan mengambil nampan di tangan Disa. "Jaga Ndoro Putra, aku mau kerjakan pekerjaan lain" ucapnya ketus.
Disa tak tau ada apa dengan temannya itu, tapi Disa bisa melihat sepertinya Mita tak begitu suka menjaga anak majikan mereka, terlihat dengan mudahnya Mita melemparkan tugas padanya, tapi Disa pasrah, toh Putra adalah anak temannya, hanya Disa khawatir anak itu tak nyaman bersama dirinya.
Disa pun berjongkok mensejajarkan dirinya. "Ndoro main sama Mbak Disa dulu ya?" pintanya lembut, berharap anak majikannya tak menolak.
Putra pun mengangguk, dia merentangkan tangan meminta Disa menggendongnya, Disa yang paham maksud anak majikannya pun lantas menggendongnya.
"Ndoro mau main di mana?"
Anak majikannya belum mengeluarkan suara dari tadi, Ndoro Putra hanya menunjuk ke mana ia ingin pergi.
Putra mengajak Disa untuk bermain di belakang, dan ia menunjuk gazebo. Disa pun menurutinya.
Ada perasaan aneh saat Disa mendekati gazebo itu, tiba-tiba tengkuknya meremang. Baru saja akan mendudukkan dirinya, dia di kejutkan oleh lelaki tua yang datang membawa gunting ranting, untuk menata pepohonan di sekitar.
"Kamu siapa?" ucapnya dengan pandangan menyelidik.
"Sa— saya Disa Pak, pembantu baru di sini," ucap Disa yang ketakutan, dia langsung menggendong anak majikannya.
"Kalian main saja di tempat lain, jangan di sini!" perintah lelaki itu tegas.
Disa langsung mengangguk. Saat hendak berbalik Putra menangis, meminta Disa agar kembali ke sana.
Disa pun dilema, tadi dia diperintahkan untuk tak mendatangi gazebo itu, tetapi saat meninggalkannya, anak majikannya menangis meraung-raung sambil terus memukul dirinya.
Sehingga membuat Bu Sumarni mendekat ke arahnya.
"Ada apa Dis?" tanyanya sambil merebut anak majikan mereka dari gendongannya. Putra langsung menghentikan tangisannya saat sudah berada di gendongan Bu Sumarni.
"Tadi Ndoro Putra minta main di gazebo Bu, tapi tadi ada bapak-bapak tua melarang kami bermain di sana. Saat saya mengajak Ndoro pergi, Ndoro nangis Bu," jelas Disa.
"Ndoro ngajak Mbak Disa main di gazebo?" tanya Bu Sumarni pada anak majikan mereka. Dan Ndoro Putra menggeleng saat menjawab perkataan Bu Sumarni, dia berbohong pada Bu Sumarni dan itu sukses membuat Disa terkejut, anak sekecil itu sudah pandai berbohong.
"Lalu Ndoro nangis kenapa?" tanya Bu Sumarni kemudian.
"Aku ngga suka sama Mbak itu," tunjuknya ke arah Disa. Akhirnya anak itu mengeluarkan suaranya, dan sekalinya bicara, ternyata Putra tak menyukai Disa.
Disa bingung kenapa anak sekecil itu bisa tidak menyukainya, dia baru bertemu anak itu, dan merasa tidak melakukan kesalahan, secepat itukah anak majikannya tak menyukai dirinya.
Disa ingin menangis, dia merasa ketakutan. Bagaimana jika ia di pecat.
"Jangan ajak Ndoro Putra main di gazebo. Memangnya ke mana Mita? Kenapa jadi kamu yang menjaga Ndoro Putra?" cerca Bu Sumarni.
Disa sedikit bernapas lega, sepertinya dia tidak akan dipecat. Dia akan mengingat-ingat untuk tidak mengajak anak majikannya itu ke gazebo lagi.
Sepertinya gazebo itu tempat terlarang untuk di kunjungi, dan sialnya Mita juga tak memberi tahu, apa saja larangan saat menjaga anak majikan mereka.
.
.
.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ali B.U
next.
2024-04-22
1
Berdo'a saja
hemmm
2023-01-09
0
Diankeren
gazebo = g jlz bo.... 😝
pntesz bkin mrinding.... smua yg g jlz psti nngkring dsitu 🤪💥
🏃💨💨🏃💨💨💨 Kabul... ehh slah, kabuurr......*******
2022-09-04
0